
Mendengar penjelasan Asti dengan melihat cincin yang ade dijari manis tangan kiri Asti, pak Eko percaya jika Asti sedang tidak membohonginya.
Sakit! Hati pak Eko terasa sakit menerima kenyataan yang ia hadapi sekarang
Dari awal ia mengenal Asti, dia sudah berusaha untuk mendapatkan hati Asti.
Sudah bermacam cara yang ia lakukan untuk menaklukkan hati Asti.
Tapi saat ini, perjuangannya harus dihentikan karena Asti lebih memilih laki-laki lain.
Makanan yang tengah pak Eko makan, serasa serabut kasar yang melewati tenggorokan. Terasa sangat menyakitkan dan sulit dia telan.
".Mengapa aku tidak pernah memperhatikan jari tangan dek Asti?
Mengapa selama ini, aku tidak melihat cincin yang dek Asti pakai? "
Tanya pak Eko pada dirinya sendiri.
Ingin rasanya pak Eko pergi meninggalkan mereka saat ini, tapi ia harus bisa menahan diri agar tidak terlihat seperti seorang pecundang yang lari dan tidak mau mengakui kekalahan.
Dia bukan remaja yang begitu patah hati akan langsung lari dan menghindar, ia akan buktikan didepan Asti jika ia baik-baik saja walaupun diwajahnya jelas terlihat rasa sakit dan kekecewaan.
" Baiklah, dek Asti, maafkan saya. Maaf jika apa yang saya lakukan selama ini telah membuat dek Asti merasa kesal pada saya.
Saya berdoa, semoga hubungan dek Asti dan Tomi langgeng. "
Dengan susah payah, pak Eko menyampaikan hal itu pada Asti agar Asti tidak mengasihaninya karena saat ini ia tengah patah hati.
" Kalau begitu, saya pulang duluan dek Asti, bu Asma. " kata pak Eko yang menyudahi makannya.
Pak Eko meminum sedikit air yang ada didepannya untuk melancarkan makanan yang terasa nyangkut di tenggorokannya dan karena mulut nya terasa kering setelah mengatakan semuanya pada Asti.
Setelahnya, pak Eko berdiri dan meninggalkan Asti dan Asma yang masih ada dimeja itu.
__ADS_1
Pak Eko tidak langsung ke parkiran, tadi menuju toilet untuk membasuh mukanya yang terasa panas dan matanya yang juga terasa perih.
Ia lupa dengan kantong buku yang tadi dibelinya, pak Eko hanya mengambil kunci mobil yang tergeletak diatas meja, lalu pergi begitu saja.
Kantong buku yang ditaruh diatas kursi yang ada disampingnya lupa untuk ia bawa.
Melihat pak Eko yang pergi begitu saja, Asti merasa sangat bersalah dan merasa telah menyakiti hati pak Eko.
" Apa aku salah dengan melakukan semua ini pada pak Eko, Asma? " tanya Asti pada Asma.
Ia pun menghentikan makannya karena sudah tidak berselera.
Asti meneguk minuman yang tadi di pesannya. Minuman kesukaannya itu, sekarang terasa hambar saat melewati kerongkongannya.
" Kamu tidak salah, Asti, justru ini lebih baik dari pada pak Eko terus berharap.
Lagian, lambat laun pak Eko akan mengetahui pertunangan mu dengan Tomi. Hal ini tidak mungkin disimpan karena kita mengajar di satu kampus yang sama, dan suatu hari kamu pasti menikah dengan Tomi setelah Tomi menyelesaikan tugasnya di daerah.
Jika pak Eko tahu saat kalian sudah akan menikah, justru itu akan lebih menyakitkan bagi pak Eko, karena secara tidak langsung kamu sudah memberikan pemikiran yang salah pada pak Eko dengan menganggap jika kamu belum terikat dengan orang lain.
Asma memberikan pandangan dan pengertian pada Asti, bahwa apa yang tadi dia lakukan pada pak Eko sudah benar. Lebih baik pak Eko sakit hati saat ini dari pada dia harus hancur nanti saat melihat pernikahan Asti dan Tomi.
" Iya, kau benar Asma, lebih baik pak Eko tahu saat ini. Lagian aku bukan menyembunyikan pertunangan ku dari pak Eko. Aku selalu memakai cincin ini agar orang tahu jika sekarang ia sudah terikat dengan seseorang, tapi mungkin pak Eko tidak pernah memperhatikan.
Selama ini, aku juga bukan tidak ingin memberitahu pada pak Eko, untuk apa? Nanti aku seolah dengan sengaja ingin membuat pak Eko sakit hati, walau kenyataan sekarang pak Eko harus sakit hati karena semua ini. "
" Sudahlah Asti, tidak perlu merasa bersalah pada pak Eko, karena sejak awal aku tahu jika kau tidak pernah menjanjikan apapun pada pak Eko dan tidak pernah menanggapi semua perhatianmu.
Kita doakan saja, semoga pak Eko mendapatkan gadis yang baik yang bisa memahami dan menerima serta mencintainya dengan tulus.
Pak Eko orang yang baik, pasti akan menemukan gadis yang baik pula. "
Asma memberikan dukungan pada Asti dan mendoakan yang terbaik buat pak Eko.
__ADS_1
*
*
Sementara, dibelakang mereka ada Desti dan Endah yang juga sedang makan disana.
Mereka duduk membelakangi pak Eko dan bu Asti.
Mereka mendengar percakapan pak Eko dan bu Asti sehingga mereka tahu jika yang duduk dibelakang mereka adalah dosen mereka di kampus.
Desti mendengar apa yang terjadi pada pak Eko, lelaki yang telah membuatnya jatuh cinta namun tidak pernah ditanggapi oleh pak Eko.
Kini, Desti tahu mengapa pak Eko tidak pernah membalas perhatian yang diberikannya selama ini.
Apa yang dialami pak Eko, sama seperti yang dialami oleh Desti, mengharapkan seseorang yang justru mengharapkan orang lain.
" Kasihan juga ya sama pak Eko, harus patah hati karena ternyata bu Asti sudah bertunangan. " kata Endah pada Desti dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh Asti dan Asma, karena Asti dan Asma menghadap kearah punggung Desti dan Endah.
Tapi Asti dan Asma mungkin tidak mengenali Desti dan Endah karena tidak mengajar dikelas mereka.
Asti dan Asma masih duduk ditempat mereka masing-masing, dengan pikiran yang sama, memikirkan pak Eko yang terlihat sedih dan patah hati.
" Semoga mas Eko mau memaafkan apa yang aku lakukan dan mau menerima dan mengerti jika aku lebih memilih mas Tomi.
Sejak dulu mas Eko berusaha mendekati aku, tapi hatiku sedikitpun tidak tertarik kepadanya, aku malah merasa terkekang saat ia pernah mengajak aku nonton dulu.
Maafkan aku mas Eko, bukan maksudku untuk mempermainkan dan menyakiti hati mu, tapi aku memang tidak pernah memberi harapan apapun padamu. "
Asti bermonolog dalam hati, berharap pak Eko mau memaafkan apa yang Asti lakukan, walau itu bukan kesalahan Asti karena Asti tidak pernah menjanjikan apapun pada pak Eko, malah Asti selalu berusaha menghindar dari pak Eko.
" Kasihan Asti merasa bersalah pada pak Eko, walau sebenarnya bukan kesalahan Asti. Semoga pak Eko bisa menerima keadaan ini dan tidak membenci Asti nantinya. "
Asma pun bermonolog dan merasa kasihan dengan keadaan Asti yang merasa bersalah pada pak Eko.
__ADS_1
" Sudahlah Asti, jangan terlalu dipikirkan, nanti juga pak Eko akan mengerti dan menyadari semuanya, jadi tidak perlu merasa bersalah. "
Kata Asma yang memberikan dukungan pada Asti.