
“Kakinya ya Dok?” tanya suster itu lagi kepada Tomi.
“Ya, fokus kepada kepala dan kakinya ini” jawab Tomi singkat.
Karena ada orang lain di tempat itu, Asti tidak terlalu berani memperlihatkan perasaannya. Begitu juga yang diperlihatkan oleh Tomi. Dengan jabatannya sebagai seorang dokter, lelaki itu menangani Asti dan melakukan tindakan-tindakan yang dirasanya tepat. Tetapi tentu saja menolong dan mengobati gadis itu.
“Baik Dok, kami akan persiapkan untuk dokumen pasien, untuk ct scan dan juga kamar inapnya”
“Iya, Sus. Tolong disegerakan ya. Kita harus segera memberi pertolongan kepada pasien ini” jawab Tomi.
Asti hanya diam dengan posisi terbaring di ranjang. Matanya masih di pejamkannya karena jika di buka kepalanya sangat sakit dan pusing.
Demikianlah dalam waktu yang relatif singkat, para suster sudah selesai mengisi dokumen Asti. Ruang inap atau kamar inap, untuk Asti juga sudah di siapkan dengan kamar nomor 0225.
Asti di pindahkan ke ruangan ct scan, untuk di fotokan seluruh tubuhnya. Agar dapat mengetahui secara detail keadaan tubuh Asti yang sebenarnya.
Beberapa saat kemudian, keadaan Asti sudah bisa diketahui. Gadis itu mengalami sedikit geger otak ringan dan retak tulang kaki yang tidak memerlukan sesuatu tindakan operasi.
Namun tetap harus dirawat dirumah sakit selama beberapa hari agar ia dapat beristirahat total, mendapat pengobatan dan perawatan yang tepat. Terkhusus untuk kepalanya. Sedangkan untuk kakinya, ia mendapat obat-obatan penguat tulang dan bagian yang cedera itu dibalut dengan gips.
Asti sudah di pindahkan kekamar inap nya. Tindakan dan pengobatan sudah dilakukan. Kakinya juga sudah terbalut dengan gips. Saat ini keadaan Asti sudah lebih baik dari sebelumnya. Tinggal mengunggu kesembuhan total.
(Dua hari kemudian)
Betapa besar pun marahnya Asti kepada Tomi, tetapi ia harus mengakui bahwa jasa lelaki itu terhadapnya selama ia tinggal di rumah sakit, yang cukup besar ini.
Berkat Tomi lah kedua Eyangnya mengetahui keadaannnya. Dan berkat lelaki itu pulalah Eyang Kakung dan Eyang Putri, dapat menerima berita kecelakaan Asti tanpa kecemasan yang berarti.
__ADS_1
Tomi mengabari Eyang Kakung dan Eyang Putri dengan cara yang keren. Ia mendatangi rumah Eyang Asti tersebut, memberi berita mengenai kecelakaan Asti.
Setelah itu Tomi langsung membawa kedua Eyang ke rumah sakit, untuk menjenguk cucunya yang sudah mendapatkan perawatan. Kondisinya sudah baik-baik saja, tinggal menunggu kepulihan total.
Dan pula, berkat lelaki itu segala sesuatu mengenai dirinya dapat diselesaikan dengan baik. Termasuk mengambil sepeda motor milik Eyang Kakung yang Asti kendarai saat hari kejadian, di rumah Pak Ilham.
Tomi membawa sepeda motor itu ke bengkel untuk di servis dan mengurus biaya kerusakannya. Pihak bengkel mengatakan bahwa motor akan selesai di servis 2-3 hari kedepan.
Tomi juga bertemu dengan pengemudi mobil sedan yang menabrak Asti sore itu. Pengemudi itu ingin bertanggung jawab untuk biaya kerusakan sepeda motor milik Asti dan membayar biaya rumah sakit Asti. Pengemudi itu tidak mau ada utang budi. Walau awalnya Tomi sudah ngotot bilang tidak usah.
Karena dengan alasan ingin bertanggung jawab Tomi mengizinkannya. Untuk menyelesaikan secara langsung dengan pihak bengkel dan pihak rumah sakit, tanpa melalui Tomi. Dan Tomi juga meminta pengemudi itu untuk datang menjenguk Asti dirumah sakit.
Dengan semua yang sudah Tomi lakukan untuk Asti. Tanpa Asti sadari, hatinya berbunga-bunga. Ia merasa senang bahwa lelaki itu telah memberi perhatian kepadanya.
Namun satu hal yang terasa mengganjal di hati Asti, sesudah keadaan fisiknya berangsur membaik. Yaitu perasaannya terhadap Tomi yang berubah-ubah.
Tomi yang dikenalnya selama ini adalah Tomi yang dapat meraihnya. Walau Asti menegurnya dan bahkan galak terhadapnya, Tomi tetap tidak berubah. Dan semua itu, bukanlah Tomi yang dilihatnya sekarang.
Tomi yang pernah memeluk dan menciumnya waktu itu, bukanlah Tomi yang dilihatnya di Yogya ini. Lebih-lebih kalau wajah lelaki itu tampak serius. Tidak pernah sebelumnya Asti melihat Tomi seperti itu.
Namun di atas segala itu, yang paling mengganggu perasaan dan menodai ketenangan liburannya adalah perasaan aneh yang baru kali ini dialaminya terhadap Tomi.
Yaitu perasaan yang awalnya mencul, pada saat ia melihat Tomi berjalan bersama-sama dengan dokter Indah dan keduanya asyik berbicara. Seolah-olah orang lain dan segala hal di sekitar mereka berdua itu tidak masuk hitungan.
Gambaran seperti itu terus tercetak di ruang mata Asti, walau pun apa yang dilihatnya itu telah berlalu sekian waktu.
Asti melihat mereka berdua sebagai pasangan yang sesuai. Sama-sama bergerak di bidang yang sama. Sama-sama menarik dan disukai orang-orang di sekitar mereka.
__ADS_1
Selama Asti tinggal di rumah sakit. Tomi selalu datang menemuinya. Dan selalu menanyakan keadaannya.
Tetapi bukan dia dokter yang menangani Asti secara langsung. Melainkan dokter yang lain. Dokter yang memang bertugas di rumah sakit ini.
Dengan demikian, kehadiran Tomi ke kamar tempat Asti dirawat itu sifatnya sama seperti kalau eyangnya atau sepupu-sepupunya menjenguk gadis itu. Bisa dibilang seperti pihak keluarga pasien.
Hanya saja, waktunya tidak tentu dan tidak bersamaan dengan waktu kunjungan pasien. Lelaki itu bisa datang kapan saja.
Terkadang Tomi datang membawakan beberapa makan, minuman dan buah-buahan. Bahkan di hari pertama Asti di rawat, Tomi datang dengan membawa buket bunga mawar, berwarna putih dan pink yang sangat cantik.
Tomi banyak menceritakan tentang bagaimana ia menyelesaikan urusan-urusan yang berkaitan dengan kecelakaan Asti.
Seperti perbaikan sepeda motor Asti. Bagaimana ia atas nama gadis itu, berterima kasih kepada Pak Ilham dan kepada tetangga-tetangga di sekitar rumah Pak Ilham yang menolong Asti, sewaktu ia mengalami kecelakaan.
Tidak jarang pula, tomi membicarakan tentang mata kuliah yang ia pelajari dari Asti atau pun mengenai beberapa hal yang menyangkut dengan karya tulis yang ditugaskan oleh gadis itu kepadanya.
Namun sejauh itu, pembicaraan yang didominasi oleh Tomi. Asti lebih banyak mendengarkannya.
Lelaki itu tidak sedikit pun menceritakan mengapa ia ada di Yogya dan apa kegiatannya dengan keberadaannya di rumah sakit ini.
Asti tahu bahwa Tomi menghindari hal-hal yang mengingatkannya kepada amarah atau rasa tersinggung dalam diri Asti, karena kesengajaannya menyembunyikan kenyataan yang semestinya bisa dikatakan secara terus terang kepadanya.
Padahal apa sih susahnya, menjelaskan mengenai kesibukan-kesibukannya sebagai seorang dokter. Sehingga kalau ada tugas kuliah yang tidak bisa dihadapinya. Karena bentrok dengan pekerjaannya, jadi Asti sebagai dosennya atau dosen lainnya bisa memahami dan juga bisa menyesuaikan dengan kesibukannya.
Dari penglihatan dan pendengaran yang bisa ditangkapnya, Asti mempunyai kesimpulan, bahwa Tomi berada di kota Yogya ini dalam rangka pekerjaannya sebagai seorang dokter yang sedang mengadakan penelitian atau semacamnya itu.
Sebab sepengetahuannya, selain ketika lelaki itu diminta untuk membantu di ruang gawat darurat, ia tidak pernah menangani pasien di rumah sakit itu. Juga tidak untuk Asti, sebagai pasien rawat inap.
__ADS_1
Bersambung…