
Asti dan Tomi sama-sama merasa malu saat mengenang pertemuan pertama mereka.
Tapi justru itulah yang membuat mereka saling mengenang.
Tomi ingat akan Asti yang terlihat seperti remaja dengan wajah yang terlihat masih begitu muda, juga dengan pakaian sexy yang dikenakannya.
Sementara Asti mengingat Tomi sebagai seorang mahasiswa yang tidak pernah ikut mata kuliah nya dan hanya menitipkan absen
Tak disangka, jika pertemuan pertama mereka membawa mereka hingga bisa menjalin hubungan yang istimewa walaupun sempat terjadi kesalahan pahaman.
" Tom.. Sebenarnya aku ingin memberikan surat ini sama kamu, disini aku sudah menulis jawaban atas pernyataan yang pernah kamu sampaikan.
Aku mohon, nanti kamu buka saat sudah tiba dirumah. "
Asti meletakkan sebuah amplop diatas meja dan menyerahkan amplop itu pada Tomi.
Tomi sedikit terkejut saat Asti memberi nya sebuah surat.
Dilihatnya surat itu baik-baik, lalu ia melihat pada Asti.
" Simpanlah surat itu, nanti setelah membacanya kamu akan mengerti apa isinya. "
Asti meminta Tomi untuk menyimpan surat itu.
Karena tas Tomi tertinggal didalam mobil, Tomi melipat surat itu dan memasukkan ke dalam saku kemejanya.
Tak ada kata-kata yang bisa Tomi ucapkan.
Tomi merasa sangat penasaran dengan isi surat itu.
Ingin ia segera pulang dan membaca surat yang telah membuatnya deg-degan saat ini.
" Apa ini jawaban pernyataan cinta ku pada Asti?
Apa Asti menolak ya hingga ia harus menulis sebuah surat karena merasa tidak enak hati bila menolak secara langsung? " banyak pertanyaan berkecamuk di kepala Tomi, yang pasti ada rasa takut akan sebuah penolakan dari Asti.
Ingin rasanya Tomi mengajak Asti untuk segera meninggalkan tempat itu agar Tomi bisa segera pulang dan membaca surat Asti.
Tapi ia tak mungkin melakukan itu.
Asti yang tahu kegelisahan Tomi setelah menerima surat darinya, berinisiatif untuk mengajak Tomi pulang.
" Sudah sore, kita pulang yuk Tom? Sudah selesai kan makannya? " Asti bertanya dan mengajak Tomi pulang.
" Sudah bosan ya duduk disini? Atau mau ketempat lain? "
Sebenarnya Tomi masih ingin bersama Asti, tapi hatinya juga penasaran dengan isi surat yang diterimanya.
" Kita pulang saja, aku juga sudah merasa capek. " kata Asti yang tetap mengajak Tomi untuk pulang.
" Baiklah, mari kita pulang! "
Tomi pun mengajak Asti untuk pulang, setelah membayar di kasir, Tomi dan Asti melangkah keluar meninggalkan cafe itu.
Tomi dan Asti meninggalkan cafe itu menuju rumah Asti.
__ADS_1
Karena tidak ada tujuan lain, Tomi langsung mengantarkan Asti pulang.
Tiba dirumah, Asti langsung turun dan mengajak Tomi untuk mampir.
" Mampir dulu, Tom? " tanya Asti.
" Tidak, terima kasih! Saya ada keperluan lain, kapan-kapan saya mampir. " jawab Tomi.
" Baiklah, hati-hati dijalan. " kata Asti lagi.
Setelah Tomi pergi, Asti baru masuk kedalam rumah.
Setelah mengucapkan salam, Asti menghampiri ibu yang tengah menonton tivi.
" Ayah mana, bu? Kok tidak kelihatan? " Asti menanyakan keberadaan ayah.
Biasanya sore begini, ayah akan nonton televisi bareng ibu.
" Ayah mu lagi dibelakang, menyemai bibit cabe yang kemarin sudah dijemur. "
Ibu memberitahu keberadaan ayah.
" Ayah mau menanam cabe, bu? " tanya Asti lagi.
" Iya, kemarin waktu mbak Sari membersihkan kulkas, ada cabe yang busuk, jadi sama ayah dijemur buat bibit, setelah kering baru ayah semai. "
Ibu menjelaskan pada Asti.
" Wah.. Kalau tanamannya bagus, nanti ibu tidak perlu membeli cabe lagi, cukup panen dari kebun. "
" Iya, itu aja kangkung yang ditanam oleh mbak Sari, subur banget, kita jadi tidak pernah beli kangkung. " kata ibu.
" Iya ya bu, untung kita masih punya lahan yang bisa ditanam.
Pekarangan depan juga bisa Asti tanami mawar. "
Asti merasa beruntung, walaupun mereka tinggal di kota, tapi mereka masih punya lahan yang bisa dimanfaatkan.
" Bu, Asti ke kamar dulu ya, mau mandi soalnya Asti sudah gerah. "
Asti pamit pada ibu untuk ke kamar, lalu ia pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar.
*
*
*
Tomi yang penasaran dengan isi surat Asti begitu tergesa-gesa untuk bisa sampai dirumah.
Ia merutuki jalanan yang macet karena jam pulang kantor.
Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa bersabar hingga ia bisa melalui kemacetan dan segera tiba dirumah.
Sampai dirumah, Tomi langsung masuk kedalam kamar, karena kedua orang tuanya tengah ke Bandung mengunjungi nenek Tomi yang sedang sakit.
__ADS_1
Dengan tak sabar, Tomi duduk di meja kerja yang ada dikamar, lalu membuka surat dari Asti.
Dengan berdebar-debar Tomi mulai membacanya.
Assalamu'alaikum...
Mas Tomi, sebelumnya izinkan saya memanggil dengan panggilan mas karena saya yakin usia mas lebih tua dari saya, walau mungkin hanya berbeda sedikit.
Panggilan mas sebagai bentuk penghormatan saya terhadap mas.
Mas Tomi..
Mungkin mas heran dan bertanya-tanya mengapa Asti menuliskan surat ini buat mas Tomi.
Mas, sebenarnya Asti tidak bisa mengungkapkan secara langsung apa yang Asti rasakan.
Asti malu, mas.
Asti berterima kasih dengan semua perhatian yang mas berikan pada Asti.
Sejujurnya mas, Asti sangat bahagia.
Walaupun diantara kita pernah terjadi salah paham, tapi mas Tomi mau berusaha memperbaiki semuanya.
Mas mau bersabar menghadapi semua kemarahan Asti pada mas.
Mas Tomi..
Dengan semua yang pernah terjadi diantara kita, ternyata itu menguatkan perasaan yang kita rasakan.
Jujur mas...sejak kejadian didapur dulu, saya tidak bisa melupakan mas Tomi.
Ada perasaan rindu jika saya tidak bertemu dengan mas, dan ada rasa bahagia saat kita bisa bersama.
Mungkin mas heran, jika saya punya perasaan lebih pada mas, mengapa saya seperti tidak menyukai mas, terlebih saat kita secara tidak sengaja bertemu di Yogya.
Sebenarnya, waktu itu Asti tengah cemburu pada dokter Indah yang terlihat begitu akrab sama mas Tomi.
Asti berfikir jika mas Tomi ada hubungan spesial dengan dokter Indah, karena beberapa kali Asti melihat kedekatan mas Tomi dan dokter Indah dirumah sakit.
Apalagi waktu itu mas Tomi juga pernah salah paham dengan hubungan Asti dan mas Aryanto, sepupu Asti.
Karena perjuangan mas untuk meyakinkan Asti dan Asti juga sudah merasa nyaman, maka Asti menyatakan pada mas bahwa Asti bersedia untuk menjadi pendamping hidup mas Tomi.
Asti bersedia menerima cinta mas Tomi, karena Asti juga punya perasaan yang sama dengan mas Tomi.
Asti juga mencintai mas Tomi.
Sejenak, Tomi menghentikan membaca surat dari Asti.
Ia melompat-lompat bahagia di dalam kamarnya, karena merasa sangat bahagia Tomi lupa akan umurnya.
Ia seperti ABG yang baru pertama jatuh cinta dan cintanya diterima oleh pujaan hati.
Sungguh tak terkira perasaan bahagia yang Tomi rasakan saat ini.
__ADS_1