DOSEN CANTIK YANG JUTEK

DOSEN CANTIK YANG JUTEK
Asti Mencari Informasi Mengenai Tomi


__ADS_3

Hal itu dikuatkan oleh apa yang dialami Asti, ketika di suatu siang menjelang jam makan siang. Asti berjalan-jalan di sekitar kamarnya, untuk melatih kakinya dan untuk menghirup udara segar.


Belum jauh dari kamar inap, Asti yang berjalan perlahan-lahan. Asti bertemu dengan suster, yang dikenalnya di ruang gawat darurat beberapa hari yang lalu.


Yaitu suster yang memberikan tas milik Asti, saat suasana tengah memanas di antara Asti dengan Tomi. Karena pertemuan dan kenyataan yang mengejutkan Asti, terjadi di rumah sakit beberapa hari yang lalu.


Maka dari itu, ketika Asti melihat suster ini dari kejauan, Asti langsung mengingatnya. Karena kehadirannya dalam situasi yang panas saat itu. Dan hal ini tidak mudah terlepas dari pikiran Asti.


“Selamat siang Suster…” sapa Asti ketika suster itu sudah beberapa langkah lagi berpapasan dengannya.


“Selamat siang, Mbak. Wah sudah boleh jalan-jalan ya?” kata suster itu menjawab sapaan Asti sambil menghentikan langkah kakinya.


“Ya, dengan tiga buah kaki ini!” kata Asti tersenyum sambil menghentikan langkahnya juga.


“Iya Mbak, tidak apa-apa. Yang penting bisa pulih dengan total” kata suster itu sambil tersenyum.


“Iya betul, Sus. Makanya ini saya latih terus” jawab Asti.


“Baik, Mbak. Rasa nyerinya sudah mulai berkurang ya Mbak?” tanya suster kepada Asti, sambil tersenyum ramah.


“Iya, Sus. Ini sih sudah jauh berkurang, dibandingkan dengan sebelum kaki ini di beri tindakan” kata Asti lagi.


“Suster… Masih ingat kepada saya?” tanya Asti lagi kepada Suster itu.


“Tentu saja kenal. Mbak yang temannya Pak Dokter Tomi kan?” kata suster itu menjawab.


Asti mengangguk. Tidak heran kalau suster itu masih mengenalinya. Meskipun setiap harinya ada sekian banyak pasien yang datang dan pergi di rumah sakit ini.


Mungkin karena kejadian malam pertama saat Asti datang ke rumah sakit ini. Tepatnya di ruangan gawat darurat. Suster ini mendengar pembicaraan dia dengan Tomi? Pikir Asti.


Atau karena Tomi sering menggunjing diri ku? Asti bertanya-tanya dalam hatinya.

__ADS_1


Yang Asti tidak ketahui iyalah, para suster bahkan beberapa dokter di rumah sakit ini mengetahui beberapa hal tentang dirinya. Semua itu di karenakan oleh Tomi, yang telah memperlakukannya sebagai pasien atau orang yang istimewa.


Tomi sering meminta bantuan kesana dan kemari. Seperti kepada suster-suster yang bertugas di bagian administrasi atau perawatan pasien di lantai dua gedung ini. Karena kamar Asti berada dilantai dua.


Tomi sering meminta mereka untuk mengecek keadaan Asti di kamar, memperhatikan makanannya dan untuk mengingatkan Asti agar rutin minum obat yang sudah dokter resepkan untuk dirinya.


Bahkan, Tomi sering menitipkan makanan ringan kepada suster, untuk diberikan kepada Asti. Tidak lupa, Tomi juga membagikan makan-makan yang sudah ia beli lebih, untuk suster-suster yang bertugas di lantai itu.


Namun yang Asti ketahui, itu makanan memang disediakan dari pihak rumah sakit ini untuk para pasiennya. Karena pesan dari Dokter Tomi kepada suster-suster memang begitu, jangan memberitahukan kepada Asti kalau makanan-makanan ini dari dirinya.


Karena hal itu, beberapa gosip mengenai Dokter Tomi dan pasien Nona Asti sudah menyebar melalui mulut ke mulut. Jadi beberapa suster dan dokter di rumah sakit ini sudah mengenal Asti, karena perlakuan Dokter Tomi kepadanya.


Terkadang jika ada suster atau dokter yang melintasi Asti pasti senyum-senyum melihatnya. Terutama suster atau dokter wanita. Tetapi Asti tidak tahu akan hal itu.


“Sekarang Dokter Tomi sedang dinas dimana, Sus?” tanya Asti memancing.


“Oh, Pak Dokter Tomi dan beberapa temannya dari Jakarta sedang menyaksikan operasi di ruang bedah, Mbak!” sahut suster itu dengan lembut


“Soal operasi apa dan siapa yang di operasikan, saya kurang tahu, Mbak. Tetapi yang mengoperasi, Profesor Haryoni!” sahut suster itu lagi.


“Oh begitu ya, Sus…” sahut Asti.


“Iya… Ada pesan untuk Dokter Tomi barang kali, Mbak?” kata suster lagi sambil tersenyum.


“Ah, tidak usah, Suster…” Asti tersenyum malu.


“Mari, saya duluan. Takut dicari Suster yang membawakan makanan ke kamar saya” Asti sambil menegakkan tongkatnya.


“Mari, Mbak…”


Begitulah informasi yang Asti dapat mengenai Tomi, dari perjumpaannya dengan seseorang yang lebih tahu mengenai keberadaan Tomi di rumah sakit ini.

__ADS_1


Tetapi mengenai bagaimana kebenaran dari informasi yang ia dapat ini, Asti tidak tahu. Tomi tidak pernah menceritakannya. Dan Asti juga tidak pernah menanyakannya.


*****


Tiba pada hari ini, Asti diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Eyang Kakung dan salah seorang sepupunya menjemput Asti ke rumah sakit dengan mobil milik sepupu Asti.


Terlihat sepupu Asti sedang berada di loket bagian administrasi. Ia berniat untuk mengurus administrasi Asti selama di rumah sakit.


Sebelumnya Asti dan keluarga telah mendengar bahwa seluruh administrasi akan di selesaikan oleh pengemudi mobil sedan yang menabrak Asti sore itu.


Namun pihak keluarga dan Asti secara Pribadi tetap meminta sepupunya untuk memperjelas atau menanyakan, mengenai administrasi kepada bagian administrasi dirumah sakit ini. Agar tidak ada masalah di kemudian hari. Entah ada kekurangan dan lain-lainnya.


Tetapi ketika sepupu Asti sudah sampai di bagian administrasi ternyata benar. Biaya rumah sakit sudah di tanggung oleh pengemudi mobil yang menabrak Asti pada hari kejadian waktu itu.


Jadi sepupu Asti datang kemeja administrasi hanya berpamitan dan menandatangani berkas yang menyatakan Asti sudah bisa pulang ke rumah per hari ini.


Pengemudi yang menabrak Asti kemarin memang seseorang yang bertanggung jawab. Bisa dilihat dari awal kejadian sampai Asti dilarikan kerumah sakit, sampai Asti di rawat dan sampai Asti pulang. Rasa dan tindakan tanggung jawab dari lelaki itu tidak berhenti.


Sebenarnya Asti pribadi tidak mau terlalu banyak menerima kebaikan dari pengemudi tersebut. Sebab bagaimana pun juga, kalau pada waktu itu reaksi Asti lebih cepat untuk menekan rem sepeda motornya juga barang kali tabrakan masih bisa dihindari.


Namun sejauh ini dari cerita yang Tomi sampaikan kepada Asti mengenai lelaki itu. Sebab Tomi yang secara langsung berinteraksi dengannya.


Tomi mengatakan bahwa lelaki itu memang ngotot dan ikhlas ingin bertanggung jawab dengan semua yang telah terjadi karenannya.


Ia berkata tidak mau, jika ada meninggalkan luka bagi orang lain akibat kelalaian dirinya sendiri. Di tambah lagi Asti bukan keluarga bukan sahabat yang ia kenal. Bisa dibilang Asti adalah orang luar yang terkena imbas dari masalah pribadi bersama keluarga nya di rumah pada sore itu.


Sambil menunggu adik sepupunya mengurus administrasi rumah sakit, Asti duduk di bangku dengan ditemani oleh Eyang Kakungnya.


Eyang Kakung sempat menanyakan kepada Asti, akan keberadaan Tomi yang sudah membantu Asti pada hari kejadian. Sampai datang dan menjemput kedua Eyangnya ke rumah.


Tetapi Asti menjawab singkat, karena tidak mau Eyang nya tahu akan hubungan antara ia dengan Tomi.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2