
“Saya hanya ingin menunjukkan penyesalan dan permintaan maaf saya kepada Mbak ini…” kata pengemudi mobil tersebut, ia tampak terpukul dan cemas karena kejadian ini.
“Saya benar-benar menyesal Mbak, maafkan saya. Ini murni kesalahan saya” katanya lagi dengan bibir yang bergetar dan panik.
Asti diam tidak menjawab satu kata pun. Ia bingung harus menjawab ucapan pengemudi itu dengan kata-kata atau kalimat seperti apa. Karena saat ini otak Asti seperti tidak mempunyai kamus bahasa. Jangankan satu kalimat, satu kata saja tidak bisa muncul didalam pikiran Asti.
Berbeda dengan Pak Ilham yang dari tadi meminta pengemudi itu tidak usah berkata-kata lagi, yang penting adalah segera memberi pertolongan kepada Mbak yang terbaring di hadapan mereka saat ini.
“Saya tahu!” Pak Ilham memotong lagi bicara lelaki itu. “Sekarang yang penting membawa mbak ini ke rumah sakit secepatnya untuk mengetahui keadaannya”
“Baik Pak… Mari kita angkat perlahan” kata pengemudi itu.
Mengetahui akan diangkat, Asti berusaha menggerakkan tubuhnya lagi. Ia ingin mencoba kalau-kalau ia bisa menolong dirinya sendiri tanpa harus di gotong oleh orang-orang yang mengelilinginya saat ini.
Namun seperti tadi, ia terpekik kesakitan lagi. Dan kepalanya yang pusing, menjadi semakin menyiksa dirinya.
Dengan wajah pucat, ia memejamkan matanya dan terpaksa membiarkan dengan pasrah untuk badannya di gotong masuk ke dalam mobil.
“Ke rumah sakit yang terdekat saja, Dik!” kata Pak Ilham kepada pengendara mobil, kemudian menyebutkan nama rumah sakitnya sekalian.
Mendengar itu, si pengendara mobil langsung mengatakan persetujuannya.
“Baik Pak Ilham, saya nurut Pak bagaimana baiknya. Terimakasih banyak atas bantuan Bapak” kata pengemudi itu.
“Saya mempunyai saudara sepupu yang menjadi dokter di tempat itu” katanya. “Mudah-mudahan, Mbak ini bisa segera ditangani”
Asti hanya terdiam sambil bersandar pada kursi mobil itu. Yang posisinya setengah duduk dan setengah terbaring.
Asti membiarkan semua yang terjadi disekelilingnya berjalan sebagaimana yang direncanakan oleh kedua orang lelaki yang membawanya ke rumah sakit itu.
Suara Pak Ilham yang teduh dan tampaknya mempunyai banyak pengalaman itu, cukup menenangkan hatinya karena ia merasa ketakutan.
Pertama yang Asti pikirkan adalah bagaimana cara menyampaikan kepada Eyang Kakung dan Eyang Putri dengan apa yang sudah terjadi pada dirinya saat ini. Mereka pasti sedang menunggu kedatangan Asti dirumah.
Asti tidak mau sampai membuat kondisi kesehatan kedua Eyangnya malah menurun gara-gara kelalaian dirinya.
Terus bagaimana dengan keadaan bagian-bagian dari tubuhnya ini. Bagaimana kalau kakinya patah dan ia harus dioperasi, pikirnya. Dan bagaimana pula andai kata nanti diketahui bahwa ia mengalami geger otak?
__ADS_1
Ah, kejadian ini benar-benar diluar perkiraannya. Niatan liburan malah mendapat kemalangan. Inikah liburan yang diimpikannya? Bagaimanakah nasibnya sekarang? Bagaimana caranya agar eyang kakung dan eyang putri tidak kaget, dengan berita kecelakaannya ini?
Galau dan bertubi-tubi pikirannya itu menyebabkan Asti lupa bahwa bantuan-bantuan yang diterimanya dari orang-orang tadi belum tentu dialaminya bila kejadiannya ini terjadi dengan dirinya di Jakarta.
Sedemikian sakitnya tubuh dan perasaan Asti sehingga ia hanya merasa dirinya melayang-layang, entah pingsan, entah tertidur, ia tidak bisa membedakannya.
Tahu-tahu ia sudah berada di rumah sakit dan berkat saudara sepupu pengendara mobil yang menabraknya itu, ia segera mendapat perhatian yang lebih.
“Untung kamu sedang dinas sore, Mas!” katanya kepada dokter yang langsung menangani Asti itu.
“Ya, tetapi sebentar lagi aku sudah harus memulai praktek. Kulihat, sudah banyak pasienku yang duduk di luar ruangan praktekku” Dokter yang usianya menjelang setengah baya itu mulai memeriksa kepala Asti dan menyenter manik mata gadis itu dengan senter khusus.
“Tetapi sesudah ku periksa ini nanti, akan ada beberapa dokter lain yang menanganinya. Mereka sedang di ruang sebelah dan tugasnya memang di tempat ini. Kamu tidak usah khawatir, mereka adalah dokter-dokter yang gesit dan tahu apa yang harus dilakukannya. Oke, bisa kutinggal ya?”
“Tetapi pasiennya diperiksa dulu lho Mas!” kata pengendara mobil itu kepada Dokter sepupunya itu.
“Iya!” Dokter itu tersenyum simpatik. “Memangnya aku ini sedang apa? Tunggulah di luar sana”
Usai berkata seperti itu kepada sepupunya, dokter itu memindahkan perhatiannya kepada Asti.
“Kalau kepala Anda saya gerakkan begini, rasanya pusing?” tanyanya kepada Asti. “Dan apakah ada rasa mual?”
Sekali lagi dokter itu menggerakkan kepala Asti dan menekan-nekan pada bagian lainnya.
“Kalau ini saya gerakkan begini?” tanyanya kemudian.
“Agak pusing juga Dok…” sahut Asti.
“Tidak ada rasa ingin muntah?”
“Tidak juga Dok…”
“Mana lagi yang terasa sakit?”
“Kaki kiri saya Dokter, dari tadi sangat nyeri sekali…”
Dokter itu memeriksa kaki Asti dan melihat bagian yang dikatakan sakit oleh Asti itu tampak bengkak. Lelaki itu diam saja dan perhatiannya tercurah kepada anggota tubuh Asti yang sedang di periksanya itu.
__ADS_1
Namun suara seseorang yang datang mendekatinya, mengalihkan perhatiannya.
“Sore, Dok!” terdengar suara lembut, disusul munculnya seorang wanita muda berwajah manis dan simpatik. Sorotan mata indahnya yang menatap kearah Asti dan berpindah kearah dokter yang sedang memeriksa Asti.
Seketika matanya itu mengecil seperti ditarik oleh senyuman di bibirnya yang tertutup dengan masker berwarna putih. Pakaian wanita itu dilapisi jas dokter yang putih bersih, menambah daya tariknya karena ia tampak pantas sekali mengenakannya.
Rambutnya yang hitam pekat, diikat satu dengan rapi sekali. Dan di saku jasnya terlihat peralatan kedokterannya, yaitu stetoskop yang sedikit menjuntai keluar sakunya.
“Kok kesasar masuk kemari?”
Dokter yang memeriksa Asti tersenyum mendengar pertanyaan dokter wanita itu.
“Ini gara-gara sepupu saya. Baru saja kaki saya masuk ke rumah sakit ini, langsung di seret kemari. Dia mengalami kecelakaan lalu-lintas yang menyebabkan Nona ini cedera!” katanya.
“Maaf, saya telah menyalahi aturan. Tempat ini bukan bagian saya” katanya.
“Tidak apa-apa…” Dokter muda berparas menarik itu memperhatikan Asti dengan bulu matanya yang panjang-panjang melentik cantik itu. “Selamat sore, Nona…”
“Selamat sore… Dok”
“Bagaimana kalau pemeriksaan terhadap Nona, saya ambil alih?” tanyanya sambil tersenyum manis sambil membuka maskernya.
“Tidak, keberatan?”
“Tidak, Dokter” jawab Asti.
“Bagus. Pak Dokter yang gagah itu sudah ditunggu pasien-pasiennya!” kata dokter itu lagi. “Kasian kalau terlalu lama di sini. Nanti dia dikeroyok oleh mereka!”
Asti tersenyum. Senang hatinya menemui keramahan-keramahan para dokter di rumah sakit ini. Ia tidak yakin apakah hal yang sama akan ditemuinya, apabila kejadian ini menimpanya di Jakarta yang penuh dengan manusia dan semua serba sibuk mengurus urusan masing-masing.
“Nah, boleh saya tahu apa yang Nona rasakan supaya bisa saya periksa lebih lanjut?” perempuan berjas dokter yang manis itu tersenyum lagi kemudian menoleh kepada seniornya tadi.
“Dok, Anda sudah bisa mempercayakan keadaan di sini kepada kami. Selamat bertugas Dokter!”
“Baik… Selamat bertugas juga, Dokter Indah!”
“Terimakasih, Dok!” katanya lagi dengan lembut.
__ADS_1
Sepeninggalan dokter yang pertama tadi, Asti segera ditangani oleh dokter yang bernama Indah itu.
Bersambung…