DOSEN CANTIK YANG JUTEK

DOSEN CANTIK YANG JUTEK
Bab 155 Nama Yang Sama.


__ADS_3

Sudah beberapa hari pemuda yang ditemukan oleh Roni dan ayahnya dirawat di rumah mereka.


Sudah ada perkembangan yang baik pada kesehatan tubuhnya.


Pemuda itu sudah bisa bangun dan berjalan ke kamar mandi sendiri.


Dengan telaten ibu dan Bella merawat pemuda itu, karena ayah dan Roni harus ke laut untuk mencari ikan.


Siang ini, setelah makan bubur dan minum obat, pemuda itu duduk di atas pembaringan, sedangkan Bella dengan ibunya duduk di atas kursi.


" Bagaimana keadaan mu saat ini, nak? " tanya ibu pada pemuda itu.


" Alhamdulillah, saya merasa lebih baik bu! " jawab pemuda itu pada ibu.


" Alhamdulillah, syukurlah jika demikian.


Sepertinya hanya luka memar yang masih terlihat di tubuhmu. " kata ibu lagi.


" Iya bu. Saya berterima kasih pada ibu dan keluarga disini yang sudah merawat saya dengan baik. " kata pemuda itu.


" Nak, jika boleh tahu, siapa namamu dan dari mana asalmu? " tanya ibu lagi.


Pemuda itu terdiam, ia seperti tengah berfikir.


Lalu ia menggelengkan kepala dan memegang kepalanya dengan tangan.


" Ah... saya tidak tahu, saya tidak bisa mengingat siapa nama saya.! " kata pemuda itu sambil meremas rambutnya.


" Sudah bang, kalau abang tidak ingat tidak apa-apa. Abang jangan memaksakan diri untuk mengingatnya."


Bella berusaha menenangkan pemuda itu yang sedang meremas rambutnya, terlihat ia tengah berfikir tentang siapa dirinya.


" Sekarang abang istirahat dulu, jangan terlalu memaksakan diri.


Jika nanti abang sudah lebih baik, kita bisa ke rumah sakit di kota untuk memeriksa keadaan abang. "


Kata Bella dan meminta pemuda itu untuk beristirahat agar bisa menenangkan dirinya.


Pemuda itu mengikuti apa kata Bella, ia merebahkan diri di atas tempat tidurnya.


" Sebenarnya, dia kenapa Bel? " tanya ibu yang tidak mengerti dengan keadaan pemuda itu.


" Sepertinya, dia kena amnesia bu, lupa ingatan! " kata Bella pada ibu.


" Sepertinya ia mengalami benturan di kepalanya yang mengakibatkan dia lupa ingatan. Tapi seberapa parah kita belum tahu, kita harus memeriksakan nya ke kota, atau kita coba periksa di Puskesmas jika ia tubuhnya sudah lebih baik. "

__ADS_1


Bella menjelaskan keadaan pemuda itu pada ibu, tapi Bella juga tidak tahu keadaan yang sebenarnya karena itu Bella akan memeriksakan ke Puskesmas jika keadaan pemuda itu sudah lebih baik.


" Kita panggil dia TOMI aja bu jika dia tidak bisa mengingat namanya. " kata Bella pada ibunya.


" Kenapa harus Tomi? bukankah itu nama laki-laki yang dulu menjadi kekasihmu? " tanya ibu yang merasa heran karena Bella memberi nama pemuda itu dengan lelaki yang dulu menjadi kekasih Bella.


" Tidak apa-apa bu, Bella suka aja dengan nama itu. " kata Bella sambil tersenyum pada ibunya.


" Apa kamu belum bisa melupakan lelaki itu, nak? " tanya ibu pada anaknya yang terlihat bahagia saat ia menyebutkan nama Tomi


" Dia sudah pergi entah kemana, nak, mungkin dia sudah berkeluarga di seberang pulau sana. Lupakan saja Tomi, masih ada lelaki lain yang lebih baik dari Tomi mu itu. "


Kata ibu yang tidak suka melihat Bella masih mengingat lelaki yang katanya pergi bekerja keluar pulau tapi hingga kini tidak ada kabar beritanya.


" Sudahlah bu, Bella hanya memberi nama Tomi saja, tidak ada maksud untuk mengingat lelaki itu. "


Kata Bella menenangkan ibunya.


" Seperti tidak ada nama lainnya saja, mengapa harus dipanggil Tomi segala. " kata ibu menggerutu.


Lalu ibu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah dapur.


" Sudahlah, ibu mau masak dulu, sudah sore. " kata ibu pada Bella.


" Masak apa untuk makan malam nanti, bu? " tanya Bella yang akan membantu ibunya di dapur.


" Ada sayur asem, tempe, tahu yang ibu beli dan tukang sayur.


Kita masak itu aja untuk makan malam nanti. " Jawab ibu sambil menyiapkan sayuran yang akan dimasak sore ini.


" Masih ada ikan kembung kan bu di dalam kulkas? " tanya Bella pada ibu.


" Masih, sudah ibu bersihkan tinggal dimasak." kata ibu.


" Memang kamu mau masak apa? " tanya ibu pula.


" Bella mau bikin ikan bakar bu sama sambal bu, kayanya enak kalau ada sayur asem dan goreng tempe tahu. " jawab Bella sambil mengambil ikan didalam kulkas dan menyiapkan pemanggang ikan dibelakang rumah mereka.


*


*


Malam itu dikediaman orang tua Tomi, mamah Tomi tengah berusaha menghubungi handphone Tomi.


Berulang kali ia menekan nomor Tomi tapi tidak pernah tersambung.

__ADS_1


" Bagaimana ini pah? Tomi tidak bisa dihubungi, perasaan mamah makin tidak enak. " tanya mamah pada papah yang sedang duduk di tepi tempat tidur.


Mamah mondar-mandir dihadapan papah sambil memegang handphonenya.


" Sabar mah, mungkin di sana tidak ada sinyal, atau Tomi sedang sibuk mempersiapkan untuk kegiatannya besok. " jawab papah berusaha menenangkan mamah yang terlihat gelisah sejak tadi sore.


" Bagaimana mau tenang pah? dari tadi perasaan mamah sudah tidak enak, Tomi tidak memberi kabar pada kita!


Mamah hubungi sejak tadi tapi handphone tidak aktif. " kata mamah sambil duduk disisi papah.


" Kita tanya Riki, siapa tahu Riki menyimpan nomor teman Tomi di sana." kata papah yang mencoba mencari solusi dengan menanyakan pada Riki jika Riki menyimpan nomor teman Tomi.


" Iya pah, kalau tidak salah Tomi pernah memberi nomor atasannya di rumah sakit di sana. " kata mamah yang mengingat jika Tomi pernah memberi nomor atasannya di rumah sakit pada Riki.


" Ayo pah, kita tanya pada Riki. " kata mamah yang tidak sabar ingin menemui Riki di kamarnya.


Papah dan mamah pun keluar dari kamar dan menuju kamar Riki untuk meminta nomor telepon atasan Tomi.


" Tapi, apa tidak apa-apa jika kita tanya sekarang, mah? inikan sudah malam dan bukan jam kerja. "


Tanya papah yang merasa tidak enak jika menelepon atasan Tomi malam-malam.


" Tidak apa, ini darurat pah, pasti atasan Tomi juga mengerti.


Mamah tidak bisa menunda sampai besok pagi. " jawab mamah yang sudah tidak sabar ingin menanyakan keadaan Tomi.


Ketika mereka tiba didepan kamar Riki dan ingin mengetuk pintu kamar, pintu. itu telah terbuka dari dalam terlebih dahulu.


Terlihat Riki yang berdiri didepan pintu dan tertegun melihat kedua orang tuanya ada didepan pintu.


Mata Riki terlihat memerah seperti habis menangis.


" Riki, ada apa? " tanya mamah cemas yang menyadari keadaan Riki tidak baik-baik saja.


" Mamah.. papah..! " kata Riki sambil berhambur memeluk mamahnya.


" Riki, ada apa? jangan bikin mamah cemas. " kata mamah sambil berusaha melepaskan pelukan Riki dan melihat Riki yang sudah menangis.


" Ada apa? mengapa kamu seperti ini? " tanya mamah.


" Riki, katakan pada kami, mengapa kamu memeluk mamah dan menangis?" tanya papah pula sambil mengusap bahu Riki, berusaha memberi ketenangan pada anaknya.


Riki kembali memeluk mamahnya dan terisak.


" Aa Tomi mah, pah! " kata Riki sambil memeluk mamahnya erat.

__ADS_1


__ADS_2