DOSEN CANTIK YANG JUTEK

DOSEN CANTIK YANG JUTEK
Lebih Baik Sakit Gigi Daripada Sakit Hati


__ADS_3

Sementara itu, Indah dan Erik yang telah selesai membayar belanjaannya menyusul Tomi yang sudah lebih dulu keluar menyusul Asti.


Rasanya, Indah tak ingin lagi melihat Tomi dan Asti yang tengah duduk berdua didepan toko, terlihat Tomi yang duduk di depan Asti dan tertawa.


Melihat pemandangan itu, hati Indah makin sakit, jika bisa ingin ia memarahi Asti yang duduk bersama Tomi.


Tapi Indah masih berfikir waras, tak mungkin ia melabrak Asti.


Ia sadar bahwa ia tidak memiliki hubungan spesial dengan Tomi.


Jika ia melabrak Asti, besar kemungkinan ia yang akan mendapat malu dan Tomi akan membencinya.


Ia tak tahu, ada hubungan apa antara Tomi dan Asti, namun sesuai dengan yang ia lihat bahwa Tomi menyukai Asti.


Menyadari itu, Indah semakin terluka.


Sia-sia perasaan yang selama ini ia tanam untuk Tomi.


Angannya yang akan mengungkapkan perasaan pada Tomi malam ini hancur sudah, ia tak mungkin mendapatkan Tomi jika Tomi sudah menyukai Asti.


Ia menyadari jika Asti lebih cantik dan lebih muda darinya.


Indah tak mengetahui jika Asti merupakan seorang dosen dan mengajar Psikologi di kampus tempat Tomi belajar.


Karena wajah Asti yang terlihat masih begitu muda tak sesuai dengan umurnya, Indah mengira jika Asti hanya seorang anak kuliahan.


Lain Indah, lain pula Erik.


Ia melihat perubahan Indah saat Indah memandang Tomi yang sedang duduk bersama Asti.


Saat ini Erik melihat ada luka dimata Indah dan Erik baru menyadari jika Indah ada hati pada Tomi.


Untuk menyakinkan dirinya, Erik berdiri dibelakang Indah dan membiarkan Indah yang masih mematung melihat pemandangan didepannya.


Merasa tak tega melihat Indah yang terluka, Erik mencoba menegurnya dengan pura-pura tidak tahu keadaan Indah.


Erik sendiri tidak tahu dengan siapa Tomi saat ini karena Erik baru pertama kali melihat Asti.


" Indah.. Ayok kita menyusul Tomi kesana, mungkin mereka menunggu kita. "  Erik mengajak Indah mendekati Tomi.


Tak mungkin Erik mengajak Indah pergi dari sana sementara tadi Indah datang bersama Tomi.


Indah hanya diam tak mendengar kata-kata Erik, ia asik dengan lamunan dan rasa sakit karena penggarapannya pada Tomi.


Menyadari Indah yang melamun, Erik menyentuh sedikit tangan Indah untuk menyadarkan lamunannya.


" In.. Indah.. " panggil Erik sambil menyentuh tangannya.


Seketika Indah tersadar, dengan tergagap ia menjawab.


" I.. Iya.. a.. ada apa, Rik? " tanya Indah yang tergagap.

__ADS_1


" Kita kesana menyusul Tomi.! " tunjuk Erik pada Tomi dan Asti.


" Baiklah! " jawab Indah singkat.


Ia tak mungkin menolak ajakan Erik karena ia tak mau Erik tahu rasa sakit yang ia rasakan.


Mereka berjalan menuju tempat Tomi dan Asti menunggu.


Tomi dan Asti masih asik mengobrol sambil menunggu Indah dan Erik.


" Jadi kamu kesini tadi naik ojek online?


Kalau begitu nanti kamu pulang bareng saya aja, karena tadi juga saya berniat kerumah kamu setelah dari sini. "  Tomi mengajak Asti untuk pulang bersama.


" Biarlah, saya naik ojek online saja, kan kamu kesini tadi bareng sama teman-teman kamu. " Asti berusaha menolak tawaran Tomi.


" Tidak masalah, Erik bawa mobil sendiri, jika Indah mau, kita akan mengantar Indah pulang terlebih dahulu baru mengantar mu pulang ke rumah eyang. " pinta Tomi yang sedikit memaksa.


" Oke lah, terserah kamu saja. " jawab Asti akhirnya mengalah pada Tomi.


" Wah.. Asik bener kalian ngobrol sampai ga ingat pada kami. " kata Erik yang tiba-tiba sudah ada didekat mereka.


" Wah.. Kalian sudah selesai?


Erik  kenalkan, ini Asti dosen Psikologi di kampus aku.


Kalau Indah sudah kenal dengan Asti saat dirumah sakit. "


"  Asti, ini Erik teman satu fakultas di kedokteran. " kata Tomi yang mengenalkan Asti pada Erik.


Keduanya saling berjabat tangan dan menyebutkan nama  masing-masing.


" Erik "


" Asti"


Lalu mereka duduk untuk sekedar mengobrol sebentar.


" Apa kabar, dokter Indah? " tanya Asti pada Indah.


" Kabar saya baik, panggil Indah saja, ga perlu embel-embel dokter karena kita bukan dokter dan pasien. " jawab Indah yang mencoba menenangkan hatinya.


" Wah.. Mbak Asti ternyata seorang dosen, saya fikir masih kuliah. " kata Erik tak percaya.


Erik dan Indah benar-benar terkejut saat Tomi mengatakan bahwa Asti seorang dosen, berarti usianya berada diatas usia mereka, sungguh mereka tidak akan percaya jika bukan Tomi yang mengenalkan mereka.


Asti hanya tersenyum mendengar kata-kata Erik.


Ia telah yakin jika teman-teman Erik tidak akan percaya jika ia seorang dosen, karena ini bukan pertama kalinya orang salah menilai penampilannya yang dikira masih anak kuliahan.


" Indah, Asti akan pulang bareng aku, jadi nanti kami akan mengantarkan kamu pulang terlebih dahulu. " kata Tomi.

__ADS_1


Mendengar kata-kata Tomi, Indah kembali kesal. Ia fikir Asti tidak akan pulang bareng Tomi, jadi ia masih bisa pulang berdua dengan Tomi.


" Kalau begitu, biar aku pulang bareng Erik saja. " kata Indah.


" Tidak apa kalau mau pulang bareng kami, kami tak keberatan untuk mengantarkan kamu pulang. " kata Tomi merasa tak enak pada Indah.


" Sudah, kalian pulang berdua saja, biar Indah pulang aku yang antar. " kata Erik yang mengetahui keadaan hati Indah.


Ia fikir tak mungkin Indah pulang bareng Asti dan Tomi, Indah pasti akan terluka dan sakit hati, walau Erik tahu itu bukan kesalahan Tomi maupun Asti.


Di mobil Erik begitu hening, tak ada percakapan antara Indah dan Erik karena Indah yang terlihat melamun.


Untuk memecah keheningan, Erik memulai percakapan, ia juga ingin bertanya mengenai perasaan Indah pada Tomi.


" Ga nyangka ya, ternyata Asti seorang dosen, aku fikir dia baru masuk kuliah. " kata Erik memancing Indah untuk bicara.


Karena Indah diam dan tak menanggapi perkataannya, Erik melanjutkan kata-kata nya, ia ingin melihat reaksi Indah.


" Pantas Tomi terlihat menyukai Asti, ternyata Asti seorang dosen dan wajahnya terlihat awet muda.


Aku perkirakan usia Asti sekitar dua puluh tujuh atau dua puluh delapan tahun, berarti dia telah selesai kuliah dan menjadi dosen.


Mendengar apa yang dikatakan Erik, Indah memalingkan wajahnya dan menatap Erik.


" Walau Tomi menyukai Asti, belum tentu juga Asti menyukai Tomi. " ucap Indah sewot.


" Kalau aku lihat sih.. Sepertinya Asti juga suka sama Tomi, aku bisa melihat tatapan Asti yang lembut pada Tomi. " kata Erik lagi yang mencoba memanas-manasi Indah.


Erik yakin Indah menyukai Tomi dan merasa  cemburu pada Asti.


" Biar mereka saling menyukai, selama janur kuning belum melengkung mereka masih bisa dimiliki oleh orang lain." kata Indah dengan ketus.


" Wah.wah.. Rupanya kamu naksir sama Tomi ya, Indah. " kata Erik to the point.


" Indah sedikit gelagapan saat Erik mengatakan hal itu, ia tak menyangka bila Erik menebak dengan benar perasaannya pada Tomi.


Melihat sikap Indah, Erik menggodanya dengan sebuah lagu.


🎙🎶Dari pada sakit hati


     Lebih baik sakit gigi ini..


     Biar tak mengapa..


     🎶Rela-rela- rela aku relakan.


     Rela -rela-rela aku rela...


Mendengar Erik yang mengejeknya membuat Indah meradang  dan mencubit lengan kiri Erik yang sedang memegang handle gigi mobil.


Erik berani meledek Indah karena ia telah lama berteman dekat dengan Indah.

__ADS_1


Indah merupakan temannya sejak SMA dan masuk fakultas kedokteran yang sama dengannya.


__ADS_2