
Melihat Asti tidak menjawab Tomi semakin kesal.
“Apalagi saat ini hubungan yang terjadi di antara kita masih tetap sebagai dosen dan mahasiswanya, bukan sebagai seorang dokter dan pasiennya. Bahwa kita bertemu di rumah sakit waktu itu, itu pun karena suatu kebetulan” kata Tomi dengan nada tinggi.
“Saya ada di Yogya bersama beberapa orang dokter lulusan Gama yang ingin meningkatkan jenjang Sarjana kami, dengan mengadakan serangkaian penelitian. Jelasnya, saya hadir di beberapa kota selama sekian bulan ini tidak sebagai seorang dokter yang sedang praktek, namun sebagai seorang mahasiswa yang sedang melanjutkan perkuliahannya. Jelas”? Tomi menekan lagi nada bicaranya lebih tegas.
Lagi-lagi Asti tidak memberikan komentar apa pun. Bahkan mulutnya pun terkatup sangat rapat dan pandangan matanya menyiratkan ketidak perduliannya. Tomi mengetatkan gerahamnya lagi melihat itu. Ia telah mencoba untuk menyeberangi jurang di antara mereka. Agar situasi ini menjadi lebih baik. Dan bukan hanya kali ini saja, tetapi sudah berkali-kali hal seperti ini terjadi di antara mereka berdua.
Rasanya masih tidak iklas hati Tomi, bahwa usaha yang telah ia lakukan selama ini berakhir dengan kegagalan seperti kejadian hari ini. Ia sudah melewati persaingan sengit dengan salah satu dosen laki-laki di kampusnya karena mereka mendekati gadis yang sama.
Sejauh ini, ia memiliki suatu keyakinan bahwa jika di banding kan dengan usaha dosen laki-laki itu, ia lebih berhasil dan jauh berada digaris terdepan. Bahkan ia berani bertaruh dengan siapa pun, bahwa dosen laki-laki yang tidak lain adalah Pak Eko itu pasti tidak pernah mencium Asti seperti hubungannya dengan Asti.
Menurut Tomi, Pak Eko bukan saja tidak pernah berani mencium Asti, tetapi juga andai kata pun pernah tidak akan mendapat sambutan atau balasan yang sama hangatnya sebagaimana yang pernah diterimanya dari gadis itu.
Namun sekarang, Tomi merasa dirinya seperti berdiri tanpa pegangan. Ia merasa sedang berada di satu pulau kecil tanpa pendamping. Harapan yang telah ia tanamkan selama ini terhadap wanita yang ada di hadapannya ini sudah mulai membuatnya muak.
Tomi menyadari sejak berjumpa di rumah sakit, sikap gadis itu bukan saja mengambil jarak, tetapi bahkan begitu dingin dengan pandangan mata sulit untuk di tebak. Asti yang dulu terakhir ia jumpai di Jakarta sepertinya bukanlah Asti yang ia temui di Yogja ini.
__ADS_1
Apakah gadis itu masih marah karena merasa tersinggung begitu mengetahui mahasiwanya yang di kira pemalas, sudah menghambur-hamburkan waktu dan juga uang orang tuanya ini ternyata seorang dokter? Apakah itu masalahnya sampai Asti begini? Apakah hal itu membuatnya kecewa sampai sebesar ini?
Berpikir seperti itu, Tomi lalu mencoba untuk memahami perasaan Asti. Tomi berusaha memposisikan dirinya di pihak gadis itu. Apa yang ia rasakan saat berada di posisi gadis ini jika terjadi hal semacam itu.
Mungkin saja… Iya… Boleh jadi… Tomi bertanya dan menjawab pertanyaan nya sendiri di dalam hati. Sepertinya iya… Gadis itu merasa dipermainkan oleh diriku. Padahal, aku sama sekali tidak bermaksud demikian.
Semua hal yang terjadi selama ini antara dirinya dengan Asti adalah murni mengalir begitu saja. Tidak ada momen atau situasi yang ia rencanakan sedemikian rupa dengan skenario-skenario. Tomi juga tidak sadar bahwa ternyata perjalanan ia bersama Asti ternyata sudah jauh.
Semua berawal saat ia hadir di kampus tempat Asti mengajar itu sebagai mahasiswa. Dan semua itu terjadi begitu saja. Ia yang juga sebagai seorang lelaki, tidak bisa menutup mata akan ke kagumannya terhadap dosen wanita yang cantik dan begitu menarik hatinya.
Latar belakang ia sebagai seorang dokter juga, tidak bermaksud untuk tidak memeberitahu kepada gadis yang ia sukai ini. Namun belum ada waktu yang tepat rasanya untuk menyampaikan kepada Asti. Karena niatan awalnya ia ingin menyelesaikan dengan tuntas dulu pendidikan sarjana terakhir yang sedang ia tempuh sekarang.
Maka dari itu, dalam hal identitasnya ini bukan hanya Asti yang tidak tahu namun semua teman-teman di kampus maupun yang satu kelas dengannya dan juga semua dosen-dosen yang mengajar dirinya juga tidak ada satu pun yang tahu.
Jadi dalam hal ini bukan bermaksud ia menyembunyikan dengan sengaja perihal identitas ia sebagai dokter, selain seorang mahasiswa di universitas tempat Asti mengajar.
“Bu Asti” katanya kemudian dengan suara lebih lembut. “Terus terang saya merasa keberatan terhadap sikap Ibu yang begitu kaku dan dingin terhadap saya sejak kita berjumpa di rumah sakit waktu itu”
__ADS_1
“Memang benar, selama perkenalan kita pun, Ibu tidak pernah ramah dan hampir selalu mengambil jarak dengan saya. Tetapi sikap dan pandangan sedingin sekarang ini, baru kali ini saya terima dari Ibu. Padahal Bu, kita masih harus dan akan sering berjumpa nanti kalau kita kembali ke Jakarta. Termasuk nanti saat kita sudah mulai masuk kampus lagi”
“Bagaimana mungkin saya bisa menyelesaikan studi saya dengan mudah kalau sikap Ibu sebagai dosen seperti ini?” kata Tomi lagi, lebih mengarahkan ke situasi pembicaraan yang dingin.
“Saudara terlalu berlebihan memandang suatu kenyataan?” sahut Asti tidak mau kalah.
“Tidak, saya tidak melebih-lebihkan keadaan yang sebenarnya!” bantah Tomi. “Kalau Ibu jujur, Ibu pasti akan merasa bahwa sikap Ibu semenjak kenal saya terlalu berat sebelah. Tidak sebanding dengan kesalahan saya”
“Apalagi selama ini saya selalu berusaha untuk mmengejar semua ketinggalan saya. Dan ibu juga sudah menjawab pertanyaan saya kemarin, bahwa saya mendapat penilaian yang bagus dari karya tulis yang Ibu tugaskan kepada saya”
“Lalu kalau memang saya tidak bersikap adil, apa yang sebetulnya Saudara harapkan dari saya sekarang ini?” kata Asti.
“Saya sudah mengatakannya tadi, harap Ibu masih mengingat bahwa kita akan bertemu lagi di kampus sebagai dosen dan mahasiswa!” sahut Tomi terus terang. “Jadi hendaklah perasaan-perasaan pribadi seperti kemarahan, kebencian, atau apa pun itu, janganlah Ibu dibawa-bawa”
Tomi berusaha menenangkan dan menyabarkan Asti dari perihal pekerjaannya nanti. Karena memang benar ketika kita sedang emosi semua hal akan menjadi salah. Yang benar bisa menjadi salah, apa lagi perihal yang mungkin dari awal memang sudah salah.
Jika ingin memperbaiki komunikasi ini, mulailah dengan menenangkan diri terlebih dahulu. Agar pikiran dan hati, bisa berbicara dan berdiskusi secara normal. Tomi berharap dengan satu langkah mundur dari rasa egois dan emosi yang ada dihatinya dapat mendinginkan situasi antara dirinya dengan Asti saat ini.
__ADS_1
Bersambung….