
Mungkin secara fisik atau entah secara apa pun yang bersifat materi, Aryanto bukan pesaing yang menggentarkannya. Tetapi dalam hal tempat di hati Asti, bagaimana ia bisa memastikannya?
Sepanjang pengalamannya terhadap Asti, baru tadi itulah Tomi melihat gadis itu tertawa sebegitu bahagianya dan memperlihatkan dengan nyata apa adanya emosi-emosi positif yang ada pada dirinya. Bola matanya yang indah itu pun bahkan ikut tertawa.
Pernahkah hal semacam itu terjadi apabila gadis itu bersamanya? Tidak. Tidak pernah, Tomi menjawab sendiri pertanyaan bathinnya tadi dengan perasaan gundah gulana yang semakin menipiskan harapan yang sempat menyala di hatinya tadi.
Sungguh, Asti memang membuat hatinya jadi seperti terombang-ambing dipermainkan perasaan yang datang silih berganti, bagaikan ombak yang menghempaskan batu karang. Tomi benar-benar bingung bagaimana caranya menyusun strategi untuk memenangkan persaingan ini. Tomi tidak ingin perjuangan dan penantiannya selama ini sia-sia.
Padahal kalau saja hatinya tidak tertuju kepada Asti melainkan kepada gadis-gadis lainnya yang juga tidak kalah cantik dan menariknya dari pada Asti, betapa mudahnya kebahagiaan tergenggam di tangannya!
Di tambah lagi gadis-gadis itu yang terlebih dahulu menyukai Tomi dan mengagumi Tomi. Jadi tidak butuh waktu dan perjuangan yang begitu besar untuk dapat di gapai. Dan gadis-gadis itu akan lebih mudah untuk berada di genggamannya, dibandingkan dengan gadis yang bernama Asti ini.
Profesinya gadis-gadis itu juga hampir sama dengan Tomi, jadi jika saat Tomi bekerja mungkin akan bisa sering bersama atau bertemu. Jika mengobrol juga pasti nyambung karena bekerja di bidang yang sama.
Namun kembali lagi itulah cinta, memang membutakan mata. Tomi malah lebih memilih yang sulit ia dekati, sulit di mengerti, sulit di genggam dan sulit di gapainya. Padahal sudah jelas-jelas ada yang lebih cantik dan mungkin lebih mencintai juga menyayangi Tomi di bandingkan dengan Asti, yang sampai saat ini belum memberi jawaban yang jelas dan pasti kepada Tomi.
Tomi menarik nafas panjang lagi, sampai pesanan makan Tomi datang dan ia makan dengan ekspresi wajah yang datar.
Sementara Tomi masih berkutat dengan fikirannya, lain hal nya dengan Asti yang masih setengah terbaring di atas sofa ruang tamu kakek neneknya memejamkan matanya dengan jiwa yang letih. Situasi yang telah ia lewati beberapa waktu tadi membuat dirinya syok. Terasa jantung dan otak serta organ-organ tubuhnya yang lain begitu lelah bekerja dan berfikir.
Di tambah dengan yang barusan tadi ia lewati, Tomi semakin berani bersikap frontal kepadanya. Asti membayangkan kembali saat Tomi mencium keningnya tadi. Kesal… Asti sangat kesal kepada dirinya karena tidak mampu berbuat apa-apa ketika hal itu terjadi.
__ADS_1
Semenjak perkenalannya dengan Tomi, hidupnya menjadi kacau balau dan tidak memiliki ketenangan. Padahal seharusnya saat melewati liburan begini ia sangat bahagia. Tetapi semua yang telah ia lewati malah sebaliknya.
Bahkan niat untuk mencari ketenangan di rumah kakek neneknya saja pun seperti sia-sia dan malahan menimbulkan kekacauan baru di sini. Sebab sebelum ini, tidak pernah ia mengalami apa yang dinamakan cemburu!
Tidak pernah sebelum ini ia mengetahui bahwa perasaan cemburu itu ternyata bisa membuat keseimbangan mentalnya tergoyahkan, sehingga ia bisa kehilangan kontrol diri.
Jika ia tidak datang ke kota ini tidak akan ada rasa cemburu itu yang pada akhirnya menambah beban batinnya. Juga perihal penemuan mengenai profesi lelaki itu, mengapa harus begitu banyak hal buruk yang ia alami di kota ini. Padahal sebelumnya kota Yogya adalah kota kenangan terindah bagi Asti, karena dulu saat kecil Asti tumbuh di kota ini bersama eyang putri dan eyang kakungnya yang dimana Asti di besarkan dan di rawat dengan penuh kasih sayang.
Sunggu, Tomi memang biang keladi dari segala perubahan hidupnya yang kini tidak pernah lagi tenang ! Karena rasa-rasa yang menyakitkan ini tidak pernah dialaminya sebelum ia mengenal Tomi.
Asti mengeluh panjang. Dan ia mendapatkan kesimpulan dari banyaknya pergumulan yang ada di hatinya, bahwa Asti memutuskan untuk segera meninggalkan kota ini dan segera kembali ke Jakarta secepatnya. Berlama-lama di kota Yogya ini akan memungkinkan Tomi menjumpainya lagi. Dan pastinya akan menimbulkan kekacauan-kekacauan lainnya. Entah kekacauan seperti apa lagi nanti yang terjadi kepadanya, karena satu orang lelaki yang bernama Tomi ini.
Kalau ia harus memilih antara bertemu muka dengan Tomi atau dengan Pak Eko. Bersama Pak Eko meskipun ia tidak menyukainya, tetapi perasaannya tidak pernah kacau seperti apa bila ia berhadapan dengan Tomi. Jadi, memang sebaiknya ia segera kembali ke Jakarta pikirnya. Apalagi libur akhir semester ini tinggal sekitar dua belas hari lagi.
Tok… Tok… Tok… Asti mengetuk kamar eyangnya.
“Eyang…” ini Asti… “Eyang…” kata Asti lagi.
Eyang putri membuka pintu kamarnya. “Iya Nak?...” Eyang berjalan perlahan bersama Asti untuk duduk kembali ke kursi sofa yang ada di ruang tamu rumah eyang.
“Ada apa, Nak…” kata eyang sambil tersenyum lembut seperti bisanya kepada Asti.
__ADS_1
“Eyang, Asti akan pulang ke Jakarta!” begitu akhirya ia mengatakan niatnya itu kepada eyang putri.
“Bagaimana keadaan kaki mu, Nak?” tanya eyang putri kepadanya khawatir.
“Apakah tidak sebaiknya menunggu kalau kaki mu sudah sembuh total dulu baru pulang ke Jakarta? Perjalanan Yogya ke Jakarta tidak dekat, kasian nanti kamu kesusahan saat dalam perjalanan dengan kondisi kaki mu yang masih belum pulih total begini” jelas eyang putri kepada Asti.
“Kaki Asti sudah sembuh kok Eyang, jangan khawatir”
“Tetapi perjalanan jauh bisa membuat mu lelah dengan kondisi kaki mu yang seperti ini lho, Ti!” sela eyang kakungnya yang berjalan perlahan dari muka pintu kamarnya menuju ke sofa ruang tamu juga, untuk bergabung dengan Asti dan eyang putri.
“Duduk terlalu lama dengan kondisi di dalam bis yang ramai dan sempit akan berpengaruh kepada kaki mu Ti!” kata eyang kakung lagi
“Asti rencananya mau naik pesawat saja, Eyang!” sahut Asti. “Eyang Kakung dan Eyang Putri tidak usah khawatir. Asti sudah bisa menjaga diri Asti sendiri”
“Eyang bukan tidak percaya kepada Asti, untuk bisa menjaga diri sendiri atau tidak. Ini buktinya keadaan kamu seperti ini dan kamu belum pulih total, Nak” sela eyang putri kemudian.
“Eyang hanya khawatir, kamu sendiri lagi tidak ada yang menemani perjalanan mu nanti di pesawat bagaimana? Akan lebih banyak jalan kakikan kalau di airport nanti?” kata eyang putri lagi.
“Eyang Kakung dan Eyang Putri jangan khawatir ya, Asti bisa kok sendiri. Eyang lupa ya kalau Asti bukanlah anak kecil lagi? Hehehe…” Asti berusaha meyakinkan kedua eyang nya yang ia tahu betul bahwa kasih sayang yang eyang kakung dan eyang putri berikan adalah tulus karena mereka memikirkan keselamatan dan kesehatan cucunya.
Asti merasa senang dan beruntung masih memiliki kedua eyang yang begitu menyayanginya dengan tulus dan bersyukurnya mereka masih sehat dan kuat dengan umur mereka saat ini.
__ADS_1
Kedua eyangnya tersenyum. Kadang-kadang mereka berdua sering lupa bahwa hampir semua cucunya sudah dewasa. Sebagian malah sudah memberi mereka beberapa orang cicit.
Bersambung...