
Asti duduk diruang tunggu bandara
Sambil memainkan handphone nya.
Ia mendengarkan lagu dengan menggunakan hands free.
Asti penasaran dengan isi kotak yang tadi diberikan oleh Tomi.
Tomi memintanya untuk membuka kotak itu bila sudah tiba dirumah.
" Kira-kira apa ya isi kotak itu? Jadi penasaran.
Kenapa pula Tomi meminta untuk membukanya saat sudah tiba dirumah.
Ah sudahlah, nanti juga tahu apa isi kotak itu. " Asti berkata-kata dalam hari mengenai isi kotak itu.
Tak lama, ada pengumuman dari pihak bandara bahwa pesawat yang akan Asti tumpangi sudah siap dan para penumpang diminta untuk naik ke pesawat.
Asti berjalan menuju pesawat bersama para penumpang yang lain.
Ia tidak membawa apapun selain tas punggung yang berukuran sedang, tas yang berisi dompet, handphone, lipstik, bedak dan sisir serta kotak kado dari Tomi.
Didalam pesawat, Asri mencari tempat duduk sesuai dengan nomor yang tertera pada tiket.
Asti maju perlahan karena penumpang lain tengah menaruh barang bawaan mereka di kabin atas.
Akhirnya Asti mendapati tempat duduknya, ada seorang pria yang akan jadi teman duduk Asti.
Tadinya Asti ingin duduk didekat jendela, tapi pria itu sudah lebih dulu duduk disana.
Asti tersenyum pada pria yang duduk di sebelahnya sebagai bentuk basa-basi.
Asti pun duduk di kursinya dengan tenang.
Tiba-tiba, pria yang duduk disebelah nya mengajak Asti mengobrol.
Sebenarnya Asti enggan untuk menanggapi, tapi ia tak punya cara untuk menolak obrolan pria itu, Asti pun tidak mengenalnya, alhasil Asti hanya menjawab sekedarnya saja.
" Mau ke Jakarta ya, dek? " tanya si pria.
" Iya. " jawab Asti singkat.
Sekilas ia memandang pria yang duduk disebelahnya yang dengan lancang memanggilnya adek.
Melihat wajahnya, seperti masih muda, berumur sekitar dua puluh tiga tahun, jauh lebih muda dari usia Asti.
" Dasar sok akrab, pake manggil dek segala. Sudah tahu pesawat ke Jakarta, masih nanya juga, emangnya sedang naik angkot yang bisa turun dimana saja.
Ngasih pertanyaan kok ga mutu. " gerutu Asti dalam hati.
" Di Jakarta kuliah dimana, dek? " tanyanya lagi.
__ADS_1
" Ga kuliah. " jawab Asti ketus.
Asti mulai kesal dengan pria yang duduk disebelahnya.
Pesawat sudah mulai mengudara, sebenarnya Asti ingin melihat pemandangan dari atas melalui kaca jendela, tapi berhubung ada pria yang SKSD, Sok Kenal Sok Dekat yang duduk disebelahnya membuat Asti malas memalingkan wajahnya kearah jendela.
Jika ia melihat kearah jendela, otomatis akan melihat wajah pria resek itu.
" Oh.. Iya dek, kita belum kenalan.
Nama saya Doni, nama adek siapa? " tanya Doni sambil memperkenalkan dirinya.
" Tyas. " jawab Asti.
Dalam hati Asti tertawa saat menyebutkan namanya, tapi tidak salah sih, ia hanya membalikkan namanya dari Asti menjadi Tyas.
" Kalau Tyas ga kuliah, apa berarti masih SMA ya, atau mau berkunjung kerumah saudara yang ada di Jakarta." tanya Doni.
Doni mengira jika Asti masih kuliah dan itu salah satu yang membuat Asti kesal, suka dianggap anak kuliahan.
" Saya tinggal di Jakarta. " jawab Asti lagi.
Ia tidak mau menjawab semua pertanyaan Doni, hanya yang perlu saja.
" Oh.. Saya kira sedang berkunjung ke Jakarta. Kalau saya baru ke Jakarta, kebetulan diterima bekerja di PT. Surya Gemilang Abadi. Boleh dong minta alamat rumahnya, siapa tahu nanti saya mau main ke rumah dek Tyas.
Boleh minta nomor handphone nya ga? "
Asti malas untuk menjawab semua pertanyaan Doni, ia pura-pura mencari minyak kayu putih didalam tasnya.
Lalu ia berkata pada Doni bahwa ia merasa pusing dan ingin istirahat.
" Maaf ya Doni, kepala saya sedikit pusing, saya memang suka mabuk kalau naik kendaraan, jadi saya mau istirahat dulu. "
Baru kali ini Asti bicara panjang lebar pada Doni.
" Oh iya, silahkan kalau mau istirahat. " kata Doni yang merasa tak enak hati.
Asti menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dan pura-pura memejamkan matanya.
Setelah menempuh perjalanan lebih kurang satu jam dua puluh menit, pesawat mendarat dengan baik di bandara Soekarno-Hatta.
Asti merasa lega, akhirnya bisa sampai dengan selamat, lebih lega lagi karena berpisah dengan Doni yang bersikap sok akrab.
Asti sudah mendapatkan barang bawaannya, lalu ia menarik koper dan menenteng kantong bawaannya dan keluar dari bandara.
Diluar bandara, Asti menggunakan mobil online untuk pulang kerumah.
Asti memang sudah mengatakan pada ayah dan ibunya untuk tidak menjemputnya di bandara.
Asti tidak ingin merepotkan mereka, lagi pula Asti bisa pulang sendiri.
__ADS_1
Sekitar dua jam perjalanan, Asti tiba di rumah dengan selamat.
" Assalamu'alaikum.. " Asti mengucapkan salam saat memasuki rumahnya.
Dilihatnya ayah dan ibu sedang duduk di meja makan, rupanya mereka akan makan siang.
" Wa'alaikumsalam.. " jawab ayah dan ibu bersamaan.
" Lho Asti..? Alhamdulillah..sudah sampai kerumah. " kata ibu yang melihat kedatangan Asti.
Asti menghampiri ayah dan ibunya, lalu menyalami dan mencium tangan keduanya.
" Apa kabar anak ayah yang baru pulang liburan? Gimana kaki yang kemaren kecelakaan, apa sudah sembuh benar? " tanya ayah yang merasa senang saat melihat Asti pulang dan bertanya tentang keadaan Asti.
" Asti sudah sembuh, yah, tidak ada yang terasa sakit lagi. " jawab Asti sambil menggerakkan kakinya.
" Syukurlah nak kalau sudah benar-benar sembuh. " kata ayah dengan perasaan tenang.
" Bagaimana keadaan eyang, Asti? " tanya ibu.
" Alhamdulillah eyang putri dan eyang kakung sehat, bu.
Eyang titip salam buat ayah dan ibu. " jawab Asti.
" Waalaikumsalam. " jawab ayah dan ibu.
" Syukurlah jika eyang sehat-sehat semua, eyang sudah sepuh tapi tidak mau diajak tinggal bersama anak dan cucunya.
Mungkin mereka kesepian karena jauh dari anak cucu. " kata ibu yang terlihat sedikit sedih.
" Iya bu, waktu mbak Santi mengajak eyang untuk tinggal di rumahnya, eyang tidak mau.
Kata eyang, eyang putri dan eyang kakung ingin menikmati waktu berdua, bernostalgia saat-saat dulu mereka masih muda dan belum dikaruniai anak.
Bedanya sekarang, anak dan cucunya akan datang mengunjungi eyang.
Ketika anak dan cucu eyang datang, saat itulah eyang merasa bersyukur masih diberi umur panjang hingga bisa melihat anak-anaknya hidup bahagia dan masih bisa bermain-main dengan cucunya.
Eyang juga minta agar kita bisa sering-sering menengok eyang, tidak hanya saat idul fitri saja kita mengunjungi eyang. "
Asti menceritakan keadaan eyang dan keinginannya yang hanya ingin tinggal di rumah mereka dan tidak ingin merepotkan anak cucunya.
" Begitulah Asti, kalau sudah tua, pasti akan merasa lebih nyaman tinggal di rumah sendiri.
Walaupun keadaan rumah anaknya lebih baik, tapi mereka akan lebih senang berada di rumah mereka yang penuh kenangan.
Kenangan saat mereka membesarkan anak-anak dan melihat tumbuh kembang anak-anak mereka di rumah itu. " ayah menjelaskan pada Asti, mengapa eyang lebih senang tinggal di rumah mereka sendiri.
Ayah, ibu dan Asti mengobrol diruang makan sambil menikmati makan siang.
Selesai makan, mereka melanjutkan obrolan dengan duduk diruang tivi.
__ADS_1