
Tomi dan Asti berjalan bersisian menuju lapak-lapak yang menjual batik.
" Seandainya Asti telah menjadi milik ku, mungkin kebersamaan ini akan lebih menyenangkan, kami bisa berjalan sambil bergandengan tangan dan menikmati suasana disini dengan perasaan yang lebih bahagia.
Tapi kali ini aku juga bersyukur, Asti tidak menolak untuk aku ajak kesini, anggap aja ini kencan awal yang belum sempurna. " Tomi bermonolog dan berandai-andai dalam hatinya.
Ia tersenyum sendiri saat mengatakan bahwa ini kencan pertama yang belum sempurna.
Mengapa ia anggap belum sempurna? Karena ia belum resmi jadian sama Asti, tapi Tomi yakin tak lama lagi Asti akan menerima nya dan akan menjadi miliknya.
Saat berfikir seperti itu, Tomi memalingkan wajahnya melihat Asti yang asik melihat-lihat orang berjualan di sepanjang jalan yang mereka lalui.
Ia tersenyum melihat wajah Asti yang terlihat cantik sore itu, wajah yang sering membuat orang tertipu, mengira ia seorang gadis yang baru masuk kuliah, tapi ternyata ia justru seorang dosen.
Saat melihat penjual batik, Asti mengarahkan langkah kakinya kesana dan Tomi mengikutinya.
" Silahkan mbak.. mas.. dilihat-lihat batiknya, mau cari batik model apa? " sapa penjual ramah, siap melayani Asti dan Tomi.
" Terima kasih, mbak.. " jawab Asti tak kalah ramah.
Asti berjalan menuju baju-baju daster yang dipajang, Tomi pergi kearah pajangan kemeja.
Asti memilih daster untuk ibu, mbak, dan untuk dirinya sendiri.
Daster dari batik enak dikenakan karena terasa lembut dan dingin.
Asti memilih beberapa berlengan pendek, juga yang tak berlengan.
Setelah mendapat daster yang diinginkan, Asti mencari kemeja dan celana pendek untuk ayah.
Tomi juga sudah mendapatkan beberapa kemeja, lalu meraka membawa belanjaan ke kasir untuk dibayar.
Asti menolak ketika Tomi akan membayar baju-baju yang ia beli.
Tadi saja Tomi tak mau menerima uang belanjaan Asti yang dibayarkan oleh Tomi.
Karena tidak ingin berdebat dan membuat Asti marah, Tomi membatalkan untuk membayar baju-baju Asti.
Setelah selesai, mereka meninggalkan lapak penjual batik.
" Kita mau cari apalagi, Asti? Apa masih ada yang mau dibeli lagi? " tanya Tomi, ia menenteng kantong yang berisi belanjaan mereka, saat Asti akan membawa barang yang ia beli, Tomi tak mengizinkan, walau tak terasa berat.
Akhirnya Asti membiarkan Tomi yang membawa belanjaannya.
" Saya sudah tak ingin membeli apa-apa lagi, sudah cukup dan kita bisa langsung pulang. " jawab Asti yang mengatakan bila ia tak ingin membeli yang lain lagi dan mengajak Tomi untuk pulang.
" Sebelum pulang, kita cari makan dulu ya? Saya sudah lapar." Tomi mengajak Asti untuk makan, Tomi beralasan sudah lapar, padahal hanya ingin makan bersama Asti.
" Baiklah, kita akan makan dulu, sudah mendekati waktu makan malam juga. "
Asti menyetujui ajakan Tomi.
Mendengar Asti menyetujui ajakan makannya, Tomi merasa senang.
Tomi berfikir dimana ia akan mengajak Asti makan malam.
Ia akan melakukan dinner dadakan bersama Asti.
Tomi ingat tak jauh dari sini ada cafe yang baru dibuka.
Sebuah cafe dengan gaya yang disesuaikan dengan gaya anak muda.
Makanan di cafe tersebut sangat enak dengan harga yang sesuai dengan isi kantong anak-anak muda yang sering nongkrong disana.
Kebanyakan mereka merupakan mahasiswa perantauan yang sedang menempuh pendidikan di kota Yogya.
__ADS_1
Asti dan Tomi meninggalkan tempat itu untuk menuju ke cafe.
Asti hanya mengikuti Tomi tanpa ada penolakan.
Tak lama mereka tiba di cafe karena memang masih disekitar jalan Malioboro.
Tomi dan Asti memilih tempat yang tak jauh dari sebuah panggung musik.
Ada penyanyi yang sedang menyanyikan lagu yang sedang booming saat itu.
Seorang waiters menghampiri meja Tomi dan Asti, lalu menyerahkan buku menu.
" Mohon ditunggu ya, mbak.. mas..! " pinta
sang waiters meninggalkan meja Tomi dan Asti untuk menyiapkan pesanan mereka.
Setelah waiters pergi, Tomi pamit pada Asti untuk ke panggung.
" Asti, aku kedepan sebentar ya? " pinta Tomi pada Asti yang sedang memainkan handphone nya.
" Iya! " kata Asti singkat, sejenak mengalihkan pandangannya pada Tomi.
Asti tak tahu Tomi akan kemana dan ia juga tidak bertanya. Ia kembali memainkan HP nya.
Tak lama, terdengar seseorang berbicara dipanggung musik, Asti masih tidak mengalihkan pandangannya dari HP nya.
" Lagu ini saya persembahkan pada gadis cantik yang duduk di meja tujuh.
Semoga si cantik suka dengan lagu ini.
Lagu Bukan Pujangga dari Base Jam. "
Ucap seseorang didepan sana.
Asti terkejut saat mengenali suara orang yang bicara diatas panggung.
Beberapa orang memperhatikan kearah meja Asti, dan hal itu membuat Asti merasa malu.
Musik mulai dimainkan, tak lama suara Tomi mulai terdengar.
🎙🎶Mungkin aku bukan pujangga
Yang pandai merangkai kata
Ku tak s'lalu kirimkan bunga
Untuk ungkapkan hati ku
🎙 🎶Mungkin aku takkan pernah
Memberi intan permata
Mungkin aku tak selalu
Ada didekat mu.
🎙🎶Ku ingin kau tahu
Isi dihati ku
Ku tak akan lelah jaga hati ini
Hingga dunia tak ber mentari
🎙🎶Satu yang ku pinta
__ADS_1
Yakini dirimu hati ini milikmu
Semua yang ku lakukan untuk mu
Lebih dari sebuah kata cinta untuk mu
Ini diriku.
🎶Aku mungkin bukan pujangga
Aku mungkin tak selalu ada
Ini diriku apa adanya
🎶Satu yang ku pinta
Yakini dirimu
Hati ini milikmu
Semua yang kulakukan untukmu
Lebih dari sebuah kata cinta untukmu
🎶Satu yang kupinta yakini dirimu
Hati ini milikmu
🎶Satu yang ku pinta (bukan pujangga)
Yakini dirimu (yang pandai)
🎶Hati ini milikmu (merangkai kata)
🎶Semua yang kulakukan untukmu (Aku mungkin bukan pujangga)
🎶Lebih dari sebuah (aku mungkin tak s'lalu ada)
🎶Kata cinta untukmu (ini diriku apa adanya)
Ini diriku
🎶Aku bukan pujangga
Aku tak s'lalu ada
(Ini diriku apa adanya)
Tomi menyelesaikan lagunya, suara tepuk tangan mengiringi langkah Tomi yang kembali ke mejanya.
Asti tak menyangka Tomi akan melakukan hal itu, ia merasa malu sekaligus merasa tersentuh dengan apa yang Tomi lakukan.
Tomi tersenyum saat duduk didepan Asti.
Asti tertunduk malu.
" Bagaimana, suka lagu nya, nggak? " tanya Tomi.
" Terima kasih untuk lagunya, ternyata suara kamu bagus juga, bisa melamar untuk jadi penyanyi tetap di cafe ini. "
Asti menjawab dengan perasaan malu dan terharu.
Untuk menghilangkan rasa malu, Asti menggoda Tomi.
" Boleh juga idenya, saya bisa jadi penyanyi tetap disini dengan catatan kamu yang jadi penontonnya." Tomi membalas candaan Asti sambil tersenyum.
__ADS_1
Walau panggilan mereka masih terdengar formal dengan "saya-kamu" tapi mereka sudah terlihat lebih akrab.
Asti sudah bisa menggoda Tomi dan tidak terlihat kaku, ia bisa bersikap lebih santai dan saat ini Asti tidak menganggap Tomi adalah mahasiswa nya saat di kampus.