
" Bagaimana keadaan ibu saat ini? " tanya ibu Asti pada mamah Tomi.
" Alhamdulillah bu, seperti yang ibu lihat. Saya harus kuat dalam menghadapi musibah ini. " kata mamah Tomi yang berusaha tegar.
Mamah memegang tangan Asti yang duduk disampingnya.
" Apa belum ada kabar terbaru mengenai Tomi, pak? " tanya ayah Asti pada papah Tomi.
" Itulah pak, kami masih menunggu kabar dari dokter Atalim, tapi sampai sekarang belum ada berta apa-apa.
Ponsel dokter Atalim juga belum bisa dihubungi. " jawab papah pada ayah Asti.
" Ada kemungkinan dokter Atalim pergi ketempat para korban ditampung sementara di pelabuhan sambil menunggu kapal yang akan membawa mereka kembali ke kota.
Istri dokter Atalim juga termasuk salah seorang korban kecelakaan tersebut. "
Papah Tomi menjelaskan jika kemungkinan dokter Atalim menuju ke lokasi para korban karena istrinya termasuk salah satu korban.
" Jadi rencana pak Abdi bagaimana? " tanya ayah Asti.
" Saya menunggu info dari Riki dulu.
Saat ini Riki menuju rumah sakit tempat Tomi bertugas sebelum dikirim ke luar kota untuk menanyakan siapa yang bisa dihubungi disana untuk menanyakan hasil pencarian Tomi."
" Jika tidak ada informasi yang akurat, mungkin Riki akan terbang kesana untuk mencari informasi yang pasti. " kata pak Abdi pada keluarga Asti.
" Pah, bolehkah Ara ikut sama Riki kesana? Ara ingin tahu secara langsung apa sebenarnya yang terjadi. "
Asti meminta pada pak Bari agar ia bisa ikut dengan Riki ke Sulawesi.
Asti ingin berita yang pasti mengenai kecelakaan yang menimpa Tomi disana.
" Memang rencana papah seperti itu, Riki dan Ara pergi kesana. " kata pak Abdi yang sebenarnya memiliki rencana agar Riki dan Asti yang kesana.
Walau bagaimanapun, Asti merupakan tunangan Tomi, ia berhak tahu mengenai keadaan Tomi.
" Tadinya papah sama mamah juga mau ikut kesana, tapi karena kesehatan mamah kurang baik, maka papah meminta Ara dan Riki saja yang mencari kebenaran mengenai keadaan Tomi disana. "
Pak Abdi tidak bisa terbang ke Sulawesi mengingat kesehatan mamah Tomi yang kurang baik setelah mendengar berita mengenai Tomi
" Baiklah pah, kalau begitu biar Ara sama Riki yang kesana. " kata Asti pula.
Saat mereka tengah berbincang-bincang, Riki baru datang setelah mencari informasi mengenai Tomi.
" Assalamu'alaikum. " salam Riki saat
__ADS_1
memasuki ruang tamu.
" Waalaikumsalam. " jawab mereka yang tengah berada diruang tamu.
" Riki, bagaimana beritanya? " tanya papah pada Riki setelah Riki duduk diruang tamu.
" Pihak rumah sakit disini juga belum mendapatkan berita yang pasti pah.
Sepertinya kita memang harus secepatnya kesana." jawab Riki yang belum mendapatkan kabar mengenai Tomi.
" Ya sudah, bagaimana jika kalian berangkat siang ini saja.
Masih terkejar tidak untuk mempersiapkan keberangkatan kalian, jika tidak siang ini, sore juga tidak apa-apa. "
Kata pak Abdi yang memutuskan agar Riki dan Asti berangkat hari itu juga ke Sulawesi.
" Maksudnya "kalian" apa pa? Riki berangkat sama siapa? " tanya Riki heran karena papah nya mengatakan jika yang akan berangkat Riki dengan seseorang.
" Iya, nanti Riki berangkat bersama teh Ara ke sana, papah tidak mungkin meninggalkan mamah dalam kondisi mamah seperti ini. "
Pak Abdi menjelaskan pada Riki jika yang akan berangkat kesana adalah Riki dan Ara.
" Baiklah jika seperti itu.
" Bagaimana ayah, ibu, apa Asti boleh pergi bersama Riki ke Sulawesi hari ini? " Asti justru bertanya kepada kedua orang tuanya, apa ia diizinkan untuk ikut Riki ke Sulawesi.
Ibu menatap ayah meminta persetujuan untuk Asti pergi ke Sulawesi bersama Riki.
Ayah yang paham dengan maksud tatapan ibu pun mengangguk.
" Baiklah, Asti boleh pergi bersama Riki." jawab ayah pada Asti.
" Tapi nak Riki, bapak titip Asti, tolong Asti juga dijaga baik-baik, jika ada apa-apa beritahu pada kami. "
Ayah meminta Riki untuk menjaga Asti karena ayah takut terjadi sesuatu pada Asti disana.
" Baik pak, saya pasti akan menjaga teh Asti dan akan memberitahu bapak jika ada apa-apa. " kata Riki yang menyanggupi permintaan ayah Asti.
" Maaf pak, bu, diminum dulu airnya." kata mamah Tomi mempersilakan tamunya untuk minum minuman yang sudah disediakan oleh bi Iin.
" Terima kasih, bu. " jawab ibu Asti sambil mengambil minumannya, begitu dengan yang lain.
" Bagaimana kalau kita berangkat sore ini aja, Ki? teteh mau menyiapkan pakaian yang akan dibawa kesana dulu." kata Asti pada Riki agar mereka berangkat sore ini.
" Kalau begitu, langsung pesan tiket aja Riki, mumpung masih pagi, biasanya masih ada tiket untuk penerbangan sore. "
__ADS_1
Papah Riki meminta Riki agar langsung mencari tiket untuk penerbangan sore.
" Kalau berangkat sore, kemungkinan malam baru sampai disana. "
kata ayah Asti.
" Betul itu, pak. Perjalanan dari Jakarta ke Kendari memakan waktu hampir tiga jam.
Jadi kalau berangkat dari sini jam tiga sore akan sampai disana sekitar jam enam sore. " sahut papah Riki.
" Untuk hari ini ada satu penerbangan yang langsung ke Kendari pukul dua siang, lainnya harus transit. " kata Riki setelah melihat jadwal penerbangan dari Jakarta ke Kendari.
" Ambil yang itu saja, paling kalian sampai sekitar jam enam atau jam tujuh malam. " kata papah pada Riki.
Riki pun segera memesan tiket untuk dia dan Asti ke Kendari.
" Teh, bawa kartu Identitas kan? Riki mau pesan tiketnya. "
Kata Riki yang meminta kartu Identitas Asti untuk memesan tiket pesawat.
Asti mengeluarkan kartu Identitasnya dan diberikan pada Riki.
Riki pun memesan tiket untuk mereka, lalu mengembalikan kartu Identitas Asti setelah memesankan tiket Asti.
" Kalau gitu, kami permisi untuk pulang karena Asti harus menyiapkan keberangkatannya. " kata ayah pada papah Riki.
" Kenapa mesti buru-buru, pak? " tanya papah Riki.
" Karena waktunya mepet, takut jika tidak terburu. Kami harus pulang dulu, lalu mempersiapkan keberangkatan Asti, takutnya jalan menuju ke bandara macet. " kata ayah menjelaskan alasannya.
" Baiklah, nanti biar kami yang akan jemput Ara kesana karena satu arah dengan jalan menuju bandara. " kata papah yang mengatakan jika mereka yang akan menjemput Asti.
Setelah ada kesepakatan diantara mereka, akhirnya keluarga Asti pamit untuk pulang dan mempersiapkan keperluan yang akan Asti bawa.
" Sehat-sehat ya bu, biar bisa menguatkan anak-anak kita. " kata ibu Asti saat berpamitan dan memeluk mamah Tomi.
" Iya bu, terima kasih, ibu juga semoga sehat selalu. Mohon doa kan keselamatan Tomi. " kata mamah sambil berusaha menahan tangis saat menyebut nama Tomi.
" Yang sabar bu, Insya Allah Tomi akan kembali pada kita. " kata ibu Asti yang berusaha menguatkan mamah Tomi.
Setelah saling berjabat tangan dan mengucapkan salam, keluarga Asti meninggalkan kediaman keluarga Tomi.
Ada perasaan lega saat Asti bisa berangkat siang ini ke Kendari karena ia bisa segera mendapatkan kepastian mengenai keadaan Tomi.
Tapi juga ada perasaan cemas, takut jika berita yang diterima tidak sesuai dengan harapan.
__ADS_1