
Suasana di antara seorang dosen dan mahasiswanya yang sudah lama terlibat dalam masalah hati yang rumit ini, kini makin memanas saat mereka berada di dalam mobil dengan pemandangan lautan biru yang indah itu.
Tanpa sadar, Asti lalu menekan tubuhnya ke dada Tomi yang menjadikan Asti dapat merasakan lekuk- lekuk bentuk otot-otot pada bagian dada dan lengan lelaki itu, tanpa berpikir akibatnya.
Sebab karena perbuatan nekat Asti itu, menjadikan Tomi juga dapat merasakan betapa lekatnya tubuh gadis yang ada di dalam pelukannya itu, secara otomatis ia menekan punggungnya sehingga tubuh molek itu melekat ketat pada dirinya.
Tomi dapat merasakan betapa lembut dan hangatnya tubuh Asti. Beberapa saat setelah melekat dalam pelukan itu terasa kedamaian dan ketenangan dalam diri Tomi.
Lelaki itu dapat mencium betapa harumnya, mulai dari rambut, kulit dan tubuh wanita itu. Ciri-ciri kewanitaannya yang khas menyentuh-nyentuh kulit dan menyentuh bagian dada Tomi.
Rasa nyaman membuat Tomi semakin kehilangan kendali, hasrat dan rasa geram semakin memanas di dadanya. Maka Tomi pun mulai mabuk kepayang. Kesempurnaan yang dapat dirasakan oleh kulit dan wangi tubuh wanita ini dapat ia cium dengan sangat dekat menjadikan akal sehat Tomi telah berada di tepi jurang.
“Peluklah aku, Kekasih…” bisiknya di telinga Asti, kemudian dengan nafas mendayu-dayu lelaki itu menggigit lembut daun telinga Asti yang berbau harum. Rupanya gadis itu suka mengulasi wewangian pada nadi di bawah telingannya itu. Menjadikan Tomi seakan semakin masuk dalam dunia lain.
Mendengar himbauan Tomi yang diucapkan dengan sepenuh hasratnya itu, Asti mengangkat kedua lengannya dan melingkari leher lelaki itu. Terasakan olehnya bau maskulin berbaur aroma wewangian yang dipakai oleh Tomi.
Seperti Tomi, ia pun jadi lupa diri. Dengan sama hangatnya dan sama mesranya, ia mengecupi leher lelaki itu disertai dengan ******* dan gerakan lembut yang begitu indah.
Tomi yang tidak kalah menikmati kemesraan itu pun mendesah. Tubuhnya agak bergetar. Dengan gemas, ia menjauh dari tubuh Asti. Tangannya yang gemetar bergerak ke arah kancing blus yang dikenakan oleh gadis itu, berniat untuk membukanya.
Asti membiarkannya. Tangan Asti yang sebelah kiri tetap berada di bagian leher dan bergerak-gerak dengan elusan halus berpindah ke telinga Tomi. Tangan kanan nya bergerak ke bagian dada Tomi, dengan mengelus- elus lembut.
Kemesraan yang di berikan atau di terima oleh Asti, di nikmatinya dengan mata yang terpejam merasakan sensasi-sensasi dasyatnya yang baru pertama kali itu ia alami. Namun tiba-tiba telinganya dan telinga Tomi mendengar suara derum motor yang semakin lama semakin dekat menuju ke arah mereka berdua.
Keduanya segera saling melepaskan diri dari pargulatan masing-masing. Dengan perasaan masih mabuk kepayang, keduanya menatap ke arah motor dengan pengendaranya yang melintas di samping mobil mereka yang terparkir. Kemudian motor itu perlahan menghilang di kelokan, menuju ke arah jalan raya.
__ADS_1
Sungguh itu suatu peringatan bagi mereka berdua. Sebab andai kata saja motor itu tidak melintas di samping mereka, entah apa saja yang akan terjadi di antara sepasang lelaki dan perempuan yang saat ini sedang di mabuk kepayang dengan hasrat yang sudah lama mereka simpan masing-masing.
Di tambah dengan suasana di tempat itu yang sunyi. Mobil mereka terparkir di tempat yang terlindungi antara pepohonan, karena masih agak jauh dari pusat rekreasi di pantai Baron itu. Dan keduanya sama-sama memendam rasa rindu dan sudah berada di puncak dari cetusan berbagai perasaan yang selama ini berkecamuk di dada mereka.
Rasa marah, rasa jengkel, rasa cemburu, rasa ingin meraih keterasingan-keterasingan agar lepas dari hadapan mereka berdua belakangan ini.
Asti merapikan rambut dan pakaiannya serta cara duduk nya. Tangannya gemetar, detak di dadanya naik-turun sesuai dengan gerak nafasnya yang tidak beraturan. Sementara itu Tomi juga sibuk dengan usahanya menenangkan diri agar darah yang sudah di aliri asmara itu kembali surut dan lebih tenang.
Namun kedua-duanya diam-diam merasa berterima kasih kepada pengendara sepeda motor yang sekarang entah sudah ada di mana itu. Orang itulah yang menyelamatkan mereka berdua dari bahaya yang memungkinkan terjadinya sesuatu yang pasti akan mereka selesaikan. Karena keadaan mereka tadi benar-benar sudah berada pada keadaan di mana sulit untuk di hentikan dan sulit untuk tidak berlanjut ke arah pernyataan cinta yang belum saatnya mereka realisasikan.
“Sebaliknya… ki… kita pulang saja…” kata Asti sesudah beberapa saat lamanya berusaha mengembalikan kewarasan otaknya. “Nanti… ada setan lewat lagi di… kepala kita…”
Tomi menoleh. Dengan telapak tangannya, ia mengusap rambut di kepalanya yang terasa lembab oleh menggebunya perasaan ia tadi.
“Apa pun itu, antarkan aku pulang…” kata Asti.
“Pasti, Bu. Pasti! Sahut Tomi dengan suara lembut. “Tetapi berilah jawaban lebih dulu kepada saya!”
“Jawaban tentang…?” tanya Asti kembali kepada Tomi.
“Apakah cinta saya kepada Ibu, terbalas?” tanya Tomi lebih jelas.
Asti terdiam. Ia bingung. Mempelajari segala hal yang berkaitan dengan mereka berdua, arahnya tampak jelas bahwa sesungguhnya ia pun mencintai lelaki itu.
Namun muncul pertanyaan baru yang membuat Asti semakin bingung, ‘tetapi cinta saja apakah itu cukup?’ Selain sebagai mahasiswanya dan sekarang ia juga tahu bahwa Tomi itu seorang dokter, selebihnya ia tidak mengenal apa-apa mengenai diri lelaki itu.
__ADS_1
Siapa nama orang tuanya, tinggal di mana orang tuanya, dari mana asal keluarga besarnya, berapa umurnya yang pasti, berapa orang saudaranya dan seterusnya dan seterusnya lagi masih merupakan tanda tanya besar bagi Asti. Figur lelaki itu masih asing baginya.
“Bu Asti…” Tomi memanggilnya karena belum ada terdengar jawaban dari dirinya.
“Hm…” Asti menjawab enggan.
“Pertanyaan saya tadi belum terjawab!” kata Tomi lagi.
“Apakah itu perlu dijawab?”
“Sangat perlu. Sebelum saya mendapat kepastian jawaban dari ibu, hidup saya tidak akan tenang. Padahal rasa ketenangan itu sangat perlu untuk kehidupan saya. Sebab studi saya baik di bidang psikologi mau pun sebagai spesialis, memerlukan konsentrasi penuh…” jawab Tomi sambil menekan jawaban dari Asti.
“Jadi, Saudara Tomi membutuhkan suatu kepastian?”
“Ya Pasti lah Bu. Entah itu positif jawabannya entah pula sebaliknya, yang jelas saya butuhkan suatu kepastian. Agar saya dapat mengambil langkah tanpa ragu kedepannya”
“Kalau begitu, saya tidak bisa menjawabnya sekarang” kata Asti.
“Mengapa?”
Karena… yah, karena ada banyak hal yang perlu dipikirkan. Suatu relasi antar sepasang jenis insan itu tidak hanya cinta saja isinya!”
Tomi melirik Asti sejenak. Ia merasa yakin, gadis itu sesungguhnya juga mencintainya. Beberapa kali ia menciumnya dengan akrab, selalu mendapat sambutan yang sama mesra dan sama hangatnya.
Bersambung…
__ADS_1