
Pak Eko mencuri pandangan kepada gadis yang ada di sebelahnya. Pak Eko merasa setiap ia sedang bersama dengan gadis ini selalu demikian. Tidak tahu dengan apa yang sedang mengganggu pikiran Asti. Pak Eko membuyarkan lamunan gadis itu dengan pertanyaannya.
“Dik Asti… Setelah usai masa ujian ini nanti, rencanamu mau ke mana saja untuk menghabiskan libur panjangmu?” tanya lelaki itu.
Perlahan-lahan Asti menyurutkan debaran jantung dan aliran darah yang menghangati dirinya setiap ingatan tentang Tomi melintas di benaknya.
“Masih belum tahu pasti Mas…” sahut gadis itu.
Belakangan ini, nama Tomi semakin kuat mencengkram perasaannya. Seperti sekarang ini misalnya. Sesudah si pemilik nama itu singgah dalam ingatannya, tiba-tiba rasa kehilangan yang dirasakannya akhir-akhir ini telah berubah warnanya kearah sesuatu yang lebih jelas. Yaitu, ternyata ia merasa rindu kepada lelaki itu!
Merasa tertekan oleh kesadaran yang baru muncul itu, Asti merenggut dirinya agar lebih memperhatikan pembicaraan yang sedang dilakukannya bersama Pak Eko.
“Kalau memang belum tahu mau kemana, bolehkah sekali-kali aku datang berkunjung ke rumahmu?” tanya Pak Eko, meyusup ke telinga Asti.
“Boleh-boleh saja, Mas!” Asti menjawab sambil mengibaskan Tomi dari pikirannya. “Tetapi aku tidak bisa memastikan apakah saat itu aku ada di rumahatau tidak”
“Itu sih masalah nasib-nasiban. Tetapi yang penting, boleh atau tidaknya aku datang mengunjungimu!”
Asti mengeluh di dalam hatinya. Semestinya kalau ia tidak mau mengalami kesulitan dan ingin merasakan kedamaian, pertanyaan Pak Eko itu haruslah dijawabnya dengan kata ‘tidak’. Tetapi lagi-lagi ia merasa tidak sampai hati untuk mengatakan apa yang ingin dikatakannya. Memang berbeda cara ia menghadapi Pak Eko jika di bandingkan dengan cara ia menghadapi Tomi.
Tomi termasuk jenis yang nekat dan menjengkelkan. Sudah begitu, lelaki itu menempati tataran hubungan sebagai mahasiswanya. Bersikap galak kepadanya, tidaklah sulit. Tetapi tidak demikian halnya jika berhadapan dengan Pak Eko. Memerlukan suatu pemikiran yang lebih mendalam untuk bisa membebaskan diri darinya.
__ADS_1
“Hal itu ku katakan karena aku akan berlibur ke luar kota, Mas!” katanya kemudian, tanpa berpikir lebih jauh.
“Oh ya? Kemana Dik? Dan kapan kamu akan berangkat?”
“Ke Yogya Mas!” Asti merasa kesal kepada dirinya sendiri karena apa yang dikatakannya tadi dan apa yang sebenarnya asal keluar begitu saja dari mulutnya, telah membuatnya semakin terlihat jauh masuk ke dalam kebohongan.
“Hanya kapan waktunya itu, masih belum tahu kepastiannya. Aku masih memikirkan pekerjaan mengoreksi hasil ujian mahasiswa-mahasiswaku nanti! Urusan liburan belum menjadi prioritas ku!”
“Wah… Sudah lama sekali aku tidak pergi ke Kota itu lho Dik. Aku berasal dari semarang. Tetapi ada kakak ibuku yang tinggal menetap di Yogya.
Dulu Yogya itu adalah kota bermainku. Jika hari libur tiba tempat tujuan ku pasti berlibur kesana. Tetapi itu sudah lama sekali, waktu aku masih remaja. Ada baiknya kalau aku mengurus cutiku untuk mengunjungi budeku”
Asti agak panik mendengar kata-kata Pak Eko. Lelaki itu memang bekerja di kantor swasta selain ia mengajar di kampus tempat Asti juga mengajar itu. Tetapi tidak perlu ia harus mengurus cutinya hanya karena ingin berlibur bersama-sama dengannya di Yogya.
Apalagi belum tentu Pak Eko akan merasa senang menghabiskan masa cutinya di Yogya. Sebab, kali ini Asti sudah berniat untuk tidak memberinya kesempatan lagi, agar lelaki itu semakin yakin bahwa harapannya untuk mendekati Asti memang tidak ada peluang. Kasihan kalau usahanya mengurus cuti dan angan-angannya berlibur bersama Asti di Yogya nanti hanya akan membuatnya kecewa.
“Mas, libur mengajar nanti apa tidak lebih baik dipakai untuk lebih menekuni pekerjaanmu dikantor yang selama ini fokus mu terbagi, dikarenakan harus mengajar juga” kata Asti sesudah berpikir-pikir tadi. “Ingat Mas, kalau tujuanmu ke Yogya hanya untuk menyamakan cutimu dengan liburanku di sana, bisa jadi liburan yang tidak menyenangkan loh!”
“Kenapa?”
“Karena aku ke Yogya paling-paling Cuma beberapa hari saja, kemudian akan keliling bersama sepupu-sepupuku ke mana-mana. Mungkin sampai ke Bali juga nanti, karena mereka sudah merencanakan liburan ini sudah sejak lama!”
__ADS_1
Di dalam hatinya Asti mengakui kebenaran apa yang pernah dikatakan olehnya, bahwa sebaiknya kita jangan hidup di atas kebohongan. Karena apabila kita sudah berbohong mengenai satu hal, kita akan terus terlibat dengan kebohongan-kebohongan berikutnya. Dan iklim semacam itu sungguh tidak sehat untuk dijalani.
Pak Eko terdiam demi mendengar kata-kata Asti. Perasaan halusnya menagkap peringatan. Bahwa andai kata Asti menyukainya atau sedikitnya merasa senang mempunyai teman untuk bersama-sama mengisi liburan di Yogya, pastilah gadis itu tidak akan memilih pergi bersama-sama dengan sepupunya.
Melihat Pak Eko terdiam, perasaan Asti menjadi tidak enak. Tetapi apa boleh buat. Ia perlu bersikap tegas meskipun dengan cara berbohong.
“Kehidupan modern masa kini sangat menyita waktu seseorang. Pergi dan pulang ke tempat pekerjaan tidak bisa ditempuh dalam waktu yang singkat karena dimana-mana jalan raya tidak lancar dan seringkali mengalami kemacetan ya?”
“Iya betul” sahut lelaki itu dengan suara yang sayu.
“Iya… Pulang ke rumah sudah capai, saat masih di jalan saja sudah memikirkan ketika sampai dirumah ingin langsung membersihkan diri dan istirahat. Tidak ada lagi waktu untuk berkumpul, berbincang-bincang dengan anggota keluarga di rumah. Apa lagi kalau masih harus menyisihkan waktu untuk urusan sosial dalam masyarakat lingkungan sekitar, sudah pasti itu tidak bisa di lakukan.
“Hal-hal semacam itu jelas menyebabkan hubungan keluarga, kekerabatan persepupuan dan juga sahabat menjadi jauh. Biar pun tinggal di kota yang sama, belum tentu bisa bertemu sebulan sekali. Nah Apalagi kerabat yang tinggalnya lebih jauh di kota lain? pasti hubungan keluarga menjadi sangat renggang” Kata Asti untuk mengurangi rasa tidak enak tadi.
“Itulah sebabnya, kesempatan-kesempatan seperti liburan begini selalu ku pergunakan untuk merajut hubungan dengan saudara-saudara sepupuku yang renggang akibat kesibukan masing-masing dari kita di dalam kehidupan modern seperti jaman sekarang ini.
“Ya, memang benar Dik Asti!” komentar Pak Eko, entah tulus atau tidak.
“Seringkali hubungan antar teman, entah teman antar tetangga entah pula teman sekerja. Terkadang lebih akrab daripada hubungan sedarah antar sepupu atau malahan antar saudara kandung, di tambah jika tidak tinggal satu atap” kata Asti.
“Karena itulah Mas, aku sengaja mengisi liburanku dalam usaha mendekatkan hubungan yang renggang oleh situasi-situasi semacam itu” kata a Asti lagi, sambil menggerak-gerakkan tangannya seakan menekan dengan sungguh rencananya itu.
__ADS_1
Bersambung…