
Saat Maryam keluar dari kamar mandi, dilihatnya Asti sudah bangun dan tengah memainkan ponselnya.
" Aku tengah mengirim email ke pihak kampus untuk meminta izin tidak mengajar hari ini. " kata Asti yang mengatakan pada Maryam jika ia tengah meminta izin pada pihak kampus.
" Syukurlah jika begitu, tadi juga di group aku minta teman-teman untuk memintakan izin buat kamu, tapi jika kamu sudah mengirim email itu lebih baik. " kata Maryam pada Asti.
" Gimana kepalanya? masih pusing? " tanya Maryam pada Asti.
" Iya, kepala aku masih sedikit pusing. " jawab Asti.
" Kalau gitu, aku ambilkan sarapan ya? kita sarapan disini saja. " ucap Maryam yang akan membawa sarapan ke kamar Asti.
" Tidak perlu, kita sarapan diruang makan saja, aku akan mencuci muka sebentar. " imbuh Asti sambil turun dari atas tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi.
Setelah merapikan penampilannya, Asti dan Maryam pergi ke ruang makan untuk sarapan bersama ayah dan ibu Asti.
" Gimana keadaanmu Asti, sudah baikan nak? " tanya ibu saat Asti dan Maryam sampai dimeja makan.
" Alhamdulillah Asti sudah lebih baik, bu. " jawab Asti.
" Kalau Asti sudah lebih baik, rencananya ayah dan ibu akan mengajak Asti ke rumah Tomi.
Kita akan menanyakan kabar mengenai Tomi sekaligus melihat keadaan mamahnya Tomi. "
Kata ibu mengatakan rencananya pada Asti.
" Iya bu, Asti juga punya pikiran seperti itu. Kita kesana untuk mencari informasi sekalian melihat keadaan mamahnya Tomi." kata Asti yang memiliki pemikiran yang sama dengan orang tuanya.
" Maryam, kamu ikutkan ke rumah Tomi? " tanya Asti pada Maryam.
" Kamu ga langsung pulang pagi ini kan? " tanya Asti lagi.
" Iya, aku akan ikut ke rumah Tomi.
Rencananya aku akan pulang sore nanti." jawab Maryam yang akan ikut ke rumah Tomi.
Maryam ingin mendampingi Asti karena ia merasa kasihan jika Asti hanya bersama kedua orang tuanya.
Sebagai teman yang dekat dengan Asti, Maryam ingin bisa menghibur dan memberi kekuatan pada saat Asti mengalami musibah seperti saat ini.
Teman-teman mereka yang lain tengah memiliki kesibukan, dan hanya dia yang bisa menemani Asti.
" Kalau begitu, sehabis sarapan kita siap-siap untuk ke rumah Tomi. " kata ayah yang memutuskan pagi ini mereka akan ke rumah Tomi.
Setelah selesai sarapan, Asti dan. Maryam kembali ke kamar untuk ber siap-siap ke rumah Tomi, begitupula dengan ayah dan ibu.
Pukul delapan tiga puluh, Asti dan keluarganya menuju rumah Tomi dengan menggunakan mobil ayah Asti.
Mereka menempuh waktu hampir satu jam untuk sampai di rumah Tomi karena terjebak macet.
__ADS_1
Sampai di rumah Tomi, seorang security membukakan gerbang untuk keluarga Asti, karena sang security sudah mengenal Asti sebagai calon istri Tomi.
" Terima kasih, pak. " kata ayah pada security yang membukakan gerbang buat mereka.
" Sama-sama, pak. " jawab security sambil tersenyum ramah.
" Apa bapak dan ibu Abdi, ada pak? " tanya ayah lagi.
" Oh, ada pak! beliau ada di rumah. " jawab security lagi.
Ayah Asti melajukan mobil memasuki halaman rumah Tomi, lalu parkir ditempat yang disediakan untuk parkir mobil.
Keluarga Asti turun dari mobil dan langsung berjalan ke arah teras rumah Tomi.
Asti memencet bel yang ada didekat pintu utama.
Tak lama bi Iin membukakan pintu untuk mereka.
" Assalamu'alaikum! " ucap salam ayah dan ibu Asti.
" Waalaikumsalam warahmatullah..! " jawab bi Iin.
" Eh non Asti, bapak, ibu..silakan masuk." kata bi Iin saat melihat siapa tamu yang datang.
" Silakan duduk dulu non, bapak sama ibu. " kata bi Iin lagi setelah keluarga Asti masuk ke ruang tamu.
" Terima kasih, bi Iin! " kata Asti pada bi Iin.
" Ada bu, ada, beliau masih dikamar, sebentar saya panggilkan dulu. " kata bi Iin sambil naik ke lantai atas untuk memanggil orang tua Tomi sekalian memberitahu mereka jika ada Asti dan keluarganya menunggu diruang tamu.
Tok..
Tok..
" Pak, bu, ini bi Iin. " kata bi Iin yang mengetuk pintu kamar orang tua Tomi.
" Masuk aja, bi. " jawab papah Tomi dari dalam kamar.
Kreettt.. bi Iin membuka pintu kamar orang tua Tomi.
" Ada apa, bi? " tanya pak Abdi pada bi Iin.
" Maaf Pak, bu, dibawah ada non Asti dan keluarganya. " jawab bi Iin memberitahukan pada pak Abdi jika dibawah ada Asti dan keluarganya.
" Baik bi, suruh tunggu sebentar, sekalian tolong buatkan minum buat mereka. " pinta pak Abdi pada bi Iin.
" Baik Pak, kalau begitu bibi ke bawah dulu. " kata bi Iin pamit, lalu keluar dari kamar itu.
Bi Iin langsung menuju kedapur untuk membuatkan minuman buat tamu tuannya.
__ADS_1
" Mah, dibawah ada Ara dan keluarganya. Mamah akan ikut kebawah atau menunggu dikamar? " tanya papah Tomi pada mamah yang masih terbaring ditempat tidur.
" Mamah akan ikut kebawah, pah, kasihan Ara kalau melihat mamah seperti ini. Mamah harus terlihat kuat didepan Ara. " jawab mamah sambil bangun dari tidurnya.
" Apa mamah kuat? kepala mamah tidak pusing? " tanya papah khawatir.
" Insya Allah mamah kuat pah. " jawab mamah.
Mamah turun dari atas tempat tidur, lalu membersihkan wajahnya dan merapikan pakaian yang dikenakannya.
Tadi sehabis sarapan, papah meminta mamah untuk beristirahat dan memulihkan tenaganya agar mamah tidak jatuh sakit.
Setelah merapikan diri, mamah dan papah turun kebawah untuk menemui tamu mereka.
Melihat papah dan mamah Tomi turun dari tangga, Asti menghampiri mereka.
Ia bersalaman dan mencium punggung tangan papah Tomi.
Setelahnya Asti memeluk mamah Tomi yang berdiri disamping papah Tomi.
Begitupula mamah membalas pelukan Asti dengan erat.
Keduanya sama-sama menangis menumpahkan kesedihan yang mereka rasakan.
" Mah, mas Tomi.. " kata Asti sambil menangis dipelukan calon ibu mertuanya.
Mamah tak mampu menjawab, ia hanya bisa menangis dan mengusap-usap punggung Asti.
Mamah merasakan apa yang Asti rasakan, mereka sama-sama cemas karena belum mendapat berita apapun tentang Tomi.
Ibu Asti dan Maryam ikut menitikkan air mata melihat mamah Tomi dengan Asti yang saling berpelukan dan menangis.
Mereka semua merasakan kesedihan yang sama atas musibah yang menimpa keluarga mereka.
" Sudah mah, Ara. " ayo kita duduk dulu.
Kata papah yang meminta Asti dan mamah untuk duduk.
Asti dan mamah sama-sama melepas pelukan mereka, lalu Asti memegang tangan mamah untuk berjalan menuju kursi tamu.
Papah menghampiri ayah dan ibu Asti lalu mereka bersalaman.
" Maaf ya pak, bu, kita terbawa suasana." kata papah Tomi pada kedua calon besannya.
" Bagaimana kabar bapak dan ibu? Mohon maaf jika tadi malam saya tidak bisa menemani Riki ke rumah bapak dan ibu, karena keadaan mamah Tomi juga sangat shock mendengar berita ini. "
Papah Tomi meminta maaf pada orang tua Asti karena tadi malam ia tidak bisa ikut dengan Riki untuk menyampaikan berita itu.
Sebenarnya papah merasa tidak enak, apalagi saat ini keluarga Asti yang datang menemui mereka di rumah.
__ADS_1
Papah tahu jika mereka pasti akan menanyakan kabar terbaru mengenai Tomi.