DOSEN CANTIK YANG JUTEK

DOSEN CANTIK YANG JUTEK
Asti Di Gerogoti Dua Jenis Penyakit


__ADS_3

Asti pernah mendengar bahwa penyakit yang paling meresahkan dan mengganggu ketenangan batin adalah penyakit rindu. Sebab secara fisik penderitanya dalam keadaan sehat dan mempunyai banyak kemungkinan untuk melakukan suatu aktivitas fisik.


Dengan keadaan si penderita yang terlihat sehat dan baik-baik saja dari luar, sebenarnya penyakit ini begitu menyakitkan. Jenis penyakit seperti ini susah di sembuhkan karena tidak ada obatnya, kecuali dari si sumber penyebab sakit rindu itu.


Asti juga pernah mendengar bahwa rasa yang paling tidak menyenangkan adalah kesepian. Karena meskipun ia ada bersama-sama dengan orang banyak, batinnya terasa kosong dan sepi. Itu adalah jenis penyakit kedua yang sangat menyakitkan.


Apa yang pernah didengarnya itu hanya masuk ke telinga kiri dan keluar telinga kanan. Atau sebaliknya, masuk dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Tetapi baru sekarang inilah Asti menyadari kebenaran mengenai apa yang pernah didengarnya itu.


Begitu nyata rupanya, apa yang selama ini ia anggap lebay atau aneh. Ternyata betul-betul keanehan itu ada dan ia rasakan saat ini.


Pertama-tama, rasa itu dialaminya selama ada di perjalanan dari Jakarta menuju ke Yogya. Ia duduk bersama-sama dengan orang lain. Ia juga turun istirahat makan malam di suatu rumah makan bersama-sama dengan yang lain. Namun ia merasa sepi. Ia merasa sendirian.


Didalam hatinya, ia merasa rindu kepada kehadiran sosok Tomi yang selalu bisa membuatnya merasa hidup dan hangat. Walaupun ia selalu merasa kehadiran Tomi selalu mengganggu ketentraman hidupnya.


Tetapi saat ini lelaki itu sangat dibutuhkan Asti untuk hadir disisinya. Menyembuhkan kedua penyakit yang sangat menyakiti batinnya ini.


Terbayang olehnya, lelaki itu berada di suatu tempat yang ia tidak ketahui dimana itu. Namun terasa menyedihkan jika di pikir lama-lama. Sebab lelaki itu berada jauh di luar jangkauannya, entah dimana saat ini ia berada.


Untuk berusaha menghubungi Tomi pun ia tidak mau, terlalu banyak kata-kata ‘kalau dan tetapi’ yang muncul. Ia selalu mengurungkan niatnya itu. Harapan Asti yang sebenarnya adalah lelaki itu yang seharusnya menghubungi Asti terlebih dahulu.


Dalam kesendirian, Asti yang sulit tertidur walaupun kursi yang diduduki saat ini terasa empuk dan dapat diataur sandaranya sesuai dengan keinganan. Asti tahu betul bahwa saat ini dirinya benar-benar telah mengalami kekalahan, untuk semua hal yang berhubungan dengan lelaki bernama Tomi.


Lelaki yang semula dibencinya, yang selalu mengaduk-aduk emosinya kini tidak lagi dapat dihilang kan dari alam pikirannya. Dan lebih ironisnya, di sepanjang perjalanan dari Jakarta menuju ke Yogya. Berulang kali hatinya dicengkeram oleh kedua penyakit tidak kasat mata itu.


Pengalaman selanjutnya yang membenarkan bahwa penyakit rindu dan kesepian, merupakan penyakit ganas yang mengobrak-abrik ketenangan batin gadis itu. Ia rasakan juga ketika sudah tiba di Yogya.

__ADS_1


Biasanya kedatangan Asti ke Yogya, selalu membuatnya begitu bahagia. Sambutan kedua Orang Tua dari Ibu nya itu bahkan seharusnya begitu hangat ia rasakan. Karena Asti adalah cucu di keluarga besar itu yang dirawat oleh sepasang kekasih kesayangan keluarga yaitu Eyang Kakung dan Eyang Putri sewaktu Asti kecil dulu.


Asti yang sebenarnya dulu mempunyai seorang kakak. Namun pada waktu kecilnya almarhum sakit-sakitan. Kedua orang tua Asti lebih banyak menghabiskan waktu untuk anak pertama mereka. Fokus pengobatan untuk kesembuhan Sang Kakak. Tetapi yang Maha Kuasa lebih menyayangi Sang Kakak. Di umur delapan tahun Kakak Asti meninggal dunia.


Sehingga ketika Ayah dan Ibu Asti sibuk dan fokus merawat serta fokus pada pengobatan Sang Kakak. Asti dititipkan untuk diasuh oleh Orang Tua nya kepada Eyang Kakung dan Eyang Putri.


Kalau bukan Eyang Kakung dan Eyang Putri yang tinggal di Jakarta sampai berbulan-bulan lamanya, tentu Asti yang dibawa ke Yogya bersama mereka.


Jadi tidaklah heran apabila kedatangan Asti tiba-tiba itu memberi kejutan yang sangat mengembirakan bagi kedua Eyang nya itu.


Begitu Asti datang, Eyang Putri segera menyuruh pembantu rumah tangganya untuk pergi berbelanja ke pasar dan menyiapkan masakkan kesukaan Sang Cucu tercinta mereka itu.


Untuk beberapa saat lamanya memang Asti merasa hatinya menjadi hangat oleh sambutan Eyang Kakung dan Eyang Putri. Tetapi setelah itu ia kembali lagi merasa rindu, merasa kesepian dan seakan tidak ada yang bisa menyembuhkannya.


Namun karena Asti tidak mau menyerah begitu saja kepada perasaan yang mengganggunya sedemikian rupa itu. Sore harinya ia pamit kepada Eyang Kakung dan Eyang Putri, untuk jalan-jalan keluar menghirup udara segar sambil pergi mengunjungi sepupunya.


“Oh iya Nak, sudah besar sekarang si Tanti, badannya gemuk lagi bulat hehe…” sahut Eyang Putri dengan girangnya. “Mungkin tahun depan sudah bisa dimasukkan kesekolah yang sesuai dengan umurnya”


“Lucu sekali anak itu, Ti. Anak-anak pada umumnya jika seumuran dia belum banyak kosakata. Tetapi kalau dia, Asti minta nyanyian anak-anak dia tahu semua hehehe…” sambung Eyang Putri lagi.


“Dia pandai menonton lagu-lagu di telepon Ibu nya Ti” kata Eyang Kakung.


“Oh iya Eyang… Itu dia nonton video nyanyian anak-anak di handphone Ibunya di YouTobe ya” Asti memperjelas maksud dari Eyang Kakung. Ia paham betul kalau kedua Eyang nya itu, pasti kurang paham dengan perkembangan-perkembangan teknologi yang semakin pesat seperti saat ini. Di tambah usia mereka sudah tua, penglihatannya juga sudah mulai memburuk.


“Iya itu Nak! Kata-kata yang sering di jawab sama Tanti kalau Eyang tanyak ‘Tanti lagi apa sih’? Jawabannya pasti lagi nonton youtube hehehe…” sahut Eyang Putri kemudian.

__ADS_1


“Iya Eyang, begitulah anak-anak jaman sekarang lebih hebat dari jaman Asti kecil dulu ya…” Jawab Asti sambil tersenyum. “Ya sudah Eyang, Asti pamit ya…”


“Baik Nak, hati-hati ya…”Asti pun keluar dari rumah. Tetapi baru saja satu langkah keluar pintu utama. Terdengar lagi suara dari Eyang Putri.


“Nak, kamu mau naik apa kesana?” kata Eyang lagi.


“Asti mau naik ojek online saja Eyang. Tidak ribet dan tidak akan macet seperti kalau menggunakan mobil. Disini juga tidak begitu kuat polusi udaranya di banding Jakarta. Jalanan juga padat tetapi tidak sepadat Jakarta!” jawab Asti.


“Apakah kamu bisa mengendarai sepeda motor?”


“Bisa Eyang. Kenapa Eyang bertanya?”


“Kalau bisa, kamu pakai saja itu, sepeda motor Eyang Kakung ada di parkiran halaman belakang. Sepeda motornya masih baru Nak, jarang di pakai. Tidak ada yang mengendarainya juga selama ini” jelas Eyang Putri.


“Oh Eyang Kakung ada sepeda motor baru toh? Kapan Eyang beli? Wah motor baru ni Eyang hehe…”


“Itu sepeda motor bukan beli, Nak! Itu dapat hadiah dari bank, Eyang Kakung kan emang suka beruntung kalau sudah cabut nomor undian. Tahu-tahunya dapat langsung bawa pulang satu unit sepeda motor lho Ti” kata Eyang putri lagi sambil tersenyum.


“Kamu pakailah itu kuncinya di gantung di dekat televisi. Ada bawa kartu SIM kan Nak?”


“Ada dong Eyang, kalau kemana-mana kartu identitas salalu lengkap Asti bawa Eyang!”


“Ya sudah kalau begitu, pakai saja sepeda motornya itu”


Asti tersenyum gembira. “Ini namanya rejeki, Eyang. Sudah lama Asti tidak naik sepeda motor. Kalau di Jakarta jalanan terlalu ramai dan sering disalip bis-bis besar, dengan klaksonnya yang galak membuat Asti takut mengendarai motor”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2