DOSEN CANTIK YANG JUTEK

DOSEN CANTIK YANG JUTEK
Perbicangan Dari Hati ke Hati


__ADS_3

Tomi datang bersama seorang penjual es kelapa muda yang membawa nampan berisi dua buah kelapa muda diatas nya.


" Mau ditaruh dimana mas kelapa muda nya? " tanya sang penjual.


" Sebentar mas, kita cari tempat duduk yang nyaman untuk bersantai sambil menikmati kelapa muda. " jawab Tomi.


Ia mengedarkan pandangannya, mencari tempat duduk yang enak dan nyaman.


Lalu matanya tertuju pada sebuah payung besar dan kosong yang tak jauh dari tempat mereka.


" Bawa dan taruh di bawah payung itu saja, mas! " pinta Tomi pada penjual kelapa.


Disana ada sebuah payung besar dengan bangku dan meja yang sengaja ditaruh agar bisa dijadikan tempat berteduh bagi pengunjung pantai.


Penjual kelapa pun berjalan mendahului Tomi dan menaruh dua buah kelapa muda diatas meja bulat yang ada disana.


Tomi menghampiri Asti yang masih berdiri didekat mobil.


" Bu.. Mari kita kesana, kita duduk di bangku agar bisa menikmati es kelapa muda sambil menikmati hembusan angin dan pemandangan yang indah di pantai ini! " pinta Tomi pada Asti.


" Baiklah!" jawab Asti.


Tanpa banyak bicara, Asti mengikuti Tomi menuju bangku yang tadi ditunjuk oleh Tomi.


Tak lupa, Asti membawa kacang dan peyek yang tadi ia beli.


Asti mendudukkan pantatnya di bangku itu, disebelahnya ada Tomi yang ikut duduk dengan dihalangi sebuah kursi bulat.


Tomi menggeser sebuah kelapa muda yang ada didekat nya kehadapan Asti.


" Ini bu es kelapa mudanya, silahkan dinikmati, pasti terasa segar saat cuaca panas begini! " ujar Tomi pada Asti.


" Terima kasih..! " ujar Asti.


Ia menggeser kelapa muda ke hadapannya, lalu mengaduk air kelapa muda agar tercampur dengan es biar terasa lebih dingin.


" Itu, ibu membawa apa? " tanya Tomi pada Asti saat melihat kantong yang dibawa Asti.


" Oh iya, ini ada kacang rebus dan juga peyek yang tadi saya beli dari seorang ibu!" jawab Asti sambil mengeluarkan kacang rebus dan peyek dari kantong plastik dan menaruhnya diatas meja.


Tomi membuka bungkusan yang berisi kacang rebus, lalu membuka kulitnya dan mulai memakan kacang rebus tersebut.

__ADS_1


" Bu.. Masih ingat tidak saat saya datang kerumah ibu, lalu  pak Eko juga datang, saya yang membuat sirup dan juga menyuguhkan setoples kacang. " ujar Tomi mengingatkan Asti akan setoples kacang yang berantakan karena ulah mereka.


Seketika wajah Asti memerah saat mengingat kejadian yang memalukan itu.


Kejadian dimana Tomi datang kerumah nya, lalu memeluk dan menciumnya di dapur saat Tomi membuat dua gelas sirup untuk mereka.


Tomi tersenyum melihat wajah Asti yang memerah. Ia jelas tahu, mengapa wajah itu menjadi merah.


Tomi jadi gemas melihatnya dan ingin mengulangi kejadian itu.


Tapi melihat Asti yang masih terdiam, Tomi tak berani melakukan apapun, ia takut jika salah bertindak maka Asti akan semakin ilfeel dan menjauh darinya.


Sementara Asti berfikir, sampai kapan ia akan bersikap seperti ini pada Tomi, berdiam diri tanpa ada pembicaraan apapun.


Ia sudah dewasa, ia bukan anak ABG yang baru jatuh cinta.


Seharusnya ia bisa bersikap lebih dewasa.


Bisa membicarakan masalah mereka dari hati ke hati agar ada kejelasan tentang status mereka.


Ia merasa tak ada hubungan apapun dengan Tomi, tapi ia dengan mudah menerima pelukan dan ciuman yang Tomi lakukan padanya.


" Tidak seharusnya aku bersikap seperti ini. Aku ingin menuntaskan masalah ini dengan Tomi.


" Baiklah, aku akan bicara saat ini juga pada Tomi. Aku seorang dosen, bukan anak remaja, jadi aku harus menuntaskan masalah ini sekarang! " tekad Asti dalam hati.


" Hhmm... Maaf, bisakah saya menyampaikan sesuatu sekarang? " tanya Asti hati-hati pada Tomi.


" Oh.. Silahkan, bu! Dengan senang hati saya akan mendengarkan apa yang ingin ibu sampaikan! " jawab Tomi.


Ia menggeser sedikit duduknya dan menghadap pada Asti dengan wajah serius, ia ingin mendengar apa yang akan Asti sampaikan


" Bisakah bila saat kita berdua dan tidak sedang berada di wilayah kampus, tidak perlu memanggilku dengan panggilan bu Asti, cukup panggil Asti saja.?" tanyanya.


Sejenak Tomi terdiam, ia ingin mencerna lebih dalam maksud dan tujuan Asti menyampaikan permintaan itu.


Ia tersenyum, dalam hati ia yakin bahwa Asti mulai membuka hatinya.


" Baiklah, mulai sekarang saya akan memanggil Asti tanpa embel-embel ibu.


Jika saya memanggil Asti, berarti saya juga minta agar memanggil saya Tomi tanpa embel-embel saudara Tomi! " jawab Tomi tegas.

__ADS_1


" Baiklah, Tom.. Saya ikuti juga keinginan mu. " jawab Asti sambil tersenyum.


Tomi merasa lega saat melihat senyum Asti, dan ia pun merasa yakin bahwa Asti akan segera membalas perasaannya.


" Kita telah sepakat untuk saling memanggil nama, jika boleh saya ingin menanyakan kembali perihal pernyataan perasaan saya tadi pada mu, Asti! " kata Tomi tanpa basa basi.


Asti menarik nafas sejenak, ia memang ingin menuntaskan semuanya hari ini, ingin mengungkapkan apa yang ia rasakan selama ini terhadap Tomi.


" Baiklah, saya harap kamu mendengarkan apa yang akan saya sampaikan.


Sejujurnya sejak peristiwa didapur tempo hari, saya merasa ada suatu perasaan terhadap mu.


Entah mengapa, tubuh dan hati saya selalu merespon apa yang kamu lakukan.


Lambat laun, saya mulai menyadari bahwa sebenarnya saya mulai menyukai mu. Tapi saat kejadian saya mengetahui bahwa kamu seorang dokter, saya merasa bahwa kamu telah membohongi dan mempermainkan perasaan saya.


Saya merasa takut, jika kamu hanya ingin mempermainkan saya.


Ditambah lagi, saya melihat kedekatan kamu dengan dokter Indah, saya jadi lebih takut, takut dengan perasaan saya sendiri.


Saya takut kecewa dan sakit hati.! "


Dengan terus terang Asti menyampaikan apa yang mengganggu dan mengganjal dihati dan di fikirannya.


Tomi menghela nafas, ia mengerti dengan ketakutan yang Asti rasakan.


" Asti, saya telah berkata jujur pada mu, mengenai pekerjaan saya sebagai dokter juga mengenai hubungan saya dengan dokter Indah.


Tidak ada yang saya tutupi dan saya sembunyikan.


Saya sudah jatuh cinta pada mu sejak kejadian didapur itu.


Perasaan saya tulus, tak ada niat untuk mempermainkan mu.


Jadi bagaimana, apakah kau bersedia membalas cinta ku dan menjadi kekasih ku? " Tomi pun kembali menjelaskan perasaannya pada Asti dan bertanya tentang kesediaan Asti untuk menjadi kekasihnya.


Saya berfikir bahwa kita bukan lagi anak SMA yang baru pertama kali jatuh cinta yang pada saat ada masalah langsung terucap kata putus, lalu saat hati telah tenang akan kembali menjalin hubungan.


Kita dua orang dewasa yang ingin memulai suatu hubungan yang akan terus berlanjut hingga ke jenjang yang lebih serius, bukan hubungan yang sekedar untuk iseng dan sekedar bermain-main.


Saya rasa kamu faham dengan apa yang saya sampaikan. "

__ADS_1


Asti tidak langsung menjawab ungkapan Tomi, tapi ia minta Tomi untuk bisa mencerna apa yang ia sampaikan.


__ADS_2