
“Apakah itu merupakan salah satu alasan Saudara datang menemui saya di sini?” tanya Asti sesudah mendengar perkataan Tomi. Sedangkan dalam hatinya, ia terpaksa mengakui kebenaran yang ada pada inti dari pembicaraan lelaki itu. “Kalau iya, mudah-mudahan Saudara bisa merasa lega sesudah ini. Sebab harapan Saudara akan saya penuhi. Jelasnya, saya akan mencoba untuk tidak memasukkan perasaan pribadi terbaur dalam hubungan di antara kita sebagai dosen dan mahasiswa di kampus”
“Terimakasih, Bu Asti!” Tomi menjawab singkat.
Pembantu rumah tangga yang kebetulan lewat di samping rumah dan sedang menoleh ke arah teras terlihat oleh Asti yang langsung memanggil dan memberinya isyarat supaya mendekat.
“Mba…” Asti memanggil lembut pembantu rumah tangga yang bekerja di rumah eyang, sambil mengayunkan tangannya yang kecil dan berkulit cerah itu.
“Iya Bu…” jawab pembantu rumah tangga, sambil berjalan ke arah Asti dan Tomi yang duduk di teras rumah eyang.
“Saudara belum menjawab, mau minum apa? Dingin atau panas?” tanya Asti kepada Tomi, di hadapan pembantunya.
“Apa sajalah yang mudah dan praktis” jawab Tomi lebih lembut.
Asti menganggukkan kepalanya dan mengatakan kepada pembantu rumah tangga untuk membuat es sirup. “Mba… Tolong buatkan es sirup saja ya…”
“Baik Bu…”
“Terimakasih Mba…”
“Iya Bu…” jawab mba dan melangkahkan kakinya ke arah dapur.
“Nah, apakah masih ada sesuatu yang ingin Saudara bicarakan di sini?” tanya Asti begitu pembantu rumah tangga tadi pergi.
“Saya ingin mengetahui keadaan kesehatan, Bu Asti!” jawab Tomi. “Apakah sudah banyak mengalami kemajuan saat ini?”
“Ya, sudah... Terimakasih…” jawab Asti dengan singkat.
“Syukurlah Bu, perhitungan saya juga seharusnya saat ini kondisi Ibu sudah lebih baik” jawab Tomi.
__ADS_1
“Kenapa Ibu tidak memberitahu bahwa Ibu akan pulang hari berikutnya, padahal sehari sebelumnya kita bertemu di koridor rumah sakit?” Tomi berusaha mengajak Asti untuk mengobrol lebih santai.
“Saya lupa…” jawab singkat Asti.
Mendengar jawab singkat dari Asti, Tomi berbalik menjadi kesal. “Ibu dengan sengaja memang tidak mau memberitahu kepada saya, bahwa Ibu sudah diperbolehkan pulang? Dengan kata lain, Ibu telah dengan sengaja menghindari saya dan tidak mau pamit kepada saya!”
Mendengar itu, kemarahan Asti yang diwarnai cemburu seketika muncul lagi karena mendengar pertanyaan Tomi yang disuarakan dengan nada menghakimi itu.
“Kalau pun itu saya sengaja, apa hak Saudara untuk mempermasalahkannya?” Asti tidak mau kalah, ia menjawab dengan lebih kejam. “Apalagi seperti yang Saudara katakan, bahwa Saudara bukan dokter saya!”
Tomi menatap mata Asti.
“Rupanya Bu Asti masih merasa marah karena saya tidak berterus-terang perihal latar belakang saya menjadi mahasiswa di tempat Ibu mengajar itu hanya untuk melengkapi ilmu kedokteran yang sudah saya dapatkan!” katanya kemudian. Juga masih dengan nada suara menghakimi.
Tentu saja Asti jadi semakin jengkel.
Tiba-tiba Tomi tersenyum. Entah apa yang dipikirkan oleh lelaki itu, tetapi tampaknya ada rasa geli yang singgah pada dirinya. Senyumannya itu mengartikan seperti memberi olokan.
“Walau pun selama ini Ibu berusaha mati-matian agar tampak anggun, berwibawa dan menuakan diri agar tampak seperti dosen yang sudah berpengalaman, tetap saja mata saya melihat bahwa Ibu masih belum sepenuhnya meninggalkan sifat kekanak-kanak kan Ibu!” katanya kemudian masih dengan sedikit senyuman di bibir nya.
Mendengar kritikan seperti itu, kemarahan Asti meledak. Tanpa sadar ia berdiri dengan gerakkan mendadak. Lupa bahwa kakinya masih belum pulih seluruhnya. Apalagi ia berdiri tanpa memakai tongkat. Akibatnya, ia nyaris tersungkur jatuh ke lantai teras rumah eyang itu.
Tetapi Tomi yang tampaknya sudah memperkirakan segala hal yang mungkin terjadi, telah bergerak dengan sigap dengan menopang tubuh gadis itu untuk segera langsung diangkatnya dan dibawanya masuk ke ruang tamu.
Asti kaget. Kaget atas tindakannya yang sembrono. Dan kaget atas kesigapan Tomi menyelamatkannya dari sesuatu yang mungkin akan membahayakan dirinya dan dapat membuat kambuh penyakitnya. Atau mungkin dapat memperparah keadaannya saat pertama kali mengalami kecelakaan lalu lintas kemarin. Karena jika ia tersungkur maka Asti bisa berguling di tangga teras itu. Karenannya, ia tidak mau berkata-kata sesuatu apa pun. Dibiarkannya lelaki itu meletakkan dirinya ke atas sofa dengan hati-hati.
“Ibu Asti sering kali seperti petasan injak!” terdengar oleh Asti, Tomi mengomel kecil saat menggendongnya. “Padahal kalau di muka ruang kuliah, Ibu bisa lebih mampu menguasai diri” kata Tomi lagi.
Asti menatap wajah Tomi “Tidak di hadapan Anda!” Asti juga memberi komentar atas ucapan Tomi terhadap dirinya, tidak mau kalah digertak oleh Tomi.
__ADS_1
“Mengapa bisa seperti itu?” tanya Tomi sambil mengeluarkan lagi senyuman kecilnya.
Asti terdiam. Tidak mampu menjawab.
Melihat itu, Tomi yang masih memeluk Asti tidak mampu menahan dirinya. Dahi gadis itu dikecupnya dengan mesra.
Tomi seketika melupakan permasalahan pertama yang mengganggu hati nya saat pertama kali datang kerumah ini tadi. Ia dengan mudahnya melupakan hal itu karena saat ini hati nya sedang dikuasai oleh gadis yang ada di hadapannya ini. Kalau bisa bukan lagi melupakan sejenak hal tadi, tetapi biarlah hal yang ia lihat tadi tidak pernah terjadi padanya.
“Apa pun itu, alasannya pastilah karena saya mempunyai tempat khusus di hati Ibu!” katanya kemudian. “Kecupan ini sebagai tanda terima kasih!”
Asti mengangkat tubuhnya, bermaksud menampar Tomi. Tetapi lagi-lagi lelaki itu sudah menduga hal itu akan terjadi. Lengannya yang berada di bawah Asti dilepaskannya. Dengan tangannya yang kini bebas, dia menangkap tangan Asti dengan sigap.
“Jangan mengumbar kemarahan secara berlebihan, nanti ibu jadinya benar- benar cinta sama saya, dengan kepercayaan tinggi Tomi menyampaikan kepada Asti, dan membuat jantung Asti seperti mau copot di buatnya.
“Cukup!” Asti terengah, sambil memotong pembicaraan Tomi. Dengan pipi merona merah seperti buah tomat. “Sebaiknya Anda pulang sebelum dada saya meledak. Dan harap, jangan menganggu ketenangan saya selama saya beristirahat di Yogya ini. Saya mempunyai urusan dan Saudara juga mempunyai urusan sendiri, di mana masing-masing dari kita tidak ada kaitannya antara satu dengan yang lainnya”
“Tetapi bagaimana pun juga, kapan-kapan saya akan melihat keadaan Ibu lagi!” sahut Tomi, malah menggodanya.
“Mudah-mudahan saat itu Ibu sudah bisa lebih menguasai diri” Tomi tersenyum lagi.
“Saya tidak mengharapkan dibesuk oleh Anda, Saudara Tomi!” sembur Asti tanpa berpikir panjang. “Dan saya tidak ingin mengurangi waktu Saudara dengan seseorang!”
“Seseorang?” sedikit terkejut mendengar ucapan Asti.
“Ya, kekasih Saudara barangkali!” sembur Asti lagi, masih nyaris tanpa kontrol diri. Jadi pulanglah. Mungkin saat ini Saudara sedang dicari olehnya!”
Tomi menyadari Asti telah lepas kendali sehingga ia berniat untuk segera meninggalkan rumah itu. Walau pun matanya melihat pembantu rumah tangga Asti keluar membawa es sirup segar berwarna kuning. Dan pastinya pikiran Tomi langsung sibuk mencerna kata-kata Asti barusan.
Bersambung…
__ADS_1