DOSEN CANTIK YANG JUTEK

DOSEN CANTIK YANG JUTEK
Bab 182 Ngeles Kaya Bajaj.


__ADS_3

Pov Roni


Aku dan ayahku menemukan Tomi terapung ditengah laut saat kami dalam perjalanan pulang setelah menangkap ikan.


" Ayah, lihatlah! itu seperti seseorang yang sedang terapung ditengah laut. " kataku saat itu pada ayah.


" Roni, cepat arahkan kapal kita kesana, kita lihat apa orang itu masih hidup atau sudah meninggal. "


Sesuai permintaan ayah, aku mengarahkan kapal ikan kami pada sosok yang tengah terapung.


Ketika sudah dekat, aku melihat sosok pemuda mengenakan pelampung tengah terombang-ambing ditengah laut.


Setelah dekat, aku dan ayah berusaha menaikkannya ke atas kapal.


Saat mengangkat tubuhnya keatas kapal, baju yang dikenakannya tersingkap sehingga terlihat ada memar di atas pinggangnya, memar itu jelas terlihat saat aku dan ayah membuka pelampung yang ia gunakan dan bajunya tertarik sehingga terlihat bagian tubuh kanannya yang mengalami memar.


Aku dan ayah menutupi tubuhnya dengan terpal karena ia seperti kedinginan. Pemuda itu dalam keadaan pingsan saat kami temukan.


Aku dan ayah sepakat untuk membawa dan merawatnya di rumah.


Setelah dirawat beberapa hari, pemuda mulai terlihat sehat tapi yang jadi masalah pemuda itu lupa siapa dirinya, tidak tahu identitasnya sehingga adikku Bella memberinya nama Tomi.


Aku sering melihat Tomi duduk sendiri dan seperti tengah berpikir.


Mungkin dia sedang berusaha mengingat siapa dirinya.


Aku menghampiri Tomi saat ia tengah duduk sendiri dan mengajaknya mengobrol, siapa tahu dia bisa mengingat sedikit-sedikit setelah diajak ngobrol.


Bukan apa, aku merasa kasihan pada keluarga Tomi yang pasti tengah mencarinya, apalagi istri dan anaknya pasti sangat sedih karena kehilangan Tomi.


Aku juga kasihan melihat adikku karena aku melihat Bella seperti menyukai Tomi.


Tomi tidak mungkin menyukai Bella karena ia sudah punya istri yang bernama Asti.


Nama itu aku dengar saat Tomi dalam keadaan tidak sadar dan menyebutkan nama Asti.


" Apakah kamu tidak mengingat apapun tentang dirimu? apa tidak ada sesuatu yang membuat dirimu mengingat asal usul mu? " tanya ku saat aku menemaninya duduk dibawah pohon ketapang.


" Entahlah, pada saat kalian memanggil namaku dengan panggilan Tomi, aku merasa seperti sangat mengenal nama itu. Rasanya aku sering mendengar orang menyebutkan nama itu. "


Tomi mengatakan jika ia merasa familiar dengan nama yang ia gunakan sekarang.


Apa nama sebenarnya memang Tomi ya? Bisa jadi mungkin ia bernama Tomi yang secara kebetulan Bella juga memanggilnya Tomi.


Tomi seperti berusaha mengingat sesuatu saat sedang berbicara denganku.


" Selain nama Tomi, apa ada hal lain yang membuatmu mengingat sesuatu? " tanyaku lagi pada Tomi.


Aku ingin secara pelan-pelan membantu Tomi kembali mengingat masa lalunya.


Mungkin caraku salah, tapi aku tidak akan memaksanya untuk segera mengingat siapa dirinya, aku hanya sekedar memancing ingatannya saja.


" Obat-obatan dan peralatan medis yang dimiliki oleh Bella, aku merasa sering melihat alat-alat itu sebelumnya.

__ADS_1


Rasanya aku sering mencium bau obat sebelum ini. "


Satu hal lagi yang Tomi katakan jika ia merasa sudah sering melihat alat medis yang dimiliki oleh Bella, juga Tomi merasa sering mencium bau obat.


Apa Tomi seorang dokter sehingga ia merasa seperti mengenal alat medis?


Aku melihat Tomi mulai memegangi kepalanya, mungkin kepalanya terasa sakit karena berfikir terlalu keras.


Aku meminta Tomi untuk beristirahat dan meminum obat untuk mengurangi rasa sakitnya.


Setelah Tomi meminum obat, aku meninggalkannya untuk beristirahat.


Sebenarnya tadi aku ingin bertanya pada Tomi mengenai Asti, nama yang ia sebutkan saat dalam keadaan tidak sadar.


Mungkin nama itu bisa mengingat Tomi pada seseorang.


Menurut aku, bisa jadi itu nama istri Tomi.


Tapi ketika aku melihat Tomi sudah memegangi kepalanya, aku tidak jadi mengatakan tentang nama Asti yang pernah Tomi sebutkan.


Aku takut jika Tomi terlalu. memaksakan diri untuk mengingat siapa dirinya akan berakibat buruk bagi Tomi.


Biarlah aku akan bertanya mengenai Asti jika nanti Tomi sudah lebih baik.


Aku harus bersabar dan akan berusaha membantu Tomi untuk mengingat siapa dirinya.


Sayang, ketika aku dan ayah menemukan Tomi, tidak ada identitas apapun pada Tomi.


Apa yang menyebabkan Tomi berada ditengah laut pun aku tidak tahu.


Apa ia korban kecelakaan atau apa aku tidak tahu.


Ingin melaporkan keberadaan Tomi pada pihak yang berwajib tapi aku kasihan karena Tomi belum sembuh benar.


Nanti jika Tomi sudah benar-benar sembuh aku akan membawa Tomi ke Kabupaten dan melaporkan pada pihak yang berwajib.


Cukup jauh sebenarnya jika aku akan membawa Tomi kesana, akan memakan waktu empat jam perjalanan.


Tapi biarlah, siapa tahu dengan bantuan pihak berwajib bisa mempertemukan Tomi dengan keluarganya.


°


°


" Assalamu'alaikum. " salam Bella saat baru pulang dari Puskesmas.


" Waalaikumsalam. " jawab ayah dan ibu yang tengah duduk di bale-bale di depan rumah.


" Baru pulang, Bel? " tanya ibu pada Bella.


" Iya bu, hari ini Puskesmas lumayan ramai. " jawab Bella sambil duduk disamping ibu.


Di comotnya satu bakwan yang ada didalam piring dan memakannya.

__ADS_1


" Kenapa tidak cuci tangan dulu Bella? kamu kan habis bawa motor, banyak debu yang menempel ditangan kamu.


Bidan tapi kok ga jaga kebersihan. "


Kata ibu yang mengingatkan Bella yang memakan bakwan tanpa mencuci tangan.


" Maaf ibu, aku kasihan melihat bakwan itu memanggilku meminta untuk dimakan. " kata Bella sambil tertawa kecil dan mengambil satu bakwan lagi.


Ayah tertawa mendengar alasan Bella yang mengada-ada.


" Kamu ini, ada-ada saja, mana ada bakwan itu memanggil kamu untuk minta dimakan, yang ada dia menyuruh kamu untuk cuci tangan. " kata ibu sambil menggelengkan kepala melihat tingkah anak gadisnya.


" Tidak apa-apa bu sesekali tidak cuci tangan, toh Bella tadi tidak habis dari toilet. Bakwannya juga kalau sudah masuk ke perut, bisa perut yang mengolahnya. "


Bella masih mengeles kata-kata ibunya.


" Kamu tuh kalau dikasih tahu ngeles aja"


" Kaya bajaj. " kata Bella yang memotong kata-kata ibunya.


" Bukan ngeles kaya bajaj, kamu main potong aja, ibu belum selesai ngomong." kata ibu yang memprotes Bella karena memotong kata-kata yang belum selesai ibu ucapkan.


" Lha kan biasanya orang bilang seperti itu bu, suka ngeles kaya bajaj." kata Bella yang membenarkan kata-katanya sendiri.


" Kalau tidak ngeles kaya bajaj, terus memangnya ibu mau ngomong apa? "


tanya Bella penasaran dengan apa yang ingin ibu katakan.


" Ga jadi, kan kamu sudah bilang ngeles kaya bajaj. " kata ibu berpura-pura kesal pada Bella.


" Ayolah bu, ibu mau ngomong apa? " tanya Bella pada ibu agar ibu meneruskan kata-katanya.


" Sudahlah, ga jadi. " jawab ibu sambil berpura-pura cuek.


" Ayah, lihat, masa ibu merajuk hanya gara-gara Bella memotong kata-kata ibu? " rajuk Bella pada ayahnya.


" Ya Bella ga sopan, masa ibu belum selesai ngomong sudah dipotong duluan. " kata ayah membela ibu.


Diam-diam ibu tersenyum melihat Bella yang tidak mendapatkan dukungan dari ayahnya.


" Bella kan mau seperti cerita yang suka Bella baca yah, memotong kata-kata yang diucapkan lawan bicara biar lucu. "


Kata Bella sambil mengerucutkan bibirnya.


Ayah dan ibu tertawa mendengar alasan Bella juga melihat bibir Bella yang mengerucut.


" Kok ayah sama ibu malah tertawa? " tanya Bella heran.


" Itu, bibir kamu kaya pantat ayam kalau mengerucut kaya gitu. " jawab ibu sambil tertawa.


" Ah, ayah dan ibu mah kaya gitu, masa bibir Bella dikatakan seperti pantat ayam? " kata Bella yang malah makin mengerucutkan bibirnya.


Hal itu membuat ayah dan ibu semakin tertawa.

__ADS_1


__ADS_2