
Asti yang melihat perselisihan pak Eko dan Asma mencoba untuk menengahi.
Ia melangkah mendekati pak Eko dan Asma.
Melihat Asti mendekati mereka, pak Eko berpura-pura terkejut.
" Lho, dek Asti ada disini juga? " tanya pak Eko pura-pura tidak tahu.
" Iya mas, saya kesini bersama Asma.
Kami bermaksud membeli novel yang tadi dipegang Asma, tapi sudah tidak ada. "
Jawab Asti.
" Pak Eko sendiri sedang apa disini, tumben pak Eko membeli novel? "
Tanya Asti yang curiga dengan keberadaan pak Eko.
" Saya sedang mencari buku ekonomi dan bisnis yang ingin saya baca, sekalian mencari novel ini karena penasaran, katanya ceritanya bagus, jadi saya ambil novel ini dan kebetulan tinggal satu-satunya. "
Kata pak Eko menjelaskan pada Asti.
" Asma, tidak mungkin kamu ambil novel ini karena pak Eko yang sudah terlebih dahulu mendapatkannya. "
Asti mencoba memberi pengertian pada Asma, jika pak Eko yang sudah terlebih dahulu mendapatkan novel itu.
" Tapi Asti, aku ga mungkin dapat novel ini lagi. " Asma ngotot ingin novel yang didapatkan oleh pak Eko.
" Sekarang gini aja, kita bicarakan ini diluar, tidak enak jika kita jadi pusat perhatian. " kata pak Eko yang melihat beberapa orang memperhatikan perdebatan mereka.
" Saya sudah mendapatkan buku yang saya cari, dan saya akan bayar ke kasir.
Saya tunggu dek Asti dan bu Asma didepan toko buku ini. "
Kata pak Eko memutuskan agar mereka tidak menjadi perhatian orang lain.
" Baiklah mas, saya dan Asma akan mencari buku sebentar, nanti kita bertemu didepan toko buku ini. "
Akhirnya Asti menyetujui usulan pak Eko.
Pak Eko melangkah menuju kasir dengan buku dan novel yang dibawanya.
Asti dan Asma melanjutkan mencari buku yang mereka inginkan.
Setelah mendapatkan buku yang mereka cari, Asti dan Asma menuju kasir untuk membayar, lalu menemui pak Eko yang sedang menunggu mereka diluar.
" Bagaimana kalau kita ngobrolnya sambil makan siang, kan tidak enak juga jika kita ngobrol sambil berdiri. "
Pak Eko mengusulkan agar mereka ngobrol sambil makan siang, dan ini memang sudah direncanakan oleh pak Eko.
" Baiklah pak, kita cari makan siang dulu. "
Kata Asma yang menyahuti ajakan pak Eko.
Asma mau melakukannya agar bisa mendapatkan novel yang ia inginkan tanpa bertanya dulu pada Asti.
Asti mengikuti keinginan pak Eko dan Asma.
Asti pikir tidak ada salahnya makan siang bareng, toh dia tidak hanya berdua dengan pak Eko, dan Asti mengikuti keinginan pak Eko demi Asma.
Asti merasa jika pak Eko hanya modus, ingin membicarakan masalah novel itu sambil makan, mengapa tidak to the point saja, mau memberikan novel itu pada Asma atau tidak.
__ADS_1
Tapi demi melihat Asma yang bersemangat mengikuti keinginan pak Eko, Asti hanya diam dan mengikuti mereka saja.
Mereka menuju restoran yang ada mal itu
Mereka berjalan beriringan. Asti berjalan disamping Asma dan Asma disamping pak Eko.
" Kita mau makan apa? " tanya pak Eko.
" Apa saja pak, yang penting sehat dan kenyang. " jawab Asma.
" Baiklah, kita kesana saja. " kata pak Eko yang menunjuk sebuah restoran, dan mereka menuju tempat itu.
Mereka mencari tempat duduk yang disediakan diluar agar lebih nyaman.
Seorang pelayan menghampiri mereka, lalu menyerahkan daftar menu.
Setelah memilih makanan yang mereka inginkan, mereka pun memesan pada pelayan yang langsung mencatat pesanan mereka.
Setelah dihitung, pak Eko membayar pesanan mereka.
" Tidak perlu pak, biar kami bayar sendiri saja. " kata Asma yang merasa tidak enak pada pak Eko.
" Tidak apa-apa bu Asma, kan cuma sesekali aja. " kata pak Eko pada Asma.
Pak Eko melihat pada Asti yang sejak tadi hanya diam.
Asti terlihat tengah mainkan ponselnya, seperti sedang membalas pesan.
" Pak Eko tadi mengirim pesan pada saya?" tanya Asti tiba-tiba pada pak Eko.
" Tapi kenapa malah dihapus lagi? " tanya Asti lagi.
" Iya, maaf dek Asti. Tadi saya mengirim pesan buat teman saya di kantor, ternyata saya salah kirim.
Pak Eko mengatakan jika ia salah kirim pesan, padahal semua sudah direncanakan pak Eko setelah mendengar bahwa Asti dan Asma akan pergi ke toko buku.
" Iya mas, ga papa, saya tadi hanya heran saja, mas kirim pesan pada saya tapi dihapus lagi, saya pikir ada apa. "
Kata Asti.
" Jadi gimana pak Eko, novelnya? " tanya Asma yang sudah tidak sabar ingin menanyakan hal itu dari tadi.
" Oh iya, novel tadi ya? Apa bu Asma benar-benar mau novel itu? " tanya pak Eko pada Asma.
" Kalau saya tidak mau, saya tidak akan mengikuti pak Eko, apalagi sampai mau makan siang bareng. Saya saja sampai tidak minta persetujuan pada Asti untuk ikut pak Eko makan siang. "
Kata Asma yang merasa kesal dengan pertanyaan pak Eko.
Asma merasa jika pak Eko hanya ingin mempermainkan dirinya saja.
" Ga usah marah begitu bu Asma. " kata pak Eko santai.
Tangannya membuka kantong yang berisi novel, lalu mengeluarkan novel itu.
" Baiklah, ini untuk bu Asma, tapi jika sudah selesai membacanya, saya boleh pinjam ya? "
Pak Eko meletakkan novel itu diatas meja, lalu menggeserkan pada Asma yang duduk didepannya.
" Beneran nih, pak Eko? " tanya Asma tidak percaya. Ia merasa senang karena pada akhirnya ia mendapatkan novel yang ia inginkan.
" Berapa pak Eko yang harus saya kembalikan untuk membayar novel ini?" Tanya Asma lagi.
__ADS_1
" Tidak perlu dibayar, toh saya juga nanti bisa pinjam pada bu Asma untuk bisa membaca novel itu. "
Jawab pak Eko sambil tersenyum.
Ia berbicara pada Asma, tapi matanya melihat pada Asti.
" Beneran nih, pak Eko? " tanya Asma memastikan.
" Iya bu Asma, silakan bawa saja novelnya. " jawab pak Eko pasti.
" Wah.. Terima kasih pak Eko, terima kasih. " kata Asma yang merasa sangat senang.
" Sama-sama, bu Asma. " kata pak Eko membalas ucapan terima kasih dari Asma.
Tak lama, pesanan mereka datang dan mereka menyantap makanan itu.
Di sela-sela makan, pak Eko berkata pada Asti jika ia ingin mengantarkannya pulang.
" Dek Asti, habis ini mau kemana lagi? " tanya pak Eko pada Asti.
" Tidak ada, mas, saya mau langsung pulang. " jawab Asti.
" Kalau begitu, dek Asti nanti pulang bareng saya saja, kebetulan kita kan satu arah. " pak Eko menawarkan diri untuk mengantarkan Asti pulang ke rumahnya.
" Terima kasih pak, saya bisa pulang sama Asma, kasihan kalau Asma pulang sendirian.
Lagian rumah pak Eko tidak jauh dari sini, kalau pak Eko mengantar saya pulang nanti pak Eko malah harus balik lagi untuk pulang kerumah."
Asti menolak ajakan pak Eko yang ingin mengantarkannya pulang dengan memberikan alasan yang sebenarnya.
" Tidak apa-apa, saya kan bawa kendaraan sendiri, saya tidak merasa direpotkan, dek Asti. "
Kata pak Eko yang ngotot ingin mengantarkan Asti.
" Maaf mas, saya tidak bisa, saya pulang sama Asma saja. " kata Asti tegas.
Asti tidak ingin pak Eko terlalu berharap padanya, walaupun Asti selalu menolak ajakan pak Eko dan tidak pernah membalas perhatiannya, tapi pak Eko tidak pernah menyerah.
Apalagi saat ini Asti sudah bertunangan dengan Tomi, jadi ia tidak mau pak Eko terus mengejarnya.
" Kenapa dek Asti? Kenapa dek Asti selalu menolak dan menghindar dari saya? " tanya pak Eko dengan nada kecewa atas penolakan Asti.
" Maaf pak. Eko, tidak ada maksud saya untuk mengecewakan apalagi menyakiti pak Eko. Saat ini, saya sudah bertunangan dengan Tomi, jadi saya tidak ingin ada kesalahan pahaman diantara kami.
Apalagi saat ini, Tomi sedang bertugas d luar kota, saya tidak ingin dia mendengar berita tentang saya dengan laki-laki lain. "
Akhirnya Asti menjelaskan tentang statusnya saat ini yang sudah bertunangan dengan Tomi.
Asti tidak ingin pak Eko terlalu berharap padanya, masih banyak mahasiswi dan dosen muda yang mengharapkan pak Eko untuk menjadi pasanganmu.
Pak Eko terdiam mendengar penjelasan Asti. Ada yang terasa sakit didalam dadanya saat mendengar Asti sudah bertunangan dengan Tomi.
Pak Eko merasa tidak terima dengan penjelasan Asti dan merasa jika Asti tengah membohonginya.
" Benarkah dek Asti sudah bertunangan dengan Tomi? Apa dek Asti hanya mempermainkan saya dan berharap saya menjauh dari dek Asti? " tanya pak Eko yang menatap lekat wajah Asti yang ada dihadapannya.
" Maafkan saya mas. Sejak dulu mas sudah tahu jika saya menganggap mas sebagai seorang teman yang banyak membantu saat-saat awal saya menjadi dosen. Mas yang banyak memberi masukan dan bimbingan pada saya.
Saya menganggap mas Eko sama seperti dosen lainnya yang berteman baik dengan saya. Maafkan saya, mas, pertunangan saya dengan mas Tomi memang benar-benar terjadi. Ini bukti cincin pertunangan kami. "
Asti memberikan penjelasan pada pak Eko tentang posisi mas Tomi dihati Asti.
__ADS_1
Asti juga menunjukkan cincin tunangan yang ia kenakan sebagai bukti bahwa ia tidak berbohong pada pak Eko.