
Asti dan ibu Tomi berbincang berdua diruang tamu itu.
Tomi belum keluar kembali dari kamarnya.
Dari obrolan mereka Asti tahu jika ayah Tomi, bapak Abdi Kusumah merupakan seorang pengusaha garmen yang sukses dan memiliki usaha di Jakarta dan di Bandung.
Ibu Tomi sendiri bernama Larasati, dulu merupakan seorang kepala sekolah di Bandung yang saat ini telah pensiun dan memutuskan jadi ibu rumah tangga.
Karena ayah Tomi membuka usaha di Jakarta, mereka memutuskan untuk pindah ke Jakarta.
Adik Tomi seorang laki-laki bernama Riki, saat ini berusia 25 tahun dan bekerja membantu ayahnya di Perusahaan.
Dari obrolan mereka, Asti jadi mengetahui anggota keluarga Tomi.
" Jadi, Asti sudah siap jadi nyonya dokter? Kalau sudah, Asti harus tahu dan harus menyadari tugas Tomi yang melayani orang-orang sakit.
Walaupun sedang tidak bertugas, Tomi bisa kapan saja di panggil ke rumah sakit bila keadaan darurat.
Tomi juga bisa dipindah tugaskan ke daerah atau rumah sakit yang membutuhkan tenaganya. "
Ibu Tomi bertanya mengenai kesiapan Asti jika ia menikah dengan Tomi.
" Insya Allah Asti sudah siap tante.
Asti sudah tahu resiko menikah dengan seorang dokter, karena menolong nyawa seseorang itu sangat berharga.
Jadi, Asti sudah siap dengan segala resiko dan konsekwensinya. "
Asti menegaskan pada ibu Tomi jika ia siap dengan segala resiko jika ia menikah dengan Tomi.
Lalu ibu Tomi dan Asti melanjutkan obrolan mereka dengan diselingi tawa saat mereka bercerita mengenai hal-hal yang lucu.
Asti dan ibu Tomi terlihat akrab, mereka seperti sudah lama saling mengenal.
Tomi yang baru keluar dari kamar, menghampiri ibunya dan Asti.
" Wah.. Mama sama Ara akrab banget, kaya sudah lama saling mengenal."
Tomi menghampiri mereka dan duduk dihadapan Asti.
" Iya, ternyata Asti asik juga diajak ngobrol, tidak jutek seperti yang kamu bilang. " ibu merasa senang karena Asti enak diajak ngobrol.
" Sepertinya mama sudah klik ya sama Ara? " kata Tomi yang merasa senang melihat keakraban Asti dan ibunya.
" Mama jangan bilang sama Ara kalau Tomi pernah bilang Ara itu jutek, kan Tomi jadi ga enak. " Tomi mengatakan hal itu pada mama nya karena merasa tidak enak pada Asti.
Asti hanya tersenyum mendengar perkataan Tomi.
__ADS_1
Baginya tidak masalah jika ia dianggap jutek, karena dengan begitu orang akan berfikir jika ingin menggodanya.
" Tom.. Kok dari tadi mama dengar kamu memanggil Asti dengan panggilan Ara, apa itu panggilan sayang kamu ke Asti? " ibu Tomi bertanya mengenai panggilan Tomi pada Asti, ibu menanyakan itu dengan maksud menggoda Tomi.
" Iya ma, biar beda dengan yang lain.
Namanya kan Asti Radisya Aulia, jadi Tomi singkat jadi Ara. " Tomi menjelaskan mengapa ia memanggil Asti dengan panggilan Ara.
" Kalau begitu, mama ikut panggil Ara juga boleh, ga? Biar terasa lebih akrab dan berkesan manja.
Anak mama kan dua laki-laki semua, jadi Ara jadi anak perempuan mama. "
Mendengar penjelasan Tomi, mama jadi ikutan memanggil Asti dengan nama Ara.
Asti dan Tomi menyetujui keinginan ibu Tomi untuk memanggil Ara, jadi lah sejak saat itu keluarga Tomi memanggil Asti dengan Ara.
Acara makan malam di rumah Tomi berjalan dengan baik.
Ternyata ayah Tomi juga adiknya bisa menerima kehadiran Ara di keluarga mereka.
" Teh Ara, jadi A' Tomi ini bandel ya, suka titip absen saat teteh mengajar, sehingga Aa Tomi tidak mengenali teteh sebagai dosennya, malah menganggap teteh bocil." Riki adik Tomi memanggil Ara dengan panggilan teteh karena Ara calon kakak iparnya dan usia Ara lebih tua darinya.
Ia bicara disela-sela makan malam mereka.
Mendengar apa yang di katakan oleh Riki, mereka yang ada dimeja makan pun tertawa kecuali Tomi yang merasa malu saat ingat kejadian itu.
Malam itu, acara makan malam di rumah Tomi berakhir dengan perasaan lega dihati Ara, karena ia sudah diterima dengan baik oleh keluarga Tomi.
" Om.. tante,. Ara pulang dulu ya, karena hari sudah malam. "
Pamit Ara pada orang tua Tomi.
" Iya, Ara... Jika ada waktu sering-sering main kesini biar tante ada temennya. "
Kata ibu Tomi.
" Baik tante, Insya Allah nanti kapan-kapan Ara main lagi. " jawab Asti sambil mencium punggung tangan ayah dan ibu Tomi.
" Riki, teteh pulang dulu ya? "
Ara juga berpamitan pada Riki.
"Iya teh, hati-hati dijalan. " kata Riki pada Ara.
" Pah.. Mah.. Tomi mau antar Ara pulang dulu. " pamit Tomi pada orang tuanya.
"Hati-hati dijalan, dan jangan ngebut bawa Mobil ya. " pesan ayah pada Tomi.
__ADS_1
" Baik, pah. " jawab Tomi singkat.
Tomi dan Ara meninggalkan rumah orang tua Tomi untuk mengantar Ara pulang.
Flashback off.
" Kok malah melamun? " tanya Tomi pada Ara yang terlihat diam sejak tadi.
Ia menggenggam tangan Ara dan mengelus punggung tangan nya dengan lembut.
Ara tersenyum pada Tomi dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia akan selalu mendukung kemanapun Tomi akan di tugaskan.
Kalau Ara sudah setuju, besok sepulang dari sini mas akan menemui ayah dan ibu Ara, dan menyampaikan bahwa orang tua mas akan datang ke rumah mereka. "
Kata Tomi memastikan pada Ara mengenai kedatangan keluarganya ke rumah Ara.
" Baik mas, Ara setuju jika besok mas yang bicara langsung pada ayah dan ibu. "
Jawab Ara meyakinkan Tomi bahwa Ia sudah siap jika Tomi akan menyampaikan kedatangan keluarganya pada ayah dan ibu.
Ditempat lain, Hatae dan Wangky tengah duduk disebuah gazebo.
Mereka berdua memang sengaja tidak ikut dengan teman-teman yang lain bermain air.
Karena Hatae sedang berhalangan, ia jadi merasa risih dan takut tembus jika bermain air.
" Bang, jika abang mau bermain air bersama yang lain tidak apa-apa, saya akan menunggu abang disini."
Hatae mengatakan pada Wangky jika ia tidak jadi masalah jika Wangky ingin bermain air bersama yang lainnya.
" Tidak lah! Mana seru main air sendirian, yang lain pada bawa pasangan, lebih baik abang disini menemani pujaan hati. "
Jawab Wangky yang tidak ingin meninggalkan Hatae sendiri.
Hatae merasa tersanjung saat Wangky mengatakan bahwa dirinya pujaan hati Wangky.
" Benar nih bang Wangky kalau Hatae pujaan hati bang Wangky? " tanya Hatae menggoda Wangky.
" Ya benar lah sayang, masa bang Wangky bohong? " rayu Wangky pada Hatae.
Wangky mengambil tangan Hatae yang ada diatas gazebo yang mereka duduki.
Ia menggenggam tangan Hatae lalu mengecup punggung tangan itu dengan lembut.
Mendapat perlakuan Wangky yang tidak diduganya membuat Hatae terkejut.
Jantungnya berdegup kencang dan wajahnya terasa memanas.
__ADS_1
Walaupun mereka pasangan kekasih, tapi mereka tidak pernah melakukan kontak fisik, baru kali ini Wangky melakukan hal itu dan ini membuat Hatae jadi salah tingkah.
Bibir Wangky yang kenyal dan lembut terasa di punggung tangan Hatae, dan itu menimbulkan sensasi berbeda yang Hatae rasakan dalam hatinya.