
Rombongan keluarga Tomi dan Asti sudah tiba di kediaman keluarga Tomi setelah mereka makan siang bersama di sebuah restoran.
Yudha tidak ikut ke rumah Tomi, karena setelah makan siang di restoran, Yudha berpamitan untuk kembali ke rumahnya.
Yudha menaiki taksi online dari restoran ke rumahnya karena mereka tidak satu arah.
Sebenarnya, semenjak dari bandara Yudha sudah ingin langsung pulang ke rumah, tetapi keluarga Tomi memaksanya untuk ikut makan siang terlebih dahulu.
" Assalamu'alaikum.. "
" Assalamu'alaikum.. "
Salam keluarga yang baru datang saat mereka menginjakkan kaki di teras rumah Tomi.
" Waalaikumsalam warahmatullah.. " jawab bi Iin yang sengaja menunggu kedatangan Tomi dan keluarganya di teras depan.
Saat mendengar Tomi sudah ditemukan dan akan segera pulang, bi Iin sangat bahagia dan sudah sejak tadi ia menunggu kedatangan Tomi dan keluarganya.
Saat melihat Tomi, bi Iin segera menghampiri dan memeluk Tomi dengan erat.
" Alhamdulillah den, akhirnya den Tomi pulang kembali ke rumah. Bibi sangat bahagia dan bersyukur bisa bertemu dengan den Tomi lagi. " kata bi Iin sambil menangis dan memeluk Tomi.
Bagi bi Iin Tomi dan Riki sudah seperti anaknya sendiri karena bi Iin yang mengasuh mereka semenjak mereka bayi.
" Terima kasih ya bi, bibi sudah mencemaskan keadaan Tomi dan selalu mendoakan kebaikan buat Tomi. " kata Tomi sambil membalas pelukan bi Iin.
" Maaf ya den, bibi main peluk aja, bibi merasa terharu aden sudah pulang dan berkumpul lagi di sini. "
Bi Iin merasa malu karena memeluk Tomi begitu saja karena rasa haru dan bahagia yang ia rasakan.
" Bibi main peluk Aa' Tomi aja,. nanti teh Ara marah lho sama bibi. " kata Riki yang menggoda bi Iin.
" Eh iya, maaf ya non Ara, bibi tidak sengaja peluk den Tomi, karena terharu dan bahagia jadi bibi main peluk aja, habis den Tomi sudah seperti anak bibi sendiri. "
Bi Iin menjelaskan ketidaksengajaannya memeluk Tomi pada Asti.
" Iya, tidak apa-apa kok bi, Asti tidak marah, justru Asti bersyukur bibi menyayangi mas Tomi seperti anak bibi sendiri. " kata Asti yang memaklumi rasa sayang bi Iin pada Tomi.
" Yang cemburu sebenarnya bukan Asti bi Iin , tapi Riki karena bibi tidak memeluk Riki juga. " kata Arya menggoda Riki.
" Eh iya, den Riki belum dipeluk sama bibi ya? sini bibi peluk. " kata bi Iin sambil menghampiri Riki lalu memeluk Riki.
__ADS_1
Riki pun akhirnya membalas pelukan bi Iin karena Riki tahu kasih sayang bi Iin pada dia dan Tomi.
" Bi, main peluk anak orang aja, nanti mamah sama papahnya marah, lho..?? " kata Arya lagi.
Ary memang sudah dekat dengan keluarga Tomi semenjak Tomi bertunangan dengan Asti dan semenjak Ary turut membantu mencari Tomi.
" Memang bapak sama ibu mau bibi peluk juga? " kata bi Iin yang sedikit latah.
" Wah.. kalau bibi berani peluk papah, bibi bakal. langsung dipecat sama mamah. " kata Riki pula.
" Jangan ya bu, jangan pecat bibi, bibi ga sengaja. " kata bi Iin meminta maaf pada mamah Tomi, padahal bibi tidak memeluk papah, hanya memeluk Tomi dan Riki.
Semua yang ada di teras tertawa mendengar candaan mereka saat menggoda bi Iin.
Pak Bowo dan keluarganya tidak menyangka jika keluarga Tomi bisa dekat dengan bi Iin yang bekerja sebagai asisten rumah tangganya.
" Ayo, kita masuk, kalian malah menggoda bi Iin di teras. " kata mamah sambil mengajak semua tamunya untuk masuk.
Akhirnya semua masuk dan duduk diruang tamu.
Bi Iin dengan cekatan membuat minuman dan membawa makanan yang sudah disiapkan untuk menyambut kedatangan Tomi.
" Maaf Pak Abdi, saya dan keluarga pamit pulang dulu. " kata ayah Asti pada papah Tomi.
" Lho kenapa buru-buru, pak? kita ngobrol-ngobrol dulu, kan jarang-jarang kita berkumpul seperti ini. " kata papah Tomi pada ayah Asti.
" Ini kasihan sama Ary,. pasti sudah lelah dan ingin beristirahat, begitu juga dengan yang lain. Lain waktu Insya Allah kita akan ngobrol-ngobrol lagi. " ucap ayah Asti.
" Iya juga, kasihan yang habis jalan jauh, pasti merasa lelah dan ingin beristirahat. " kata ayah Tomi pula.
Setelah berbasa-basi, akhirnya keluarga Asti berpamitan pada keluarga Tomi juga keluarga pak Bowo.
" Bu Asnah dan pak Bowo serta anak-anak bisa beristirahat di kamar yang sudah disediakan oleh bi Iin. " kata mamah pada pak Bowo dan keluarganya.
" Baik bu, terima kasih..! " kata bu Asnah pada mamah Tomi.
" Bi Iin, tolong antar tamu kita ke kamar mereka, agar bisa beristirahat. " pinta mamah pada bi Iin.
" Baik, bu..! " kata bi Iin, lalu mengajak pak Bowo dan keluarganya menuju kamar untuk beristirahat.
Beruntung rumah keluarga Tomi sangat luas dan memiliki banyak kamar sehingga bisa menampung tamu yang menginap di rumah mereka.
__ADS_1
Papah dan mamah Tomi sengaja membuat rumah dengan banyak kamar, karena mereka dari keluarga besar dan ada yang tinggal di luar kota, sehingga jika sedang berkunjung ke rumah Tomi, suasana akan sangat ramai.
Keesokan hari setelah sarapan bersama, keluarga Tomi berkumpul dan pak Bowo di teras belakang sambil menikmati cemilan dan teh hangat.
" Bagaimana bu,. apa betah tinggal disini? " tanya mamah pada bu Asnah.
" Ya betah lah bu, tinggal di kota, ramai, tidak seperti di pulau. " jawab bu Asnah sambil tersenyum malu.
" Jika begitu, keluarga ibu pindah ke sini saja, tinggal di kota bersama kami. " kata mamah lagi.
" Kalau untuk tinggal selamanya, sepertinya kami tidak bisa bu, karena kami sudah bertahun-tahun tinggal di pulau dan sudah betah tinggal di sana. "
kata bu Asnah yang menolak untuk tinggal di kota.
" Kalau mau tinggal disini, saya ada rumah yang tidak ditempati, jadi keluarga ibu bisa tinggal di sana. " imbuh mamah.
" Tidak bu, kami sudah betah tinggal di pulau, di sana juga ada sanak saudara kami. " kata bu Asnah lagi.
" Jadi selama ini pak Bowo dan Roni pergi ke laut untuk mencari ikan? " tanya papah pada pak Bowo dan Roni yang duduk dihadapannya.
" Benar pak, saya dan Roni setiap hari pergi ke laut untuk mencari ikan.
Kami pergi setelah subuh dan pulang terkadang setelah maghrib, bagaimana hasil tangkapan saja. " jawab pak Bowo.
" Saya membantu ayah ke laut karena ayah sudah tua dan saya merasa tidak tega jika ayah pergi sendiri ke tengah laut. " Kata Roni yang menjawab pertanyaan papah Tomi.
Papah hanya manggut-manggut saat mendengar jawaban pak Bowo dan juga Roni.
Ada sesuatu hal yang tengah ia pikirkan agar pak Bowo dan Roni tidak perlu pergi ke laut lagi.
Saat keluarga pak Bowo sedang beristirahat, Tomi bercerita mengenai keadaan di pulau tempat tinggal pak Bowo dan Tomi mengusulkan untuk memberi modal pada keluarga pak Bowo agar mereka bisa menjadi toke ikan, menampung ikan dari para nelayan yang ada disekitar rumah pak Bowo.
" Bagaimana jika pak Bowo dan Roni jadi toke penampung ikan di sana? apakah Roni bisa menjalankannya? " tanya papah lagi.
" Sebelum saya membantu ayah ke laut, saya bekerja di toke ikan terbesar di pulau lain, jadi saya paham cara kerjanya. Tapi untuk menjadi toke harus memiliki modal yang lumayan besar pak, karena harus membeli ikan dari para nelayan terlebih dahulu, juga harus memiliki gudang yang memadai. " jawab Roni yang mengatakan jika ia mengerti cara kerja toke ikan.
" Untuk lokasi gudang, saya memiliki tanah di pinggir pantai yang bisa dibangun untuk gudang, cuma untuk menjadi toke ikan kami belum sanggup.
Roni memang sudah menabung untuk membuat gudang dari hasil menjual ikan, tapi itu belum cukup. " kata pak Bowo pula.
Mengetahui jika Roni memahami cara kerja toke ikan dan Roni memang sedang mengumpulkan modal untuk itu, pak Abdi jadi berkeinginan untuk membantu memberi modal pada mereka, hitung-hitung membalas kebaikan keluarga pak Bowo yang sudah menyelamatkan Tomi.
__ADS_1