DOSEN CANTIK YANG JUTEK

DOSEN CANTIK YANG JUTEK
Bab 213 Calon Mantu


__ADS_3

Sementara itu di kamar Asti, eyang dan Lestari serta sepupu Asti tengah berkumpul dikamar itu untuk melakukan luluran pada Asti.


" Tari, ibu lulur yang sudah ibu buat untuk melulur tubuh Asti.


Lakukan sekarang sebelum kamar Asti dihias untuk dijadikan kamar pengantin." kata eyang putri pada Lestari, bibi Asti yang bungsu.


" Iya bu, tenang saja, urusan lulur melulur itu urusan Tari. Ini Aulina dan Aulia juga mau membantu. " kata Lestari pada ibunya.


" Iya uti, Aulina dan Aulia yang akan membantu ibu untuk melulur mbak Asti." kata Aulina.


" Uti, lulurannya banyak kan? nanti sisanya mau Aul gunakan ya, agar Aul juga terlihat kinclong saat jadi pagar ayu di acara nikahan mbak Asti. " kata Aulia pada eyang putri.


" Eh, kalau Aul pake lulur, Ain juga mau, uti. " kata Aulina tak mau kalah.


" Ish.. kalian ini, moso ga ma kalah sama mbak yang mau jadi pengantin. Kalau mau pakai lulur buatan uti, kalian harus jadi pengantin dulu seperti mbak Asti. " kata Asti pada kedua sepupunya itu.


" Masih lama lah mbak kalau nunggu jadi pengantin, kami kan masih sekolah." protes Aulia pada Asti.


" Makanya kalian sabar dulu hingga kalian akan menikah, baru eyang buatkan lulur rahasia keluarga buat kalian. Untuk saat ini lulurnya hanya buat mbak Asti. " kata Asti yang masih menggoda kedua sepupunya itu.


Saat ini Aulina sudah kuliah semester dua, sedangkan Aulia masih duduk dibangku kelas dua SMA.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Asti membuat Aulina dan Aulia mengerucutkan bibirnya.


Hal itu membuat Asti merasa senang karena bisa menggoda kedua sepupunya itu.


" Sudah-sudah, ga usah ribut. Uti sudah buat lulur untuk semua cucu perempuan uti yang mau jadi pagar ayu, agar kalian semua terlihat cantik. " kata eyang putri menengahi perkataan cucu-cucunya.


" Benar, uti? wah terima kasih uti, uti memang yang terbaik. " kata Aulina dan Aulia, lalu mereka memeluk eyang putri dengan penuh rasa sayang.


" Yo wis pelukannya, kapan kita akan melulur mbak mu jika kalian bicara terus. " kata Lestari mengingatkan kedua anaknya.


Akhirnya merekapun mulai melakukan luluran pada Asti sambil mengobrol.


" Uti, lulurnya wangi banget, juga bikin kulit terasa halus. " kata Aulina pada eyang putri.


" Iya uti, kalau uti jualan lulur pasti laris manis, secara lulur buatan uti bikin kulit terasa halus, lembut dan kinclong. " kata Aulia pula.


" Hush, kalau uti jualan lulur nanti rahasia kecantikan keluarga kita bisa ditiru sama orang lain. " kata Lestari pada kedua anaknya.


" Tidak apa bu jika banyak yang menggunakan lulur rahasia eyang, nanti kita malah punya pabrik lulur dan bisa jadi pengusaha. " kata Aulia pada ibunya.


Eyang putri hanya terkekeh mendengar kata-kata kedua cucunya itu.

__ADS_1


" Kalian ini, sekolah yang bener, setelah mendapat ilmu yang mumpuni baru kembangkan ilmu kalian untuk bekerja atau membuka usaha. " kata Asti pada kedua sepupunya.


" Eh, mbak Asti kan pintar, mengapa tidak membuka usaha saja? " tanya Aulina sambil membalur tangan Asti dengan lulur.


" Mbak sudah merasa cocok jadi dosen. Tapi ga tahu juga jika kedepannya mbak tidak mengajar dan jadi ibu rumah tangga, mungkin mbak akan belajar untuk membuka suatu usaha.


Tapi jika mas Tomi mengizinkan, mbak tetap ingin menjadi dosen agar bisa berbagi ilmu dengan para mahasiswa dan membuat mereka menjadi manusia yang berguna dalam kehidupan mereka nantinya.


Kalian rajin-rajinlah belajar selagi ada kesempatan agar dimasa depan apa yang kalian dapatkan dibangku sekolah bisa kalian gunakan untuk masa depan kalian. "


Asti mengutarakan apa yang ia rasakan saat ini pada kedua sepupunya itu, dan berharap keduanya bisa menyelesaikan sekolah dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat bagi masa depan mereka.


" Baik, mbak. " kata Ain dan Aul bersamaan.


" Mbak, bagaimana rasanya saat mbak mau menikah? " tanya Aul pada Asti.


" Kok kamu nanya gitu, apa kamu sudah mau menikah juga? Dengar apa kata mbakmu barusan, sekolah dulu yang bener. " kata Lestari saat mendengar pertanyaan Ain pada Asti.


Lestari tidak ingin jika anak-anaknya salah pergaulan dan menikah sebelum. mereka menyelesaikan sekolahnya.


" Ye, Aul kan cuma nanya, bu? boro-boro nikah, pacar aja Aul ga punya.


Aul mau jadi orang sukses dulu dan membahagiakan ayah dan ibu baru Aul menikah. " kata Aul pada ibunya.


" Perasaan mbak mau menikah ya mereka senang, bahagia dan deg-degan juga. " kata Asti menjawab pertanyaan Aul tadi.


" Semoga acara pengajian hingga resepsi mbak Asti semuanya berjalan lancar dan tanpa halangan apapun ya, mbak? " do'a Ain untuk Asti.


" Aamiin. " kata Asti dan yang lainnya mengaminkan do'a Aulina.


" Mel, karpet untuk acara pengajian sudah disiapkan? " tanya Lastri, ibu dari Aryanto dan Amel.


" Sudah bu, tadi mas Ary dan mas Angga sudah menyiapkan semuanya diruang tengah. " jawab Amel pada ibunya.


" Syukurlah jika begitu, nanti sehabis shalat dzuhur, baru dipasang diruang tamu dan ruang tengah. " kata Lastri lagi.


" Baik, bu. " kata Amel pula.


" Bu, Amel mau ke kamar mbak Asti, ya? Amel mau ikut luluran di kamar mbak Asti bersama Ain dan Aul. " kata Amel pada ibunya.


" Ya sudah, jika pekerjaanmu sudah selesai, pergilah ke kamar mbakmu! " kata Lastri, mengizinkan Amel untuk pergi ke kamar Asti.


Setelah berpamitan pada ibunya, Amel pergi ke kamar Asti untuk melihat Asti yang sedang di lulur, sedangkan ibunya pergi ke dapur untuk melihat ibu-ibu yang sedang rewang.

__ADS_1


Beruntung rumah orang tua Asti memiliki halaman yang luas di bagian belakang sehingga bisa dipasang tenda untuk ibu-ibu yang sedang rewang.


Rumah Asti juga terbilang luas dengan beberapa kamar yang sengaja dibuat oleh ayah Asti agar bisa menampung keluarga jika mereka tengah berkumpul seperti saat ini.


" Mbak, untuk para pemasaran tenda didepan sudah diberi makanan dan minuman? " tanya Lastri pada Arum, istri Nugroho anak tertua eyang.


" Sudah, tadi Nining sudah meminta Sari untuk menaruh makanan dan minuman di sana. " jawab Arum.


" Sekarang Nining dimana, mbak? kok aku ga lihat ya dari tadi? " tanya Lastri lagi.


" Mungkin ke kamar Asti untuk melihat Asti luluran. Oh iya, Ain, Aul sama Amel kemana? dari tadi mbak tidak melihat mereka.


" Ain sama Aul membantu Lestari untuk melulur Asti. Barusan Amel juga menyusul ke kamar Asti untuk ikut luluran. " jawab Lastri.


Arum dan Lastri tengah duduk di dapur saat mendengar ada yang mengucapkan salam dari arah ruang tamu.


Saat mereka melihat kearah ruang tamu, terlihat Aryanto datang bersama teman-teman Asti.


" Bu, .. Bulik,.. ini ada Asma, Fyth sama Maryam, mereka mau bertemu dengan Asti. " kata Aryanto pada ibu dan buliknya yang tengah duduk di ruang makan.


" Eh, iya, sini.. silakan duduk dulu. " kata ibu Aryanto pada teman-teman Asti itu.


" Terima kasih, bu. " jawab mereka serentak, lalu Asma, Fyth dan Maryam menyalami dan mencium punggung tangan Arum dan Lastri bergantian.


" Duh calon mantu mbak Arum, makin cantik aja. " kata Lastri menggoda Maryam saat Maryam mengalaminya.


Maryam tersenyum dan merasa malu dengan pujian yang diberikan oleh Lastri kepadanya.


" Sudah, kamu ke depan lagi, biar mereka disini sama kami. " kata ibu Aryanto pada anaknya.


" Yah bu, masa Ary diusir sih, kan Ary baru ketemu dan Maryam. " kata Aryanto pada ibunya.


" Nanti juga kalian bisa ngobrol sepuasnya, sekarang biarkan perempuan berkumpul dengan sesama perempuan, kamu urus saja bagian depan dengan yang lain. " kata Lastri lagi pada anaknya.


" Ah, ibu ga pengertian. " kata Aryanto sambil berjalan keluar dari ruang makan.


Lastri dan yang lain hanya tertawa melihat Aryanto yang merasa kecewa karena tidak diizinkan oleh ibunya untuk mengobrol dengan Maryam.


" Kalian pergilah ke kamar Asti, dia dan sepupunya sedang luluran. " kata Arum pada teman-teman Asti.


" Terima kasih bu, kami ke kamar Asti dulu. " kata Maryam pada bu Arum dan bu Lastri.


Lalu mereka berjalan menuju kamar Asti untuk bertemu dan melihat Asti yang tengah luluran.

__ADS_1


__ADS_2