
Tomi menatap Asti lagi untuk beberapa saat lamanya.
“Saya mengenal Ibu Asti cukup baik,” katanya kemudian dengan suara lembut tetapi jelas tekanannya.
“Tidak satu pun rekan sesama mahasiswa yang menilai Ibu tidak baik sebagai dosen. Sikap Ibu dalam menghadapi mahasiswa, bagus. Cara Ibu menangani masalah yang muncul, tepat dan dalam pengajaran Ibu mampu membuat materi yang sesungguhnya rumit menjadi lebih mudah untuk dipahami oleh para mahasiswa karena metode yang Ibu pakai cocok untuk mahasiswa yang bukan mahasiswa filsafat. Psikologi yang Ibu pelajari dulu, Ibu terapkan dengan bagus sekali. Pribadi Ibu sangat baik sekali, ditambah usia Ibu masih muda”
“Apa maksud Saudara berbicara gombal-gombal begitu?” Asti memotong bicara Tomi dengan suara galak.
“Saya hanya hendak mengatakan bahwa Ibu telah bersikap secara proporsional dan membuat saya harus angkat topi karenanya. Tetapi terhadap saya, sejak kita pertama kali berjumpa, apa yang saya lihat pada diri Ibu adalah sesuatu yang berbeda daripada yang saya dengar dari orang-orang maupun dari apa yang saya lihat kemudian dari kejauhan.
Jadi jelasnya, Ibu hanya kehilangan kemantapan Ibu apabila ada saya. Ini bukan rasa GR atau PD saya melainkan berdasarkan pengamatan saya. Bagi Ibu, saya ini berbeda dengan orang lain. Entah sifat perbedaan itu negative atau positif, itu yang saya tidak tahu persisnya. Yang jelas, saya berani memastikan bahwa Ibu tidak tenang bila berdekatan dengan saya!”
Merasa tidak mampu mengelak tembakan yang tepat dari pihak Tomi, Asti merasa pipinya menjadi hangat. Tetapi tentu saja ia tidak mau memperlihatkan kekalahannya. Jadi dia langsung berdiri begitu Tomi selesai berbicara.
“Saudara Tomi, maafkanlah saya. Saya tidak mempunyai waktu untuk mendengar ceramah dari Saudara!” katanya dengan suara berapi-api.
“Jadi selamat jalan dan jangan lupakan tugas Saudara untuk mengirimkannya tepat pada waktunya!”
Tomi berdiri. Kemudian tersenyum.
“Maafkanlah kalau lagi-lagi saya membuat Ibu kehilangan waktu dan ketenangan!” katanya sambil mengulurkan tangannya. “Sampai jumpa pada tahun ajaran baru mendatang!”
Demi sopan-santun, Asti terpaksa menerima uluran tangan Tomi meskipun hatinya mendongkol. Tomi yang begitu penasaran ingin mengetahui apa yang ada di balik sikap Asti yang begitu dingin itu tidak membuang kesempatan yang ada.
__ADS_1
Dengan gerakan nekat tetapi pasti, ia menarik tangan Asti sehingga gadis itu tertarik kearahnya dan sebelum Asti menyadari perbuatannya, lelaki itu telah merangkul erat tubuh Asti kedalam pelukannya. Dan juga tanpa memberi kesempatan kepada gadis itu untuk berpikir, Tomi segera mencium bibir sang dosen cantik yang sedang berada di dalam pelukannya itu.
Lagi-lagi! Asti kaget! Tetapi sekaligus juga terpukau sehingga seperti apa yang pernah dialaminya, otaknya mulai mampet lagi. Yang di sadarinya saat itu adalah bibir Tomi yang sedemikian mesranya mengecupi bibirnya. Ia menjadi terlena dan terlena lagi sampai akhirnya Tomi melepaskan pelukan dan ciumannya secara mendadak untuk segera menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis sekali.
“Selamat tinggal, Bu Asti. Doakan saya kembali dengan selamat!” katanya. Di wajah Tomi mukanya menyiratkan kemenangan. Tetapi Asti berdiri dengan mata membelalak dan pipi merah padam! Tomi pun langung berjalan menuju pintu keluar rumah Asti dan langsung menuju mobilnya, lalu pergi.
*
*
Asti tidak pernah menyangka bahwa kepergian Tomi keluar kota itu membawa pengaruh yang tidak sedikit dalam kehidupannya sehari-hari.
Di kampus tanpa kehadiran lelaki itu, rasanya menjadi lain. Tidak terlihat lagi mobil berwarna merah metalik yang hampir selalu parkir di sudut halaman parkir yang teduh oleh pohon cemara rendah yang rimbun daunnya itu.
Dalam ruangan kuliah tidak ada lagi mahasiswa yang duduk menatapinya dengan pandangan matanya yang penuh arti itu.
Entah kemana dia dan bagaimana kabarnya pun Asti tidak tahu. Memang dikehendaki atau pun tidak, Tomi telah menjadi bagian dari kehidupan Asti di kampus.
Entah itu bagian yang menyenangkan entah sebaliknya, itu bukan masalah, sebab yang pasti Tomi telah mengisi hati dan pikiran Asti. Dan keyataan telah berbicara. Begitu lelaki itu pergi, Asti merasa ada sesuatu yang hilang pada dirinya.
Hari-hari yang berjalan tanpa henti seiring dengan berputarnya bumi mengarahkan waktu pada ujian akhir semester genap yang telah di ambang pintu. Dan menjelang masa ujian, ada libur selama satu minggu.
Namun meskipun demikian, dalam libur minggu tenang itu kampus tidak pernah sepi dari mahasiswa. Ada sebagian mahasiswa yang memilih belajar di kampus yang tenang, bersama-sama dengan kelompok belajarnya. Bahkan juga sebagian ada yang memilih ruang perpustakaan untuk membaca-baca bahan ujian dan mempelajarinya di tempat itu.
__ADS_1
Asti sendiri pun beberapa kali datang ke kampus untuk satu atau dua urusan. Seperti siang itu misalnya, ia datang ke kampus untuk meminjam beberapa buku di perpustakaan. Libur begini memang sering diisinya dengan membaca-baca sesuatu yang menambah wawasannya.
Siang itu, ia diturunkan oleh Ayah nya yang akan pergi mengambil pensiunnya. Asti tidak meminta dijemput sebab ia tahu betul bahwa setiap habis mengambil uang pensiun, sang Ayah selalu makan-makan dengan beberapa kenalan yang sama-sama mengambil pensiun dengannya. Biarlah sang Ayah menikmati sisa-sisa masa kejayaannya, Asti tidak ingin mengganggunya.
Selesai meminjam beberapa buku, Asti bermaksud langsung pulang. Tetapi ketika baru menyeberang halaman, Pak Eko memanggilnya dari belakang.
“Dik… Dik Asti!” kata lelaki itu sambil berjalan mendekatinya dengan langkah kaki lebar-lebar.
“Mau pulang?”
“Ya” Asti menghentikan langkah kakinya. Siang itu Pak Eko tampak amat menarik dengan pakaiannya yang tidak resmi. Ia memakai celana warna gelap dan kaos warna terang. Pasti wanita-wanita lain akan menoleh beberapa kali ke arahnya, pikir Asti sambil mengeratkan buku-buku yang ada di dalam pelukannya.
“Naik apa, Dik Asti pulang nya ?”
“Kalau ada bis yang kosong, ya naik bis saja Mas. Tetapi kalau penuh, aku akan naik taksi online saja. Ada apa Mas?”
“Aku kebetulan tidak ada acara siang ini. Bagaimana kalau Dik Asti ikut mobilku saja ?” Pak Eko menawari jasanya. Nanti ku antarkan sampai ke rumah”
Kalau saja Asti tidak ingat Pak Eko mengetahui ia pernah diantarkan oleh Tomi dengan alasan membawa banyak barang, pastilah ajakan Pak Eko itu ditolaknya. Ia tidak ingin mengurangi jarak yang telah berhasil dipancangkannya di antara dirinya dan lelaki itu.
“Tidak merepotkan Mas?”
“Tidak dong… Malah senang bisa mengantarkan seorang bidadari pulang ke rumahnya. Ayolah ikut aku. Mobilku parkir di seblah sana!” Pak Eko riang gembira dengan bersemangat menuntun Asti mengarah ke mobilnya di tempat parkir.
__ADS_1
Asti menurut. Di dalam hatinya, ia sudah memutuskan untuk tidak lagi menuruti ajakan lelaki itu. Tetapi untuk kali ini, biar sajalah, pikirnya.
Bersambung….