
Mendapati keadaan seperti itu, Tomi hanya bisa menghela napas panjang. Sambil menjatuhkan bokongnya ke kursi teras.
Saat ini ia menyadari, bahwa dirinya dengan gadis yang ada dihadapannya saat ini dan sangat ia cintai memang belum ada status apa pun.
Ia juga menyadari bahwa Asti selama ini memang belum pernah menjawab pernyataan cinta dari dirinya. Walau pun ia sudah beberapa kali menyampaikan isi hatinya. Dan sekarang ia menyadari alasan dari semua penolakan yang gadis ini berikan kepadanya.
Dari lubuk hati yang paling dalam ia tidak ingin ada disini. Ditambah dengan emosi yang menggelegar, ingin sekali ia pergi dari sini sekarang juga. Namun jika ia berpamitan sekarang malah akan membuat situasi semakin aneh dan canggung rasanya. Karena alasan pertama yang ia sampaikan kepada lelaki yang bersama Asti adalah dengan tujuan kedatangannya untuk mencari Asti. Jika dengan alasan itu maka harus ada alasan kedatanggannya mencari Asti itu apa.
Tomi juga berfikir, nanti malah membuat salah paham antara Asti dan lelaki itu. Tiba-tiba datang mencari dan tiba-tiba ingin pulang saat belum ada penyampaian atas maksud dan tujuan akan kedatangannya kerumah ini.
Tomi hanya duduk sambil menatap Asti dan sambil berfikir keras. Ia belum mengutarakan sepatah kata pun sedari tadi. Permintaan Asti kepada lelaki itu juga belum mendapat jawaban. Suasana canggung dan sunyi berjalan beberapa menit. Sampai akhirnya Aryanto menjawab permintaan Asti.
“Lho…” Aryanto menatap kearah sepupunya dan berniat mengucapkan sesuatu. Tetapi tidak jadi karena Asti sudah menyelanya.
“Tetapi sebelumnya, kenalkan dulu. Ini Dokter Tomi, Mas. Dan ini Mas Aryanto…” Asti memperkenalkan kedua lelaki itu dengan sikap canggung pada raut wajah Asti. Terdengar juga dari suaranya yang bergetar dan itu terlihat oleh Aryanto.
Perubahan sikap Asti dari kegembiraan dan tawa yang tadi terdengar lepas keluar dari hatinya. Namun saat ini kegembiraan dan tawanya berubah menjadi canggung dan seperti orang bingung. Itu tidak luput dari pandangan kakak sepupunya, yang sudah sangat paham dengan karakter seorang Asti.
Sebagai seorang yang lebih berpengalaman dalam pergaualan antara pria dan wanita dibanding dengan Asti, lelaki itu segera menangkap adanya sesuatu yang sedang terjadi dalam diri Asti.
__ADS_1
Pernyataan yang masih ada didalam pikiran Aryanto itu semakin di dukung dengan pernyataan dari Asti. Dimana saat Asti tadi mengenalkan tamunya ini berprofesi sebagai seorang dokter.
Jangan-jangan telah terjadi kontak antara Asti dan lelaki ini ketika Asti sedang dirawat di rumah sakit. Kalau iya, itu berarti sebuah kemajuan dan kabar berita yang mengembirakan. Sebab tidak mungkin Asti menjadi begitu kehilangan pegangan hanya karena kedatangan seseorang, kalau seseorang itu tidak mempunyai tempat di hati Asti. Bahkan andai di bagian yang paling sudut pun.
Berpikir seperti itu, Aryanto menganggap perlunya ia bersikap bijaksana dan membiarkan perkembangan apa pun yang akan terjadi nanti tanpa campur tangannya, walau pun hanya keikutsertaannya hadir di antara mereka berdua di teras ini. Jadi keputusannya, ia ingin pergi. Kedua orang ini harus di beri ruang yang luas, pikir Aryanto.
“Nah, Saudara Tomi… Silahkan duduk yang santai. Maaf, saya tidak bisa ikut menemani duduk di sini. Ada satu urusan yang harus saya selesaikan!” Aryanto mepersilahkan Tomi untuk bersantai dengan ramahnya.
“Tapi Mas…” Asti melotot kearah sepupunya. “Tetapi Apa?” Aryanto menatap ke arah Asti dengan pandangan menggoda yang hanya diketahui oleh Asti sendiri. ”Mau kamu paksa aku harus menemani mu, Non? Sudah sejak tadi siang aku di sini, lho. Besok kan masih banyak waktu!” jelas Aryanto lagi.
Aryanto yang berbicara santai dengan Asti seperti biasanya, namun Asti dan Aryanto tidak tahu apa yang ada di pikiran Tomi. Saat ini Tomi masih di dalam kesalahpahaman.
“Iya… Itukan tadi, Non. Sekarang ya sekarang!”
Aryanto tersenyum sambil mengulurkan tangannya ke arah Asti untuk kemudian menarik sejumput rambut gadis itu dan ditariknya dengan lembut. “Nanti kalau urusan ku selesai, aku akan kemari lagi.
Asti tidak menjawab. Tetapi mulut dan matanya menunjukkan bagaimana gadis itu merasa jengkel kepada Aryanto. Apa lagi lambaian tangan lelaki itu tidak dibalasnya. Bahkan ia membuang mukanya.
Tomi menelan ludah. Tidak pernah sebelum ini ia melihat Asti bersikap begini. Selama ini ia mengenal Asti selalu tampil dengan keyakinan diri, anggun, dingin dan mencoba meraih kedewasaan yang matang melebihi umurnya.
__ADS_1
Saat ini yang dilihat oleh Tomi adalah Asti yang tampak manja dan menggantungkan kekuatannya kepada keberadaan lelaki bernama Aryanto. Hal ini bukan saja mengagetkan Tomi, tetapi juga membuat perasaannya tercubit dengan keras berulang-ulang kali.
Rasa sakit yang dialami Tomi saat ini, tidak lain adalah rasa cemburu. Karena Asti tidak pernah bersikap demikian kepadanya. Selama ini Tomi merasa sudah mengenal Asti seutuhnya. Bagaimana pribadi Asti yang sebenarnya.
Menjadi lelaki yang mencintai gadis itu dan Tomi juga pernah menyibak topeng-topeng dari wajahnya. Jadi menurut Tomi selama ini ia sudah sangat mengenal Asti, tapi nyatanya kejadian hari ini memperlihatkan kepada Tomi bahwa dirinya sama sekali belum mengenal Asti.
Sambil melihat kepergian Aryanto dari teras, Tomi yang melayangkan matanya kearah Asti yang ada duduk di hadapannya juga kepada Aryanto yang sudah bersiap-siap untuk pergi dengan menggunakan sepeda motor. Tomi tetap terlihat seperti biasanya, terlihat tegar dan cool.
Berbeda dengan Asti, setelah Aryanto meninggalkan teras dan berjalan kearah sepeda motor yang ada di halaman depan rumah, Asti hanya menundukkan kepalannya. Menunjukkan kekesalan dan kekecewaannya terhadap Aryanto yang pergi meninggalkannya.
Belum ada dari antara Asti dan Tomi yang mengeluarkan suara untuk memulai pembicaraan. Namun setelah penampakan sepeda motor milik Aryanto tidak terlihat lagi, Asti baru mengangkat wajahntya. Ia juga berusaha melawan kegaduhan hatinya, sambil berusaha menenangkan perasaannya. Tidak boleh ia bersikap tidak simpatik di hadapan seorang tamu, walau pun sebenarnya kehadiran tamu itu membuatnya kesal.
“Mau minum apa, Dokter?” tanyanya kemudian. Sikapnya tampak kaku. Dan wajahnya hambar, tanpa senyum sekilas pun.
Mendengar pertanyaan seperti itu, apalagi dengan disertai wajah yang tidak ramah. Sikap yang di tunjukkan oleh Asti, membuat geraham Tomi mengetat.
“Bu Asti, saya mohon jangan menyebut-nyebut gelar saya!” katanya dengan suara setengah mendesis. “Dan juga apabila mengenalkan saya kepada seseorang, harap gelar saya itu jangan dibawa-bawa!” kata Tomi lagi, kali ini emosi Tomi tidak mampu di kontrolnya.
Asti diam tidak menjawab, ia bingung apakah harus marah balik atau merasa bersalah terhadap lelaki yang ada dihadapannya ini.
__ADS_1
Bersambung…