
Namun karena kondisi Asti yang sedang kurang sehat, menjadikan pilihan jalan ini menjadi sia-sia, pikir Tomi. Tetapi Tomi berpikir kembali, ‘ya sudah tidak apa-apa! yang penting dia sehat’. Tomi memilih untuk memberikan obat kepada Asti agar gadis itu bisa beristirahat selama dalam perjalanan.
Jalur ini memang berbeda dengan jalur Parangtritis yang jalannya rata, tidak terlalu banyak tikungan dan jalan yang berliku-liku. Tumbuhan di sekeliling jalur Parangtritis agak lebih gersang. Tidak sesubur tumbuhan di pinggir jalan kiri dan kanan jalur Wonosari dan udaranya juga tidak sesegar, saat menghirup udara saat ini.
Siang hari di terik panas matahari, cuaca yang cerah dengan langit biru yang seakan mendukung perjalanan atau kemping dadakkan ini.
Perjalanan mereka hampir sampai. Dengan teriknya sinar matahari memberikan pantulan kepada air laut yang biru bersih itu, sudah mulai terlihat di antara pepohonan yang mereka lalui.
Angin menderu-deru menghempaskan gulungan ombak yang tidak pernah berhenti. Sehingga angin sepoi-sepoi itu sampai ke pantai dan memberi ayunan perlahan kepada pepohonan yang berada di pinggir laut.
Pandangan itu dapat menyejukkan hari siapa saja yang ada di sekitarnya. Tomi tersenyum bahagia dapat menikmati keindahan alam ini bersama gadis yang ia cintai. Tomi mencuri pandangan kepada Asti yang masih terlelap di samping nya itu.
Dengan perlahan Tomi memarkirkan mobilnya agak jauh dari pantai, di luar jangkauan pandangan mata orang. Meskipun saat itu bukan saatnya orang mencari hiburan di laut, seperti biasanya orang-orang datang ke sini pada hari-hari libur kerja. Tetapi walau pun begitu, masih ada saja beberapa orang ada di tempat itu.
Tomi melihat beberapa motor di parkir, di bawah pepohonan sementara penunggangnya entah ada di mana, mungkin jalan-jalan di tepi pantai, mungkin juga duduk-duduk di warung sambil menatap lautan yang menyejukkan hati. Pikir Tomi.
Tidak satu pun perahu tampak di sekitar tempat itu. Entah nelayan sedang berada di tengah lautan sana, atau masih belum berangkat untuk mencari ikan di laut.
Tomi menetralkan mobilnya perlahan. Dan masih tidak tega untuk membangunkan Asti. Ia memutuskan untuk keluar sebentar, meluruskan pinggang dan kakinya yang dari tadi sedikit lelah menyetir.
Denngan perlahan Tomi turun dan menutup kembali pintu mobilnya itu dari luar. Ternyata Asti terbangun dan menyadari hal itu.
Asti langsung mengangkat tubuhnya dan dari dalam mobil ia bisa melihat lelaki itu berjalan ke bawah pohon di samping mobil nya. Dan menatap ke arah lautan dengan meminum sebotol air mineral.
Asti lebih tersadar lagi ternyata mereka sudah sampai di pantai yang Tomi maksud itu. Dengan bergegas Asti menggapai sun visor di mobil itu dan merapikan rambutnya.
Asti segara berbaring kembali melihat lelaki itu menuju ke dalam mobil. Asti bingung harus pura-pura masih tertidur atau sudah bangun. Belum sempat merencanakan itu Tomi sudah membuka pintu dan mendapati Asti yang masih terbaring dengan mata terbuka menatap dirinya.
“Eh sudah bangun Bu?” tanya lelaki itu.
“Iya…”
“Kita sudah sampai Ibu” jawab lelaki itu sambil mendudukkan kembali bokongnya di kursi supir dan menarik kembali pintu mobil itu untuk menutupnya.
__ADS_1
“Oh ya?” jawab Asti sambil perlahan mengangkat tubuhnya.
Tomi yang melihat itu langsung membantunya, dengan memegang bagian bahu sebelah kanan Asti dengan tangan kirinya dan tangan kanannya menggenggam lengan kanan Asti.
Asti yang selalu terkejut dengan pergerakan-pergerakan yang lelaki ini tuju kepada dirinya, hanya bisa pasrah menerima. Tidak berhenti di situ Tomi juga membuka seat belt yang masih terpasang di tubuh Asti dan yang lebih membuat Asti kaget lagi, Tomi mendirikan kembali posisi kursi duduk Asti.
Langkah yang Tomi lakukan itu bukan hanya merubah posisi duduk Asti, juga merubah posisi Tomi yang sampai mengangkat tubuhnya. Dengan lutut kiri yang bertumpu pada kursi duduk supir dan lutut kanannya sampai menyeberang hampir bertumpu pada kursi duduk sebelah Asti.
Lalaki itu menggapai tombol atau pengait untuk mengangkat bagian kursi duduk Asti. dan berhasil ia lakukan. Wajahnya yang hampir bersentuhan dengan wajah Asti ketika kursi duduk Asti itu berdiri, membuat Asti tercengang.
Lelaki itu kembali duduk. Asti masih terdiam tanpa kata.
“Bagaimana Bu Asti, bagus kan?” tanya lelaki itu.
“Bagus apanya yang bagus!” kata Asti dengan nada sedikit tinggi.
“Itu sana Bu, pantai nya…” kata leelaki itu lagi sambil menunjuk ke arah lautan dengan matanya.
Asti terpaksa mengganggukkan kepalanya. Tomi membuka jendela mobil otomatisnya, sehingga bau laut menyerbu ke dalam mobil. Tomi dan Asti menatap laut itu bersama. Sesudah Tomi puas melihat laut, pandangan matanya beralih kepada Asti.
“Bu Asti, sampai detik ini, saya belum mendengar apa tanggapan Ibu mengenai ungkapan perasaan cinta saya kepada Ibu…” katanya kemudian.
Dada Asti berdebar mendengar pertanyaan itu. Ia tidak menyangka Tomi akan mengatakan hal itu lagi. Secara tidak terduga pula.
“Apakah Anda tidak malu mengucapkan kata-kata seperti itu?” desisnya sembari melirik ke arah Tomi.
“Kenapa saya harus malu?” tanya Tomi kembali sambil mengangkat kaca otomatis, agar berisik di luar tidak menganggu saat mereka berbicara.
Asti tersenyum seperti meremehkan “Harus nya Saudara malu!”
“Apakah karena saya hanya seorang mahasiswa yang malas dan hanya bisa menggunakan fasilitas orang tua?”
“Jangan menyindir!” bentak Asti.
__ADS_1
“Terus saya harus malu kenapa? Kalau bukan karena hal itu. Apa Ibu malu ada seorang mahasiswa Ibu yang mencintai Ibu?”
“Saya tidak seperti yang Saudara sangka! Jangan berbicara berlebihan! Seharusnya Anda sendiri tahu jawabannya!”
“Lalu kenapa saya harus malu? Kalau menurut yang Ibu maksud, apa alasan yang bisa membuat saya malu dan seharusnya tidak menyatakan hal itu kepada Ibu?” tanya Tomi dengan lebih jelas.
“Karena Saudara sudah mempunyai kekasih?!” jawab Asti lagi.
Tomi tersenyum sekilas.
“Ibu lebih tahu dari pada saya sendiri, rupanya!” gumamnya.
Alis mata Asti bertaut.
“Saudara memang mudah mengoyakkan lidah!” gerutunya.
“Saya selalu berbicara jujur kepada Ibu, tentang apa yang saya rasakan! Tidak ada alasan untuk Ibu berbicara seperti itu kepada saya!”
“Apa nanti kata kekasih Saudara kalau mendengar kata-kata itu!”
“Kekasih saya? Yang mana kekasih saya menurut Ibu?” Tomi menantang.
“Mana saya tahu!”
“Lah kalau begitu kan tidak ada!” jawab Tomi lagi.
“Mungkin salah seorang perawat atau mungkin salah seorang dokter, seperi dokter Indah itu misalnya…!” jawab Asti sambil memalingkan wajahnya dari Tomi.
“Hati-hati kalau bicara lho Bu Asti!” Tomi menyela bicara Asti.
“Kenapa?” Alis yang bagus itu bertaut kembali.
Bersambung…
__ADS_1