DOSEN CANTIK YANG JUTEK

DOSEN CANTIK YANG JUTEK
Asti Liburan Mendadak


__ADS_3

Sedemikian kuatnya tekat Asti untuk tidak memikirkan lelaki itu. Ia menyibukkan dirinya dengan berbagai macam kegiatan-kegiatan. Mengawasi ujian, merawat taman bunga yang ada di halaman rumahnya, membereskan barang-barang di kamarnya, membantu Ibu nya di dapur, membaca beberapa buku yang dipinjamnya dari perpustakaan tempat ia mengajar maupun dari perpustakaan kampusnya dulu.


Kalau-kalau terlintas lagi di ingatannya, ia segera menepuk pipinya dan beranjak. Apa pun kesibukan yang ia bisa lakukan, akan di tempuhnya. Sampai-sampai Mba yang bekerja di rumahnya bingung melihat tingkah laku Nona nya itu. Ketika Mba ingin menyapu rumah ia datang menghampiri.


“Mba… Sini aku saja yang nyapu rumah” sambil menangkap sapu di tangan Mba.


“Aduh Non jangan! Mba saja Non” jawab si Mba, sambil menggenggam erat tangkai sapu itu.


“Udah tidak apa-apa Mba, sini lepasin sapunya” Asti rebutan sapu dengan Mba.


“Ini sudah tugasnya Mba, Non”


“Ih Mba saya tahu, tapi kali ini biarkan saya saja yang mengerjakannya ya Mba?”


“Baiklah Non, tapi jangan pecat Mba ya Non. Mba masih butuh pekerjaan ini Non!” jawab si Mba khawatir, kalau-kalau di rumah itu sudah tidak membutuhkan tenaga ia lagi. Karena bukan cuma sekali dua Nona dirumah itu bersikap seperti ini beberapa waktu terakhir.


Saat Mba mencuci piring dan mengepel rumah bebapa hari yang lalu juga ia begitu. Membuat Mba menjadi bingung dengan sikapnya. Dan sampai menimbulkan pikiran yang salah dari Mbak, karena memang perubahan sikapnya sangat aneh sekali. Tidak seperti biasanya.


Begitulah hari-hari ia lewati sampai tiba saatnya ia menerima berkas hasil ujian mahasiswa-mahasiswi nya. Ia bahkan tidak menunda-nunda lagi, langung segera memeriksanya dan langsung memberi nilai. Tanpa henti, terkadang sampai lupa waktu ternyata sudah larut malam. Padahal di semester-semester sebelumnya saat menerima sekumpulan berkas seperti ini sudah membuatnya merasa lelah.


Sesudah masa ujian berakhir, nilai dari setiap mata kuliah juga sudah keluar di website kampus, dan waktunya dilanjutkan dengan liburan akhir tahun pelajaran yang lumayan panjang.


Di sela bersantai nya Asti di rumah, tiba-tiba handphone nya berdering. Membuat Asti terkejut dan segera melihat siapakah orang yang sudah mengganggu waktu bersantainya, di siang menjelang sore itu. Ketika ia melihat layar handphone, ternyata yang menelepon adalah Pak Eko. Padahal liburan baru saja dimulai. Belum juga genap satu hari. Sudah ada yang mengganggu ketenangannya.


“Hallo Dik Asti?” terdengar suara Pak Eko keluar dari handphone nya itu.

__ADS_1


“Iya… Hallo… Ada apa Mas?” sahut Asti.


“Selamat siang menjelang sore yang indah dan cerah ini, Dik Asti. Besok ada acara, Dik Asti?” tanya Pak Eko.


“Aku ingin mengajakmu menonton film di bioskop berdua! Ada film baru saja tayang dan film itu sekarang sedang menjadi incaran anak muda seperti kita, Dik!”


Asti pastinya tidak mau dengan ajakan Pak Eko tersebut. Mengangkat telepon darinya tadi saja dia sudah malas, apa lagi mau di ajak pergi nonton berdua. Ia ingin bersantai-santai saja di rumah. Tetapi kalau hal itu dipakainya sebagai alasan untuk menolak ajakan Pak Eko, rasanya kurang tepat.


Namun karena mereka berbicara melalui telepon, sulit sekali bagi gadis itu untuk mengatakan secara tegas bahwa ia tidak ingin pergi nonton berdua bersama lelaki itu. Tanpa dipikir lebih jauh lagi, Asti terpaksa memberi alasan lagi dengan kebohongan. Baginya yang penting saat itu adalah bisa menolak ajakan Pak Eko dengan alasan yang tidak menyinggung perasaan lelaki itu.


“Aduh Mas, maaf…. Besok sore aku sudah dalam perjalanan menuju ke Yogya!” ucapnya, terlompat begitu saja dari mulutnya.


“Wah… Sayang sekali ya. Padahal film nya bagus banget lho Dik” Pak Eko berbicara dengan suara yang lembut. “Tetapi sekarang masih sore lho Dik Asti. Bagaimana kalau nontonnya malam ini saja? Kalau mau aku akan menjemput mu nanti sekitar jam setengah tujuh malam”


“Wah Mas, sore ini aku sudah mempunyai rencana sendiri Mas. Mau membeli beberapa barang dan makanan untuk oleh-oleh atau pun untuk ku pakai sendiri di Yogya nanti. Banyak yang harus aku siapkan” Asti kembali terjerat kebohongan lagi.


“Tentu akan menyenangkan, Mas. Tetapi sayangnya, aku sudah janjian dengan Bibi ku untuk pergi bersama-sama!” sahut Asti dengan tambahan kebohongannya itu. “Ia juga ingin mencari sesuatu, sehingga kami berdua akan jalan bersama-sama. Maafkan aku, Mas. Dan terimakasih atas perhatianmu”


“Bagaimana kalau besok aku antarkan ke…” Pak Eko menghentikan bicaranya sejenak. “Eh, kamu besok sore naik apa Dik pergi ke Yogya nya?”


“Naik travel, Mas!” Asti berpikir, ia harus segera mencari tiket untuk pergi ke Yogya. Ia tidak ingin lagi berdiri di atas kebohongan demi kebohongan. Karena alasannya hanya untuk menghindari seorang lelaki dengan cara yang tidak terlalu menorehkan kekecewaan ke hatinya.


“Boleh ku antar sampai ke tempatnya?”


“Terimakasih, Mas. Kalau kamu memang ingin mengantarku ke sana, aku akan mengatakan kepada kantor travelnya supaya jangan menjemputku!” sahut Asti. Pikirnya, apalah salahnya memberi sedikit obat kecewa bagi Pak Eko. Sebab sesungguhnya lelaki itu seorang yang baik hati.

__ADS_1


“Oh, mereka menjemput para penumpangnya sampai kerumah ya?”


“Iya. Ada beberapa kendaraan kecil yang menjemput penumpang-penumpangnya. Kemudian di bawa ke kantornya untuk kemudian berangkat bersama-sama dengan bis. Bisnya lux, Mas. Ada AC, video, sandaran kaki, bantal dan bahkan kalau yang besar, ada kamar kecilnya. Dan dapat makan malamnya juga”


Pak Eko tertawa “Hehe hehe… Memang berapa harga tiketnya itu Dik? Kok bagus sekali caranya mengiklankan perusahaan travel itu!” katanya kemudian.


Asti juga tertawa singkat. “Hehe… Nanti kalau tidak laku jadi dosen, aku mau jadi karyawan di situ!” sahutnya kemudian. “Nah Mas, jadi besok Mas mau mengantarkan aku ke sana?”


“Kalau Dik Asti tidak keberatan!”


“Tidak, asalkan tidak merepotkan Mas Eko saja”


“Aku malah senang kok Dik, dapat mengantarkan kamu. Jam berapa aku harus menjemput mu ke rumah besok, Dik?”


“Besok aku akan mengabari mu lagi, Mas. Aku akan menanyakan jam pasti berangkatnya dulu!”


“Kalau Dik Asti dijemput oleh pihak perusahaan travel itu jam berapa biasanya?” tanya Pak Eko lagi.


“Kalau jemputan dari sana sih sore-sore sudah dijemput, Mas. Sebab yang dijemputkan banyak. Jadi sebenarnya memang lebih enak datang ke sana sendiri. Jadi bisa lebih malam dan lebih santai!”


“Baiklah kalau begitu. Besok ku tunggu kabar dari kamu ya, Dik!”


Begitu pembicaraan antara dirinya dengan Pak Eko selesai. Asti langsung menelepon kantor travel langganan keluarganya. Untung masih ada beberapa tempat kosong meskipun sudah tidak bisa memilih-milih tempat lagi. Padahal biasanya, tidak mudah mendapatkan tiket. Apalagi kalau musim libur begini. Harus beberapa hari sebelum berangkat kita harus sudah memesan tiketnya terlebih dahulu.


Mengetahui Asti mendadak mau pergi ke Yogya, Ibu dan Ayah nya agak kaget. Sebab biasanya apabila anak gadis itu mempunyai suatu rencana, beberapa waktu sebelumnya pasti sudah sibuk membicarakannya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2