
Pagi menjelang subuh, sudah terlihat kesibukan di rumah orang tua Asti.
Semua mempersiapkan acara akad nikah yang akan diadakan pagi ini.
Orang-orang sudah mulai mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.
Ada yang sibuk di dapur untuk mempersiapkan jamuan untuk acara pagi dan siang nanti.
Ada yang bertugas membersihkan pekarangan yang akan digunakan untuk tempat acara resepsi, ada juga yang membersihkan bagian dalam rumah dan menyiapkan tempat untuk acara akad.
Akad nikah akan diadakan dikediaman keluarga Asti sesuai dengan rencana dan tidak diadakan di mesjid karena keluarga Asti menginginkan acara akad diadakan dikediaman mereka.
" Mbak, jangan lupa siapkan sarapan untuk para pekerja agar mereka bisa bekerja dengan baik, jangan sampai ada yang tidak sarapan. Siapkan juga kopi, teh serta cemilan, dan jangan lupa rokok untuk bapak-bapak yang merokok agar mereka tetap semangat. "
Bude Arum meminta pada mbak Sari untuk memperhatikan makanan dan minuman serta rokok untuk para pekerja yang membantu di rumah Asti.
" Baik bude, semua sudah ada yang mempersiapkan. Sekarang mereka sedang menghangatkan makanan yang akan dihidangkan untuk sarapan semua anggota keluarga juga para pekerja. "
kata mbak Sari menjelaskan pada bude Arum.
" Ya sudah jika begitu, tolong diperhatikan semuanya, ya? jangan ada yang kurang. " kata bude Arum lagi.
" Baik, bude. " kata mbak Sari.
Setelah mengingatkan mbak Sari, bude berjalan keruangan tempat akan diadakan akad nikah.
Bude melihat Aryanto dan Fito yang sedang merapikan meja kecil untuk acara akad.
" Fito, semua keperluan untuk akar sudah disiapkan? " tanya bude pada Fito.
" Semua sudah beres Bu, tinggal menunggu acaranya saja. " jawab Fito sambil mengacungkan jempolnya.
" Untuk fotografer dan MUA, bagaimana Ary? " tanya bude pada Aryanto.
" Karena acara akan dimulai jam sembilan pagi, mereka akan datang sebelum jam tujuh bude, nanti Ary akan hubungi lagi setelah shalat subuh. " jawab Aryanto.
Bude Arum merasa senang karena semuanya sudah terlihat rapi dan siap.
Bude berjalan menuju kearah kamar karena azan subuh sudah berkumandang.
Sebagai anak tertua dari ayah Asti, bude Arum mendapat tugas untuk memperhatikan dan mengawasi semua hal yang berhubungan dengan acara pernikahan Asti.
Bude Arum tidak ingin ada hal-hal yang tidak diinginkan dan mengganggu acara sakral ini.
Pukul tujuh pagi MUA yang bertugas untuk merias pengantin dan keluarganya sudah datang dan siap mengerjakan pekerjaan mereka.
Ada beberapa orang yang datang karena ada banyak keluarga yang akan dirias.
Tok.. tok..
" Assalamu'alaikum, mbak? "
Amel mengetuk pintu kamar Asti sebelum masuk untuk mengantarkan perias pengantin.
" Wa'alaikumussalam, masuk aja mbak, kamar tidak dikunci. " kata Asti dari dalam kamarnya.
" Asti, ini perias nya sudah datang, sudah siap belum? " tanya Amel pada Asti.
" Sudah mbak, Asti sudah siap. " jawab Asti.
__ADS_1
Asti duduk didepan meja rias dan siap untuk dirias.
" Mbaknya sudah sarapan? " tanya perias pada Asti.
" Sudah kok, mbak! " jawab Asti.
" Takutnya mbak belum sarapan, nanti malah kelaperan karena terlalu lama dirias. " kata perias pula.
Asti hanya tersenyum dan perias pun mulai mengerjakan pekerjaannya.
" Mbaknya baru tamat SMA, ya? apa tidak kuliah, mbak? " tanya perias pada Asti.
" Saya sudah bekerja, mbak! " jawab Asti.
" Kerja dimana, mbak? enaknya ya, tamat sekolah bisa langsung bekerja. " kata perias lagi.
" Saya mengajar disebuah universitas swasta, mbak. " kata Asti pula.
" Oalah.. jadi mbaknya ini dosen, ya? kirain baru tamat SMA ketemu jodoh dan langsung menikah. Awet muda banget sampean, mbak. " seloroh perias pada Asti.
Ia tidak mengira jika yang dirias nya seorang dosen, bukan gadis yang baru tamat SMA seperti perkiraannya.
Asti hanya tersenyum mendengar celotehan tukang rias.
" Mbak Asti itu memang awet muda mbak, banyak yang mengira jika ia gadis yang baru tamat SMA dan ngebet mau nikah. " kata Amel menggoda Asti.
" Bener itu mbak, tadi saya pikir mbak Asti baru tamat SMA dan langsung menikah. " kata perias pula.
" Wah, mbak Asti manglingi setelah dirias, terlihat sangat cantik dan terlihat jauh lebih muda. Benar kata mbak perias kalau mbak Asti cocok jadi anak SMA. "
Amel merasa kagum saat melihat hasil riasan Asti.
" Mas Tomi pasti pangling jika melihat mbak Asti seperti ini. " kata Amel lagi.
Asti juga tidak menyangka jika hasil make-up sang perias terlihat begitu sempurna dan mengubah penampilannya.
" Mbak Amel juga terlihat sangat cantik, kok. " kata Asti pada Amel.
Pukul delapan tiga puluh, rombongan pengantin pria sudah datang dikediaman keluarga Asti.
Mereka disambut oleh eyang, kedua orang tua Asti, juga keluarga Asti yang lainnya.
Keluarga inti mempelai pria dipersilakan untuk duduk di ruangan yang sudah disediakan untuk acara akad, sementara yang lain menunggu di kursi yang sudah disediakan dihalaman rumah Asti.
Tidak lama, penghulu yang akan menikahkan Tomi juga sudah datang.
Beliau memeriksa kelengkapan berkas pernikahan Tomi dan Asti.
" Berkasnya sudah lengkap semua. Untuk mas kawin, apa sudah siap? " tanya penghulu pada Tomi.
" Insya Allah, mas kawinnya sudah siap, pak. " jawab Tomi.
" Untuk para saksi, apa sudah siap? " tanya penghulu lagi.
" Sudah, pak. " jawab kedua saksi dari keluarga Tomi juga dari keluarga Asti.
" Jika semua sudah siap, calon pengantin perempuan bisa dipanggil untuk menyaksikan acara akad. " pint pak penghulu.
Amel, Aulina dan Aulia datang mengiringi Asti sebagai calon pengantin perempuan lalu mendudukkan Asti disamping Tomi.
__ADS_1
Karena semua sudah siap, maka acara akad pun segera dimulai.
Ayah Asti duduk berhadapan dengan Tomi, lalu Tomi menjabat tangan ayah Asti.
" Bagaimana pak Prawiro dan mas Tomi, sudah siap? " tanya penghulu pada keduanya.
" Siap, pak! " jawab keduanya.
Lalu pak Prawiro mengucapkan ijab pada Tomi.
" Saya nikahkan dan kawinkan engkau HUTOMO BIN ABDI KUSUMA dengan putri saya bernama ASTI RADISYA AULIA dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas seberat sembilan puluh sembilan gram dibayar tunai.! "
" Saya Terima nikah dan kawinnya ASTI RADISYA AULIA BINTI PRAWIRO dengan mas kawin tersebut dibayar tunai! "
Tomi berhasil mengucapkan kabul dengan satu tarikan nafas.
"Bagaimana saksi, apakah sah? " tanya penghulu pada par saksi.
" SAH..! " Jawab para saksi.
Alhamdulillah..
Barakallahu laka wa baaraka alaika wa jama'a bainakuma fii khoir.
Semua mengucapkan syukur dan bernafas lega setelah acara akad nikah berjalan dengan baik.
Asti menitikkan air mata haru saat semua mengatakan sah, kini ia telah resmi menjadi seorang istri bagi Tomi, lelaki yang dicintai dan mencintainya.
Tomi menyematkan cincin pernikahan dijari Asti, begitupun sebaliknya.
Lalu Asti mencium punggung tangan Tomi dan Tomi mencium kening Asti seb
Setelahnya mereka menandatangani buku nikah.
Setelah acara akad, Asti dan Tomi melakukan acara sungkeman pada eyang, kedua orang serta memohon doa restu kepada semua sanak saudara yang hadir di acara akad tersebut.
Pada acara sungkeman, terlihat kesedihan di wajah kedua orang tua Asti.
Bukan karena tidak bahagia dengan pernikahan Asti, tapi mereka merasa jika mereka telah melepaskan tanggung jawab mereka sebagai orang tua yang membesarkan dan mendidik Asti.
Saat ini tanggung jawab mereka terhadap Asti telah diambil alih oleh Tomi sebagai suami Asti.
Asti, putri mereka satu-satunya telah melepaskan masa lajang dan akan mengarungi kehidupan berumahtangga bersama pasangannya.
Banyak wejangan yang disampaikan ayah Asti pada Tomi saat Tomi melakukan sungkeman.
Ayah Asti sangat berharap Tomi bisa membahagiakan dan menyayangi Asti seperti mereka menyayanginya.
Selesai acara sungkeman, satu persatu tamu yang hadir di acara akad memberikan selamat pada kedua mempelai, lalu mereka melakukan sesi foto bersama, dari anggota keluarga hingga teman-teman dan tamu yang hadir yang ingin berfoto bersama pengantin.
Selesai acara photo bersama, mereka menikmati hidangan yang sudah disediakan oleh tuan rumah.
" Ara, kamu cantik banget, mas tadi sampai pangling dan tidak menyangka jika yang duduk disamping mas adalah Ara. " kata Tomi yang memuji Asti saat mereka tengah melakukan foto berdua.
" Nanti aja gombalnya, sekarang kita foto dulu. " kata Asti yang menyembunyikan rasa malunya karena mendapat pujian pertama dari suaminya.
" Bisik-bisiknya nanti aja, ya? sekarang kita foto dulu. " seloroh photograper menggoda pengantin yang tengah berbicara pelan berdua.
Tomi hanya tersenyum lalu mengacungkan jempolnya sebagai tanda jika mereka sudah siap.
__ADS_1