DOSEN CANTIK YANG JUTEK

DOSEN CANTIK YANG JUTEK
Cobaan Apa Lagi Ini


__ADS_3

“Iyalah, kita kan harus saling bekerja sama, bagaimana mungkin kita bisa sukses kalau tidak saling membantu?” dokter Indah tersenyum manis. “Nah, hatiku lega, sudah. Sebaiknya aku pulang sekarang. Karena hari ini aku betul-betul lelah lahir dan batin!” kata dokter Indah kepada kedua lelaki yang ada di samping kiri dan kanannya itu.


“Kita gak makan bareng dulu gitu sebelum balik? Sambil ngobrol” kata dokter Erik, sambil senyum merayu kedua temannya itu.


“Em… Aku terserah aja sih!” sambung dokter Indah yang sepertinya pun setuju dengan ajakan dokter Erik. “Tomi, kamu bisakan?” tanya dokter Indah kepada Tomi, yang belum ada berkomentar mengenai ajakan dokter Erik. “Kalau Tomi bisa juga ayo, kita bertiga makan dulu, nanti setelah makan baru aku pulang deh”


“Sepertinya aku gak bisa hari ini, aku masih ada urusan setelah ini!” jawab Tomi sambil menatap kepada kedua temannya itu.


Dokter Erik dan dokter Indah saling bertatapan “Yah… Gak asik kamu, Tom!” jawab dokter Erik.


“Ya sudah… Gak apa-apa besok kan kita ketemu lagi” jawab dokter Indah.


“Ya deh aku pulang jugalah!” kata dokter Erik. “Ya sudah aku duluan ya…”


“Lah malah kamu yang pamit duluan, Rik! Jawab dokter Indah sambil mendorong kecil teman nya itu. Dokter Erik hanya tersenyum.


“Sampai ketemu besok pagi, Rik. Jangan coba-coba telat lagi besok ya! Kamu juga, Tom!” tegas dokter Indah kepada dokter Erik dan Tomi. Dokter Erik tersenyum lagi.


“Yaaaa” secara tidak sengaja kedua lelaki itu menjawab secara bersama. Begitulah dokter Erik berpisah dengan Tomi dan dokter Indah di satu lorong rumah sakit.


Saat ini hanya dokter Indah dan Tomi yang masih berjalan bersama. “Kamu bawa mobil sendirikan Indah?” tanya Tomi.


“Iya masa kamu lupa kita ketemu di parkiran tadi!” jawab dokter Indah, sambil menatap Tomi.


Tomi melayangkan matanya ke arah lain, dirinya tersadar bahwa ia sedang di bawah pengaruh Asti. menjadikan semua fokusnya hilang hari ini. “Ya sudah, aku antar kamu sampai pintu utama ya?” kata Tomi lagi.

__ADS_1


Kedua dokter muda itu berjalan berdampingan , melewati tempat Asti menunggu giliran masuk keruangan periksa dokter Wijaya. Gadis itu kebetulan sedang melayangkan pandangan matanya ke arah lorong tempat dokter Indah dan Tomi sedang berjalan sambil asyik bicara dan saling bertatapan itu.


Tomi tahu itu tetapi ia sengaja pura-pura tidak melihat Asti, sampai ia dan dokter Indah melewatinya.


Seketika ketenangan saat Asti sedang sabar menunggu menjadi seperti di terpa sinar matahari yang panas dan membuatnya ingin beranjak dari situ sekarang juga. “Cobaan apa lagi ini! Kenapa harus terlihat oleh mataku sih!” Asti bercakap-cakap sendiri dengan kesalnya. Kakinya yang tadinya tidak ada rasa sakit tiba-tiba terasa sakit.


Asti membuka hanphone nya dan langsung mencari tiket pesawat. Rasa hatinya ingin segera angkat kaki dari kota ini. Ia menarik nafas panjang untuk menenangkan hatinya sendiri, sambil mengotak-atikkan hanphone pribadi miliknya.


Di sisi lain, sesampai di pintu utama rumah sakit Tomi mengantar dokter Indah, mereka berdua berpisah.


“Oke In… Aku antar sampai di sini aja ya…”


“Lah kamu gak ke parkiran? Ke mobil mu?” dokter Indah mengira Tomi memiliki urusan di luar rumah sakit.


“Iya aku ada urusan sebentar di dalam” jawab Tomi sambil menunjuk ke dalam rumah sakit.


“Oh oke kalau gitu!” dokter Indah menyimpan pertanyaannya dalam hati saja. “Kalau begitu aku duluan ya… Sampai ketemu besok!” tegas dokter Indah lagi kepada lelaki yang ada di hadapannya itu.


“Oke hati-hati Indah, sampai ketemu besok!” jawab Tomi.


Dokter Indah dan Tomi perpisah. Dokter Indah berjalan keluar gedung dan berjalan mengarah ke parkiran mobil yang ada di bagian depan pintu utama rumah sakit. Sedangkan Tomi kembali lagi masuk ke rumah sakit.


Sudah pasti Tomi berjalan mengarah ke tempat dimana Asti duduk tadi. Setelah mendekati Asti, dengan pandangannya Tomi pura-pura kaget melihat gadis itu sedang duduk mengantri.


“Lho, kok di sini Bu Asti?” sapanya sambil lebih mendekat tempat Asti duduk. Ia yakin gadis ini tidak berani bersikap seenakknya di hadapan orang banyak yang ada di sekitar ia duduk ini.

__ADS_1


“Ya…” Seperti yang Tomi telah duga, Asti terpaksa menjawab sapaan lelaki itu dengan sikap manis.


“Rupanya Bu Asti harus menunggu lama di sini!” Tomi berkata lagi dengan suara rendah. “Pasiennya banyak ya hari ini?”


“Ya…” jawab Asti singkat.


Tomi melayangkan pandangan matanya ke sekitar tempat itu. Ketika melihat seorang pegawai melintas, lelaki itu segera mendekatinya dan mengatakan sesuatu.


Asti tidak tahu apa yang dikatakan oleh Tomi kepada perawat hitam manis itu. Tetapi sesudah perawat itu masuk ke ruangan sebelah tempat dokter Wijaya memeriksa pasiennya, namanya langsung di panggil begitu pasien yang ada di dalam telah keluar. Maka tahulah Asti bahwa prioritas itu atas hasil ‘ulah’ Tomi, berkat koneksi-koneksi atau orang dalamnya yang ada di rumah sakit ini.


Tomi berhasil membuat ia segera di periksa, bahkan sebenarnya di depan nomor antrian Asti masih banyak nomor-nomor yang lain.


Hasil pemeriksaan menujukkan bahwa Asti sudah sembuh dan dapat menjawab pertanyaanya, apakah ia bisa pulang kembali ke Jakarta itu, mendapat jawaban yang positif. Asti sangat gembira mendapati hasil pemeriksaannya ini.


“Apa bila naik pesawat, Nona!” kata Donter Wijaya sambil tersenyum. “Naik kapal api pun tidak apa-apa” kata dokter Wijaya lagi sambil tersenyum, menggoda Asti. Candaan seperti ini lumrah di lontarkan dokter-dokter kepada para pasiennya, agar sedikit membuat hati pasiennya lebih rileks dan happy. Karena terkadang penyakit itu kebanyakan datangnya dari pikiran.


“Tetapi resep ini? Apa Dok? Apa anggota tubuh saya ini masih ada yang membutuhkan pengobatan, Dok?” tanya Asti tidak henti.


“Hanya vitamin-vitamin saja kok, Nona. Tetapi kalau ada yang mengganggu pada bagian kaki Anda jika sudah di Jakarta nanti, Nona bisa pergi ke dokter setempat. Jangan lupa hasil fotonya dibawa sekalian untuk di tunjukkan kepada dokter di sana!” jelas dokter Wijaya.


“Baik, Dok. Terima kasih banyak ya” Asti tersenyum lebar, kedua lesung pipinya menambah manis di wajah Asti terpancar dengan jelas.


Rasa lega dan senyuman lebar yang manis dari Asti ketika keluar dari ruang periksa itu lenyap, begitu ia disambut oleh Tomi di muka pintu ruangan dokter Wijaya.


“Ayo Bu… Ku antar Ibu pulang” Tomi menyambut Asti dengan senyuman yang lebar juga, karena secara Tomi tahu gambaran besar tetang hasil pemeriksaan gadis itu.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2