
Sang Ibu yang merasa khawatir mendengar anak gadis semata wayangnya itu berkata ia akan meninggalkan Jakarta besok untuk pergi ke Yogya. Ibu lagsung menoleh kearah Asti.
“Kamu seperti orang mau melarikan diri saja, Nak! Ada apa? Ada masalah yang sedang kamu tutupi dari Ayah dan Ibu?” tanya Sang Ibu dengan khawatirnya.
“Ada apa Nak? Tidak biasanya kamu seperti ini. Mbak juga bilang kamu akhir-akhir ini sering melakukan hal-hal yang jarang dan bahkan yang tidak pernah kamu lakukan” sambung Sang Ayah. “Apa yang sedang mengganggu pikiran mu?”
“Tidak ada apa-apa kok Ayah, Ibu. Aku baik-baik saja. Nah lihatlah!” Asti sambil memutar-mutarkan badannya di depan Sang Ayah dan Ibu, agar mereka dapat melihat bahwa anak nya baik-baik saja tanpa cacat sedikit pun.
“Iya… Tapi mengapa kamu begitu terburu-buru? Besok kamu pergi sore ini baru bilang!” kata Ibu lagi.
“Aku hanya kangen sama Eyang, Bu. Itu saja! sahut Asti. “Dan tadi iseng menelepon kantor travel, ternyata besok itu masih ada tempat yang kosong. Jadi aku ya, langsung pesan aja Bu!”
“Tetapi jika kamu sudah merencanakannya kemarin-kemarinkan, Ayah, Ibu, Bibi mu dan Fito bisa ikut. Sudah lama juga kita tidak kumpul ramai-ramai bersama Eyang di Yogya. Bibi mu jugakan tahun ini belum mengambil cutinya!” kata Ayah Asti.
“Memang belum, setahu ku! Tetapi Asti kan lebih suka pergi sendiri Yah, agar bisa menikmati waktu liburan yang jarang terjadi ini. Biar lebih bebas juga hehe…” goda Asti kepada Ayah dan Ibu nya.
“Hush! Memangnya di Yogya ada siapa tu?” terdengar suara yang badannya belum terlihat oleh mereka. Ternyata Bibi Asti yang datang dari arah dapur, sambil membawa satu piring putih berisi potongan buah semangka yang segar.
“Tetapi iya… Kamu memang sengaja pergi untuk menjauhi seseorang ya? Sedang menjauhi atau ingin menemui seseorang Nak?” tanya Ibu tanpa henti dengan wajah penasarannya.
“Ahh, tidak kok Bu” Asti menjawab dengan kulit kening yang di kerutnya.
“Apakah itu ada kaitannya dengan Nak Eko?” selidik Sang Ibu lagi.
“Tidak…” Asti menjawab sambil membuang muka. “Besok malah dia yang mengantarkan saya ke tempat pemberangkatan bis!”
__ADS_1
“Tetapi Asti ini memang penuh dengan rahasia!” komentar Sang Ayah sambil tertawa.
“Benar itu, Mas!” sambung Bibi sambil meletakkan piring berisi buah semangka di atas meja.
“Iya, sangat berbeda dengan Lastri… Kalau Lastri sedang jatuh cinta, ributnya minta ampun. Dia putus cinta, lebih-lebih lagi ributnya. Dia dikejar-kejar pemuda, ramai. Apalagi kalau dia tidak menyukai pemuda itu!”
“Bedanya jauh banget sama kamu Ti. Keluargamu sendiri tidak tahu apa-apa dengan yang terjadi pada dirimu” kata Sang Ayah membandingkan Bibi Lastri dengan Asti. Secara Asti dan Bibi nya itu memiliki umur yang sama, hanya beda bulannya saja. Terkadang mereka bisa menjadi keponakan dan bibinya. Terkadang terlihat seperti sahabat yang sangat akrab.
“Om, sudah ingin menikahkan Mbak Asti ya?” tanya Fito sepupu Asti yang sudah dua hari menginap dirumahnya dan sedang kumpul-kumpul diruang tamu bersama orang tua Asti. Fito menginap di rumah Asti, karena sudah liburan sekolah. Ia juga tidak pulang ke kampung liburan tahun ini, Ayah dan Ibu Asti mengajak ia menikmati masa liburan bersama mereka saja.
“Tentu saja, Fit. Mbak mu sudah lebih dari cukup untuk memasuki tahap berumah tangga. Bahkan juga sudah pantas memberi Paman kamu ini, beberapa cucu yang lucu!” sahut Sang Ayah.
Asti hanya tersenyum pahit saja mendengarkan tanya jawab antara Ayah dan Sepupu nya itu. Dan ia baru bereaksi melempar bantalan kursi kepada Sepupu nya, karena pertanyaannya kepada Ayah dan Ibu itu sudah membuat asti salah tinggah sekaligus geram.
“Kalau begitu Mas, tunggu sajalah tanggal mainnya. Mungkin pulang dari Yogya, ada kemajuan. Asti akan membawa berita gembira untuk kita semua!” ucap Lastri sambil tersenyum gembira.
“Hust, kamu itu orang apa sih Ti?” tanya Ibunya setengah marah setengah tertawa. “Jelek-jelekkan suku sendiri”
“Aduh Ibu,” senyum Asti. “Ibu jangan menggaris bawahi sukuisme, ah. Nanti kalau banyak orang berpikir sama seperti Ibu, bangsa kita bisa sulit melebur diri menjadi bangsa kesatuan Indonesia lho!”
“Kalau begitu, kenapa kamu bilang tidak mau menikah dengan orang Jawa?”
“Aku cuma mau bilang, aku tidak mau menikah dengan orang yang terlalu kalem dan lamban. Dan biasanya, itu terdapat pada suku Jawa. Kecuali kalau lelaki Jawa itu sudah terbiasa hidup di kota metropolitan dan tahu perkembangan kehidupan dikota besar!”
“Jangan menyamakan garam sama asinnya dan gula sama manisnya lho Nak. Nanti kamu kaget kalau menemukan pengecualian lain! Namanya kalau sudah jodoh itu susah mau minta yang bagaimana bentuknya” sambung Ayah nya.
__ADS_1
“Sudahlah Mas, lihat saja nanti bagaimana tanggal mainnya!” sela Lastri lagi. “Asti itu biar pun begitu, suka membawa kejutan-kejutan lho, Mas Mba!”
“Kejutan apa, Las?” Asti melotot. “Jangan mengarang Bibi ya! Bikin gosip-gosip yang tidak-tidak saja!”
“Lho kok jadi ngambek sih Ti, aku lho tidak ngomong apa-apa” sahut bibi lagi tertawa kecil.
“Ayah tidak pernah merasa heran, ulang tahun Asti beberapa bulan lalu kan ada sebuah karangan bunga mawar putih yang amat cantik kiriman dari seseorang yang masih rahasia. Dan Fito juga pernah melihat Asti diantar pulang oleh seorang pemuda berkumis yang ganteng.
“Ia bahkan membukakan pintu untuk Asti dan membawakan bawaan Asti yang banyak. Tetapi tampaknya Asti sengaja tidak menyuruhnya masuk kerumah dulu. Fito perhatikan itu semua dari kejauhan tanpa Asti sadari. Baru sekarang Ayah mengatakannya!”
Sekali lagi Fito mendapat lemparan bantal guling dari Asti. Kali itu wajahnya agak memerah sehingga kedua orang tuanya berpandang-pandangan mata tanpa Asti dan Sepupunya itu memperhatikan mereka.
“Fito itu pantasnya jadi pengarang saja!” kata Asti kemudian. “Jangan segera mengambil kesimpulan atau mengembangkan imajinasi yang bukan-bukan hanya karena melihat sesuatu dari kejauhan! Kejadian sebenarnya belum tentu seperti yang di lihat dengan mata” kata Asti lagi.
“Entahlah apa Fito salah atau benar, Kak! Tapi yang Fito lihat seperti itu. Maaf ya kak hehehe…”
Asti tertawa sambil melempar bantalan kursi kepada Fito lagi. “Kamu ini ya Fit, tidak Kakak belikan kamu oleh-oleh nanti dari Yogya. Nama mu langsung kakak hapus dari daftar oleh-oleh” jawab Asti sambil mengolok Adik Sepupunya itu.
“Yang akan membuktikan nanti adalah kenyataan. Dan waktu yang akan bicara!” sambung Lastri tiba-tiba. Asti melotot kearah Lastri yang tiba-tiba mengikik.
“Kok tertawa?” kata Lastri. “Apa yang kamu tertawai?”
“Idih, orang tertawa sendiri kok kamu tersinggung!” sahut Asti masih sambil tertawa.
“Hei, bagi-bagi tawamu itu, Ti!” sela Lastri yang kelihatannya bingung dengan tingkah Asti.
__ADS_1
“Apa sih yang membuatmu tertawa? Lihat sajalah pipi kamu itu lho!” sahut Lastri kesal. “Merah padam. Apa kamu tidak melihatnya, Asti?!”
Sekarang, bantalan kursi menimpa muka Lastri. Dan si pelempar bantal merasa pipinya semakin menghangat. Sebab, ia teringat kepada Tomi. Pastilah godaan Fito dan Bibi nya itu akan semakin gencar kalau tahu bagaimana ia membalas ciuman Tomi ketika mereka berdua ada di dapur rumah ini beberapa bulan lalu.