DOSEN CANTIK YANG JUTEK

DOSEN CANTIK YANG JUTEK
Bab 174 Memandang Foto Tomi.


__ADS_3

Dalam tangisnya, Asti ingat pertama kali saat ia bertemu dengan Tomi.


Saat Tomi datang ke rumahnya dan berniat meminta tanda tangan Asti agar bisa ikut ujian.


Asti ingat bagaimana ia memarahi Tomi dan tidak memberikan tanda tangan yang Tomi butuhkan sehingga Tomi harus mengulang mengikuti mata kuliah yang diajarkan oleh Asti.


Setelah tahu jika Tomi merupakan seorang dokter, Asti jadi tahu mengapa Tomi sering tidak masuk pada mata kuliah yang ia ajarkan dan meminta temannya untuk mengisi absen, semua karena Tomi sedang kuliah kedokteran di kampus lain.


Ada rasa menyesal saat Asti menolak keinginan Tomi untuk meminta tanda tangannya.


Tapi Asti melakukan hal yang benar dsn sesuai prosedur.


Asti teringat wajah Tomi yang menunduk dan terkejut saat ia mengatakan bahwa Tomi seorang penipu dengan mengisi absen dan tanda tangan di kolom kehadiran mahasiswa.


Ada sedikit senyum dibibir Asti saat ia ingat telah mengerjai Tomi waktu itu.


Tiba-tiba bayangan lain saat kebersamaannya dengan Tomi melintas di pikiran Asti, saat mereka tengah berdua di dapur dan Asti sempat menampar pipi Tomi karena merasa emosi.


Saat itu Tomi tidak marah padanya, justru Asti yang menangis dan merasa bersalah pada Tomi.


Tanpa Asti sadari saat itu, kala ia menangis justru Tomi menariknya kedalam pelukan Tomi.


" Sudahlah. " bisik Tomi mesra kala itu.


" Untuk apa harus mengeluarkan air mata. Biarkan air mata mengalir ke laut.


Biarkanlah kehidupan berlangsung dalam penyelenggaraan yang Maha Kuasa. "


Itu saat pertama kali Tomi memeluk dirinya dan menenangkannya dari perasaan bersalah karena telah menampar pipi Tomi.


" Dan untuk itu bu Asti harus merasa bersalah hanya karena membiarkan salah seorang mahasiswanya menggenggam tangan ibu! "


Bibir Asti terbuka.


Matanya sayu menatap mata Tomi.


Sementara itu bulu-bulu matanya yang masih basah tampak lentik menaungi bola matanya yang indah itu.


" Tetapi.. itu tidak semestinya terjadi.. " sahutnya kemudian.


" Sudah saya katakan tadi!"


" Itu kalau perbuatan saya tadi hanya iseng-iseng saja atau dengan tujuan mempermainkan kewibawaan dosen saya. "


Tomi menjawab tegas kendati suaranya masih terdengar lembut.


" Saya bukan seorang lelaki yang kurang ajar atau semacam itu, bu. "


" Meskipun saya tahu ibu mempunyai penilaian yang lebih banyak negatifnya mengenai diri saya, tetapi saya juga tahu bahwa ibu pasti mempunyai keyakinan bahwa saya tidaklah terlalu buruk, itu benar, bu Asti. "


" Saya memang tidak terlalu buruk sebagaimana kelihatannya.

__ADS_1


Saya meskipun begini... bisa mempunyai suatu perasaan yang indah, Bu."


" Perasaan itulah yang melandasi kelakuan saya yang tampaknya kurang ajar terhadap ibu. Jika itu ditinjau dari tatapan saya sebagai mahasiswa dan ibu Asti sebagai dosen saya. "


" Jadi sekarang pandanglah tataran itu sebagai sesama subyek, sebagai sesama individu yang berlawanan jenis."


" Saya akan memberanikan diri untuk mengatakan suatu kenyataan, saya... mencintai ibu! "


Saat itu Asti merasa terkejut dengan apa yang Tomi katakan.


Asti ingat, itu merupakan awal mula Tomi menyatakan perasaannya pada Asti, setelah sebelumnya Asti menampar Tomi.


Setelah Tomi menyatakan perasaannya, entah bagaimana caranya tiba-tiba Tomi mencium bibirnya.


Saat itu Asti tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti dari Tomi.


Asti tidak sempat memikirkan hal itu,. sebab pikiran, perasaan dan tubuhnya hanya berpusat kepada ciuman Tomi.


Asti tersenyum ditengah isak tangisnya saat mengingat pertama kali Tomi menyatakan perasaannya dan mencium bibirnya.


Entah mengapa, saat ini Asti mengenang semua itu.


Mengenang kebersamaannya bersama Tomi.


Rasa rindu, cemas dan rasa takut tengah Asti rasakan saat ini.


Dikamar hotel ini, Asti sendirian dan Asti sangat merindukan Tomi.


Banyaknya pasien yang harus Tomi tangani disini membuat Tomi fokus pada pekerjaannya.


Asti dan Tomi hanya bisa berkomunikasi di sore atau malam hari saat Tomi sudah pulang dari rumah sakit dan beristirahat di kamarnya.


Asti mencemaskan Tomi karena Asti yakin Tomi selamat dalam kecelakaan itu tapi belum ada yang mengetahui dimana keberadaannya.


Asti takut jika Tomi mengalami sesuatu yang membuatnya tidak bisa memberitahukan dimana keberadaannya.


Asti membuka ponsel dan mencari percakapannya dengan Tomi melalui pesan singkat.


" Selamat pagi Ara, selamat beraktifitas untuk hari ini, selalu semangat dalam mengejar para mahasiswa. Jangan terlalu jutek sama mahasiswanya. "


" Selamat pagi tawanan Alien, apakah pagi ini tawanan sudah mendapatkan jatah sarapan? "


" Jangan lupa makan siang, jangan biarkan cacing dalam perut berdemo. "


" Kring... waktunya istirahat, jangan lupa makan siang. "


Asti terus menggulir pesan dari Tomi dan membaca pesan itu satu persatu.


Asti merasa sedang berkomunikasi dengan Tomi dengan membaca ulang setiap pesan yang Tomi kirimkan padanya.


" Selamat malam dek Ara..? istirahat yang cukup ya agar esok bangun dalam keadaan yang fit. "

__ADS_1


" Disini pagi ini terlihat gelap padahal langit tidak sedang mendung, setelah dicari sebabnya ternyata matahari yang menerangi hidupku berada di Jakarta. "


" Ara, makan apa siang ini? kamu makan di kantin bersama teman-teman kamu, ya? "


" Ara, kalau ada waktu main ke rumah mamah ya? kasihan


mamah suka ga ada temannya dirumah kalau papah sama Riki lagi sibuk. "


" Terima kasih ya, sudah mau menemani mamah belanja. Kata mamah Ara memang calon menantu idaman. "


Bolak balik Asti baca setiap pesan yang dikirim oleh Tomi selama mereka berjauhan.


Kata-kata Tomi terkadang terasa lucu dan menghibur bagi Asti.


Asti sengaja tidak menghapus semua pesan yang Tomi kirim karena ia suka membaca ulang pesan itu saat ia tengah rindu pada Tomi dan Tomi belum bisa dihubungi karena sedang menangani pasien.


Kini pesan-pesan itu juga yang menemani dan menghibur Asti.


Asti melihat pesan terakhir yang Tomi kirim sebelum ia berangkat ke pulau.


" Selamat pagi Ara...sudah mandi belum? sepertinya belum ya karena baunya sampai kesini. "


Pukul 06.10 WITA


" Ara, pagi ini mas akan berangkat ke pulau untuk melakukan bakti sosial dalam rangka hari dokter nasional.


Maaf ya mas ga sempat nelepon pagi ini. Do'akan perjalanan kami semua lancar dan selamat sampai tujuan."


Pukul 06.10 WITA.


" Nanti jika mas sampai di lokasi mas akan memberi kabar pada Ara.


Semoga saat tiba disana sinyal lagi bagus, karena katanya disana terkadang sulit sinyal. " Pukul 06.11 WITA.


" Ara, mas dan rombongan sedang dalam perjalanan menuju pelabuhan untuk menyeberang ke pulau.


Kalau mas tidak bisa dihubungi berarti mas sedang dalam perjalanan dan tidak ada sinyal. Nanti saat tiba di pulau mas kabari lagi. " Pukul 07.30 WITA.


" Ara jaga kesehatan, jangan lupa sarapan sebelum mengajar dan makan siang saat istirahat. Love you..! "


Pukul 07.31 WITA


Semua itu pesan terakhir yang Tomi kirim buat Asti, pesan sebelum Tomi berangkat ke lokasi dan pesan saat ia dalam perjalanan menuju pelabuhan.


Dilihat dan dibaca berulang kali pesan itu, disana Asti tidak menemukan sesuatu seperti sebuah firasat ataupun pertanda buruk lainnya.


" Semoga besok ada kabar baik mengenai dirimu mas, pulanglah.. kami semua merindukanmu, dan mencemaskan keadaanmu, mas. "


Asti berkata sambil memandang wajahnya Tomi dalam galeri foto yang ada dalam ponselnya.


Doa dan harapan terbaik selalu Asti ucapkan dalam hatinya.

__ADS_1


Doa memohon keselamatan Tomi.


__ADS_2