
Karena keasikan bercanda Asti dan Aryanto tidak sadar. Di teras berdiri seorang lelaki sedang mengamati Asti dan Aryanto yang sedang bercanda gurau itu, dengan perasaan bercampur-aduk.
Di sepanjang pengamatannya terhadap Asti, baru sekali itulah ia melihat bagaimana bebasnya gadis itu mengekspresikan perasaannya.
Tidak pernah selama ini ia melihat sebegitu bahagianya gadis itu. Pipinya merah merona, matanya berkilau dan tawanya lepas bebas.
Lelaki itu tidak lain dan tidak bukan adalah Tomi. Ketika melihat pemandangan seperti itu, ia merasa dadanya bergemuruh cemburu.
Ada pengertian yang sekarang muncul dalam benaknya, mengenai sikap Asti selama ini terhadap dirinya dan sikap Asti jika menghadapi lelaki lain yang mendekatinya. Lebih khususnya terhadap dirinya mau pun terhadap Pak Eko.
Gadis itu nyata-nyata selalu membuat jarak dan selalu berusaha menghindar terhadap pendekatannya maupun pendekatan dgn Pak Eko. Rupanya, hal itu disebabkan karena gadis itu sudah mempunyai kekasih di kota Yogya ini.
Berdiri di dalam jangka waktu yang tidak sebentar dan melihat dengan mata kepalanya sendiri, wanita yang ia cintai ternyata sudah memiliki pasangan.
Begitu mesranya saat mereka bersama, begitu asyiknya saat mereka bercanda. Sampai-sampai kehadiran dirinya pun tidak terlihat.
Hati Tomi hancur, seperti luka yang di sirami dengan cuka. Hatinya yang selama ini kuat bertahan untuk seorang wanita yang ia cintai ternyata sia-sia.
Begitu panjang hari-hari yang ia lewati di Yogya ini. Namun tekadnya tetap kuat untuk pergi bertugas dengan meninggalkan Asti di Jakarta.
Sudah pasti dengan menahan rindu yang begitu besar terhadap wanita yang ia cintai itu. Namun ia harus pergi demi menjadi lelaki yang pantas dan menjadi lelaki yang terbaik, untuk bisa kembali menghadap kepada wanita yang ia cintai dengan keadaan yang siap. Tetapi saat ini semua cita-cita dan harapannya itu sepertinya tidak ada lagi.
Ibaratnya seperti buah yang tadinya tumbuh berkembang, dari bunga sampai menjadi anak buah yang subur namun saat ini di terpa badai. Menjadikan buah itu berguguran di tanah. Jangankan buahnya pohonnya pun ikut terbang dibawa badai.
Semangat Tomi saat mengejar Asti sewaktu ia masih mengikuti kuliah kala itu, sekarang sudah tidak ada gunanya lagi. Rindu yang ia tahan saat bertugas di luar kota, sampai mengabaikan wanita-wanita cantik yang juga menyukai dirinya. Itu sudah tidak ada gunanya lagi.
Perhatian dan semangat yang ia berikan serta ia tunjukkan, saat merawat Asti dirumah sakit, sepertinya bukanlah hal yang besar atau pun serius dimata seorang gadis ini. Hilang sudah harapan Tomi. Entah apa yang harus ia lakukan lagi, setelah tahu akan kenyataan yang ia lihat barusan. Jika seorang lelaki boleh menangis, saat inilah situasi yang boleh ia tangisi.
__ADS_1
Sekian lama ia berdiri sambil memikirkan banyak hal, Tomi akhirnya sadar dan merasa tidak ingin mengetahui dan menghadapi kenyataan ini.
Tomi mengedipkan matanya dan berniat pergi dengan diam-diam dari rumah ini. Toh kedatangannya belum diketahui oleh siapa pun, pikirnya.
Lebih baik ia pergi tanpa di ketahui oleh siapa-siapa, termasuk oleh Asti atau pasangannya itu. Karena jika kehadirannya di ketahui oleh Asti atau kekasihnya, nanti malah menjadi situasi yang tidak nyaman atara dirinya dengan Asti, atau dengan lelaki yang sedang asik bersama gadis yang ia cintai itu.
Tomi membalikan badannya dan berniat untuk melagkah menjauh dari rumah itu. Tetapi sayang, niatnya tidak kesampaian. Sebab Aryanto yang kebetulan melayangkan pandang matanya ke teras melihat gerakan Tomi.
“Ti, ada tamu ya sana?” katanya kepada Asti. Kemudian lelaki itu segera melangkah keluar dengan langkah lebar-lebar .
“Selamat petang, Mas. Ada keperluan apa ya?
Tomi terpaksa membalikan lagi badannya. “Em…” kata Tomi sambil menatap wajah Aryanto.
“Atau mau mencari seseorang, Mas?” kata Aryanto lagi.
“Oh… Asti… Iya ada…ada…” Aryanto menjawab sambil tersenyum. Perasaan curiga Aryanto saat berbicara dengan Asti tadi, tumbuh lagi saat melihat seorang lelaki berkulit putih dan tampan ini datang dan mencari Asti sepupunya itu.
“Mari silahkan masuk, Mas” kata Aryanto lagi mempersilahkan Tomi untuk masuk ke rumah Eyang nya itu.
“Terimakasih” Tomi menyahuti kata-kata Aryanto, tetapi dia tetap berdiri di teras.
“Baiklah… Saya panggilkan Astinya dulu” melihat Tomi tidak ingin masuk bersamanya, Aryanto segera memanggil Asti yang sibuk membereskan taplak meja, bantal kursi dan majalah-majalah yang berserakan oleh candaanya bersama Aryanto tadi.
“Ti, tamu kamu di luar” kata Aryanti kepada Asti.
“Hah? Tamu ku? Aku tidak ada janjian dengan siapa pun, Mas!” kata Asti menjawab kakak sepupunya.
__ADS_1
“Ya sudah lihat saja sana, kasian tu dia berdiri di luar… Sudah ku ajak masuk tetapi mungkin dia malu” jawab Aryanto meminta Asti segera melihat orang yang mencarinya di depan.
Asti yang masih berjalan dengan tongkat segera keluar. Ketika melihat orang yang mencarinya itu adalah Tomi, mata Asti melotot. Kedatangan lelaki yang tidak di undang dan tidak disangka-sangka ini, membuat ia kaget dan jantungnya mulai dengan debaran yang tidak normal seperti biasanya.
“Oh, Anda…” katanya singkat sambil mengatur pernapasannya. Semenjak ia mengetahui bahwa mahasiswanya itu ternyata adalah seorang dokter, Asti hampir tidak pernah memanggi Tomi dengan sebutan ”Saudara” lagi. Ia merasa sungkan karena hal itu.
“Selamat petang, Bu Asti!” sebaliknya, Tomi masih tetap menyebut nama Asti dengan panggilan “Ibu” seperti biasanya.
“Iya… Selamat petang…” Asti terpaksa bersikap ramah. Bagaimana pun juga ia teringat, bahwa Tomi telah banyak membantunya dan berjasa kepadanya selama ia terbaring di rumah sakit.
Kenalan lelaki itu banyak yang bertugas di rumah sakit tempat ia dilarikan saat kecelakaan. Oleh karena teman-teman perawat dan dokter-dokter dirumah sakit itu tahu bahwa Asti adalah kenalan Tomi dan mereka memandang Tomi. Jadinya Asti mendapat perlakuan yang lebih khusus dari para dokter maupun perawat disana.
“Mari, silahkan duduk” kata Asti mengarahkan tangannya ke kursi yang ada di teras rumah Eyang itu dan mempersilahkan Tomi untuk duduk.
“Duduk di dalam saja, Mas!” inisiatif Aryanto, melihat adik sepupunya itu malah menunjuk kursi yang ada di teras bukan mengajak tamunya untuk duduk keruang tamu.
“Rasanya lebih segar duduk di luar. Udaranya sejuk” jawab Tomi dengan perasaan yang benar-benar tidak nyaman. Terasa sedang menjadi pengganggu suasana asik sepasang kekasih.
“Oh, baiklah silahkan. Yang enak saja!” Aryanto bersikap sebagai tuan rumah. Itu adalah sikap yang wajar, karena rumah itu adalah rumah eyangnya juga. Ibunya dan Ibu Asti kakak beradik. Mereka adalah putra-putri, tuan dan nyonya rumah itu.
“Terimakasih!” Tomi menarik salah satu dari empat kursi yang ada di teras itu. Perasaannya tidak enak. Beru pertama kali ia merasakan hal semacam ini.
Tetapi sebelum Tomi sempat duduk, Asti menghentikan gerakannya dengan perkataan yang diucapkan dengan tergesa-gesa kepada Aryanto.
“Kamu juga duduk bersama kami lho, Mas!” Tomi mendengar nada cemas dalam suara gadis itu. Hatinya jadi semakin tidak enak. Sebab ia yakin, Asti tidak ingin duduk berduaan dengannya. Dan ia juga takut jika kekasihnya itu nanti menjadi salah paham akan kehadirian tamu laki-laki yang pasangannya tidak kenal. Apa lagi jika berbicara berdua saja bersama tamu ini.
Bersambung…
__ADS_1