DOSEN CANTIK YANG JUTEK

DOSEN CANTIK YANG JUTEK
Asti Di Goda Kakak Sepupunya


__ADS_3

“Mas, kalau kamu menunggu bidadari yang turun dari khayangan ke dunia ini, ya susah Mas!” kata Asti kepada sepupunya itu.


“Mana ada sih wanita yang sempurna di dunia ini!” kata Asti lagi, sambil menatap dengan mata yang melotot kepada kakak sepupunya itu.


“Aku bingung sama kalian! Kalian selalu mengira aku mencari istri yang sempurna. Semua itu tidak benar!” jawab kakak sepupu itu dengan nada yang sedikit lembut, tetapi gaya tubuhnya memperlihatkan kekesalan terhadap poin-poin pembicaraan ini.


Asti diam, tidak berkomentar apa pun. Karena menurut Asti jawaban dari kakak sepupunya itu belum jelas, masih setengah-setengah dan mengambang.


“Aku bukan lelaki yang seegois itu! Seperti yang selalu kalian katakan kepada ku. Seolah-olah aku ini menjadi lelaki yang egois dan pemilih terhadap pasangan wanita ku”


“No… No… No… Kalian salah besar! Selama ini aku juga sudah berusaha untuk mencari yang cocok untuk ku. Cocok itu bukan dalam artian wanita itu harus sempurna, harus mapan, harus ini dan harus itu”


“Aku juga tidak begitu wow untuk bisa memilih-milih dan mencari pasangan yang sesempurna itu. Aku juga menyadari bahwa diriku hanyalah manusia biasa, banyak sekali kekurangan dan tidak sempurna” sahut Aryanto, dengan nada yang mulai tumbuh rasa amarah.


“Istri yang ku cari itu tidak harus cantik. Yang penting, ia seorang wanita yang matang dan berkepribadian mantap, baik dan jujur”


“Yang penting mau melewati kehidupan dan hari-hari kedepannya bersama-sama dengan ku. Mau dalam kondisi senang atau susah, sedih atau bahagia. Dan yang juga penting adalah ia dapat membuat dadaku bergemuruh ketika melihatnya!”


“Wah… wah… wah… Patut untuk di tiru ini, Mas…” kata Asti, dengan di sertai senyumannya. Mas ternyata lelaki yang romantis juga ya, hehe…” kata Asti lagi.


“Apa pun istilah yang kamu pakai untuk menilaiku, silahkan. Bagiku yang penting adalah manusia itu hendaknya bercita-cita. Dan aku mempunyainya!” sahut Aryanto.


“Aku bercita-cita membentuk keluarga yang bahagia dan menurut pendapatku kebahagiaan sebuah keluarga terletak pada tangan seorang istri”


“Sebab segala kebiasaan keluarga, segala cara menyelesaikan masalah dan seterusnya, seorang istri atau seorang ibulah yang membentuknya”


“Kamu kan seorang psikolog, Ti. Pasti tahu bahwa keluarga yang mudah mengalami nervous, biasanya disebabkan karena ibunya termasuk orang yang mudah menjadi nervous. Dan keluarga yang berpandangan optimis, biasanya karena sang Ibu memiliki pandangan semacam itu!” kata Aryanto lagi.

__ADS_1


“Memang besar kemungkinannya demikian!” kata Asti sedikit membenarkan pendapat sang kakak.


“Tetapi juga tidak bisa memberatkan semua itu ke pihak ibu atau istri, Mas!” kata Asti lagi. “Karena seorang suami atau ayah juga berperan besar terhadap keharmonisan antara suami dan istri atau terhadap orang tua dengan anak”


“Semua itu harus seimbang, tidak bisa memberatkan semua ke satu pihak saja” kata Asti lagi.


“Iya betul Asti, maka dari itu tadi ku sampaikan di awal. Aku mencari pasangan yang mau bersama-sama berjalan bersama ku melewati hari-hari ke depannya”


“Coba kamu pikirkan inti dari kalimat itu” kata Aryanto kepada Asti.


“Iya oke deh, Mas! Intinya aku sebagai adik Mu ini, akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Mu. Semoga dapat menemukan wanita yang cocok untuk Mu” kata Asti, yang tidak ingin lagi mempermasalahkan kriteria-kriteria seorang pasangan.


“Nah kamu sendiri bagaimana Ti? Ku dengar, kamu termasuk gadis yang enggan jatuh cinta. Apa benar?” kata Aryanto malah melayangkan pertanyaan kepada adik sepupunya itu.


“Aku tidak mau membicarakan hal itu, sekarang!” sahut Asti enggan. “Asal kamu ketahui Mas, aku memang tidak suka dijajah oleh perasaan-perasaan semacam itu!” Asti yang tidak sadar bahwa dirinya tiba-tiba langsung emosi dan terbawa perasaan terhadap pertanyaan sang kakak.


“Semacam itu yang bagaimana maksud Mu, Ti?” kakak sepupu yang terlihat kaget dengan respon dari Asti. Padahal dirinya menanyakan dengan baik dan dengan nada yang lembut. Tetapi tiba-tiba Asti menjawab seperti ini.


“Singkatnya ni Mas, aku masih ingin merasakan kedamaian dan ketenangan hidup seorang diri!” kata Asti lagi dengan jawaban yang tegas.


“Jadi?” kata Aryanto lagi.


“Ya… Jadi aku ke Yogya ini untuk merasakan kebebasan sebagai seorang wanita yang mandiri, lepas dari segala keterikatan apa pun dan siapa pun itu!”


Aryanto menatap Asti beberapa saat lamanya. Dan ia mulai sadar bahwa jawaban Asti tadi adalah sebagian dari curhatan hatinya.


“Asti, lama-lama bicara denganmu, aku jadi menaruh curiga!”katanya kemudian.

__ADS_1


“Curiga apa?” Asti menggerutkan dahinya.


“Kamu ke Yogya ini sedang melarikan diri dari seseorang ya. Dan mengapa demikian, itu pasti ada kaitannya dengan perasaan yang ingin kamu buang dari hatimu barusan”


“Rasa cinta, rasa kesepian, rasa rindu dan rasa cemburu. Nah, salah satu atau ke semua rasa itulah yang menyebabkan dirimu lari kemarikan?”


“Sampai-sampai di jalan saat mengendarai sepeda motor pun kamu bisa melamun, terganggu oleh keadaan itu. Kalau tidak, masak iya kamu sengaja membiarkan dengan pasrahnya diri mu dan sepeda motor Eyang di tabrak oleh mobil saat itu!”


Mendengar kata-kata Aryanto, wajah Asti menjadi merah. Dan melihat itu, godaan Aryanto semakin jadi sehingga lama-kelamaan gadis itu menjadi jengkel. Kakak sepupunya itu dilemparnya dengan majalah yang sedang dipegangnya.


Tentu saja Aryanto mengelaknya dengan tertawa-tawa. Sampai akhirnya berkat kelucuan dan godaan Aryanto yang menggelikan, Asti ikut tertawa terbahak-bahak.


Sambil mereka berdua tertawa, tangan mereka juga bekerja. Mereka saling berebut dan tarik-menarik sesuatu yang bisa dipakai untuk melempar ke arah masing-masing pihak lawan.


Keasikan bercanda dan bergulat, ruang tamu rumah eyang itu menjadi berserak. Entah dimana batal kursi tamu, majalah-majalah yang berhamburan di lantai karena terlalu asik bercanda.


Keduanya terlihat sangat lepas dan bahagia. Setelah saling mengutarakan unek-unek mereka masing-masing.


Sudah pasti, sepasang saudara sepupu ini sering mendapatkan pertanyan-pertanyaan mengenai, kapan nikah? Siapa pacar mu sekarang? Mana pacar mu? dll.


Di mana pertanyaan-pertanyaan itu, sering terucap dari mulut-mulut orang yang ada di sekitar mereka.


Dari orang tua mereka? itu sudah pasti, atau kerabat mereka yang lain? itu juga sudah pasti.


Sehingga sepasang saudara sepupu ini sudah lelah membahas mengenai pertanyaan-pertanyaan seperti ini.


Dan mereka juga sadar mengapa pertanyaan itu sering melayang kepada mereka, karena sampai saat ini mereka belum juga menemukan pacar dan sepertinya masih jauh dari kata menikah.

__ADS_1


Tetapi jika di katakan mereka tidak berusaha, mereka tidak akan terima. Bukannya tidak berusaha atau memilih-milih jodoh atau pasangan. Tetapi memang belum mendapatkan yang pas sampai saat ini.


Makanya ketika kedua saudara ini bertemu mereka merasa cocok dan merasa saling mengerti perasaan satu sama lain.


__ADS_2