
“Nak, dimana Dokter yang kemarin datang ke rumah kita?” kata Eyang kepada cucunya.
“Mungkin sibuk mengurus pasien Eyang” kata Asti menjawab singkat. Asti yang juga sebenarnya belum ada bertemu dengan Tomi sejak kemarin. Dan Asti juga tidak tahu apakah Tomi mengetahui bahwa dirinya hari ini sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah.
“Oh iya, Eyang ingin mengucapkan terima kasih kepadanya. Karena telah memberitahukan keadaan kamu saat itu” kata Eyang Kakung lagi.
“Iya… Eyang” Asti menjawab sambil mengangguk-anggukan kepalanya, agar Eyang menyudahi pertanyaan yang berhubungan dengan Tomi.
Seketika Eyang pun diam, tidak melanjutkan pertanyaannya kepada Asti. Seakan Eyang mengetahui keadaan yang sebenarnya. Bahwa cucunya itu tidak ingin membahas perihal ini.
Mereka berdua duduk di samping pilar besar sehingga tidak menyolok perhatian orang-orang yang lalu lalang di tempat itu. Tetapi dari tempatnya duduk, Asti bisa melihat ke arah lalu-lintas manusia di sekitarnya dengan jelas.
Karena itulah, ia juga sempat menangkap sosok tubuh Tomi yang sedang berjalan di lorong rumah sakit.
Lelaki itu tidak sendiri. Di sampingnnya, melangkah Dokter Indah dengan gayanya yang enak di pandang mata. Dan di belakang mereka ada beberapa suster lain.
Keduanya berjalan sambil berbicara dengan asiknya. Sesekali disela dengan tawa atau senyuman. Sungguh, kedua orang itu benar-benar tampak sepadan.
Asti belum pernah berjalan berdampingan dengan Tomi dalam suasana seakrab itu. Bahkan di saat mereka berdua makan bersama di rumah makan pun suasananya tidak seakrab itu.
Jangankan suasana akrab, suasana tenang saja pun tidak bisa. Selalu ada ketegangan dan perdebatan di antara mereka berdua. Dan selalu ada jarak yang terbentang di antara dirinya dengan Tomi.
Ada rasa yang beberapa hari selama ia di rumah sakit membuatnya tidak nyaman. Yang membuat resah pikirannya, yang membuat baringnya di ranjang rumah sakit itu terasa tidak betah.
Ia lebih tertarik ingin melangkah keluar pintu untuk melihat keadaan di luar kamarnya. Entah apa yang di inginkan oleh hatinya saat itu.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya Asti sadar saat ia duduk termenung bersama Eyang Kakung. Sambil menunggu sepupu nya yang masih mengurus administrasi dirinya.
Pemandangan yang barusan melintas di bola matanya, menjadikan Asti sadar bahwa rasa tidak enak yang sekian hari menghuni hatinya. Akan muncul dalam situasi seperti ini dan dada seakan bergemuruh karena terlalu cepat jantung ini memompa.
Hal itu terjadi ketika ia mengingat dan memikirkan Tomi dan Dokter wanita itu. Terutama ketika ia melihat secara langsung seperti ini, ketika Tomi bersama-sama dengan Dokter Indah.
Pemandangan yang begitu mengganggu suasana hatinya itu adalah perasaan cemburu. Rasa ini semakin lama semakin bertambah besar porsinya.
Menyadari kenyataan seperti itu, Asti merasa benci kepada dirinya sendiri. Tidak semestinya ia merasa cemburu kepada dokter Indah, maupun kepada hubungan antara Tomi dan wanita itu.
Tomi bukanlah kekasihnya, meskipun lelaki itu pernah menyatakan cintanya dan pernah menciumnya sampai dua kali banyaknya. Tindakan itu bukanlah suatu ikatan khusus antara dirinya dan Tomi.
Dari pihaknya, Asti tidak pernah memberinya jawaban apapun mengenai pernyataan cinta dari lelaki itu. Apalagi tanggapan yang jelas. Sama sekali belum ada lampu kuning atau lampu hijau darinya.
Jadi kalau pun sekarang Tomi menjalin hubungan dengan dokter Indah atau dokter siapa, atau gadis mana saja, itu bukanlah suatu kesalahan. Tomi punya hak untuk itu.
Semua berawal ketika Pak Eko menelepon untuk mengajaknya pergi nonton bersama. Seandainya ia hanya menolak saat itu, tanpa harus memberi alasan yang lain. Semuanya tidak akan terjadi sampai detik ini dan seperti ini.
Jika saja ia menolak, tidak akan ada yang namanya mengalami kecelakaan seperti ini. Dan kalau mengalami kecelakaan, pasti tidak bertemu Tomi di tempat ini.
Kalau tidak bertemu dengan Tomi di tempat ini, pasti ia tidak akan diganggu oleh perasaan cemburu. Baginya kecemburuan adalah suatu perasaan negatif yang sangat mengganggu perasaan.
Ada banyak kejadian, orang-orang sampai berkelakuan aneh hanya karena rasa cemburu. Dan itu Asti akui rasa cemburu memang betul-betul menyebalkan.
Rasa cemburu bisa membuat orang tidak sadarkan diri. Membuat orang kehilangan akal sehatnya.
__ADS_1
Asti tidak mau dijajah oleh perasaan-perasaan semacam itu. Tidak heran kalau ia jadi membenci dirinya,, sekaligus juga membenci Tomi si sumber pengacau ketenangan batinnya itu.
Di dalam hatinya, Asti berjanji untuk melepaskan dirinya dari segala hal yang berkaitan dengan Tomi. Semua itu mungkin karena dirinya masih berada di rumah sakit sekarang.
Apabila ia telah berada di rumah eyangnya nanti, semua itu akan menghilang dari pikirannya. Dan mulai dari kepergiannya dari rumah sakit ini, ia juga menetapkan dirinya utuk tidak lagi bertemu apa lagi melihat wajah lelaki itu.
Karena itulah ia merasa lega, ketika urusan di rumah sakit telah diselesaikan oleh sepupunya dengan baik. Dan saat ini, ia sudah bebas dari rasa cemburu maupun rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya. Semalam ia berada di rumah sakit ini.
Ia yakin Tomi tidak mengetahui bahwa hari ini ia sudah di perbolehkan pulang ke rumah. Walaupun ia masih membutuhkan alat penyangga dan balutan gips masih membungkus kakinya.
Tetapi semua itu tidak masalah, asalkan ia segera pulang kerumah. Entah lelaki itu mencari nya nanti atau pun tidak. Semua itu, tidak ada keperluannya harus memberitahu dia bukan? Asti bertanya-tanya dalam hatinya sendiri dengan penuh rasa emosi.
Biarlah lelaki itu menilainya sebagai gadis yang tidak tahu berterima kasih, ia tidak perduli. Toh itu demi ketenangan batinnya juga. Dan ia harus melakukan itu demi merintis suasana hati yang lebih sehat kedepannya.
Demikianlah waktu terus berjalan dan Asti merasa yakin bahwa yang bisa menyembuhkan batinnya adalah waktu.
Jadi agar waktu itu tidak begitu berat saat dijalankan. Hari demi hari sambil menunggu pemulihan total kakinya Asti melewati nya dengan bermacam-macam kegiatan.
Terkadang ia menginap di rumah sepupunya. Dan terkadang ia belajar membatik dari Eyang Putrinya. Menonton televisi bersama kedua Eyangnya, mengotak-ngatik laptop atau handphonenya.
Jika sudah bosan dengan semua itu, ia selingi dengan membaca apa saja, entah novel, koran, majalah atau apa saja yang bisa dibeli atau dipinjamnya dari sepupu-sepupunya.
Di antara sepupunya, Asti paling dekat dengan anak budenya yang berumur setahun lebih tua darinya. Lelaki muda itu belum menikah juga.
Asti ingin sekali mencarikan jodoh untuk kakak sepupunya yang mengalami kesulitan mencari istri itu.
__ADS_1
Aryanto memang terlalu banyak pilihan sehingga sulit menemukan kekasih yang cocok. Sikapnya itu membuat saudara-saudaranya dan termasuk Asti juga merasa kesal terhadapnya.
Bersambung…