
Di dalam mobilnya, Tomi masih terus berpikir dan berpikir lebih keras lagi. Sedemikian sibuknya pikiran Tomi sampai-sampai ia keliru masuk ke jalan yang lalu lintasnya hanya untuk satu arah saja.
Karena kekeliruannya itu, mobil yang Tomi kendarai menyenggol orang yang berada di pinggir jalan ketika orang tersebut ingin menyeberang. Untungnya orang itu tidak marah dan memakluminya.
Seketika itu juga Tomi langsung memarkirkan mobilnya ke arah pingir jalan yang aman. Tomi keluar dari mobilnya dan menemui seorang Bapak yang tadinya tidak sengaja ia senggol saat Tomi menghindari kendaraan lain yang berlawanan arah dengan mobilnya.
“Pak…” kata Tomi sambil berjalan dengan langkah yang cepat kearah seorang bapak yang berdiri di pinggir jalan itu.
“Pak, maaf… Saya minta maaf Pak…” kata Tomi panik.
“Iya Kang” bapak itu menjawab sambil menganggukkan kepalanya.
“Bapak tidak apa-apa? Ada yang sakit atau terluka Pak? kata Tomi lagi.
“Tidak ada Kang, saya baik-baik saja kok. Tadi tidak mengenai badan saya dengan keras, cuma tersenggol sedikit” kata bapak yang terkena senggolan itu kepada Tomi, sambil tersenyum menandakan ia baik-baik saja.
“Syukur kalau begitu Pak. Sekali lagi saya minta maaf ya Pak”
“Iya Kang, lain kali lebih hati-hati saja Kang” bapak itu sambil tersenyum kepada Tomi.
“Iya baik Pak, saya memang sedang banyak yang di pikirkan tadi sampai tidak fokus. Salah saya… Harusnya saya berheti dulu tadi”
“Iya sebaiknya berhenti sambil menenangkan pikiran dulu Kang, baru melanjutkan perjalanan kembali kalau pikirannya sudah lebih tenang”
__ADS_1
“Baik Pak… Kalau begitu saya pamit duluan Pak” kata Tomi berpamitan sambil memberi salam kepada bapak yang di senggol olehnya.
Tomi kembali ke dalam mobilnya. Ia tidak langsung melanjutkan perjalanannya. Tomi menghidupkan mesin mobil, namun ia tetap diam sejenak menarik nafas dan di hembuskannya berkali-kali Tomi melakukan itu, agar ia lebih tenang.
Tomi mengeluh dalam hatinya. Betapa berbahayanya terlalu tenggelam dalam pikiran, pikirnya dengan perasaan jengkel. Sungguh, gadis bernama Asti itu telah mengobrak-abrik pikiran dan perasaannya sampai-sampai ia bisa kehilangan akal sehat seperti ini.
Jika mengikuti apa yang diinginkan gadis itu, ia bisa terkena imbasnya. Seuasana hati Asti seringkali berubah-ubah, emosi nya naik turun dengan cepat. Terlihat bahwa Asti tidak bisa mengendalikan emosinya. Khususnya apabila Asti berhadapan dengannya.
Namun meskipun demikian, toh Tomi masih memiliki sekedip cahaya harapan sesudah tadi menghadapi Asti yang sempat membingungkan dirinya.
Pertama, karena Asti sudah mulai lagi menyebutnya dengan panggilan ‘Saudara Tomi’. Padahal semenjak gadis itu tahu akan profesinya sebagai dokter, kalau tidak menyebut dengan gelar Tomi, tentu menghindari sebutan namanya.
Meskipun Tomi memahami bahwa hal itu terjadi karena rasa sungkan dan amarah yang timbul sesudah Asti mengetahui mahasiswanya yang pemalas dan suka membuang waktu serta menghamburkan uang orang tuanya itu ternyata seorang dokter, tetapi suasana seperti itu sungguh tidak menyenangkan.
Tomi merasa senang dengan satu hal ini. Saat ia memikirkannya pun Tomi sambil tersenyum lebar.
Hal yang kedua, ia tadi telah melihat dan mendengar dengan mata kepalanya sendiri bagaimana dalam kehilangan kontrol dirinya, Asti telah melontarkan kemarahan yang kalau ia tidak salah menilainya, kemarahan itu bermuarakan pada perasaan cemburu. Sedikitnya, bermuara pada rasa kurang sukanya Asti melihat ia berakrab-akrab dengan gadis lain, entah itu rekan sesama dokter, entah pula para perawat yang kebetulan memang manis-manis.
Dan entah seberapa banyak porsi perasaan itu atau entah di tunjukkan kepada siapa saja, bagi Tomi itu tidaklah penting. Sebab yang lebih penting bagi Tomi adalah gejala yang ditangkapnya dari Asti itu menunjukkan bahwa dirinya menjadi pokok perhatian gadis itu.
Tomi kembali tersenyum kembali.
Mengingat itu kemurungan yang tadi begitu kuat menyelimuti hati Tomi. Sehingga mengakibatkan ia hampir menabrak seseorang saat berkendara karena terlalu memikirkan sikap Asti yang mudah berubah dan kadang membuat Tomi bingung harus menanggapinya bagaimana.
__ADS_1
Karena beberapa hal baik yang Tomi alami hari ini saat bersama Asti, tanpa Tomi sadari bahwa beberapa hal itu membuat ia melupakan perihal lelaki yang bernama Aryanto tadi yang terlihat sangat dekat dan akrab dengan Asti. Ia sebagai lelaki yang menurutnya sendiri sudah menjadi lelaki yang ada di hati Asti, merasa minder karena melihat Asti yang tadinya begitu bahagia sekali bercanda tawa dengan lepasnya bersama lelaki itu.
Lelaki yang Tomi maksud tidak lain dan tidak bukan adalah kakak sepupu dari Asti, gadis yang ia cintai. Namun karena emosi yang sudah terlanjur menggrogoti hatinya, Tomi tidak sempat memikirkan tentang mencari kebenaran atau menanyakan siapa sebenarnya lelaki itu kepada Asti.
Terlepas dari kejadian awal itu Tomi tidak lagi mengingatnya, karena kejadian yang terakhir di alaminya bersama Asti di rumah eyang tadi mampu mengganti sudut pandang Tomi sehingga menjadikan kemurungan dan kemarahan yang ada dihati Tomi mulai berangsur menipis.
Tomi kembali melanjutkan perjalananya dengan lebih hati-hati dan dengan perasaan yang sudah mulai gembira lagi.
Tomi singgah ke sebuah restoran untuk makan siang. Tadi sebelum ia kerumah eyangnya Asti memang Tomi belum makan siang. Dan tujuan kedatangannya tadi memang ingin mengajak Asti untuk makan siang keluar bersamanya.
Tetapi ketika pembukaan kedatangannya ke sana tadi menghancurkan semua niat dan tujuannya untuk mengajak Asti makan bersama.
Saat sudah merasa tenang barulah Tomi merasakan bahwa perutnya lapar sekali.
Tomi duduk dan memesan makanan yang ia inginkan. Sembari itu dia teringat kembali bahwa tujuan ia sebenarnya tadi kerumah eyang Asti adalah untuk mengajak Asti makan siang bersama. Sangat banyak makanan khas di Yogya ini yang ingin ia coba bersama wanita yang ia cintai.
Sambil menunggu makanan datang Tomi mengingat kembali mengenai lelaki yang bernama Aryanto tadi. Ia menyesali dua hal saat ini.
Pertama tidak mengajak Asti makan dan yang kedua adalah tidak menanyakan siapa lelaki yang bersama Aryanto itu. Hubungan Asti dan lelaki itu terlihat begitu akrab dan mesra yang sempat di saksikannya dari teras rumah kakek nenek Asti tadi, teringat akan hal itu Tomi langsung mengembalikan porsi kemurungannya semula.
Bahkan pikiran Tomi seketika melayang ke Jakarta, ke arah Pak Eko. Pikirannya, kalau di Jakarta ia berani bersaing dengan Pak Eko yang memiliki banyak kelebihan dibanding dengan dirinya. Pak Eko juga banyak di sukai oleh mahasiswa wanita yang terpesona akan ketampanan dan dengan gaya kerennya saat mengajar di muka ruang kampus.
Namun di sini, di Yogya ini. Apakah mulai timbul rasa takut atau tidak berani bersaing dengan lelaki yang bernama Arianto? Apa kelebihan lelaki itu? Tomi bergumul dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
Bersambung…