
“Sekarang, saya ingin kembali melihat keindahan alam itu bersama Ibu” Tomi berkata dan melihat kembali wajah Asti yang duduk di sebelahnya sambil tersenyum manis.
Asti kembali tidak memberi komentar apa pun. Padahal sebenarnya Asti juga menyukai hal yang sama dengan Tomi. Ia juga sangat menyukai keindahan alam dan berpetualang, tetapi semenjak ia selesai studi Asti sudah fokus bekerja. Sebagai mana kehidupan di Jakarta begitu sesak, semua orang seakan berlomba-lomba dalam bekerja mencari uang.
Ada baiknya juga kalau perjalanan ini dinikmati saja, pikir Asti. Sebab rencananya lusa toh dia sudah akan kembali ke Jakarta. Benar kata Tomi tadi, jauh-jauh dari Jakarta sayang kalau tidak melihat sesuatu yang agak istimewa. Pikir Asti dalam hati.
Asti yang terlihat mulai menikmati irama perjalanan dengan pemandangan yang begitu indah. Saat Asti berfikir dengan semangatnya, ia merasa lebih tergugah lagi untuk memilih menikmati saja perjalanan ini, karena sebenarnya Asti juga menyukai liburan kecil ini.
Tubuh yang dengan santai nya duduk tersebut, ingin di dorongnya untuk lebih bersandar ke kursi. Namun karena bersemangat itu, ia tanpa sadar merubah posisi duduknya dan dengan menekan tumpuan di kedua telapak kakinya, tanpa menyadari kakinya yang cedera tersebut.
Tomi yang selalu mencuri kesempatan untuk memandang Asti saat itu, mendapati Asti yang sedang meringis menahan kesakitan pada kakinya, terlihat dari perubahan mimik pada wajah Asti. Dan syukurnya Tomi yang dengan peka nya tahu penyebab kesakitan yang di alami gadis itu, karena Asti berusaha merubah posisi duduknya tadi.
“Ada apa Bu?” kata Tomi dengan sigap dan sedikit memperlambat kecepatan mobil yang ia kendarai.
“Tidak apa-apa kok, saya baik-baik saja!” kata Asti, padahal saat ini Asti sedang menahan kesakitan atas tumpuan pada telapak kakinya, di tambah kakinya yang sakit itu sedang kesemutan hebat. Wajahnya kelihatan pucat menahan rasa sakit.
“Yang benar Bu!“ kata Tomi lagi cemas. “Itu Ibu wajahnya pucat. Sebelum pergi kerumah sakit tadi Ibu sudah minum obat?”
“Belum!”
“Sebentar saya memarkirkan mobil dulu di depan” kata Tomi kembali dengan tegas.
“Ini obatnya Bu! Tomi memberikan obat itu kepada Asti.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Tomi sudah memarkirkan mobilnya sementara di pinggiran jalan yang aman. “Ibu ada membawa obat yang sebelumnya?” Tomi menanyakan obat sisa yang di bekalkan oleh dokter sebelum ia sudah tidak di opname atau di pindahkan ke perawatan jalan dari rumah saja.
Asti yang langsung sibuk membongkar isi tasnya. Namun ia sedikit mengalami kesulitan karena tangan yang satu menyanggah badannya, di sebabkan posisi duduknya yang masih belum pas. Tomi dengan sigap menawarkan diri.
“Sini Bu saya bantu mencari obatnya” Tomi mengulurkan tangannya, ingin menggapai tas Asti.
Awalnya Asti tidak mengizinkan Tomi menyentuh tasnya.
“Sini Bu saya bantu!” tegas Tomi lagi.
Asti langsung menatap wajah Tomi dan memberikan tasnya yang berukuran tidak terlalu besar itu kepada Tomi dengan rasa terpaksa. Dan perlahan ia menempatkan posisi yang terbaik untuk badannya.
Tomi yang mengeluarkan satu persatu barang-barang yang ada di tas Asti, tidak menemukan setumpuk obat atau sebiji obat pun di dalam tas. Itu menandakan bahwa Asti tidak membawa obatnya yang masih lengkap, di sertai juga obat nyeri yang harus nya masih ia minum sampai habis.
Sebagai seorang dokter yang harus selalu siap siaga, Tomi keluar dari pintu depan dan membuka bagasi mobilnya. Terdapat beberapa peralatan dan obat P3K yang selalu ada di mobil Tomi. Lelaki itu mengambil dua jenis obat yang sementara dan cocok untuk pasien yang kondisinya seperti Asti sekarang.
Tomi juga mengambil satu botol air mineral baru dari dalam kotak air mineral, yang juga selalu tersedia di bagasi mobilnya itu. Tomi menutup kembali bagasinya dan langsung mengarah ke pintu sebelah kiri mobil, yaitu pintu sebelah Asti duduk dan membuka nya dari luar.
Asti yang sudah tahu karena melihat keberadaan lelaki itu dari dalam, berjalan mengarah ke sebelah pintu nya.
“Ini Bu…” Tomi memberikan dua butir obat kepada Asti dan setelah itu Tomi membuka tutup botol air mineral lalu memberikannya juga kepada Asti.
Asti tidak memiliki keraguan sedikit pun terhadap Tomi, mengenai obat yang lelaki itu berikan kepadanya. Karena itu Asti langsung meminum obat tersebut.
__ADS_1
Tomi menunduk dan memasukkan kepalanya ke dalam mobil dan membaringkan kursi yang Asti duduki. Asti terkejut dengan kelakuan Tomi. Namun ia tidak melontarkan suara atau omelan kepada Tomi. Karena posisi kursi yang Tomi atur benar-benar nyaman untuknya.
“Ibu begini saja ya posisinya, baringan aja” kata Tomi lalu menutup kembali pintu mobil sebelah Asti dan ia kembali lagi ke kursi sebelah setir.
“Sudah lebih nyaman Bu posisinya?” tanya Tomi bersiap melanjutkan perjalanan.
“Iya…” jawab Asti.
“Baiklah… Kita lanjutkan perjalanan, Ibu istirahat saja” kata Tomi bersemangat kembali.
Tomi memutarkan lagu di mobil yang cocok untuk menemani perjalanan mereka berdua. Tomi sesekali menoleh ke arah Asti yang setengah berbaring, hatinya begitu senang dengan kebersamaan ini. Tidak dalam waktu yang lama, terlihat gadis di sebelah Tomi ini sudah terlelap. Mungkin karena efek obat yang sudah ia minum.
Di tambah dengan iringan lagu yang enak untuk menenangkan pikiran. Dan skill Tomi dalam mengendarai mobil termasuk baik, karena tidak membuat Asti merasa tidak nyaman saat ia sedang menyetir.
Perjalanan mereka berdua sudah mulai naik turun berliku-liku menuju melalui jalur Wonosari. Walaupun dengan keadaan jalan yang naik turun berliku-liku, tidak membangun kan Asti yang sangat nyenyak tidur itu.
Namun Tomi sebenarnya menyayangkan saat Asti tidur dan tidak melihat pemandangan yang cukup indah saat melewati jalan ini. Tetapi tidak apa-apalah yang penting dia bisa istirahat begini saja, aku sudah senang melihatnya, ungkap Tomi lagi dalam hatinya sambil mengeluarkan senyum manis di bibirnya.
Melewati jalur perjalanan Wonosari ini memang sedikit lebih ekstrim jika di nilai dari struktur jalannya. Karena melewati beberapa tikungan atau pun melewati bukit-bukit kecil.
Walau pun dengan struktur jalan yang seperti itu, Tomi tetap memilih melewati jalur ini dari saat masih di kota Yogya tadi. Karena pemandangannya yang indah, itulah alasan Tomi memilih melewati jalur ini.
Tomi ingin memperlihatkan ke indahan yang ada di sepanjang perjalanan mereka menuju kepantai, agar Asti merasa lebih nyaman dan puas saat berpetualang bersama dirinya.
__ADS_1
Bersambung…