DOSEN CANTIK YANG JUTEK

DOSEN CANTIK YANG JUTEK
Tomi Merayu Asti


__ADS_3

“Tidak perlu!” jawab Asti singkat sambil melangkah perlahan menjauhi depan ruangan pemeriksaan dokter Wijaya. Namun langkah nya di hentikan oleh Tomi. Dan juga di hadapan mereka berdua banyak orang yang sedang mengantri. Karena tindakan Tomi menyambut Asti di muka pintu ruang pemeriksaan itu, banyak orang langsung menoleh ke arah mereka berdua. Asti merasa tidak nyaman dengan pandangan orang-orang tersebut.


“Tidak apa-apa Bu, saya antar ya” kata Tomi lagi menawarkan dirinya sambil tersenyum.


“Tidak perlu, Saudara Tomi! Saya bisa pesan taksi saja!” jawab Asti lagi sambil ingin melanjutkan langkahnya dari arah lain agar tidak menghalangi jalan menuju pintu ruangan dokter Wijaya, karena ada pasien yang namanya sudah di panggil dan ingin masuk untuk pemeriksaan.


Begitu asti melangkah, begitu juga Tomi yang mengikutinya perlahan.


“Sama saya aja Bu, lebih aman dari pada Ibu naik taksi!” ucap Tomi lagi.


“Taksi di sini tidak ada yang ugal-ugalan, saudara tenang saja! Sahut Asti.


“Iya tapi menurut saya, Ibu lebih aman dengan saya!” jawab Tomi lebih tegas.


“Saya mau pulang sendiri!”


“Bu Asti, jangan mempersulit diri sendiri!” kata Tomi lagi dengan nada mendesak, “Lihat, ada berapa pasang mata memperhatikan kita dengan penuh perhatian, saat ini Bu!”


Asti menarik nafas panjang. Mendapati tekanan dan paksaan Tomi yang selalu seperti ini pada dirinya.


“Baiklah!” katanya kemudian dengan perasaan pasrah dan tertekan.


‘Ini orang kalau tidak di iya kan juga percuma saja, pasti tidak menyerah! Sampai ke ujung kulon pun aku berjalan dia akan tetap mengikuti sambil menawarkan dirinya itu!’ ucap Asti dalam hati.


Tanpa menunggu lagi, setelah mendapat lampu hijau dari Asti, Tomi langsung mendekati Asti yang jalannya masih belum sepenuhnya normal itu menuju ke bagian loket obat untuk mengambil vitamin yang sudah dokter Wijaya resepkan untuknya.


“Sini resepnya saya yang ambil saja Bu! Ibu duduk di sini saja menunggu sebentar!” kata Tomi sambil mengulurkan tangannya menujukkan kursi yang ada di rumah sakit itu. Dan untuk meminta resep obat kepada Asti.


Asti tidak menjawab, matanya hanya melotot ke arah Tomi. ‘Tahu saja ini lelaki!’ ucap Asti lagi dalam hati sambil memberikan resep itu kepadan Tomi.


Tomi yang tahu akan hal itu, hanya tersenyum sambil mengambil resep obat di tangan Asti.

__ADS_1


Asti duduk menunggu lagi di kursi yang sudah tersedia di area loket pengambilan obat tersebut. Dari tempat duduknya Asti dapat melihat Tomi yang berdiri mengantri mengambil obat untuknya.


Ada dua orang, paling depan ibu-ibu dan satu orang lelaki yang terlihat masih muda, yang sedang mengantri di barisan depan Tomi.


Saat ini Asti tidak mau berfikir terlalu banyak, ia hanya ingin berdamai dengan jantung nya yang mulai berdebar lebih cepat. Biarkan lah saat ini lelaki itu merasa senang, pikir Asti.


Sesudah beberapa saat Tomi sudah kembali menuju kearah Asti yang duduk. Terlihat oleh Tomi, Asti yang duduk sambil menunduk sedang mengotak atik hanphone nya.


“Bu!” Tomi memanggil Asti dengan suara yang agak kencang.


“Ya!” Asti sedikit terkejut, sambil mengarahkan pandangan matanya kepada arah suara.


“Sudah ya?” Asti mengajukan pertanyaan dengan nada yang lebih lembut dari sebelumnya, hanphone nya langsung ia masukkan ke dalam tas dan Asti berusaha mengangkat tubuhnya dari kuris itu.


Tomi yang melihat kesulitan Asti saat mengangkat badannya, dengan otomatis Tomi langsung membantu dengan menggenggam satu tangan Asti dan tangan yang satu lagi menyentuh pinggang Asti.


Deg… deg… deg… deg… Sepertinya jantung Asti berdetak dengan kecepatan yang tinggi, setelah mendapati tanggan nya di genggam oleh Tomi dan bagian pinggang nya yang di gapai oleh lelaki itu dengan erat.


“Hati-hati Bu…” lelaki itu berucap perlahan, suara nya sangat dekat dengan telinga Asti.


Asti tidak menjawab. Detak jantung yang masih kencang itu membungkam mulutnya.


“Mau pakai kursi roda saja, Bu?” ucap lelaki itu lagi mengarahkan wajahnya di hadapan Asti.


“Iya Iya! Boleh pakai kursi roda saja” jawab Asti segera. Asti berfikir tidak akan bisa ia melangkah sampai ke pintu utama dengan keadaan yang seperti ini. Bukan perihal kaki nya yang sakit namun genggaman dan rangkulan erat dari lelaki di sebelahnya ini membuat ia tidak tahan.


“Sebentar… Ibu tunggu di sini saja!” Tomi pelan-pelan melepaskan genggaman dan rangkulan erat di pinggang Asti dan berjalan mengambil kursi roda.


Dengan itu, Asti yang kini sudah duduk di kursi roda mengelus-ngelus dadanya karena mendapati sikap lelaki yang mendorong nya saat ini.


Di dalam mobil, Asti diam saja dengan wajah mendung. Tetapi Tomi sama sekali tidak meperdulikan itu. Ia masih saja merasa penasaran mengapa Asti yang sudah mempunyai kekasih itu mau saja di ciumnya kala itu, di sambut dengan sehangat itu pula! Tomi ingin menemukan jawaban yang jelas mengenai hal itu.

__ADS_1


“Kita ke pantai ya Bu Asti!” katanya sesudah beberapa saat lamanya berpikir.


“Ke pantai? Apa-apaan sih?” jawab Asti dengan wajah cemberut menghadap ke arah Tomi.


“Kok apa-apaan? Pantai Selatan itu sungguh indah lho Bu Asti. Bersih, biru dan gelombangnya kuat”


“Tidak!”


“Ibu belum pernah ke sana ya? Kalau Ibu sudah lihat baru Ibu berkata iya nanti!” Tomi sambil tersenyum.


“Bukan tidak mengenal keindahan nya! Tetapi saya tidak tertarik untuk pergi kesana saat ini!”


“Owalah… Saya pikir tadi Ibu bilang tidak pada keindahan pantai yang saya rekomendasikan. Tidak mau kesana toh maksudnya!” jawab Tomi santai.


“Langsung antarkan saya ke rumah saja! Kalau anda memang ingin pergi kepantai itu, pergi saja sendiri. Turunkan saja saya di sini, biar saya melanjutkan perjalanan pulang menggunakan taksi saja!”


“Sesekali lah Bu, kita kan tidak selamanya di sini. Ini kebetulan kita lagi bersama dan kita ada waktu untuk menikmati ke indahan pantai bersama di sana” rayu Tomi lagi.


“Sekali lagi saya tidak tertarik!”


“Sayang sekali, saya amat tertarik. Dan saya harap Bu Asti menemani saya sebentar saja di sana. Kita nanti minum air buah kelapa muda di sana!”


“Tidak!”


“Pemandangan di sana bisa menjernihkan pikiran kita dan juga merilekskan rongga-rongga otot yang tegang, sangat cocok untuk penyembuhan total tubuh Ibu” kata Tomi lagi menjelaskan.


“Tidak! Saya tidak tertarik” Asti tidak sempat mencerna apa yang Tomi sampaikan, yang ia inginkan hanyalah pulang kerumah.


Padahal semua yang Tomi sampaikan kepadanya itu benar adanya. Sejak kecelakaan yang menimpa dirinya menjadikan pikiran gadis itu mudah panik dan menimbulkan kekwatiran yang lebih tinggi dari biasanya. Dan itu tidak baik untuk proses penyembuhan juga, tidak baik untuk kesehatan mental Asti yang jadinya mudah sekali berubah-ubah.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2