DOSEN CANTIK YANG JUTEK

DOSEN CANTIK YANG JUTEK
Ternyata Dokter Indah Ada Hati Kepada Tomi


__ADS_3

Barang kali memang benar bahwa sikap mengambil jarak yang ditunjukkan oleh Asti terhadap dirinya mau pun terhadap Pak Eko itu di sebabkan karena gadis itu sudah mempunyai kekasih di Kota Yogya ini.


Kalau memang dugaannya benar, Tomi merasa tidaklah etis kalau ia bersaing dengan Aryanto. Sifatnya agak berbeda dibanding persaingan antara dirinya dengan Pak Eko, salah satu dosen di universitas tempat ia kuliah dan salah satu dosen yang setiap hari bertemu dengan gadis yang mereka kejar bersama itu.


Sebab nyata-nyata ia melihat betapa mesra dan akrabnya Asti terhadap Aryanto.


Hampir saja Tomi menendang pilar di hadapannya untuk melampiaskan kejengkelannya. Asti sungguh makhluk yang banyak menimbulkan tanda tanya juga, pikirnya geram.


Betapa tidak? Kalau benar hati gadis itu sudah memiliki pelabuhan hati, kenapa ia masih bisa terbangkitkan gairahnya oleh ciuman-ciuman bersama dengan dirinya? Atau jangan-jangan Asti hanya merasa cocok dengan Aryanto tetapi dalam hal cinta?


Pertanyaan terakhir yang muncul di hati Tomi itu memicu langkah kakinya untuk segera menemui orang yang bersangkutan dan orang yang bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaannya ini. Namun rasa emosi yang menguasai hati Tomi mereda karena ia mendapati telepon dari dokter Indah.


Dokter Indah menelepon Tomi untuk segera menemuinya karena dokter senior yang sudah setengah baya itu baru saja keluar dari kamar bedah. Dan dokter senior yang biasa di panggi dokter Surya, sudah menyelesaikan operasi pengangkatan kantung empedu seorang pasien dengan sukses.


Namun karena Tomi yang fokus nya hilang karena berfikir keras perihal gadis yang ia cintai yaitu Asti.


“Hallo, Tom!” terdengar suara dokter Indah menyapa lewat telepon Tomi.


“Iya Hallo In” jawab Tomi singkat sambil melangkah ke arah Asti


“Kamu dimana ? Segera menemui ku!” kata dokter Indah lagi.

__ADS_1


“Ada apa In?” kata Tomi yang hanya berfokus kepada tujuannya yaitu menghampiri Asti yang sedang duduk menunggu antriannya itu untuk bertanya dengan jelas kepada gadis itu.


“Ada apa? Kamu mengigau ya, Tom? Cepat kesini! Itu dokter Surya sudah selesai dan sudah keluar dari ruang operasi. Cepat ke sini Tom!” kata Indah kepada Tomi, dengan nada agak tinggi.


“Ya ampun!” Tomi seketika sadar. “Oke oke aku langsung ke sana” Tomi memutar haluan perjalanannya yang tadinya mengarah ke Asti. Padahal tubuh Asti sudah terlihat jelas di matanya, menandakan posisi Tomi dengan Asti sudah tidak jauh lagi. Kira-kira lima belas langkah lagi sudah sampai.


Tetapi apa boleh buat Tomi pun mengurungkan niatnya untuk menemui Asti dan langsung menuju ke tempat pertemuan yang dokter Indah sampaikan kepadanya. Tomi dengan segera menemui dokter Indah yang sejak tadi sudah menunggu kehadiran Tomi.


Tomi mempercepat langkahnya sesuai dengan arahan oleh dokter Indah. Karena dokter senior yang ingin mereka jumpai sudah bisa segera di temui.


Dalam kondisi yang urgent itu, Tomi masih berusaha untuk tetap fokus saat berjalan dengan menambahkan Asti di dalam pikirannya. Belum sempat ia berpikir banyak, telepon nya berdering lagi. Dan telepon itu dari dokter Indah lagi.


Tomi sadar kembali bahwa dokter indah pasti meminta dirinya harus segera sampai ke sana. Tomi tidak mengangkat telepon itu dan segera lebih mempercepat langkah kakinya sampai ia terkadang berlari. Lumayan jauh ia harus berjalan, karena posisi Tomi di lantai satu dan dokter Indah di lantai tiga. Karena hal itu Tomi perlahan melupakan sosok Asti.


“Kemana sih kamu Tom, lama banget!” kata dokter Indah, ketika melihat Tomi datang dengan langkah yang di percepatnya.


“Iya sorry… Aku dari lantai satu, naik lift ramai dan tadi satu lift sama pasien” jawab Tomi yang berbicara sambil mengatur nafasnya, wajah Tomi pun terlihat pucat karena berlari.


“Ih kamu ini ya! Dari tadi kemana juga! Ini si Erik juga baru datang, kalian berdua ini sama aja telatnya” Dokter Indah mengomel.


“Iya aku juga tadi emang lama di jalan, di tambah cari parkiran susah! Mutar-mutar terus” kata Erik.

__ADS_1


“Ya sudah… Terus dimana dokter Surya nya?” kata Tomi lagi mengakhiri pembicaraan mengenai keterlambatan antara dirinya dengan dokter Erik.


“Dokter Surya sudah di ruangannya, pastinya dia lelah baru selesai operasi tadi” jawab dokter Indah masih dengan nada agak tinggi.


“Ya sudah, ayo kita keruangannya” kata Tomi lagi.


“Ayolah! Maksudku ketika dia ada di sini tadi, kita berbicara langsung di sini dan tidak mengganggu waktu istirahatnya dokter Surya” tambah dokter Indah. “Kamukan tahu Beliau susah untuk di temui, kalau tidak istirahat ya dia di ruang bedah!”


Sebenarnya bisa saja tadi dokter Indah berbicara langsung sendiri dengan dokter Surya, namun dia masih memikirkan kedua temannya itu. Karena hal seperti ini tidak bisa di wakilkan oleh satu orang saja, di tambah mereka adalah dokter yang datang ke rumah sakit ini adalah untuk penelitian, tidak etis rasanya jika dokter Indah yang meminta izin sendiri. Nanti malah membuat citra Tomi dan dokter Erik tidak baik di mata dokter senior mereka itu.


“Ya nanti aku yang ketok pintunya dan memulai pembicaraannya. Sorry ya Indah dan terima kasih!” ucap Tomi kepada temannya itu, karena Tomi memahami kondisi dan posisi dokter Indah. Dokter Erik hanya terdiam dan sesekali ia tersenyum kepada dokter Indah untuk menyampaikan pernyataan yang sama juga dengan Tomi.


“Ya sudah ayo!” kata dokter Indah mulai menerima keadaan.


Mereka berbersama-sama langsung pergi menuju ke ruangan istirahatnya dokter Surya, dokter senior mereka itu. Tujuannya adalah untuk merayu senior mereka agar besok pagi di perbolehkan mengikuti jalannya operasi yang di pimpin oleh beliau.


Sesampainya mereka bertiga di ruang istirahat dokter senior, Tomi mengetuk pintu dan memulai pembicaraan dengan tujuan kedatangan mereka. Dan syukurnya karena kebersamaan mereka untuk datang menghadap, dokter Surya pun mengabulkan permintaan mereka dan harapan mereka berhasil. Besok ketiga dokter muda ini di persilahkan untuk menghadiri operasi yang ada kaitannya dengan penelitian mereka.


“Terima kasih atas informasi mu ini Erik dan Indah dan terima kasih juga In sudah sabar menunggu aku dan Erik tadi” kata Tomi sambil tersenyum gembira begitu juga dengan dokter Erik, ketika mereka bertiga sudah meninggalkan ruangan istirahat dokter Surya tadi.


“Iya anda berdua sudah berhasil membuat saya kesal hari ini, tetapi karena hasilnya bagus iya sudah saya memaafkan anda berdua” kata dokter Indah dengan senyumannya sambil menyinggung kedua dokter lelaki, yaitu teman seangkatannya itu. Namun kepada Tomi ia sedikit menyimpan perasaan yang lebih spesial.

__ADS_1


“Iya begini kalau cewek sudah marah, lama! Dan susah merayunya” sambung dokter Erik sambil tertawa menggoda balik dokter Indah.


Bersambung…


__ADS_2