
" Sabar, mungkin ponsel Tomi memang sedang tidak aktif. " kata Maryam yang mencoba menghibur Asti.
" Bisa jadi seperti itu, karena mas Tomi sedang pergi ke pulau mungkin juga di sana susah sinyal internet seperti yang tadi kamu bilang. " kata Asti berusaha menghibur dirinya, bahwa saat ini ponsel Tomi tidak aktif karena tidak ada sinyal.
" Makanya sabar aja. Selama ini Tomi selalu memberi kabar kan walaupun dia pulang malam karena habis operasi pasien? " tanya Maryam pada Asti.
" Iya, mas Tomi selalu menepati janji, jika ia berjanji akan memberi kabar, pasti ia akan menghubungi walaupun sudah malam. " jawab Asti.
" Sekarang kita berdoa saja, semoga Tomi segera memberi kabar agar bu dokter yang disini tidak selalu gelisah. " kata Maryam yang berusaha menghibur Asti agar tidak terlalu memikirkan Tomi.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan kurang sepuluh menit saat kamar Asti diketuk dari luar.
Tok..
Tok...
" Non Asti, ada tamu. " kata mbak Sari yang mengetuk pintu kamar Asti.
Asti berdiri dan membuka pintu kamarnya.
" Ada apa, mbak? " tanya Asti pada mbak Sari yang berdiri didepan pintu kamarnya.
" Anu, non, diruang tamu ada den Riki nyariin non Asti. " jawab mbak Sari pada Asti.
" Riki..?? Riki adiknya mas Tomi? " tanya Asti tidak percaya.
" Iya non, den Riki adiknya den Tomi. " jawab mbak Sari pasti.
Mbak Sari masih ingat dengan keluarga Tomi yang datang pada saat lamaran Asti.
" Ada apa Riki kesini malam-malam? " tanya Asti yang merasa heran dengan kedatangan Riki pada malam hari.
" Mbak ga tahu non, mbak cuma diminta untuk memanggilkan non Asti. " jawab mbak Sari yang tidak tahu tujuan kedatangan Riki ke rumah Asti pada malam hari.
" Ya sudah, bilang saja tunggu sebentar." kata Asti yang meminta mbak Sari agar menyampaikan pada Riki untuk menunggunya sebentar.
" Baik, non! " kata mbak Sari lalu kembali keruang tamu untuk menyampaikan pesan Asti pada Riki.
" Ada apa, Asti? " tanya Maryam pada Asti.
" Diluar ada Riki yang mau bertemu sama aku. " jawab Asti sambil merapikan penampilannya.
Untung ia mengenakan piyama panjang sehingga tidak perlu ganti baju.
__ADS_1
" Riki adik Tomi? ada keperluan apa? " tanya Maryam yang heran karena Riki datang sudah jam sembilan malam.
" Iya, Riki adiknya mas Tomi.
Aku juga tidak tahu untuk apa dia datang malam-malam begini. " jawab Asti yang juga tidak tahu tujuan Riki datang malam-malam kerumahnya.
" Ayo kita keluar, temani aku. " Asti meminta Maryam untuk menemaninya menemui Riki.
Asti dan Maryam keluar dari kamar Asti dan berjalan menuju ruang tamu.
Saat melihat Asti yang berjalan menghampirinya, Riki berdiri dari duduknya dan menyapa Asti.
" Teh Ara, apa kabar? " tanya Riki sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Asti.
" Alhamdulillah kabar teteh baik. " jawab Asti pada Riki.
" Bagaimana kabar mamah sama papah? " tanya Asti balik pada Riki.
" Kabar papah Alhamdulillah baik, tapi kalau mamah sedang kurang sehat. "
jawab Riki apa adanya.
" Maaf ya teh kalau Riki kesini malam-malam dan mengganggu istirahat teteh. " kata Riki yang meminta maaf pada Asti karena ia datang pada malam hari.
" Iya maaf ya teh. Sebenarnya papah juga mau ikut kesini, tapi karena mamah kurang sehat jadi cuma Riki yang datang menemui teteh. Papah sama mamah juga titip salam buat teteh. " imbuh Riki lagi.
" Maaf Riki, sebenarnya ada apa Riki malam-malam datang kesini? ga biasanya. " tanya Asti langsung menanyakan maksud kedatangan Riki malam-malam kerumahnya.
" Oh iya, apa sudah dapat kabar dari mas Tomi? sejak tadi ponselnya tidak bisa dihubungi. " tanya Asti pada Riki.
" Itulah teh, maksud kedatangan Riki kesini ingin menyampaikan kabar mengenai Aa' Tomi pada teteh. " kata Riki pada Asti.
" Iya, ada kabar apa dari mas Tomi? mengapa ia tidak menghubungi teteh langsung jika ingin menyampaikan sesuatu? mengapa harus melalui Riki? " tanya Asti yang memberondong Riki dengan pertanyaan.
" Yang memberi kabar bukan Aa' Tomi teh, tapi direktur rumah sakit tempat Aa' Tomi bertugas. " kata Riki dengan hati-hati agar Asti tidak shock saat menerima kabar tentang Tomi.
" Maksudnya gimana? mengapa direktur rumah sakit yang memberi kabar tentang mas Tomi? " tanya Asti dengan perasaan yang mulai was-was.
" Iya teh, habis magrib tadi, pak Atalim yang menjadi direktur di rumah sakit tempat Aa' Tomi bertugas menelepon Riki karena beliau menyimpan nomor Riki sebagai keluarga Aa Tomi. " kata Riki yang memulai ceritanya tentang kabar yang dia terima mengenai Tomi dari dokter Atalim.
Riki menceritakan semua kabar yang ia terima dari dokter Atalim kepada Asti.
" Begitulah teh ceritanya. Mamah juga shock mendengar kabar ini hingga mamah jatuh pingsan. " kata Riki mengakhiri ceritanya.
__ADS_1
Asti terdiam mendengar cerita Riki.
Ia tidak tahu harus berkata apa.
Hatinya terasa begitu kosong, ia merasa seperti kehilangan sesuatu.
Maryam yang duduk disebelah Asti sudah meneteskan air mata saat mendengar berita yang disampaikan oleh Riki.
Ia tidak menyangka jika firasat Asti yang merasa tidak nyaman, juga jarinya yang tertusuk duri merupakan suatu pertanda tidak baik buat Asti.
Maryam menoleh pada Asti yang terdiam seperti patung. Hanya air mata yang mengalir deras membasahi pipinya.
" Asti..! " kata Maryam yang langsung memeluk Asti saat melihat Asti yang terdiam.
Riki juga terkejut melihat reaksi Asti setelah mendengar ceritanya.
" Teh, teh Ara..! " kata Riki yang juga memanggil Asti.
Tapi Asti bergeming, ia hanya diam dengan air mata yang terus mengalir dan tatapan mata kosong.
" Asti, sadar Asti,. jangan seperti ini! " kata Maryam yang masih memeluk Asti.
" Teteh, ngomong teh, jangan diam saja!" kata Riki pada Asti.
Mendengar suara ribut-ribut diruang tamu, ayah dan ibu yang belum tidur segera keluar dari kamar.
Begitu juga dengan mbak Sari yang masih ada di dapur. segera keruang tamu, ingin melihat apa yang terjadi.
Ayah dan ibu terkejut melihat keadaan Asti yang menangis dengan tatapan mata kosong.
" Asti, ada apa ini? " tanya ayah setelah melihat keadaan Asti.
" Asti, sadar nak, kenapa kamu seperti ini? " tanya ibu sambil menghapus air mata Asti dengan tangannya.
Melihat keadaan Asti, mbak Sari segera ke dapur untuk mengambil air putih agar bisa diberikan pada Asti.
" Maafkan saya, pak! Teteh Ara seperti ini setelah mendengar kabar mengenai Aa' Tomi. " kata Riki yang merasa bersalah dengan keadaan Asti.
Tapi walau bagaimanapun, ia. harus tetap menyampaikan kabar itu pada Asti dan keluarganya.
Riki hanya tidak menyangka reaksi Asti akan seperti ini.
Jika mamahnya langsung pingsan, tapi Asti hanya terdiam dengan tatapan mata kosong dan air mata yang terus mengalir.
__ADS_1
Riki tahu apa yang Asti rasakan saat ini, pasti rasa sedih, cemas, dan takut kehilangan yang membuat ia jadi seperti itu.