
Asti tengah duduk didepan meja rias, ia tengah berusaha membuka pernak pernik hiasan yang ada di kepalanya.
Menjelang maghrib resepsi pernikahan yang diadakan di rumah orang tua Asti telah berakhir, walaupun masih ada beberapa tamu yang datang.
Karena itulah Asti masuk terlebih dahulu ke kamarnya untuk melepaskan pakaian pengantin karena ia akan melaksanakan shalat maghrib.
Tok.. tok.. tok..
Tak lama, pintu kamar Asti di ketuk dari luar.
" Masuk aja, pintu tidak dikunci. " kata Asti pada orang yang mengetuk pintu.
Asti pikir, mungkin sepupunya yang mengetuk pintu.
" Mas masuk ya, Ara? " kata Tomi sambil membuka pintu kamar Asti, lalu Tomi menutup kembali pintu tersebut setelah ia berada didalam kamar Asti.
" Mas, Ara kira tadi Amel atau Aulina yang. mengetuk pintu. " kata Asti saat melihat Tomi yang masuk kedalam kamarnya.
" Apa tamunya sudah pulang, mas? " tanya Asti pula.
" Iya, tamunya sudah pulang karena sudah menjelang. maghrib, makanya mas nyusul Ara ke kamar. " jawab Tomi.
" Sini, mas bantu lepasin jepitan penghias kepalanya, biar cepat selesai dan kita bisa shalat maghrib bersama. "
Tomi menawarkan diri untuk membantu Asti melepaskan jepitan yang ada di kepala Asti.
" Boleh, kalau mas tidak keberatan, jadi Asti bisa sambil membersihkan make-up. " kata Asti pula.
Tomi mendekati Asti yang duduk didepan meja rias dan mulai membantu Asti melepaskan hiasan di kepalanya, sedangkan Asti membersihkan wajahnya dari riasan make-up.
" Ini, sudah selesai. " kata Tomi setelah membantu Asti melepaskan hiasan kepalanya.
" Terima kasih mas, mas mandi aja duluan, pakaian ganti sudah Ara siapkan di atas tempat tidur, Ara mau menyelesaikan membersihkan wajah dulu. " kata Asti setelah Tomi membantunya.
" Apa kita tidak mandi bareng aja? " kata Tomi menggoda Asti sambil memandang wajah Asti dari pantulan cermin.
" Apaan sih, mas? ganjen banget..!" kata Asti tersenyum malu mendengar perkataan Tomi.
" Kok ganjen, sih? kita kan sudah sah jadi suami istri, jadi ga papa dong kalau mau mandi bareng. " goda Tomi lagi sambil menaikturunkan alisnya.
" Sana cepetan mandi, sudah mau maghrib, nanti ditunggu sama yang lain untuk sholat di mushala. " kata Asti sambil melotot pada Tomi karena merasa malu dengan godaan Tomi.
Untung wajahnya masih tertutupi oleh make-up, jika tidak Tomi pasti bisa melihat wajahnya yang memerah dan terasa panas.
Setelah menggoda Asti, Tomi pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk ikut shalat maghrib di mushala dekat rumah Asti.
__ADS_1
" Mas ke mushala dulu, ya? Apa masih ada yg perlu mas bantu lagi? memandikan misalnya. " kata Tomi sebelum keluar dari kamar Asti.
" Ganjen banget sih mas? ga ada yang perlu dibantu lagi, Asti bisa sendiri.
Sana segera berangkat ke mushala. " kata Asti pula.
" Ganjen sama istri sendiri ya ga papa, asal jangan sama istri orang aja. " seloroh Tomi.
" Kalau ngomong terus, kapan ke mushalanya? " kata Asti lagi.
" Iya-iya, ini mas mau berangkat. Nanti pulang dari mushala, bolehkan kalau mas godain lagi? " kata Tomi sambil tersenyum.
" Mbuhlah, mas..! " jawab Asti.
Tomi tertawa mendengar jawaban Asti dan melihat wajah Asti yang cemberut karena merasa kesal selalu digodanya.
Setelah Tomi pergi ke mushala, Asti membersihkan diri lalu setelahnya Asti melaksanakan shalat maghrib didalam kamarnya.
Tok.. Tok..
" Assalamu'alaikum istrinya, mas. "
Sepulang dari mushala Tomi langsung
ke kamar Asti.
Melihat Asti yang mencium punggung tangannya, Tomi pun mencium kening Asti dengan mesra lalu mengajak Asti untuk duduk di tepi tempat tidur.
" Mulai hari ini kita sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Terima kasih sayang, karena sudah bersedia untuk menjadi pendamping hidup mas.
Kita berdua akan bersama-sama mengarungi ibadah terpanjang dalam hidup kita. Hendaknya kita bisa saling mengingatkan dan saling memperbaiki jika ada kesalahan yang kita lakukan.
Jangan segan untuk menegur mas jika mas berbuat kesalahan. Kedepannya kehidupan ini akan kita jalani bersama, saling menyayangi dan mengasihi. "
Kata Tomi pada Asti sambil menggenggam kedua tangan Asti.
" Iya mas, sama-sama. Ara juga berterima kasih karena mas sudah mau memperjuangkan cinta Ara, walaupun diawal Ara selalu mengacuhkan mas dan membuat mas kesal, tapi ternyata kita memang berjodoh sehingga hari ini kita sudah sah jadi suami istri.
Ingatkan Ara juga jika Ara berbuat kesalahan dan tolong jaga cinta yang Ara berikan pada mas. Jika suatu hari mas merasa bosan dan menemukan wanita lain yang membuat mas bisa melupakan dan meninggalkan Ara, tolong mas sampaikan baik-baik pada Ara, jangan sampai mas menyakiti dan berselingkuh dibelakang Ara. "
Kata Asti membalas apa yang Tomi sampaikan padanya.
" Tidak sayang! Mas tidak akan menyakitimu apalagi menduakanmu. Kita akan menjalani kehidupan ini bersama hingga maut yang memisahkan kita. " kata Tomi sambil memeluk Asti yang duduk dihadapannya.
" Iya, mas. Aamiin. " kata Asti sambil membalas pelukan Tomi.
__ADS_1
" Mas, kita keluar yuk? kita makan malam bersama keluarga. Mas Tomi pasti sudah lapar karena kita hanya makan siang tadi. " kata Asti yang mengajak Tomi untuk makan malam.
" Kuylah, mas memang sudah lapar.
Tapi mas ganti baju sebentar, ga enakkan makan malam dengan. mengenakan sarung dan baju koko, nanti malah dikira mau akad nikah lagi. " seloroh Tomi sambil tersenyum.
" Iya mas, biar Ara ambilkan baju ganti mas dulu. Bajunya masih didalam koper dan belum dipindahkan kedalam lemari." kata Asti sambil beranjak dari tepi tempat tidur untuk mengambil baju ganti Tomi.
Setelah selesai berganti. pakaian, Asti dan Tomi keluar dari kamar untuk makan malam.
" Akhirnya pengantinnya keluar juga, kirain ga pengen keluar kamar lagi. " kata Aryanto menggoda Asti dan Tomi.
" Memangnya Asti dan Tomi tidak lapar jika tidak ikut makan malam? atau sudah kenyang karena makan gombalan dan cinta? " sambung Fito.
" Apaan sih, kalian? " kata Asti dengan nada jutek. Ia merasa malu karena digoda oleh sepupunya.
" Cie.. cie.. pengantin baru malu-malu, meong. " kata Aryanto sambil tertawa.
" Alah, mas Ar suka menggoda Asti, padahal dia sendiri sudah ga sabar untuk meminang Maryam. Nanti biar gantian Asti yang akan meledek mas Ar dan Maryam. " kata Asti pada Aryanto.
" Cie yang mau nyusul Asti, ga mau kalah. " kata Fito yang berbalik. meledek Aryanto.
" Sudah, kita mau makan malam dulu, jangan saling meledek. Eyang dan yang lain sudah pada lapar. " kata ayah Asti.
Mereka makan bersama secara lesehan diruang tengah karena tidak mungkin makan bersama dimeja makan.
Selesai makan malam, mereka melanjutkan mengobrol sambil membicarakan rencana lamaran Aryanto pada Maryam.
Asti dan Tomi masih kedatangan tamu yang mengucapkan selamat atas pernikahan mereka karena tamu tersebut tidak bisa datang pada acara resepsi siang tadi.
Hingga pukul sepuluh malam, Asti dan Tomi baru kembali kedalam kamar.
Asti sudah terlihat lelah karena sejak kemarin ia sibuk mempersiapkan pernikahannya ditambah hari ini acara akad nikah sekaligus resepsi yang diadakan di rumahnya membuat Asti kelelahan.
" Lelah yang sayang? " tanya Tomi pada Asti saat melihat Asti duduk di atas tempat tidur sambil meluruskan kakinya.
" Lumayan mas, dari kemaren sibuk untuk menyiapkan acara hari ini. Dari acara luluran hingga siraman, ditambah lagi hari ini acara akad dan resepsi hari ini. " jawab Asti.
" Nanti biar mas pijitin kaki sama badannya biar ga pegel lagi.
Besok kita masih akan mengadakan resepsi di hotel, jangan sampai kecapean, nanti malah sakit. " kata Tomi sambil naik keatas tempat tidur lalu memijit kaki Asti.
" Tidak perlu mas, mas sendiri pasti cape karena kita melakukan kegiatan acara yang sama. " kata Asti menolak pijitan Tomi pada kakinya.
" Tidak apa, setelah ini kita tidur saja agar bisa beristirahat dengan baik hingga besok kita tidak kelelahan. " kata Tomi lagi.
__ADS_1
Asti bersyukur karena Tomi begitu mengerti akan keadaannya dan setelah itu mereka beristirahat karena esok masih ada acara resepsi pernikahan mereka yang diadakan disebuah hotel.