DOSEN CANTIK YANG JUTEK

DOSEN CANTIK YANG JUTEK
Bab 140. Tersenyum Dia Nya Padaku


__ADS_3

Desti seorang mahasiswa tingkat akhir, sudah sejak lama ia suka pada pak Eko.


Namun pak Eko tidak pernah menanggapi Desti.


Pak Eko hanya menganggap Desti seorang mahasiswi didikannya, sama seperti yang lain, walaupun Desti sering memberikan perhatian pada pak Eko.


Siang itu pak Eko selesai mengajar di kelas Desti dan meminta Desti untuk mengantarkan tugas para mahasiswa yang baru dikumpulkan ke ruangannya.


" Desti, nanti tolong bawa tugas itu ke ruangan saya, dan minta salah satu temen untuk membantumu. "


Pak Eko meminta Desti untuk membawa tugas ke ruangannya.


" Baik, pak. " kata Desti dengan tersenyum senang.


Pak Eko pun keluar dari ruangan itu terlebih dahulu.


" Endah, bantu aku bawa tugas ini ke ruangan pak Eko, ya? "


Pinta Desti pada Endah sahabatnya.


" Siap..! Nanti aku bantu bawa. "


Kata Endah sambil merapikan buku dan memasukkan ke dalam tasnya.


Setelah semua bukunya dimasukkan ke dalam tas, Endah menyampirkan tas itu di pundaknya, lalu menghampiri Desti yang sudah ada di meja dosen.


" Kita bagi dua aja, aku sebagian dan kamu sebagian. "


Pinta Desti pada Endah.


Merekapun membawa tugas itu ke ruangan pak Eko.


" Des, kamu masih ngarep sama pak Eko, ya? "


Tanya Endah pada Desti saat mereka berjalan di koridor menuju ruang dosen.


" Ga ada salahnya kan berusaha, siapa tahu lama-lama pak Eko bisa luluh. "


Kata Desti penuh semangat.


" Bukannya pak Eko juga dosen pembimbing kamu untuk menyusun skripsi ya? "


Tanya Endah lagi.


" Iya, makanya aku ada kesempatan untuk mendekati pak Eko dengan alasan meminta bimbingannya untuk menyusun skripsi. "


Jawab Desti yang merasa ada kesempatan untuk mendekati pak Eko.


" Tapi yang aku dengar, pak. Eko itu lagi naksir sama dosen yang wajahnya baby face. "


Kata Endah pada Desti.


" Iya, itukan baru katanya, dan belum ada buktinya.


Aku juga mendengar desas-desus itu dari mahasiswa lain.


Kalau tidak salah namanya bu Asti. "

__ADS_1


Desti membenarkan apa yang Endah katakan.


" Jadi saingan kamu bu dosen dong? "


Tanya Endah sambil tertawa.


" Tidak masalah aku bersaing dengan bu dosen, asal bersaing secara sehat. "


Kata Desti dengan santai.


" Nanti kalau ternyata pak Eko lebih memilih bu dosen, kamu bakal patah hati dong. Jangan-jangan nanti cinta ditolak, dukun bertindak. Wkwkwk.. "


Endah tertawa dengan apa yang dikatakannya.


" Huss.. Ngaco kamu kalau ngomong.


Memang aku ada tampang seperti itu? "


Kata Desti, ia memalingkan wajahnya pada Endah yang berjalan disamping nya sambil me-melototkan matanya pada Endah.


Endah kembali tertawa saat melihat Desti yang melotot, bukannya serem malah terlihat lucu.


Desti memiliki perawakan yang imut, rambutnya lurus sebatas telinga.


Wajahnya putih bersih dengan mata yang rada sipit, tentu saja saat melotot wajah Desti terlihat lucu.


Sedangkan Endah memiliki perawakan yang kurus dengan kulit hitam manis.


Rambutnya ikal panjang melewati bahu.


Endah terlihat manis pada saat ia tersenyum ataupun tertawa.


Di depan sebuah ruang kuliah yang tak jauh dari ruangan dosen, Desti dan Endah yang berjalan tidak jauh dari pak Eko, melihat jika pak Eko tengah berbicara dengan seseorang.


Desti dan Endah saling pandang, lalu seperti memiliki pemikiran yang sama, mereka mempercepat langkah agar bisa lebih dekat dengan pak Eko, dan mendengarkan pembicaraan mereka.


" Dek Asti, sudah mau pulang ya? " tanya pak Eko.


" Iya pak. Saya pulang duluan ya pak? " jawab Asti sambil berpamitan pada pak Eko.


" Eh.. nanti dulu dek, kita pulang bareng saja, ini saya sudah selesai mengajar dan akan langsung pulang.


Saya bisa antar dek Asti hingga sampai ke rumah. " kata pak Eko yang menahan langkah Asti dan memintanya untuk pulang bersama.


" Maaf Pak Eko, saya sudah ada janji dengan  seseorang, dan saya sudah ditunggu diparkiran. "


Asti menolak secara halus ajakan pak Eko, dan mengatakan jika ia sudah ada yang menjemput.


" Dek Asti ada janji sama siapa? Siapa yang menjemput dek Asti? " tanya pak Eko penasaran dan sedikit tidak percaya jika Asti sudah ada janji.


Pak Eko berfikir jika Asti hanya tidak mau diantar pulang olehnya.


" Tomi, yang menjemput saya Tomi dan saya sudah ada janji sama Tomi.


Maaf ya pak Eko, saya terburu-buru, tidak enak sudah ditunggu dari tadi. "


Dengan tegas Asti menjawab pertanyaan pak Eko.

__ADS_1


Desti dan Endah yang berada tidak jauh dari mereka, mendengarkan percakapan antara pak Eko dan bu Asti.


" Sepertinya itu bu Asti, dosen yang sedang didekati oleh pak Eko. "


Kata Endah dengan suara pelan kepada Desti yang berdiri di sampingnya.


" Iya, sepertinya begitu, karena kita tidak diajar oleh beliau, kita jadi tidak mengenalnya. "


Jawab Desti dengan pelan juga.


Mereka melihat jika bu Asti langsung meninggalkan pak Eko dan menuju keluar kampus.


Mereka melihat jika Pak Eko hanya bisa memandang punggung Asti yang berjalan menjauh.


Setelahnya mereka melihat pak Eko melanjutkan langkahnya menuju ruangan dosen.


Desti dan Endah kembali melanjutkan langkah mereka mengikuti pak Eko dari belakang.


Tiba diruang dosen, Desti dan Endah meletakkan tugas yang mereka bawa diatas meja pak Eko.


Desti bisa melihat jika wajah pak Eko terlihat kesal, mungkin karena bu Asti menolak ajakan pak Eko untuk diantar pulang.


" Bapak tidak apa-apa, pak? "


Tanya Desti pada pak Eko yang terlihat menyimpan kekecewaan.


" Tidak apa-apa, maksud kamu


apa? " tanya pak Eko pada Desti yang dianggap lancang karena bertanya keadaannya.


Bukan pak Eko tidak tahu, jika Desti suka mencari perhatiannya.


" Yah.. Siapa tahu bapak sedang kesal pada seseorang. "


Kata Desti sambil menatap pak Eko sekilas.


Karena ruangan dosen sepi dan hanya ada beberapa orang dosen yang masih ada, dan meja pak Eko agak jauh dari mereka, makanya Desti berani bertanya pada pak Eko.


Saya tidak ada apa-apa dan saya sedang tidak kesal. "


Kata pak Eko pada Desti dengan nada ketus.


" Baiklah pak  jika seperti itu, saya permisi dulu.


Jika bapak perlu seseorang untuk bercerita, saya siap mendengarkan cerita bapak. "


Desti berkata pada pak Eko sambil tersenyum manis dan menawarkan diri jika pak Eko perlu teman curhat.


" Ya sudah, kalau semua tugas sudah dibawa kesini, silahkan saudari pulang. "


Kata pak Eko lagi.


" Iya pak, saya mau pulang, tidak mungkin juga saya menginap disini. "


seloroh Desti pada pak Eko.


Pak Eko hanya melengos melengos kata-kata Desti.

__ADS_1


Dalam hati pak Eko memuji Desti yang ramah dan tidak mudah tersinggung, satu lagi yang pak Eko lihat, jika senyum Desti terlihat begitu manis.


__ADS_2