DOSEN CANTIK YANG JUTEK

DOSEN CANTIK YANG JUTEK
Asti Mengalami Kecelakaan


__ADS_3

“Kalau di Yogya Asti masih berani untuk mengendarai sepeda motornya, Eyang!”


“Tetapi walau pun begitu, hati-hati lho Nak. Kota Yogya pun sekarang ini sudah ramai. Tidak seperti tahun-tahun kemarin. Banyak pendatang dari tempat lain pindah kemari. Terutama para pensiunan yang ingin hidup lebih tenang dan tentram.” kata Eyang Kakung.


“Iya Nak sekarang Yogya sangat ramai, coba saja kamu jalan-jalan ke kota sana saat malam hari. Tidak ada acara pun sangat ramai. Jalan penuh dengan kendaraan. Trotoar, taman maupun café-café pun penuh dengan orang-orang yang berjalan, nongkrong ataupun kulineran sambil menikmati malamnya Kota Yogya”


“Jadi sekarang hiburan dan tempat untuk dikunjungi sudah banyak ya Eyang? Tidak bosan kalau begitu Asti menghabiskan masa liburan di sini” sahut Asti bersemangat.


“Iya Nak, Kamu pasti betah di sini. Ditambah lagi sekarang Kota Yogya adalah Kota pelajar. Banyak sekali anak pelajar atau anak kuliahan dari luar daerah datang kesini untuk kuliah. Anak-anak kesenian atau anak-anak daerah biasanya selalu mengadakan acara hiburan adat dan budaya mereka masing-masing”


“Ramai sekalilah… Bulan-bulan lalu Eyang Kakung dan Eyang putri masih kadang jalan kesana sore-sore. Sekarang saja badan sudah mudah lelah jadi kebanyakan di rumah saja. Makanya harus tetap hari-hati ya, Nak!” kata Eyang Putri lagi.


“Ya Eyang, Asti pasti hati-hati” jawab Asti. “Kalau Asti melamar menjadi dosen disini saja gimana Eyang setuju tidak?” kata Asti lagi menggoda Eyang Putri.


“Iya boleh Nak, jadi Eyang Kakung dan Eyang Putri tidak kesepian lagi kalau ada kamu di sini” kata Eyang gembira.


“Hehe… Asti cuma bercanda Eyang” jawab Asti sambil tertawa kecil.


“Kamu ini suka godain Eyang ya…”


“Hehe ya udah Eyang, Asti ingin memindahkan sepeda motornya dulu kehalaman depan ya? untuk dipanaskan mesinnya”


Adanya sepeda motor bebek itu cukup memberi hiburan bagi Asti selama beberapa hari di kota Yogyakarta itu. Ia dapat pergi ke rumah sepupu-sepupunya tanpa pusing harus bepergian menggunakan kendaraan umum atau ojek online.

__ADS_1


Ia bisa pergi jalan-jalan ke Maioboro, ke jalan Solo, pergi ke pertunjukan-pertunjukan anak-anak kampus yang pastinya banyak terdapat kuliner atau jajanan di sana, bersantai di café-cafe favorit di Yogya atau sekedar keluar masuk gang untuk melihat situasi Kota Yogya secara lebih akrab.


Terutama pada sore hari dimana cuaca sudah tidak panas lagi oleh teriknya sinar matahari. Dan dalam kesempatan itu, ia selalu menyempatkan diri untuk membeli sesuatu sebagai oleh-oleh untuk kedua Eyangnya yang menunggu di rumah.


Seperti sore itu, Asti kembali berkeliling dengan sepeda motornya menyusuri jalan-jalan kecil yang tidak terlalu ramai untuk mencari udara segar dan pemandangan yang berbeda. Hal itu perlu baginya sebab kegiatan sederhana semacam itu, dapat sedikit mengobati rasa sepi yang selama berhari-hari ini seperti mencekiknya.


Sungguh, belum pernah ia mengalami keadaan seperti ini, sampai-sampai rasionya sering tidak bisa di ajak bekerja sama lagi.


Begitulah, sore itu setelah membeli beberapa jajanan-jajanan kesukaannya. Untuk cemilan sambil menonton televisi nanti malam bersama Eyang Kakung dan Eyang Putri, Asti mengendarai sepeda motor dengan santai.


Berkendaraan dengan santai seperti ini adalah sesuatu yang sulit dialami pengemudi kendaraan di Jakarta. Tetapi meskipun demikian keadaannya, ia tidak waspada dan hati-hati. Sebab siapa tahu ada anak kecil lari keluar dari gang-gang kecil, atau ada kucing yang tiba-tiba menyeberang. Hal-hal semacam itu banyak terjadi di sekitar tempat itu.


Namun benarlah kata orang bahwa malang tidak bisa ditolak dan mujur tidak dapat diraih. Meskipun Asti mengendarai sepeda motornya dengan tenang. Tiba-tiba dari pertigaan yang tampaknya sepi itu muncul sebuah mobil yang dikendarai dengan kecepatan tinggi secara tidak terduga muncul dari sisi sebelah kiri Asti.


Apalagi tidak ada tanda-tanda sebelumnya seperti membunyikan klakson, misalnya. Maka sebagai akibatnya Asti tidak sempat mengerem sepeda motor milik Eyangnya itu. Tabrakan pun tidak terhindarkan.


Mula-mula Asti masih sadar dan dapat melihat pengemudi mobil itu menghentikan kendaraannya. Pengemudi mobil itu langsung turun untuk kemudian berlali-lari kearahnya. Juga beberapa orang yang menegakkan kembali sepeda motornya, ada yang mengambilkan sepatunya yang terpelanting jauh dari kakinya.


Entah apa lagi yang lainnya. Semua yang dirasakan Asti saat itu hanya bingung, kejadian ini terjadi seperti cuma sekejap. Asti mesara takut sekali. Sebab ia merasa ada yang tidak beres pada kakinya. Rasanya nyeri sekali. Dan kepalanya agak pusing.


Dugaan buruk saling tumpang tindih di kepalanya. Apakah aku mengalami patah tulang? Apakah ada bagian dari kaki ku yang koyak? pikirnya ketakutan. Dan apakah aku mengalami geger otak? Lalu seberapa parahnyakah kerusakan mobil orang itu dan seberapa parahnya pula kerusakan sepeda motor Eyangnya?


Asti ingin menangis keras-keras rasanya. Tetapi ia tidak berani bergerak, takut kalau-kalau gerakan tubuhnya akan memperparah keadaan. Karenanya ia hanya dapat membelalakan matanya dan membiarkan orang banyak mengelilinginya.

__ADS_1


Namun karena perasaannya bercampur aduk antara ketakutan, kaget, rasa sakit dan rasa malu. Asti tidak tahan berlama-lama terbaring di aspal. Maka akhirnya ia terpaksa menggerakkan tubuhnya untuk bangkit dari tempat itu. Tetapi karena gerakan itu menimbulkan nyeri yang luar biasa, baik di kakinya maupun di kepalanya, ia terpekik.


Pada saat itulah salah seorang lelaki yang sedang mengerumuni Asti, meminta supaya orang-orang jangan mengelilingi gadis itu dan menyuruhnya bubar.


“Ini bukan tontonan,” katanya. “Ayo, bubar. Bubaaaarrr!”


“Tetapi saya ingin membantu, Pak Ilham!” kata salah seorang remaja di dekatnya.


“Baik, Nak!” sahut lelaki yang disebut Pak Ilham itu. “Yang lainya bubar. Kami akan membawa korban lalu-lintas ini kerumah sakit secepatnya. Tolong Nak Har, bawakan tasnya”


“Saya akan membawanya ke rumah sakit dengan mobil saya, Pak!” Si pengendara mobil yang bertabrakan dengan sepeda motor Asti tadi menawarkan dirinya. “Saya bertanggung jawab untuk itu”


“Bagus sekali, Dik. Nah, mari kita angkat Mbak ini kedalam mobil Anda!” sahut Pak Ilham. “Saya akan ikut mengantarkannya. Dan Nak Har, tolong sepeda motor Mbak nya dimasukan ke rumah saya supaya aman”


Sesudah mengatur segala sesuatunya, Pak Ilham yang tampaknya termasuk pemuka masyarakat setempat itu mengajak orang-orang untuk mengangkat Asti kedalam mobil.


“Saya… Saya mau dibawa ke rumah sakit mana?” Asti bertanya dengan suara panik.


“Tenanglah Mbak” kata Pak Ilham yang bersifat kebapakkan itu. “Serahkan segala sesuatunya kepada kami. Percayalah, semuanya akan beres dan baik-baik saja”


“Tetapi…”


“Mengenai biaya, saya yang akan menanggung, Dik!” pengendara mobil itu berkata. “Saya yang salah tadi. Terus terang saja, saya memang sedang ada masalah di rumah dan tadi saya buru-buru keluar dari rumah dengan perasaan yang marah juga kacau. Seharusnya hal itu tidak saya bawa-bawa sampai ke jalan…”

__ADS_1


“Sudahlah Dik, mari kita angkat Mbak ini bersama-sama!” Pak Ilham menengahi. “Urusan lain, bisa dibicarakan kemudian”


Bersambung…


__ADS_2