
Setelah mamah berbaring dengan nyaman, papah dan Riki berjalan keluar dari kamar untuk menuju meja makan.
Bi Iin sudah menyiapkan makan malam untuk papah dan Riki.
Meski tidak berselera untuk makan, tapi papah dan Riki tetap makan untuk mengganjal perut mereka.
Selesai makan, bi Iin membereskan piring kotor dan membawanya ke tempat cucian piring.
Papah dan Riki masih duduk di meja makan.
" Jadi gimana pah, apa kita memberitahu teh Ara saat ini atau besok pagi? " tanya Riki pada papahnya.
" Sebaiknya malam ini kita beritahu Ara tentang keadaan Tomi, papah yakin Ara belum mendapat berita ini, karena dari pihak rumah sakit sana hanya ada nomor kamu. " jawab papah yang ingin memberitahu Asti tentang musibah yang menimpa Tomi.
Bi Iin yang mendengar nama Asti dan Tomi disebut langsung bertanya pada papah dan juga Riki.
Bi Iin juga heran mengapa mamah Riki tiba-tiba pingsan, padahal saat siang terlihat sehat.
" Maaf Pak, den, kalau bibi lancang, bibi ingin bertanya, mengapa ibu tadi bisa pingsan? padahal tadi siang ibu terlihat sehat. " tanya bi Iin ingin tahu apa yang terjadi.
Bi Iin memang sudah lama bekerja pada keluarga Riki sehingga sudah dianggap seperti saudara.
" Ibu shock saat mendengar Tomi mendapat kecelakaan di Sulawesi." jawab papah pada bi Iin tanpa menjelaskan seperti apa kecelakaan yang dialami oleh Tomi.
" Innalillahi.. den Tomi kecelakaan pak? bagaimana keadaannya? " tanya bi Iin sedih.
" Kita belum dapat kabar pastinya dari sana, bi! " jawab papah.
Saat mendengar kabar itu, tak terasa air matanya mengalir begitu saja.
Bi Iin memang dekat dengan Tomi maupun Riki, bahkan bi Iin menganggap mereka seperti anak sendiri karena kedua anak perempuan bi Iin sudah menikah dan ikut bersama suami mereka.
Kehidupan kedua anak bi Iin sudah mapan karena keduanya bekerja, juga suaminya.
Bi Iin tidak mau ikut anaknya karena masih ingin tinggal bersama keluarga Tomi yang sudah seperti keluarganya sendiri. Walaupun kedua anaknya meminta bi Iin untuk berhenti bekerja dan ikut tinggal bersama mereka.
Suami bi Iin sudah meninggal satu tahun yang lalu karena sakit.
" Jadi ibu pingsan karena mendengar berita itu? Bibi pikir tadi, ibu pingsan karena ibu sakit. " kata bi Iin dengan berlinang air mata.
" Semoga den Tomi selamat dan baik-baik saja. " imbuh bi Iin lagi sambil menghapus air matanya dengan ujung baju yang ia kenakan.
" Aamiin.. do'akan Tomi ya bi agar Tomi segera kembali, juga do'akan ibu agar segera sehat. " pinta papah pada bi Iin.
__ADS_1
" Aamiin, iya Pak, bibi akan mendoakan den Tomi dan juga ibu. " kata bi Iin pada papah.
" Saya permisi ke dapur lagi, Pak! " kata bi Iin yang berjalan ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya.
" Jadi malam ini, Riki ke rumah teh Ara, pah? " tanya Riki menegaskan pada papahnya.
" Iya, lebih baik ke rumahnya, jangan melalui telepon. " kata papah pada Riki.
" Apa tidak kemalaman kalau kesana sekarang, pah? " tanya Riki lagi sambil melihat jam di ponselnya.
" Baru jam delapan lewat, sebelum jam sembilan kamu sudah tiba di sana.
Papah rasa jam sembilan mereka belum tidur. " jawab papah pada Riki.
" Baiklah kalau begitu, Riki kesana sekarang sebelum terlalu malam." kata Riki sambil berdiri dan berjalan ke ruang tamu diikuti oleh papah.
" Sampaikan pada keluarga Ara bahwa papah tidak bisa kesana karena keadaan mamah juga sedang shock. " pesan papah pada Riki.
Sebenarnya papah ingin ke rumah Asti dan memberitahu langsung tentang berita ini, tapi papah tidak mungkin meninggalkan mamah yang dalam keadaan tidak sehat.
" Baik pah, nanti Riki sampaikan. "
kata Riki sambil mengambil kunci mobil didalam lemari yang ada diruang tamu.
" Riki berangkat dulu, pah. " kata Riki sambil mencium punggung tangan papah.
" Iya, hati-hati dijalan, sampaikan salam papah dan mamah pada keluarga Ara. " kata papah sambil menepuk bahu Riki.
" Baik pah, Assalamu'alaikum. " kata Riki sambil mengucapkan salam dan keluar dari rumahnya setelah papah menjawab salamnya.
Setelah Riki pergi, papah kembali ke kamar untuk melihat keadaan mamah.
*
*
*
Sementara itu, di kamar Asti tengah berbincang dengan Maryam.
Setelah berbincang dengan ibu dan ayah tadi, Asti kembali ke kamar untuk membersihkan diri.
Setelahnya, Asti menelepon Maryam dan memintanya untuk datang ke rumah Asti.
__ADS_1
Asti meminta Maryam untuk menginap di rumahnya, karena teman-teman di group bucin tidak ada yang bisa ke rumah Asti kecuali Maryam.
" Kenapa ya, perasaan aku ga enak terus ini dari tadi, mana jari yang tertusuk mawar juga masih terasa perih. " kata Asti pada Maryam sambil melihat jarinya yang tadi tertusuk duri.
" Iya, aneh juga, biasanya kalau tertusuk duri sebentar aja sudah hilang sakitnya." kata Maryam yang merasa heran.
" Apa masih ada duri yang tertinggal didalam kulit, jadi masih terasa sakit? " tanya Maryam pada Asti.
" Tidak, ini aku tekan tidak terasa ada duri yang tertinggal. " jawab Asti sambil menekan jari yang tadi tertusuk duri.
" Ya sudahlah, semoga besok sudah sembuh dan tidak terasa perih lagi. " kata Maryam pula.
" Eh, Asti, katanya mau menghubungi Tomi? ini sudah jam berapa, kok belum ada kabar dari Tomi? " tanya Maryam yang mengingatkan Asti bahwa ia akan menghubungi Tomi.
" Oh, iya, aku lupa. Gara-gara keasyikan ngobrol sama kamu jadi lupa. " kata Asti sambil turun dari tempat tidur untuk mengambil ponselnya yang sedang di charger.
Asti bersyukur, dengan kehadiran Maryam bisa mengurangi rasa cemas yang ia rasakan karena ada teman mengobrol.
Melihat daya ponselnya yang sudah penuh, Asti mencabut charger dan. memasukkan ke dalam laci meja rias nya.
Asti kembali duduk di tepi pembaringan dan mencoba menghubungi nomor Tomi.
Terdengar nada sambung, dan saat Asti melihat ponselnya tertera tulisan "memanggil" .
Asti coba lagi untuk melakukan panggilan, namun tetap sama, tidak tersambung.
" Coba pake telepon pulsa, jangan melalui telepon whatsapp, siapa tahu di sana susah mencari sinyal internet. " saran Maryam pada Asti.
Asti mengikuti apa yang Maryam katakan. Ia mencoba menghubungi Tomi dan telepon pulsa.
Lagi-lagi Asti hanya mendengar suara operator yang menyampaikan jika telepon Tomi tidak bisa dihubungi.
Setelah tiga kali mencoba dan hasilnya sama, akhirnya Asti menaruh ponsel itu disamping ia duduk.
" Bagaimana? " tanya Maryam penasaran.
" Operator yang menjawab, kalau telepon yang Anda tuju sedang tidak aktif atau diluar jangkauan. " jawab Asti sambil cemberut.
Maryam tertawa mendengar kata-kata Asti, juga saat melihat bibir Asti yang cemberut.
" Mengapa tidak dijawab, bilang suruh aktifkan ponsel Tomi, dan kalau dia bilang diluar jangkauan, memang iya, karena kamu disini dan Tomi di sana."
kata Maryam yang tertawa sendiri dengan kata-katanya.
__ADS_1
Asti hanya tersenyum mendengar lelucon yang disampaikan oleh Maryam.