
Pak Eko dan Asti akhirnya sampai ke mobil Pak Eko di parkiran. Pak Eko dengan semangatnya membukakan pintu mobil untuk gadis yang bersama nya dan mempersilahkan gadis itu untuk masuk ke dalam mobilnya. Pak Eko menghidupakan mesin mobilnya dan mulai menginjak gas untuk keluar dari area parkiran, Asti yang sudah duduk di mobil Pak Eko dengan suasana hati yang tidak begitu senang.
Berbeda daripada Tomi, Pak Eko kalau mengendarai mobilnya lebih tidak sabaran. Padahal kalau menilik penampilannya, lelaki itu seharusnya pasti akan mengendarai mobilnya dengan lebih hati-hati dan sabar. Tanpa Asti sadari dirinya sedang membanding-bandingkan lelaki yang sedang bersamanya itu dengan Tomi, lelaki yang ia rindukan.
“Kita makan siang dulu ya Dik Asti. perutku sudah lapar ini!” kata lelaki itu.
Seperti tadi, Asti tidak enak kalau menolak ajakan lelaki ini. Jadi kali ini iya pun menyerah dan menerima ajakan Pak Eko.
“Tetapi sesudah itu, kita langsung pulang ya Mas?” katanya. “Aku tadi bilang kepada Ibu akan pulang cepat, aku tidak mau dia menunggu kepulangan ku dengan khawatir”
“Oke Dik”
Pak Eko kelihatan semakin senang sekali dapat mengajak Asti pergi makan bersamanya. Dari dalam mobil tadi sampai di rumah makan, lelaki itu terus-menerus memperhatikan Asti sampai ke hal sekecil-kecilnya sampai gadis itu merasa risih.
“Mau makan apa Dik?” tanya Pak Eko sambil memberikan menu makanan kepada Asti.
“Saya pesan makanan, nasi putih, cumi rica-rica dan sayur capcay saja. Terus minumnya teh botol sama es batunya, sudah itu saja” jawab Asti tegas dan cepat.
Pak Eko semakin terkesan dengan Asti, dia sudah membayangkan jika gadis ini mau menjadi pendamping hidupnya, maka ia akan merasa senang dan bahagia sekali, memiliki pasangan yang tegas seperti ini. Beberapa waktu kemudian makanan yang mereka pesan pun sudah sampai, lalu mereka mulai mencicipi masing-masing makan yang sudah mereka pesan. Pak Eko yang makan pun masih tetap memperhatikan Asti.
__ADS_1
“Mau tambah apa lagi Dik Asti makanan nya? Masakannya enak? Kalau tidak pesan saja yang lain lagi."
“Sudah ini enak kok Mas, mari silahkan lanjutkan makannya” Asti segera menjawab agar lelaki itu tidak berbicara panjang lebar lagi.
Lega rasanya hati Asti ketika acara makan yang penuh dengan tatacara itu berakhir. Seperti telah melewati perjalanan jauh yang membosankan dan ingin segera cepat sampai tujuan. Tetapi jika di bandingkan lagi, Pak Eko tidak seperti Tomi yang suka nekat, masih beruntunglah pikirnya. Asti meminta langsung pulang, Pak Eko menurutinya tanpa banyak bicara, meskipun hatinya masih ingin lebih lama lagi bersama gadis itu.
Saat itu lalu-lintas sungguh amat ramai, jalanan padat merayap. Udara panas dan pengap di luar sana terasa menekan perasaan dengan di penuhi mobil-mobil keluarga, bis-bis besar dan juga truck-truck besar yang membawa berbagai jenis barang menyelip dari kiri atau kanan, meninggalkan asapnya yang menyesakkan dada. Pak Eko mencari jalan yang dapat segera melepaskan mereka dari penatnya jalan tersebut dari sela-sela kendaraan lain dengan keahliannya yang tampaknya sudah teruji.
Namun yang namanya sial memang sulit dihindari kalau memang sudah demikian nasibnya. Meskipun Pak Eko mengendarai mobilnya dengan mantap dan penuh perhitungan, tetapi ketika ada supir taksi yang tiba-tiba muncul dari arah kiri secara ugal-ugalan dan langsung menyelipnya, Pak Eko nyaris kehilangan kendali karena kagetnya. Untungnya reaksinya berjalan baik kendati hampir saja terlambat.
Dengan menginjak rem, ia berhasil menghentikan mobilnya. Sehingga tidak sampai membanting setir karena melihat sebuah mobil yang tiba-tiba muncul di sisi tubuh mobilnya itu. Namun sebagai akibatnya, mobil di belakangnya yang kaget melihat mobil Pak Eko berhenti mendadak, juga mengerem dengan tiba-tiba dengan menimbulkan suara ban yang berdecit yang terpaksa berhenti dengan keras.
Wajah gadis itu tampak pucat, tangannya yang menggenggam erat hand grip dan kedua belah kakinya gemetaran.
“Aku sudah membayangkan mobil ini remuk dan aku entah terjepit apa… Aku mohon untuk lebih berhati-hati menyetir” kata gadis itu dengan mata yang memandang ke depan jalan, begitu Pak Eko melanjutkan kembali perjalanan mereka. Kali ini Pak Eko mengendarai mobilnya dengan lebih hati-hati.
Pak Eko menarik napas panjang.
“Kaget ya Dik Asti?” tanyanya.
__ADS_1
“Bukan kaget lagi Mas,” Asti menjawab dengan dada yang masih berdebar-debar. “Jantungku seperti mau copot keluar!”
“Kasihan…” Pak Eko bergumam sambil melirik Asti lagi. Kemudian tangannya terulur dan meraih tangan Asti yang langsung digenggamnya, “Maafkan aku telah membuatmu ketakutan tadi!”
“Bukan salahmu, Mas. Salah sopir taksi tadi!” Asti menjawab dengan pikiran dan pandangan mata yang tertuju kepada tangannya yang dipegang oleh Pak Eko itu.
Bagaimana caranya supaya tangannya lepas dari pegangan Pak Eko dengan tidak menyinggung perasaannya? Dan mengapa, pegangan tangan lelaki itu membuatnya amat risih dan tidak nyaman.
“Wajahku sampai berkeringat…” kata Asti lagi. “Apakah ada tissu di mobil ini, Mas? Huh, aku benar-benar merasa kaget tadi!”
“Ada di laci, Dik Asti!” sahut Pak Eko. “Aku tadi lupa mengembalikannya lagi waktu membersihkan mobil ini. Ambillah!
Dengan perasaan lega, Asti melepaskan tangannya dari pegangan tangan Pak Eko. Kesempatan itu sungguh bagus sekali karena sesudah itu ia pura-pura sibuk mengusap wajahnya, tangannya langsung membuka tas dan melihat handphone, lalu kembali menaruh tangan dipangkuannya yang jauh dari jangkauan tangan Pak Eko.
Di balik rasa leganya kerena dapat melepaskan tangannya dari genggaman tangan Pak Eko, Asti merasa digugat oleh hatinya sendiri. Mengapa pada peristiwa sama di mana tangannya digenggam oleh tangan Tomi beberapa waktu yang lalu, ia tidak merasa risih atau pun merasa tidak enak. Mengapa pula kejadian itu sempat menggoyangkan jantungnya hingga berdebar bertalu-talu?
Pikiran Asti tidak hanya berhenti di situ. Semula peristiwa yang terjadi ketika ia bersama Tomi sebelum lelaki itu pergi ke luar kota, datang menyerbu kedalam pikirannya kembali. Dan pertanyaan-pertanyaan batin yang sering muncul itu ia masih sulit mempercayai dirinya sendiri mengapa ketika Tomi menciumnya ia bukan saja tidak menolaknya tetapi bahkan membalas dengan sama mesra dan sama hangatnya.
Kadang-kadang Asti merasa seperti putus asa rasanya. Kenyataan-kenyataan yang dialaminya bersama Tomi dan bedanya jika ia berada di dekat Pak Eko, menunjukkan kearah gejala-gejala yang semakin tampak, bahwa sebenarnya ia tidak bisa menolak pernyataan cinta Tomi terhadapnya. Bahkan disadarinya atau tidak dan disukainya atau tidak, Asti telah membalas pernyataan cinta Tomi yang bukan saja telah diucapkannya dengan terus-terang kepadanya, tetapi juga melalui perbuatan intimnya. Sebab kalau tidak, apakah mungkin Asti mau begitu saja dicium oleh seorang lelaki?
__ADS_1
Bersambung…