
“Kalau dokter Indah nya dengar bisa menimbulkan kesalah pahaman!”
“Ah!” lelaki memang pandai mengeles.
“Saya tidak ngeles Bu!”
“Saya sudah tahu semuanya, Saudara Tomi! Jadi Anda jangan lagi mau menipu saya, saya tidak akan tertipu dengan Saudara lagi”
“Lagi ? Menipu apa sih Bu! Saya dan dokter Indah itu adalah teman satu angkatan dari awal masuk kuliah dulu di kedokteran sampai sekarang kita selalu barengan. Dan bukan cuma saya dan dokter Indah, ada juga dokter Erik, dokter Yosua, dokter Angga, dokter Fani dan banyak lagi yang lainnya” jelas Tomi.
Asti tidak menjawab dan terlihat masa bodoh dengan penjelasan Tomi.
“Kebetulan saja saya dan dokter-dokter yang saya sebutkan namanya tadi meneliti hal yang sama, makanya saya dan mereka semua ada di kota Yogya ini sekarang”
Alis yang bertaut itu terurai dan sebagai gantinya, pipi Asti agak merona merah muda. Asti mulai menangkap maksud dari penjelasan Tomi.
“Kalau penelitian saya tidak sama dengan mereka, maka saya tidak akan satu kelompok dengan dokter Indah, dokter Erik, dokter Yosua, dokter Angga, dokter Fani yang ada di kota Yogya ini dan di rumah sakit yang Ibu tahu dimana saya sedang melakukan penelitian”
“Jika berbeda mungkin saya ada di Malang, Surabaya atau bahkan di rumah sakit yang di luar pulau ini sekarang” jelas Tomi lagi tanpa henti.
Namun yang bersangkutan tetap tidak mau kalah dan tidak mau lagi terlihat salah untuk keberapa kalinya di hadapan Tomi.
“Itu tidak jadi persoalan buat Anda bukan?” semburnya kemudian.
Tomi bertanya-tanya dalam hatinya ‘apa yang di maksud oleh gadis ini, apa yang ingin ia dengar dari mulut ku!’ sambil menatap Asti.
“Pengenalan saya terhadap Saudara, menunjukkan bahwa Saudara bisa mencuri ciuman!” semprot Asti.
__ADS_1
“Oh ya? Seperti yang saya curi dari bibir Ibu waktu itu, maksudnya?”
“Jangan sebut-sebut hal itu lagi!” Warna merah yang mulai menipis tadi kembali merona di wajah Asti.
“Kenapa? Apakah karena Ibu malu mengakui bahwa sebenarnya seperti saya, Ibu juga menikmatinya?” singgung Tomi kembali.
Asti jadi marah. Rasa malunya terkalahkan oleh kemarahannya yang baru datang gara-gara pertanyaan yang keluar dari mulut lelaki itu.
“Apakah dokter Indah atau gadis-gadis lainnya itu bereaksi lain?” semburnya lagi.
“Wah, itu saya tidak tahu Bu!” sahut Tomi kalem. “Saya tidak pernah dan tidak punya niat untuk mencium mereka!”
Asti tidak mampu menjawab. Apa yang di ucapkan oleh Tomi dengan kalem itu karena menyiratkan kejujuran.
Tomi menatap wajah Asti yang berubah-ubah, menyiratkan perasaannya. Sedikit banyak lelaki itu bisa menangkap bahwa jawabannya tadi menyenangkan gadis itu.
Pipi Asti memerah lagi. Kini merahnya pipi itu bukan karena merasa malu, melainkan karena api amarah yang menggelegak dalam dadanya.
Tomi yang kali ini mengajukan pertanyaan juga menggunakan emosi dan rasa cemburu di hatinya, yang selama ini ia simpan sendiri.
“Kau… Kau sungguh menghina ku!” desisnya dengan mata menyala-nyala. Saking marahnya, ia lupa menyebut Tomi dengan panggilan saudara atau dokter sebagaimana biasanya.
“Memangnya aku ini apa? Aku menyayangi Mas Arya karena dia sepupuku yang sangat dekat dengan ku! Dan dia yang telah mengisi kebutuhanku akan adanya seorang kakak lalaki yang tidak ku miliki. Secuil kecil pun tidak ada pikiran-pikiran kami mengarah kepada hal-hal sebagaimana yang kau katakan tadi!” Asti sangat emosi sekali.
Tomi bingung dengan reaksi Asti, ‘ternyata selama ini aku salah menilai’ kata Tomi dalam hati.
“Memangnya kamu ini gila?” semprot Asti lagi karena Tomi diam saja.
__ADS_1
Seketika Tomi menyesal telah melibatkan rasa cemburunya yang ternyata adalah kesalah pahaman besar itu. Tetapi di sisi lain hatinya, ia mendengar suara nyanyian bernada lega karena mendengarkan kata-kata Asti tadi. Ia tidak perlu harus bersaing dengan Aryanto, seperti sama hal nya dengan Pak Eko!
“Maafkan ketidak tahuan saya ini, Bu Asti!” sahutnya kemudian dengan suara melembut. “Jangan marah ya” ucap Tomi sambil tersenyum senang.
Asti yang masih emosi, karena belum terima dengan cara berpikir Tomi yang sangat menyinggung perasaannya.
“Kau membuatku seperti gadis gampangan saja!” sembur Asti lagi.
Hati Tomi tersentuh. Berapa kali dia dalam sehari ini memikirkan tentang kemungkinan seperti itu, padahal Asti dan Aryanto memiliki suatu iklim ke akraban yang di landasi pertalian darah antara saudara sepupu.
Merasa menyesal dan malu, Tomi jadi kehilangan kata-kata. Hanya kata ‘maaf’ saja yang bisa ia lontarkan. Selebihnya, terealisasikan lewat perbuatannya. Kedua tangan Asti di raihnya kemudian penuh perasaan diciumnya telapak dan punggung tangan gadis itu.
Tubuh Asti mengejang, tidak mengira akan mendapat permintaan maaf secara seperti itu. Bahkan ketika merasakan betapa hangatnya kecupan-kecupan dari bibir Tomi di tangan, aliran darahnya mulai berpacu dengan cepat. Nafasnya jadi tersendat-sendat. Tangan nya menjadi dingin dan mengeluarkan keringat. Padahal dalam mobil itu dingin karena AC mobil yang menyala.
Tomi merasakan perubahan suasana serta suhu dari ujung tangan Asti, yang mulai mengandung asmara di sekitar mereka. Dengan sepenuh hasratnya, tubuh gadis itu diraihnya ke dalam pelukan. Dan bibirnya yang semula hanya mengecupi tangan Asti, kini berpindah ke bibir gadis itu.
Asti yang sudah sejak tadi terpukau oleh perbuatan Tomi yang mengecup telapak tangannya. Asti tidak sanggup berbuat apa pun kecuali membiarkan lelaki itu mengecup tangannya dan selanjutnya mengecup bibirnya.
Lebih-lebih tidak kala Tomi dalam kelegaan, rasa sesal dan kerinduan yang berbaur dalam batinnya itu mewujudkan seluruh perasaannya itu dengan luapan kemesraan yang bisa ditumpahkannya kepada Asti.
Lelaki itu tidak hanya mencium tangan dan bibir Asti saja, tetapi kemudian tangannya juga mengelusi apa saja yang bisa di elus oleh kedua belah tangannya.
Serta beralih ke rambut gadis itu, lengannya, lehernya, kuduknya, punggungnya dan juga pipinya. Bahkan kemudian kecupan-kecupannya juga berpindah kemana pun ia menginginkannya. Ke mata Asti yang terpejam. Ke sisi telinganya, lekuk lehernya dan terus merambat ke bahunya.
Asti merasa sekujur tubuhnya berangsur-angsur menjadi lemah. Namun dalam kelemahan itu ia bisa merasakan aliran darah yang sepertinya berlomba-lomba mencari jalan untuk segera berjalan ke seluruh bagian tubuhnya.
Belum pernah ia mengalami suatu sensasi yang mendebarkan jantungnya sampai sedemikian rupa itu. Bahkan yang ia rasakan saat ini melebihi ketika pertama kalinya Tomi memberikan ciuman kepadanya kala itu. Apa yang di alami bersama Tomi sungguh-sungguh dahsyat bagi Asti.
__ADS_1
Bersambung…