DOSEN CANTIK YANG JUTEK

DOSEN CANTIK YANG JUTEK
Bab 150 Asti Tertusuk Duri.


__ADS_3

Sore itu Asti tengah mengisi waktu luangnya dengan merawat taman bunga miliknya.


Entah mengapa, sejak pagi Asti teringat pada Tomi, padahal Tomi tadi mengirimkan pesan padanya jika ia akan berangkat ke pulau untuk melakukan bakti sosial.


Tomi mengatakan jika ia akan memberi kabar jika sudah tiba di lokasi.


Sampai sekarang, hampir jam lima sore Asti belum mendapat kabar lagi dari Tomi.


" Mungkin mas Tomi sedang sibuk dan belum sempat kirim kabar, siapa tahu nanti malam Mas Tomi baru bisa ngasih kabar. " kata Asti yang berbicara sendiri.


" Tapi kenapa ya, sejak tadi aku berdebar terus? Seperti ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi, tapi apa ya?" kata Asti yang masih bermonolog sambil memangkas dahan dan daun bunga yang telah mati, ia menggunakan gunting untuk memotong bunga.


Saat Asti akan memotong mawar putih untuk ia letakkan pada vas yang ada di kamarnya, tiba-tiba tangannya tertusuk duri mawar, padahal ia sudah sangat berhati-hati, karena Asti sudah terbiasa merawat tanaman mawarnya.


" Aduh..! " kata Asti sambil memegang jarinya yang terkena tusukan duri mawar.


Asti memijit jarinya untuk mengeluarkan darah dari jari yang tertusuk duri.


" Aduh.. kok perih benget ya? " kata Asti, lalu ia menghisap jari yang tertusuk duri untuk mengeluarkan darah dan mengurangi rasa perihnya.


Asti menghentikan pekerjaannya, lalu membawa dua tangkai mawar yang tadi sudah dipotongnya.


Bersamaan dengan itu, dadanya kembali berdebar dengan cepat.


" Ada apa sebenarnya? mengapa dadaku berdebar seperti ini? " tanya Asti dalam hati.


Tadi ia mencoba menghilangkan keresahan harinya dengan merawat tanaman bunganya, dan itu sedikit membantunya untuk menghilangkan ingatannya pada Tomi.


Tapi setelah ia tertusuk mawar, ia kembali teringat pada Tomi dengan dada yang terus berdebar.


Asti masuk kedalam rumah, lalu menyimpan gunting untuk memotong bunga pada tempatnya semula.


Lalu Asti mencuci tangan dan membersihkan luka karena tertusuk duri.


Setelahnya ia menuju kamar untuk menyimpan bunga mawarnya.


Di ruang tengah, ibu melihat Asti yang berjalan sambil meniup jarinya yang masih terasa perih.


" Kenapa jarinya, Asti? " tanya ibu heran saat melihat Asti meniup jarinya.


" Ini bu, jari Asti terasa perih karena tertusuk duri bunga. " jawab Asti sambil duduk disamping ibu.


Asti memperlihatkan jarinya pada ibu dan tidak jadi melanjutkan langkahnya menuju kamar.

__ADS_1


" Kalau kerja ya hati-hati, kok bisa sampai tertusuk duri.


Selama ini kamu juga sudah sering merawat bunga mu itu, tapi tidak sampai tertusuk duri. " kata ibu yang merasa heran kenapa Asti bisa tertusuk duri mawar.


" Lha namanya juga lagi apes bu, biar sudah hati-hati kalau lagi apes ya bisa aja tertusuk duri. " kata Asti pada ibu.


" Coba diobati pake obat merah, mana tahu nanti ga perih lagi. " kata ibu lagi.


" Ga usah bu, biar aja, nanti juga sembuh sendiri, kan cuma terkena duri mawar. " kata Asti yang tidak menuruti kata-kata ibu untuk memberi obat merah pada jarinya.


" Ya, terserah..! " kata ibu lagi.


Ibu meneruskan menonton acara di televisi.


" Bu, kenapa ya kok dada Asti berdebar-debar terus? " tanya Asti pada ibu.


" Ya karena kamu masih hidup, jantungmu masih berdetak, jadi ya berdebar. " jawab ibu yang menggoda Asti.


" Ah ibu, itu sih Asti tahu. " kata Asti yang merajuk mendengar jawaban ibunya.


Ibu tersenyum melihat tingkah Asti yang merajuk seperti anak kecil.


" Ada apa bu? kok Asti cemberut gitu? " tanya ayah yang baru datang dari arah belakang.


" Ada apa Asti? " tanya ayah pada Asti.


" Ibu tuh, yah! Asti nanya bener-bener malah ibu jawabnya bercanda. " kata Asti yang mengadu pada ayah.


" Ye, ibu kan juga jawabnya bener, kata siapa ibu jawab ga bener? " tanya ibu pada Asti.


" Bisa-bisanya ngadu sama ayah. " kata ibu lagi.


" Sudah, ada apa sebenarnya bu? Asti? " tanya ayah pada ibu dan Asti.


" Itu yah, sejak pagi dada Asti selalu berdebar, rasanya ga nyaman, seperti ada sesuatu yang akan terjadi. " kata Asti menjelaskan apa yang ia rasakan pada ayah.


" Iya yah, tadi ibu bilang pada Asti, wajar jika dada Asti berdebar karena Asti masih hidup dan jantungnya masih berdetak. " ibu juga memberitahu ayah apa yang ia katakan tadi pada Asti.


" Kenapa ibu jawab seperti itu? pantas saja Asti nya cemberut aja. Seharusnya ibu jawab yang menenangkan hati Asti. " kata ayah yang menegur ibu atas jawabannya pada Asti.


" Ibu kan hanya bercanda, ayah. " kata ibu yang membela diri.


Ayah hanya menggelengkan kepala mendengar alasan ibu.

__ADS_1


" Memangnya kenapa Asti berdebar-debar terus? " tanya ayah pada Asti.


" Asti juga tidak tahu yah, perasaan Asti tidak enak, Asti selalu teringat pada mas Tomi. " jawab Asti jujur pada ayah tentang apa yang ia rasakan.


" Itu sih karena Asti rindu pada Tomi. " kata ibu setelah mendengar apa yang Asti sampaikan.


" Bukan begitu bu, tadi mas Tomi sempat mengirimkan pesan pada Asti kalau mas Tomi mau berangkat ke pulau untuk mengadakan bakti sosial dalam rangka hari dokter nasional.


Kata mas Tomi akan memberi kabar jika sudah sampai tujuan.


Setelah mendapat kabar dari mas Tomi, Asti berdebar terus dan perasaan Asti juga ga enak. " Asti menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya pada ayah dan ibunya.


" Banyakin istighfar aja Asti, biar perasaanmu lebih tenang. " kata ayah pada Asti.


" Doakan juga keselamatan Tomi dalam perjalanannya, semoga sampai ke tujuan dengan selamat.


Mungkin saat ini Tomi belum sempat memberi kabar, biasanya juga kan malam kalian baru bisa berkomunikasi."


Ayah berusaha menenangkan Asti, memintanya untuk beristighfar dan mendoakan keselamatan Tomi.


" Iya ayah, kalau begitu Asti ke kamar dulu, ayah, ibu..? " kata Asti yang berpamitan pada orang tuanya untuk masuk ke kamarnya.


" Bersihkan badan Asti, sebentar lagi maghrib. " kata ibu pada Asti.


" Baik, bu! " jawab Asti, lalu ia pun masuk ke kamar dengan membawa kedua tangkai mawar putihnya.


" Ada apa ya, yah sama Tomi? terus terang ibu juga kepikiran sama Tomi, makanya ibu tadi menggoda Asti agar dia tidak berpikir macam-macam tentang keadaan Tomi. "


Akhirnya ibu jujur kepada ayah jika ia juga kepikiran tentang Tomi.


Ibu sengaja tidak mengatakan pada Asti karena takut Asti berpikiran buruk tentang keadaan Tomi di sana.


" Semoga tidak ada apa-apa sama Tomi bu. Kalau ada sesuatu pasti orang tua Tomi juga akan memberi kabar pada kita.


Mungkin itu hanya perasaan cemas dan rindu yang Asti rasakan, membuat Asti jadi berdebar-debar. "


Kata ayah yang juga menenangkan ibu.


" Kalau ada apa-apa sama Tomi, bagaimana yah? kasihan Asti, yah! "


tanya ibu pada ayah.


" Jangan berpikir yang macam-macam bu, doakan yang baik-baik buat Asti sama Tomi. " jawab ayah pada ibu.

__ADS_1


Setelahnya, ayah dan ibu terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.


__ADS_2