
Desti dan Endah meninggalkan ruangan pak Eko setelah berpamitan.
" Des, itu tadi bu Asti yang katanya gebetan pak Eko kan? "
Tanya Endah pada Desti.
" Aku rasa iya, tadi kan kamu dengar sendiri obrolan mereka. "
Jawab Desti pada Endah.
Mereka tengah berjalan di Koridor kampus menuju parkiran untuk mengambil kendaraan dan pulang.
" Jadi gimana, Des? Masih mau lanjut mengejar cinta pak Eko? "
Tanya Endah lagi.
" Lha emangnya kenapa aku harus berhenti? Apa ada sesuatu yang melarang aku melakukannya? "
Tanya Desti balik pada Endah.
" Bukan begitu, kan kamu tadi lihat sendiri bagaimana pak Eko berusaha untuk mengantarkan bu Asti pulang? "
Jawab Endah pada Desti.
" Kan bu Asti juga tidak mau diantar sama pak Eko, katanya bu Asti sudah ada yang jemput.
Itu berarti bu Asti tidak memiliki perasaan apapun pada pak Eko.
Sepertinya bu Asti juga sudah punya gebetan, orang yang tadi menjemputnya untuk pulang. "
Desti menjelaskan pada Endah mengenai pandangannya pada bu Asti tadi.
" Iya juga sih, ya? Sepertinya bu Asti menolak pak Eko secara halus.
Kalau bu Asti suka pada pak Eko, pasti bu Asti tidak akan menolak ajakan pak Eko. "
Kata Endah yang mengerti dengan apa yang tadi Desti katakan.
" Tapi ngomong-ngomong, bu Asti itu terlihat masih sangat muda ya? Kok bisa jadi seorang dosen.
Apa dia pintar dan mengikuti kelas akselerasi sehingga diusia muda sudah menjadi seorang dosen? "
Tanya Endah yang merasa heran, karena bu Asti masih terlihat muda dan sudah menjadi seorang dosen.
" Iya ya, bu Asti masih terlihat muda, mungkin usianya sama dengan kita atau lebih muda dari kita. " kata Desti yang menyetujui apa yang Endah katakan.
" Hebat juga ya, kalau bu Asti bisa menjadi seorang dosen diusia muda.
Bisa jadi dia memang ikut kelas akselerasi karana kepintarannya, jadi tidak mengikuti kegiatan belajar seperti siswa pada umumnya dan bisa menyelesaikan sekolah lebih cepat. "
Desti juga kagum pada bu Asti yang mereka kira bisa menyelesaikan sekolah dengan cepat karena kepintarannya.
" Kalau ada kesempatan, aku ingin berkenalan secara langsung dengan bu Asti. "
__ADS_1
Kata Desti pada Endah.
" Lho, untuk apa? "
Tanya Endah heran, mengapa Desti ingin mengenal bu Asti.
" Ya sekedar kenalan aja, apa salahnya? Siapa tahu bisa dapat resep untuk menaklukkan pak Eko. "
Kata Desti sambil tertawa.
" Kamu mau kalau pak Eko ngejar-ngejar kamu, Des? "
Tanya Endah serius pada Desti.
" Memang kamu tahu caranya? " tanya Desti penasaran.
" Pakai pelet. " kata Endah singkat.
" Gila kamu ya, Ndah! Nyuruh aku main pelet. Ga mau aku! " kata Desti dengan kesal pada Endah.
" Tenang, ini peletnya ga perlu ke datang ke dukun, bisa kamu kerjakan sendiri karena sangat gampang. "
Kata Endah yang berusaha memprovokasi Desti.
Dalam hati Endah tertawa karena ia ingin mengerjai Desti.
" Serius ada pelet yang mudah dan bisa dikerjakan sendiri? " tanya Desti mulai penasaran.
" Ada! Kamu mau tahu caranya? " tanya Endah dengan mimik wajah yang serius.
Endah menghentikan langkahnya, diikuti oleh Desti.
Didepan Desti, Endah berusaha bersikap seolah-olah sedang serius, padahal sebenarnya dia tengah menahan ketawa.
" Begini. " kata Endah serius, dan Desti pun berusaha mendengarkan apa yang akan Endah katakan.
" Kamu bawa ta* ayam yang masih baru keluar dari pantat ayam, lalu kamu colek menggunakan jari kanan kamu.
Saat bertemu dengan pak Eko, kamu berdiri di depan pak Eko sambil me-melet kan lidah kamu. Terus ta* ayam yang ada dijari kamu, kamu colek kan ke hidung pak Eko. Dijamin, pak Eko pasti akan mengejar-ngejar kamu kemanapun kamu pergi. " Wkwkwkwk...
Endah tertawa setelah mengatakan hal itu pada Desti.
Dari tadi ia berusaha untuk menahan tertawa, setelah mengatakan rencananya, Endah tidak bisa lagi menahan tawanya.
Desti yang tadi belum mengerti seketika memanggil nama Endah setelah sadar jika ia sedang dikerjai oleh Endah.
" Endah... !! " kata Desti sambil berlari mengejar Endah yang tertawa menuju parkiran.
" Sialan kamu ya, malah ngerjain aku.
Aku sudah serius mendengarkan apa yang kamu sampaikan, ternyata kamu hanya mempermainkan aku. "
Kata Desti dengan kesal sambil menyusul Endah yang berlari ke parkiran.
__ADS_1
" Tapi benarkan, setelah itu pak Eko akan mengejar kamu. "
Kata Endah yang memegang perutnya yang sakit karena tertawa.
" Iya, pak Eko bakal ngejar-ngejar aku tapi buat nabok aku, bukan mau menyatakan cinta sama aku. "
Kata Desti yang sudah berdiri tidak jauh dari Endah.
Mendengar kata-kata Desti, Endah kembali tertawa sambil memegang perutnya.
" Puas! Puas kamu sudah ngerjain aku? Tertawa aja terus! Aku ga mau boncengin kamu pulang. " kata Desti sambil cemberut. Ia. Merasa kesal karena sudah dikerjai oleh Endah.
" Iya maaf, aku kan cuma bercanda.
Kalau kamu ga mau ngantar aku pulang, terus aku pulang sama siapa? Kan motor aku lagi di bengkel. " kata Endah setelah berhenti tertawa. Endah masih ingin tertawa bila ingat apa yang sudah ia katakan pada Desti.
" Mana aku tahu kamu pulang sama siapa. Sama tukang ojek aja sana. " kata Desti ketus.
Desti tidak benar-benar marah pada Endah, dia hanya sedang mengerjai Endah balik.
Desti telah memasang helmnya dan bersiap men starter motornya.
Endah buru-buru naik ke motor Desti karena takut jika Desti benar-benar meninggalkannya di parkiran kampus.
" Nih, pake helmnya! " kata Desti ketus pada Endah.
Endah mengambil helm yang diberikan oleh Desti lalu memakainya di kepala.
" Terima kasih, Des! " kata Endah pada Desti.
" Mari kita lanjutkan perjalanan menuju rumah, cacing di perut ku sudah berdemo minta disiram nasi dan kuah sayur. "
Kata Endah sambil bercanda, ia berharap Desti tidak marah lagi padanya.
Desti akhirnya tertawa mendengar candaan Endah.
" Apa perlu cacing di perutmu kita semprot dengan kuah bakso yang pedas dan es teh? " tanya Desti membalas candaan Endah.
" Itu ide yang bagus. Dengan kuas bakso pedas dan es teh, aku kira demo para cacing akan bisa diatasi. "
Kata Endah penuh semangat.
" Kalau begitu, mari kita ke warung bakso mang Udin untuk menghentikan demo para cacing. "
Dengan semangat, Desti melajukan motornya meninggalkan halaman kampus menuju warung bakso langganan mereka.
Desti dan Endah bersahabat sudah sangat lama, sejak mereka duduk di bangku SMP.
Jadi keduanya sudah sangat dekat, saling mengerti dan memahami satu sama lain.
Kedua orang tua merekapun sudah sama-sama menganggap anak.
Orang tua Desti menganggap Endah seperti anak mereka sendiri, begitupun sebaliknya orang tua Endah yang menganggap Desti seperti anak mereka.
__ADS_1
Makanya antara Desti dan Endah tidak pernah bertengkar atau berselisih paham secara berlebihan.
Jika mereka berselisih paham, maka sebentar seja mereka akan kembali berbaikan.