DOSEN CANTIK YANG JUTEK

DOSEN CANTIK YANG JUTEK
Asti Sangat Marah Karena Merasa Dipermainkan


__ADS_3

Beberapa lama Asti berpikir, ia akhirnya tersadar dan kembali dalam kondisi saat ini. Teringat akan semua yang telah terjadi antara dirinya dengan lelaki ini, hal-hal yang sebelumnya mau pun saat ini.


Jika ingin dibandingkan, tidak bisa dibandingkan antara kondisi yang sudah terjadi antara mereka selama ini dengan kondisi dan situasi saat ini. Sehingga semua ingatan serta rasa kaget yang menghentak Asti tadi, berangsur-angsur berubah menjadi amarah.


Asti merasa dipermainkan oleh lelaki yang ada dihadapannya. Oleh lelaki yang sudah membuatnya menjadi diri orang lain. Oleh lelaki yang berhasil mejadikan dirinya seperti seorang wanita yang sudah tergila-gila karena rasa cinta, rasa rindu yang begitu hebatnya.


Semua rasa-rasa sakit yang dialaminya itu, telah berhasil mengrogotinya dirinya, hatinya, kepribadinya yang ceria dan hari-hari indahnya. Yang sekian lama tanpa kabar dan tanpa berita, menjadikan dirinya mengalami hari-hari yang begitu suram karena rasa ini.


Semua rasa itu berawal, ketika lelaki itu sudah tidak terlihat oleh matanya di kampus, ketika lelaki itu berpamitan pergi keluar kota, dengan alasan karena ada kesibukan dan membatu temannya.


Selama ini Asti sudah berusaha dan benar-benar menempati dirinya sebagai seorang dosen yang sedang menghadapi mahasiswa yang nakal. Namun, dengan ketulusannya, Asti berusaha memberikan yang terbaik kepada mahasiswanya itu. Walaupun saat itu mahasiswanya sangat menjengkelkan.


Bahkan ia telah menasehatinya dengan bermacam-ragam kalimat, perumpamaan dll. Semua itu ia lakukan selayaknya seorang dosen yang memperhatikan mahasiswanya. Dan sejauh itu, Asti merasa nasehatnya berhasil.


Apalagi Tomi memang memperlihatkan kemajuan yang sangat pesat saat itu. Secara tidak langsung Asti merasa dirinya berhasil menjadi seorang dosen. Tetapi mengapa bisa hal seperti saat ini terjadi?


Sungguh! sekarang barulah Asti mengerti segala sesuatunya secara gamblang. Termasuk keberanian lelaki itu, yang berulang kali berani untuk menyatakan cinta kepadanya. Dan tentu saja dengan keberanian lelaki itu, meraih dirinya kedalam pelukan dan ciuman-ciuman yang sudah terjadi antara mereka berdua.


Betapa butanya ia selama ini, mengira seorang mahasiswa sedang jatuh cinta kepada dosennya dan nekat mendekatinya tanpa mengingat jurang yang terbentang di antara mereka.


Tomi melihat perubahan-perubahan yang terjadi pada air muka Asti. Ia sadar bahwa kenyataan yang dihadapi oleh Asti sekarang, lebih-lebih dengan kedudukannya sebagai seorang pasien yang sedang terbaring tidak berdaya. Pasti membuat gadis itu merasa malu.


Sebab mahasiswa yang selama ini disangkanya mahasiswa pemalas yang lebih suka main-main dari pada kuliah, ternyata adalah seorang dokter. Pikir Tomi sambil memaklumi keadaan ini.


Namun, sesingkat itu pikiran Tomi dengan keadaan saat ini. Sebaliknya bagi seorang gadis ini, semua yang telah dilakukan lelaki itu kepadanya adalah masalah yang sangat besar.

__ADS_1


Amarah dan kekecewaannya begitu membeludak. Namun amarah itu masih tersimpan dipikirannya, ada kalanya nanti akan dikeluarkannya.


“Bu Asti, di sini sebaiknya kita lupakan bahwa Anda adalah Dosen saya. Pandanglah saya sebagai dokter yang sedang menolong Ibu!” kata lelaki itu, dengan suara lembut. Sebaliknya pasiennya ini berpikir, seperti tidak berdosanya ia berbicara seperti itu kepadaku sekarang!


Amarah, rasa malu, rasa tidak berdaya, yang bergumpal dan mendidih di dada Asti tadi semakin lama semakin menyebar ke seluruh urat darah dalam tubuhnya. Wajahnya menjadi merah padam.


Kata-kata Tomi tadi tidak bisa diterimanya. Persoalannya tidaklah sekecil itu, pikirnya. Sebab selama ini Tomi telah dengan sengaja menyembunyikan gelarnya dan terlihat ia lebih suka disebut sebagai mahasiswa yang melalaikan kuliahnya dari pada diketahui kesibukannya sebagai dokter.


“Saya tidak bisa melupakan hal itu, Dokter!” Asti sengaja menyebut gelar Tomi dengan tekanan yang kuat dan emosi yang sudah mulai tersalurkan.


“Anda selama ini telah memepermainkan saya! Sekarang, silahkan pergi! Saya lebih suka diperiksa oleh Dokter lain!” Asti secara langsung meminta lelaki itu pergi dengan ucapan-ucapannya yang kejam dan matanya melotot ke mata lelaki itu.


“Tetapi Bu Asti…” kata Tomi lagi dengan lembut. Tomi belum menyadari amarah Asti yang sangat besar terhadap dirinya.


“Tinggalkan saya, Dokter!” Asti memotong kata-kata Tomi. Amarah yang menguap dalam dadanya telah pula mengalirkan air mata, meskipun ia sendiri tidak menghendaki air mata itu untuk keluar.


Tomi mundur dua langkah kebelakang. Baru sekarang ia mengerti bahwa Asti sangat marah karena merasa dipermainkan olehnya.


Tomi berusaha mengajak Asti berbicara dengan lembut, agar bisa menenangkan gadis itu.


“Saya tidak bermaksud demikian, Bu Asti…” katanya kemudian. “Berilah saya kesempatan untuk menjelaskannya…”


Namun belum selesai Tomi berbicara, gadis itu langsung memotong pembicaraannya.


“Tidak!” Asti memotong bicara Tomi. “Apa pun alasan Anda, pada dasarnya tetap tidak bisa saya terima. Sebab sekian lamanya, Anda membiarkan saya dalam ketidaktahuan saya dan sekian lamanya pula Anda tidak menghiraukan asas kejujuran. Sekarang! Tinggalkan saya!”

__ADS_1


“Dengarkan saya dulu, Bu Asti…” Tomi berbicara lagi, tetapi lagi-lagi Asti memotongnya dengan gesit.


“Saya tidak mau mendengar apa pun kata-kata yang keluar dari mulut Anda, Dokter Tomi!” potongnya kasar.


Masih ingin lagi Asti menambahi bicaranya untuk melampiaskan kemarahannya itu, tetapi Asti mulai merasakan rasa sakit pada bagian tubuhnya lagi. Kepalanya mulai berdenyut-denyut kembali. Bahkan kakinya mulai terasa nyeri lagi. Karena itu ia hanya mampu menyuruh Tomi pergi.


“Tinggalkan saya…!” Asti memberi perintah, namun raut wajahnya sedang menunjukkan rasa sakit. Kening nya dikerutkan dan mata yang tadinya melotol sekarang menjadi kecil dan sipit.


Sebagai seorang dokter, tomi langsung melihat perubahan-perubahan yang terjadi pada wajah Asti. Apalagi kulit wajah cantik nya itu, yang semula tampak berwarna merah padam. Berangsur-angsur menjadi pucat.


Tanpa memperdulikan kata-kata Asti tadi, lelaki itu mendekati kembali tempat Asti terbaring. Ia maju tiga langkah kedepan.


Melihat Tomi mendekat, Asti berusaha mencegahnya. “Pergilah…” katanya. Tetapi kepalanya yang pusing tidak bisa diajak kerja sama. Karenannya, ia terpaksa memejamkan matanya.


Melihat itu, Tomi segera memeriksa denyut nadi gadis itu dan memperhatikan secara seksama perubahan-perubahan wajahnya. Semula Asti ingin mendorong dada Tomi agar menjauh darinya, tetapi karena kepalanya sakit, ia terpaksa membiarkan lelaki itu memeriksanya. Lebih-lebih karena dari balik tirai muncul seseorang suster yang langsung berbicara kepada Tomi.


“Permisi Dokter… Ini tas pasien yang sedang Anda periksa!” kata suster itu.


“Tas ini diberikan oleh dua orang lelaki yang mengantar pasien ini kemari. Yang satunya adalah pengemudi yang menabrak Nona ini. Dan yang satu lagi adalah Ketua RT di daerah tempat kejadian” kata suster menjelaskan.


“Kata mereka, siapa tahu butuh kartu identitas atau perlu membuka handphone milik pasien ini. Karena mereka tidak berani membuka tas nya. Dan di tambah handphone di dalam tas ini dari tadi berdering, Dok!” tambah suster itu lagi.


“Letakkan di sampingnya, suster. Siapkan saja kartu statusnya. Pasien ini akan segera dipindahkan ke ruang perawatan. Dan akan saya usahakan untuk di ct scan secepatnya” kata Tomi menjawab, namun matanya tetap fokus pada bagian kaki Asti yang bengkak.


“Baik Dok” suster itu sambil berjalan kearah kiri ranjang Asti. Dan meletakkan tasnya di meja yang ada di samping kiri Asti terbaring.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2