
Melihat Indah yang meradang, Erik makin suka menggoda Indah.
Bukan maksud Erik ingin menyakiti Indah, justru ia ingin menghibur Indah agar Indah tidak larut dengan rasa sakit hatinya karena merasa kalah bersaing dengan Asti untuk mendapatkan Tomi.
Dengan sengaja, Erik menyanyi lagu Emen yang dipopulerkan oleh Yosie Lucky dengan mengubah nama Emen jadi Tomi.
🎙 🎶Duh..Tomi
Mengapa hidup ini sengsara, Tomi
Sejak aku ditinggal dirimu, Tomi
Hati ku jadi merana
🎶Duh.. Tomi
Mengapa kau mau sama Asti, Tomi
🎶Hidupku terasa hancur lebur, Tomi
Hati ku jadi terluka..
🎶Maunya sih aku bunuh diri, Tomi
🎶Beli racun tikus dapat ngutang, Tomi
🎶Tapi aku masih ingin hidup, Tomi
🎶Biar sakit hati ini.
Mau nekad aku gantung diri, Tomi
🎶Pake tali kolor warna hitam, Tomi
🎶Tapi gimana caranya..
🎶Aduh, Tomi
Biar bisa hidup lagi..
🎶Aduh, Tomi
Biar bisa banyak duit
🎶Aduh, Tomi
Biar bisa jadi cantik
🎶Aduh, Tomi
Biar bisa jadi happy.. 🎶🎶
Erik menyanyikan lagu itu sambil bercanda agar Indah bisa melupakan rasa sakitnya.
Mendengar Erik yang menyanyikan lagu itu dengan jenaka, membuat Indah sedikit melupakan rasa sakitnya pada Tomi dan Asti.
Indah pun mulai bisa tersenyum.
" Ada-ada saja kamu, Rik..! Mana ada aku mau minum racun tikus dapat ngutang, apalagi bunuh diri pake tali kolor.
Dapat darimana lagu itu? Kamu ngarang ya?" kata Indah.
Erik merasa senang melihat Indah sudah bisa tersenyum.
Usahanya untuk menghibur Indah tidak sia-sia.
__ADS_1
Walau bagaimanapun, Indah teman yang baik bagi Erik.
Sejak mereka satu team di Yogya, ia menjadi lebih akrab dengan Indah.
Indah orang yang setia kawan, saat harus menghadap dokter Surya, sebenarnya ia bisa pergi sendiri tapi ia tetap menunggu Erik dan Tomi yang terlambat datang.
" Aku ga ngarang kok, itu lagu yang nge-hits tahun 90 an, aku tahu lagu itu karena aku senang mendengarkan acara tembang kenangan di radio.
Ngomong-ngomong, kalau kamu ga ada duit buat beli racun tikus, aku punya duit seribu, cukuplah buat beli sekeping racun nyamuk bakar. " kata Erik sambil tertawa.
" Terus aku disuruh ngemutin racun nyamuk bakar gitu, sampai mati? " kata Indah dengan sewot.
Mendengar kata-kata Indah, Erik makin tertawa.
Dengan konyolnya ia membayangkan Indah yang sedang ngemut racun nyamuk.
Ha.. Ha.. Ha...
" Erik.! Hati-hati, kamu nyetir sambil tertawa kaya gitu, bahaya tahu.
Terus kenapa kamu tertawa sampai keluar air mata kayak gitu? Apa yang lucu? " Indah mengingatkan Erik yang menyetir mobil sambil tertawa terpingkal-pingkal.
" Aku merasa lucu saat membayangkan kamu yang sedang ngemut racun nyamuk.
Lingkaran racun nyamuk kan besar, jadi pas masuk ke mulut kamu, mulut kamu jadi lebar. " kata Erik sambil tertawa.
" Sialan kamu Rik, ngatain mulut aku lebar. " kata Indah gemas dengan mencubit tangan Erik.
" Eh.. Jangan cubit-cubit dong, In, kan sakit. " kata Erik kesal karena tangannya terasa sakit setelah dicubit Indah.
🎙🎶Cubit-cubitan oi cubit-cubitan..
🎶Sengol-senggolan oi senggol-senggolan
Kalau dicubit katanya sayang..
" Berisik, Erik..! Kamu nyanyi cuma mau nyindir aku saja. Enak saja kamu bilang aku genit. " sungut Indah kesal.
" Iya deh, maaf..! Tapi aku senang kamu sudah banyak bicara lagi.
Tadi puasa bicara ya? Sekarang sudah buka puasa bicaranya.? " tanya Erik usil.
" Sudahlah, Rik, kalau kamu meledek terus aku marah lagi nih..! " kata Indah kesal.
" Jangan marah-marah terus, nanti kamu stres, lalu kamu malah gantung diri pake tali kolor.
Kalau kamu ga punya kolor warna hitam, aku punya kok, nanti aku kasih cuma-cuma sama kamu. " Erik kembali menggoda Indah.
" Apa sih Rik, saru tahu..! Kok ngomong kaya gitu? " kata Indah kembali ketus.
" Saru? Apanya yang saru? Aku kan cuma bilang kolor, bukan isinya? " Erik berkata dengan menaik turunkan alisnya.
Mendengar kata-kata Erik, Indah semakin kesal. Indah merasa omongan Erik semakin ga jelas, semakin menjurus.
Ia tak mau lagi menanggapi perkataan Erik.
Melihat Indah terlihat kembali kesal dan hanya diam saja, Erik pun meminta maaf.
Sungguh, ia tak ingin berkata yang kurang baik menurut Indah, ia hanya sekedar bercanda.
" Iya, maaf.. " kata Erik.
" Jangan marah lagi dong, tadi kan kamu sudah mau bicara dan tersenyum, masa sekarang harus marah-marah lagi?
Aku lelah Indah jika aku harus membujuk mu lagi.. Kasihanilah aku Indah... Atau aku nyanyikan lagi lagu untuk mu agar kau merasa terhibur? " Erik berkata dengan mimik yang dibuat memelas.
__ADS_1
Melihat ekspresi wajah Erik seperti itu, Indah tak bisa menahan tawanya.
Ia tertawa dengan keras saat melihat Erik memonyongkan bibirnya dengan mata sedikit mendelik.
Untung suasana dijalan tidak terlalu ramai, jadi Erik bisa mengendalikan mobil dengan aman.
Erik merasa lega setelah melihat reaksi Indah.
" Akhirnya Indah tertawa juga, walau aku harus bersikap konyol yang penting Indah merasa senang. " monolog Erik dalam hati.
...****************...
Tomi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Ia menikmati momen kebersamaan bersama Asti.
Mungkin setelah ini, entah kapan ia bisa satu mobil lagi dengan Asti, karena saat di kampus Asti selalu menolak jika Tomi ingin mengantarkannya pulang.
" Oh iya Asti, kapan kamu pulang ke Jakarta? Apa kamu sudah membeli tiket?"
Tanya Tomi sambil menyetir.
" Saya sudah beli tiket untuk pulang besok, penerbangan yang jam 10.00 pagi. " jawab Asti.
" Wah sayang ya, kalau belum beli tiket kita bisa pulang bareng, tapi lusa.
Besok masih ada yang harus saya selesaikan. Saya lusa pulang bareng Erik dan Indah, penerbangan jam 14.00 siang."
Tomi menyampaikan jadwal kepulangannya pada Asti.
" Jadi besok bisa antar saya ke bandara? Kalau tidak, saya naik taksi online aja. "
Tanya Asti memastikan pada Tomi yang akan mengantarnya ke bandara.
" Kalau pagi saya bisa, karena setelah makan siang saya ada keperluan.
Jadi setelah mengantar mu ke bandara saya bisa menyelesaikan pekerjaan saya." jawab Tomi.
" Jadi setelah pulang ke Jakarta mau menyelesaikan kuliah? Terus tugas jadi dokter gimana? " tanya Asti pada Tomi.
" Iya, saya akan menyelesaikan kuliah Psikologi saya. Untuk kedokteran saya, tinggal menunggu penugasan setelah menyelesaikan kuliah psikologi saya.
Untuk sementara, mungkin saya akan ditugaskan di rumah sakit yang ada di Jakarta. " kata Tomi menjelaskan.
" Kamu kapan mulai mengajar lagi? " tanya Tomi lagi.
" Masih ada waktu libur tiga hari lagi, jadi saat tiba di Jakarta masih ada waktu untuk beristirahat. " jawab Asti.
" Untuk cidera karena kecelakaan kemarin, gimana? Apa sudah benar-benar sembuh dan tidak ada keluhan? " tanya Tomi penuh perhatian.
" Alhamdulillah sudah tidak ada keluhan apapun, semua sudah kembali normal. " jawab Asti.
" Syukurlah jika demikian, jika ada yang kurang nyaman atau terasa sakit, segera periksakan kembali agar bisa segera diobati. " pinta Tomi pada Asti.
" Baiklah. " jawab Asti singkat.
Mobil Tomi melaju membelah jalanan kota Yogya di sore hari.
" Asti, kita ke Malioboro yuk? Kita kan belum pernah kesana berdua. " ajak Tomi pada Asti.
" Ayoklah! Aku juga sudah lama tidak kesana. Aku ingin mencari aksesoris. " jawab Asti antusias.
Tomi tak menyangka jika Asti mau diajak jalan ke Malioboro.
Dengan semangat, Tomi melajukan mobilnya ke Malioboro.
__ADS_1