
Sesudah beberapa saat setelah memeriksa kondisi tubuh Asti, dokter manis itu berkata lagi kepada Asti.
“Nona sebaiknya dirawat di sini ya?” katanya menyarankan, sambil memegang stetoskop peralatan kedokterannya. “Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian secara seksama, yang tidak bisa dilakukan jika Nona tidak dirawat inap.”
“Bagaimana Nona, setuju?” katanya lagi sambil tersenyum kecil, menatapi wajah Asti yang pastinya merasa sedih mendengar permintaannya itu.
“Kira-kira berapa hari ya Dokter, kalau saya menginap disini?” Air mata Asti sudah mulai terkumpul di rongga matanya, sekali ia berkedip air mata itu akan keluar.
“Tergantung bagaimana keadaan Nona nanti…” Dokter Indah menjawab secara diplomatis (sangat berhati-hati dalam mengutarakan pendapat) agar pasiennya bisa lebih tenang.
Asti terdiam sejenak tidak bisa lagi berucap. Ia sangat bersedih karena kejadian hari ini. Tidak pernah terbayang olehnya jika nasib malang ini menimpanya di Yogya. Kedatangannya ke Yogya hanya untuk berlibur, namun kenyataannya ia harus berbaring di ranjang rumah sakit ini. Dengan keadaan tubuh yang ia sendiri juga belum tahu.
Apakah setelah ini ia masih bisa berjalan sempurna seperti sebelumnya? Dan apakah ada luka fisik atau mental yang dapat merubah hari-harinya kedepan? Asti sangat terpukul.
Sekarang Air mata Asti mengalir kepipinya, tidak bisa lagi ia menahannya. Karena jika di pikirkan kesana, begitu sakit hati rasanya.
“Sebenarnya, saya bukan orang Yogya Dok…” katanya kemudian. “Saya datang ke kota ini untuk berlibur. Tetapi…”
Asti tidak sanggup melanjutkan bicaranya. Dokter Indah memakluminya dan menepuk-nepuk bahu gadis itu dengan gerakan lembut.
“Saya mengerti, tetapi hal itu tidak usah terlalu dirisaukan. Kadang-kadang memang rencana semuluk apa pun kalau Tuhan sudah berkehendak lain, apa saja bisa terjadi!” sahutnya.
“Saat ini apa yang Dokter dapati pada diri saya? Secara garis besar bagaimana keadaan saya Dok?” kata Asti lagi, dengan sangat cemas dan bibir yang bergetar Asti bertanya, sambil menggenggam kain selimut rumah sakit yang menutupi sebagian tubuhnya.
“Masih perlu alat bantu lainnya untuk memastikan keadaan Nona. Kita akan melanjutkan dengan rontgen atau ct scan nanti, tergantung keadaan Nona. Nona mampu menggerakkan badan Nona?” Kata Dokter Indah, sambil menarik selimut rumah sakit untuk menutupi bagian kaki Asti yang tadinya dia buka untuk memeriksanya.
__ADS_1
“Saya tidak tahu Dok!” jawab Asti dengan kesedihannya. “Saya dari tadi di jalan berusaha menggerakkan tubuh saya, agar tidak di gotong oleh warga. Namun saya tidak mampu, semua terasa sakit saat saya menggerakkan sedikit saja.
“Sampai sekarang saya tidak berani menggerakkan tubuh ini sedikit pun” jelas Asti lagi.
“Baik jika begitu. Saya paham dengan rasa sakit yang Nona rasakan. Karena Nona tidak mampu untuk bergerak atau takut untuk menggerakkan tubuh nona. Maka saya mengambil keputusan, dari ujung kepala sampai ujung kaki Nona akan kita ambil fotonya dulu. Dengan tindakan ct scan”
“Setelah itu kita akan tahu, bagaimana keadaan tubuh Nona secara keseluruhan” Dokter Indah berusaha menjelaskan tahapan pemeriksaan kepada Asti yang sudah panik.
“Tetapi mudah-mudahan tidak ada sesuatu yang berat. Karena jika dilihat dari luar tidak ada luka yang besar atau parah. Hanya ada sedikit luka lecet saja. Tetapi ini ada beberapa tempat yang memar dan mengalami pembengkakan. Berarti perihal tersebut yang menyebabkan sakit adalah bagian dalam di tubuh Nona ini”
“Dan ini harus segera kita tangani, agar segera dapat tindakan yang tepat untuk tubuh Nona. Nona tetang saja, serahkan kepada kami ya… Kita akan mengusahakan yang terbaik untuk kesehatan dan pemulihan nona kembali” kata Dokter Indah sambil mengatup kedua telapak tangannya.
“Baik Dokter saya mengerti. Tolong bantu saya. Saya takut jika ada patah tulang atau geger otak, Dok” kata Asti sambil menangis.
“Baik Nona, semoga hasilnya nanti tidak seperti hal-hal yang Nona khawatirkan ya” Dokter Indah tersenyum tipis. Ia terlihat tenang. Ini adalah cara semua dokter untuk menenangkan pasiennya. Kalau pasien sedih dan takut, dokternya juga ikut sedih dan takut. Apa kabar nanti pasiennya.
“Sekarang sebaiknya Nona tidak usah terlalu bersedih. Saya yakin segalanya akan beres dengan baik. Nah, tadi Nona di antar siapa?”
“Di luar sana ada dua orang lelaki, Dok. Yang seorang, bernama Pak Ilham. Dan yang seorang lagi saya tidak tahu namanya, tetapi dialah yang menabrak saya. Dia mengendarai mobil dan saya mengendarai motor”
“Mungkin mereka bisa dimintai bantuan untuk mengabari keluarga Nona atau kerabat, atau teman Nona yang ada disini?” kata Doter Indah menenangkan.
“Ya…” singkat Asti menjawab.
Suara sepatu yang melangkah tergesa-gesa masuk ke tempat Asti sedang terbaring di ruang gawat darurat itu, menghentikan pembicaraan antara Asti dan Dokter Indah. Asti dan Dokter Indah tidak melihat orangnya, tetapi mendengar suaranya karena posisi Asti dan Dokter Indah ditutupi oleh tirai yang mengelilingi mereka.
__ADS_1
“Dokter Indah” kata suara itu memanggil. “Dimana Dokter Indah, Sus?” katanya lagi.
“Dokter Indah sedang memeriksa pasien kecelakaan lalu-lintas, Dok” jawab salah satu suster di ruangan itu.
“Sebentar ya, Nona” kata Dokter Indah kepada Asti.
“Baik Dok!”
Dokter Indah membuka sebagian tirai itu dan keluar menuju sumber suara yang mencari keberadaan dirinya.
“Iya ada apa, Dok?” katanya. “Dokter seperti sedang di kejar warga saja!”
“Sebaiknya kamu kembali ke ruangan sebelah. Pasien yang baru masuk tadi tidak mau didekati Dokter pria, maunya Dokter wanita!” jawab suara itu dengan tegas.
Asti merasa dadanya berdegup kencang. Suara itu persis seperti suara seseorang yang sangat akrab baginya. Lelaki yang selama ini sangat mengganggu ketenangan dirinya. Ah, betapa rindunya dia kepada suara itu.
Ia bertanya-tanya didalam hati. Seperti apakah wajah orang yang memiliki suara seperti suara Tomi itu? Ingin sekali rasanya Asti menyibak lebih besar tirai putih itu, untuk melihat orang yang sedang berbicara dengan dokter Indah.
Siapa tahu bisa sedikit mengobati rasa rindunya terhadap Tomi. Setidaknya, kalau orang itu berkata-kata dan memperdengarkan suaranya yang persis suara Tomi, barangkali kerinduannya bisa terobati walau sedikit.
“Mungkin dia tahu bahwa kamu bukan dokter sini!” sahut Dokter Indah tanpa mengalihkan perhatiannya dari Asti yang sedang ditanganinya itu.
“Sudahlah Dokter Indah, ayo segera bantu saya menangani pasien itu. Saya kewalahan menghadapinya. Suster Ani dan Suster Tiwi juga sudah jengkel sekali menghadapinya!” kata suara yang persis suara Tomi itu.
“Kalau begitu kamu pindah kemari. Akan ku panggilkan salah seorang suster untuk mengisi kartu status pasien ini!” kata Dokter Indah. “Selanjutnya, urusanmu Dok!”
__ADS_1
Bersambung…